"Iqis berangkat Yah, Bu," pamit Bilqis sambil mencium tangan Ayah dan Ibunya.
"Hati-hati bawa motornya. Ingat, kalau selesai kerja, langsung pulang jangan mampir-mampir kemana-mana lagi. Apalagi katanya temen kamu itu mau datang hari ini."
Bilqis menghela napasnya lalu menanggapi ucapan Ayahnya.
"Ayah, udah Iqis bilang jangan dibawa serius. Dia pasti bercanda. Pokoknya nggak mungkin banget dia mau melamar Iqis."
"Kenapa nggak mungkin? Bisa aja dia emang suka sama kamu, Qis. Atau jangan-jangan emang dia diam-diam menyebut nama kamu dalam doanya, atau jangan-jangan kamu lagi yang selalu nyebutin nama dia dalam doa kamu."
Mendengar itu membuat Bilqis terdiam. Ya emang bener, Bilqis selalu menyebutkan nama Gibran di setiap doanya. Biar jodoh, katanya. Kata orang jalur langit adalah jalur paling ampuh.
"Ah Ayah bisa aja, udah ya Ayah, jangan bahas jodoh terus, kalau sudah jodoh mah nggak akan kemana. Mending Ayah urusin ibu aja tuh," ucap Bilqis sambil menunjuk ibunya yang sedang memegang sapu sambil memperagakan seperti main gitar ditambah suara ibu yang fals nya nauzubillah.
"Kayanya Ibu kesurupan reog yah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ya ampun Ibu ngapain nyanyi-nyanyi sendirian? Nanti aja pas malam biar berdua."
*
*
Hari ini Bilqis tak semangat kerjanya, gimana mau semangat, pikirannya aja isinya Gibran terus. Sampai sekarang Bilqis masih bingung, ternyata Gibran mengingat namanya. Padahal Bilqis ingat betul kalau mereka itu saling kenal pas KKN di desa yang sama. Pernah mengobrol pun cuma sebentar doang ngurus pembagian sembako di kelurahan. Udah cuma itu aja sekali, habis itu tak pernah lagi ada obrolan. Bahkan ketemu pun nggak. Mungkin kalau dia yang melihat Gibran, ya itu sering banget.
"Udah, Qis udah. Jangan mikirin dia terus. Dia itu jagonya menaklukan hati wanita. Jangan mau jadi salah satunya. Yang ada nanti sakit hati."
Bilqis mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terus memikirkan Gibran. Ia pun fokus mengurus keuangan siswa di sekolah.
Tiba-tiba datang staf keuangan yang lain ke ruangan.
"Besok datang ya ke nikahan aku, jangan lupa bawa gandengan Qis. Cuma kamu aja disini yang belum nikah."
Bilqis manyun lalu menjawab.
"Tenang aja Mis, aku bakalan bawa gandengan kok. Kalau perlu aku bawa truk gandeng sekalian."
Miska cuma bisa geleng-geleng kepala doang.
"Semoga jodohnya semakin dekat ya, Qis."
"Aamiin."
Miska pun pergi dari luar ruangan setelah mengantarkan undangan ke Bilqis. Sepertinya wanita itu akan berkeliling ke setiap ruangan memberikan undangan.
"Huh! Kayanya akhir-akhir ini orang-orang banyak yang nikah. Apa emang lagi musimnya?"
*
*
Sudah dibilang jangan mampir kemana-mana, tapi Bilqis tak mendengarkan. Dia malah mampir lagi ke tenda biru Mang Ujang. Ya gimana, namanya juga udah langganan sama ketagihan.
"Kaya biasa Mang, tambah anaknya yang banyak, biar nggak kesepian."
"Minumnya apa Mba?"
"Es jeruk aja, bikin semanis senyuman saya Mang."
Mang Ujang geleng-geleng kepala. Sudah tidak aneh emang kalau sifat Bilqis seperti itu.
Sambil menunggu pesanan datang, Bilqis membuka grup chat nya. Sudah ada beberapa obrolan dari Uki dan Maisa.
Uki :
Guys, aku mau bulan madu ke Korea sore ini. Kalau nantinya jadi anak, berarti anak aku made in Korea. Wah, kebayang nggak sih nanti anak aku mirip sama Oppa Ji Chang Wook kalau cowok.
Bilqis :
Mau buat dimana pun, nggak bakalan tuh anak kamu mirip Oppa-oppa Korea. Kalau mimpi jangan ketinggian.
Uki :
Namanya juga harapan Qis. Yang penting udah usaha sama doa. Daripada kamu mau punya anak pun sama siapa? Gandengannya belum ada. Kasian banget. Nanti kamu bisa jadi obat nyamuk terus kalau aku sama Maisa lagi bawa pasangan.
Maisa :
Cari gandengan Qis, biar nanti kalau si Uki pulang dari Korea. Kita meet up. Sekalian minta dibeliin oleh-oleh yang banyak, wkwk.
Bilqis :
Tau ah, orang-orang pada nyebelin banget hari ini.
Bilqis pun memasukan ponselnya ke dalam tas karena sudah kesal. Tak lama pesanannya pun datang. Bilqis langsung memakannya dengan lahap. Setelah kenyang ia langsung pulang.
Namanya juga anak nggak mau dengerin orang tua, makanya dia malah apes lagi. Di tengah jalan Bilqis tak sengaja menabrak tukang sayur seperti biasa.
"Astaga, Qis. Kamu itu punya dendam apa sama aku sebenarnya? Kayanya hampir setiap hari kamu nabrak aku terus. Mau jadi istri keduaku? Apa ini cara kamu pdkt?"
"Astaghfirullah, nggak, nggak gitu Bang Ben. Ini cuma kecelakaan biasa. Maaf ya. Duh, bentar deh Iqis telepon Ayah dulu, biar ayah yang bayar ganti ruginya."
"Halo Yah," ucap Bilqis ketika telponnya sudah tersambung.
"Salamnya mana Qis."
"Assalamualaikum, Yah."
"Jangan bilang kamu nabrak tukang sayur lagi, Qis? Astaga Qis, Qis. Kamu itu kebiasaan banget. Pasti ini gara-gara nggak mau dengerin ucapan Ayah. Makanya jadi anak tuh nurut. Heran Ayah tuh sama kamu. Butuh berapa?"
Ayahnya sudah seperti cenayang aja karena tanpa dibilang sudah tahu maksud dan tujuannya untuk menelpon. Bilqis pun membicarakan tentang ganti rugi dengan Bang Ben.
"Ya udah nanti Ayah transfer uangnya. Sekarang cepet kamu pulang Qis. Orangnya udah nunggu. Ayah jadi malu sendiri, punya anak gadis kok kelakuannya begini betul ya. Mana kamu nggak pernah cerita lagi kalau punya temen seganteng ini. Ayah kan jadi minder karena kalah ganteng."
Bilqis langsung dibuat bertanya-tanya. Siapa yang Ayah maksud sudah datang? Gibran? Mana mungkin! Tapi ... Bilqis pun mengakhiri anggukan telponnya dengan Ayah.
Tanpa membantu Bang Ben, Bilqis langsung tancap gas ke rumahnya.
"Qis, bantuin woy!"
"Maaf Bang Ben, aku pergi dulu. Ini masalah kelangsungan hidup soalnya."
Beberapa menit kemudian, Bilqis pun telah tiba di depan rumahnya. Ia benar-benar terkejut ketika melihat motor Gibran terparkir disana. Ia bahkan sampai mengucek-ngucek matanya takut salah lihat.
"Kenapa belum masuk ke rumah Mba? Motor siapa itu? Mba Iqis udah punya calon?" tanya Tania, sepupu Bilqis yang masih berusia 10 tahun.
"Jadi kamu lihat motor ini, Tan?"
"Ya lihat lah Mba, aku kan masih punya mata yang jernih kaya kelinci. Serius nanya deh Mba. Mba Iqis lagi dilamar orang ya? Kata mama begitu soalnya, makanya ini aku mau nganterin risol ke rumah bude."
Bilqis tak langsung menjawab ucapan Tania, karena dia pun masih bingung.
"Kamu masuk lewat pintu samping aja Tan."
Tania pun mengangguk dan berjalan ke arah samping rumah. Bilqis menetralkan jantungnya sebelum masuk ke dalam rumah. Baru juga satu langkah, dia sudah bisa mendengar obrolan ayahnya dan Gibran. Terdengar sangat akrab, padahal Bilqis yakin betul, Gibran baru pertama kali berbicara dan bertemu dengan ayahnya.
"Akhirnya putri Ayah pulang juga, sini duduk dulu. Ini Nak Gibran mau bicara sama kamu."
Gibran melihat ke arah Bilqis sambil tersenyum. Ah, senyumnya menyilaukan mata Bilqis.
"Aku beneran datang kan? Apa kamu masih belum bisa percaya?"
*
*
TBC
Yuk komentar sebanyak-banyaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Sani Srimulyani
kalo tiba2 dilamar cogan kaya gitu kira2 dapet seranhan jantung ga ya....
2023-10-11
2
Farida Wahyuni
si gibran bukan nge prank kan, masa baru ketemu setelah sekian tahun, langsung datang ngelamar.
2023-10-04
1
Yunia Afida
nah lo si gibran beneran datang tu, udah cepetan nikah
2023-10-03
1