Ibu sedang bercermin di rumah dengan mengenakan baju barunya. Belum lagi ibu menyemprotkan banyak minyak wangi ke tubuhnya.
"Astaghfirullah, jangan banyak-banyak minyak wanginya, Bu. Yang ada orang-orang didekat Ibu jadi overdosis minyak wangi."
"Padahal ini nggak banyak loh Qis, cuma seperempat botol aja."
"Itu banyak Bu," ucap Bilqis lagi mengingatkan.
"Udah ah jangan banyak bicara Qis. Cepet kamu ganti baju, kita berangkat bareng ke kondangannya," ucap Ibu yang kemudian memakai tas yang dikasih oleh Gibran.
Bilqis hanya bisa geleng-geleng kepalanya. Dia pun mengganti bajunya mengenakan gamis dari Gibran. Karena kalau tidak, pasti drama keluarga ini akan terus berlanjut.
Bilqis, Ibu dan Ayah berjalan bersama menuju ke tempat hajatan yang tak jauh dari rumah. Ibu dan Ayah berjalan sambil bergandengan layaknya anak muda. Bilqis cuma bisa mesem-mesem kecut melihat itu.
"Kenapa liatin Ibu kaya gitu, Qis? Kamu iri ya? Tenang, nanti sebentar lagi kamu juga ngerasain Qis, bisa kondangan bareng sama suami, terus gandengan kaya gini."
"Iqis nggak iri tuh Bu," ucap Bilqis yang kemudian berjalan mendahului Ibu dan Ayah. Kalau berjalan bersama, rasa-rasanya hati Bilqis tak nyaman.
Ketika sampai di tempat hajatan, semua orang tampak melihat ke arah Ibu dan Ayah. Kalau dilihat dari tatapan mata mereka, mereka pasti heran dengan pakaian Ayah, Ibu dan Bilqis yang shining, shimmering, splendid.
"Wah, bajunya bagus banget Ibu Iqis, itu yang kemarin beli dari Ci Sari ya?" tanya seorang yang bertugas untuk menerima tamu.
"Bukan lah, ini tuh hadiah dari calon mantu, bagus, kan?" ucap Ibu sambil memutar-mutar tubuhnya seperti artis yang lagi promosi pakaian endors.
"Calon mantu? Emang si Iqis ada yang mau Bu?"
Bilqis cuma bisa mengerucutkan bibirnya. Dia sudah biasa mendapatkan tanggapan seperti itu dari orang-orang. Saking biasanya, Bilqis menanggapinya seolah angin lewat saja.
"Hih, ketinggalan jaman, Iqis loh udah dilamar sama cowok ganteng. Lebih ganteng daripada calon suaminya si Timi. Nih buktinya."
Ibu langsung menarik tangan Bilqis dan memamerkan cincin berlian yang ada di jari manis Bilqis.
"Bu udah deh, jangan pamer terus. Ayo masuk ke dalam, udah laper ini Bu. Gara-gara ada orang hajatan, Ibu sampe sengaja nggak masak segala di rumah."
"Masa iya sih, Iqis udah dilamar Bu, kelakuannya aja masih kaya manja gitu, Bu Iqis."
"Nggak percaya, ya udah. Hati-hati serangan jantung pas dapet undangan dari Bilqis."
Ibu, Ayah dan Bilqis pun masuk ke dalam tempat hajatan. Mereka bersalaman dengan yang punya hajat lalu setelah itu menikmati makanan yang ada.
Melihat dekorasi pernikahan yang terlihat mewah, Ibu jadi ingin Bilqis pun menikah seperti ini.
"Qis, nanti minta yang kaya gini ke Gibran ya? Pasti deh dikabulin."
"Iqis maunya yang biasa aja Bu," jawab Bilqis sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Eh, nggak boleh gitu Qis. Harus memanfaatkan calon mantu Ibu yang kaya. Gibran juga pasti inginnya kasih yang terbaik untuk kamu."
"Iya Qis, kalau bisa, nanti menunya makanannya yang enak-enak kaya nikahan di kota-kota itu," sahut Ayah.
"Udah ya, Ayah, Ibu, jangan banyak mau. Nikah itu yang penting sah, nggak usah mikirin kaya gituan. Iqis malah jadi pusing sendiri."
"Ih, kamu mah."
*
*
Kabar mengenai lamaran Gibran diterima oleh Bilqis pun sudah diketahui oleh Uki dan Maisa. Kedua sahabat Bilqis itu ikut bahagia meski masih waspada kalau-kalau Gibran nantinya menyakiti hati sahabatnya.
Mereka bertiga pun kini bertemu di tenda biru milik Mang Ujang untuk makan bakso langganan.
"Qis, pokoknya kamu harus siapkan hati dan mental ya, karena biasanya ujian orang mau nikah itu banyak sekali. Apalagi Gibran itu banyak banget mantannya. Kamu harus siap pokoknya. Harus tahan banting."
"Iya aku tahu kok. Segala keputusan yang aku ambil pasti ada resikonya juga. Aku pun sudah siap untuk itu."
"Bagus deh Qis, intinya kalau perlu bantuan, langsung hubungi kami aja. Kami akan jadi buntut kamu."
Bilqis mengangguk kemudian memakan bakso urat yang dipesannya.
Selesai makan disana, Bilqis, Maisa dan Uki pun berpisah. Bilqis mengendarai motornya dengan pelan, agar tak terjadi lagi hal yang tak diinginkan seperti biasanya. Namun entah kenapa, mau sepelan apapun dia berkendara, pasti ada saja musibahnya. Saat ini bukan tukang sayur yang ia tabrak, melainkan tukang mie ayam gerobak.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Bilqis kemudian turun dari motornya yang nyungsep ke pinggiran jalan.
"Gimana sih Neng bawa motornya? Makanya kalau baru belajar itu jangan sok-sokan bawa motor di jalanan umum, kalau begini jadinya, gimana bisa saya jualan Neng."
"Aduh!" Bilqis tampak menaruh tangannya di kepalanya.
"Maafin saya Pak, saya benar-benar nggak sengaja. Gini aja deh, saya akan bayar biaya semua kerusakannya dan total penjualan Bapak. Bapak punya rekening nggak?"
"Iya deh, saya maafin Neng, tapi lain kali hati-hati. Saya nggak punya rekening, saya mintanya uang tunai saja Neng, total semuanya 3 juta, biar bisa langsung dipake buat belanja," ucap bapak penjual mie ayam.
"Aduh, saya nggak punya uang tunai kalau segitu Pak, kalau gitu saya ke ATM dulu ya Pak," izin Bilqis untuk pergi dari sana. Sayangnya, si bapak itu tidak mau takutnya Bilqis cuma menipu dan lari dari tanggungjawab.
Mau tak mau Bilqis pun menelpon ayahnya lagi. Tapi entah kenapa panggilan Bilqis tak dijawab sama sekali oleh Ayah. Bilqis pun menelpon Ibu, dan sama aja hasilnya tak dijawab. Begitu pula dengan Uki dan Maisa. Bilqis sudah hampir gila disana.
"Ah, masa iya aku harus minta bantuan ke Gibran? Ya ampun, malu banget."
Namun memang sudah tak memiliki pilihan lain lagi, Bilqis pun menelpon Gibran dan untungnya Gibran langsung menjawab telponnya. Laki-laki itu bersedia datang dengan membawa uang tunai 3 juta.
Kamu beban Qis, belum juga resmi menikah udah minjam duit 3 juta. Astaghfirullah.
Hampir 15 menit Bilqis menunggu, Gibran pun datang dengan motornya. Laki-laki itu langsung memberikan uang 3 juta tunai ke si bapak penjual mie ayam. Setelah itu Masalah terselesaikan dengan baik.
Bilqis tampak malu berhadapan langsung dengan Gibran, sementara Gibran hanya bisa tertawa kecil.
"Sekarang yang ditabrak udah ganti bukan tukang sayur lagi ya Qis," ledek Gibran.
"Ih, apaan sih? Kok nyebelin?!"
"Hahaha, tenang nanti kalau kita udah menikah, aku akan anterin kemana pun kamu pergi."
"Emangnya kamu supir? Emangnya kamu nggak bakalan kerja? Terus kita makan apa kalau kamu nganterin aku kemana pun?"
Gibran tampak tersenyum tipis.
"Diam aja pun, aku masih punya uang Qis. Yang tadi nggak usah diganti uangnya. Anggap aja nafkah pertama sebelum resmi."
"Ih, mana bisa begitu, aku kan tadi bilangnya cuma minjam loh, bukan minta."
"Nurut Qis sama calon suami."
Ucapan Gibran yangs pergi itu membuat Bilqis jadi merah pipinya.
Ah, lemah banget hati kamu Qis. Padahal dia cuma bilang calon suami.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Rita Riau
heran dah kok Bilqis demen banget tabrak tabrakan,,, pergi aman pulang tekor🤔🤭😁
2024-02-21
0
Nar Sih
kakk knpa selalu mengulang lagi ....😭😭
2023-10-18
1