Part 7

Malamnya, Bilqis datang ke acara resepsi pernikahan partner kerjanya di sekolah yaitu Miska sendirian. Ya mau gimana lagi, dia emang belum punya gandengan. Sebenarnya dia agak minder sedikit. Ya gimana nggak minder coba? Rata-rata yang datang pada bawa pasangan semua. Mana yang lain mah pada heboh-heboh dandanannya. Apalah dirinya yang cuma modal bedak murahan, sama lipstik Ibu nya. Itu pun curi-curi pakai dari kamar Ibu nya. Kalau ketahuan, bisa langsung digorok sama Ibu nya. Apalagi tadi dia tidak sengaja mematahkan lipstik kesayangan ibunya. Alamat dimarahin kalau pulang kondangan ini mah.

"Qis akhirnya kamu datang juga, mana gandengannya Qis? Aku kira kamu bakalan bawa gandengan kamu. Cepet-cepet nikah deh, Qis. Biar kalau kemana-mana nggak sendirian terus."

"Siapa yang sendirian coba? Aku kemana-mana selalu ditemani sama si Janet. Dia lebih setia dari gandengan orang-orang."

"Janet siapa Qis?" tanya Miska yang tidak tahu.

"Motor matic kesayanganku," jawab Bilqis.

Miska pun cuma bisa geleng-geleng kepala. Emang ada aja jawaban cewek yang satu ini.

"Btw, happy wedding ya Mis. Semoga pernikahan kamu dijauhkan dari segala hal yang buruk dan langgeng terus sampai tua."

"Aamiin, makasih ya Qis, aku doain kamu juga supaya jodohnya semakin dekat."

Jodoh mah udah deket, deket banget malahan. Aku jadi nyesel nggak langsung terima waktu itu.

"Ah ya ampun, Gib. Thanks ya kamu udah datang juga. Aku kira kamu nggak bakalan datang loh, habis status kamu kaya lagi di luar kota gitu."

"Ya berhubung aku sudah pulang dari luar kota, aku sempatkan untuk datang Mis," jawab laki-laki itu.

Bilqis langsung terdiam dan menerka-nerka. Suara ini rasanya tidak asing. Ingin rasanya dia menoleh untuk memastikan. Ketika Bilqis menoleh, rupanya benar dugaannya. Laki-laki itu adalah Gibran.

Bilqis langsung diam di tempat. Dia benar-benar tak menyangka kalau Gibran dan Miska saling mengenal. Tapi kenal dimana? Kampus mereka aja beda?

"Hai Qis, kita ketemu lagi disini. Padahal baru aja kemarin aku ke rumah kamu," ucap Gibran menyapa Bilqis dengan senyuman.

Please, jangan senyum, jangan senyum. Senyuman kamu itu mengalihkan duniaku. Seperti senyum-senyum di iklan pasta gigi.

"Kalian saling kenal?" tanya Miska yang malah jadi penasaran.

"Doakan saja, semoga Bilqis menerima lamaranku. Biar kami cepat nyusul juga."

Jawaban Gibran itu membuat Miska terbelalak tak percaya. Miska langsung menatap penuh tanya ke arah Bilqis kemudian mendekat dan berbisik.

"Qis, kamu pake apa sih? Bisa-bisanya dilamar sama Gibran? Dia ini walaupun playboy cap badak, tapi kalau udah serius sama sesuatu pasti beneran serius. Kamu nggak pake susuk pemikat, kan?"

"Astaghfirullahaladzim, ya nggak lah Mis."

"Cuma heran aja, dia sukanya sama cewek kayak kamu. Padahal setahu aku, mantannya itu nggak ada satu pun yang berhijab, rata-rata seksi semua."

Kamu aja heran Mis, apalagi aku? Sampai sekarang aja suka masih nggak percaya.

Hanya saja ucapan itu hanya Bilqis katakan dalam hatinya.

"Udah kan ngobrolnya? Aku mau pinjam Bilqis sebentar," ucap Gibran lalu mengajak Bilqis ke tempat duduk yang kosong.

"Kalau tahu kamu diundang sama Miska. Aku pasti bakalan ajak kamu berangkat bareng Qis."

"Aku aja nggak tahu kalau kamu kenal sama Miska," jawab Bilqis.

"Kamu nggak mau tanya gitu? Dari mana aku kenal sama Miska?"

"Buat apa?"

"Emang kamu nggak penasaran soal aku? Tentang hidupku?"

Sejujurnya aku penasaran banget. Masalahnya, aku tuh nggak tahu apa-apa soal kamu. Tapi, ya gimana ya, malu aja tanyanya. Apalagi belum jadi siapa-siapa.

Bilqis menggeleng.

"Padahal kalau kamu tanya, aku pasti akan jawab pernyataan apapun yang kamu tanyakan. Soalnya, aku sudah tahu banyak tentang kamu, tapi sepertinya kamu belum tahu apa-apa soal aku."

"Nanti juga tahu sendiri," jawab Bilqis.

"Apa itu artinya, ada harapan lamaranku diterima?"

Bilqis hanya mengangkat bahunya seolah tak tahu.

Tiba-tiba ada seorang wanita dengan pakaian yang sedikit terbuka di bagian dada. Dia tampak mendekat ke Gibran dan seolah ingin cipika-cipiki dengan Gibran. Sayangnya, Gibran menolak.

"Ih, nggak asik ah Gib. Padahal kalau ketemu sudah biasa kita kaya gitu."

Rasanya hati Bilqis seakan sedang dipanaskan dan siap untuk mendidih.

"Maaf, tapi itu dulu, Mira. Sekarang aku sudah berubah. Oh ya kenalin, ini Bilqis, wanita yang aku sukai."

Seketika tatapan wanita itu langsung berubah sinis ke Bilqis. Berbeda dengan Bilqis yang jantungnya dibuat meleleh. Gimana nggak meleleh coba, Gibran mengakui dirinya adalah wanita yang disukai oleh laki-laki itu.

"Selera kamu berubah ya Gib. Jadi kaya ibu-ibu pengajian."

Rasanya Bilqis ingin sekali merauk wajah wanita di depannya ini. Kaya ibu-ibu pengajian katanya? Belum tahu aja gimana cepatnya ibu-ibu pengajian kalau lagi baca Yasin. Pasti keluar semua setan yang ada di dalam tubuh wanita di hadapannya.

"Alhamdulillah, berubahnya ke yang lebih tertutup."

"Tapi masa iya kamu mau sama dia? Yuk ah sama aku aja Gib. Kita loh udah temenan lama. Aku juga udah suka lama sama kamu."

Karena Bilqis sudah nggak tahan melihat tingkah wanita itu yang terlihat ganjen di depan Gibran. Bilqis pun mulai angkat bicara.

"Mba yang pakai baju kurang bahan, mohon maaf ya, dimana-mana orang itu sukanya makanan yang dibungkus daripada terbuka lebar tanpa penutup. Soalnya rawan banget dihinggapin sama lalat. Apalagi lalat itu doyannya sama ta*. Hih! Nggak bisa dibayangin deh berapa banyak virus, kuman dan bakteri yang ada di dalam ta* itu. Orang yang waras mah pasti milih yang ketutup. Beda sama orang yang warasnya cuma setengah. Mba belum tahu aja ibu-ibu pengajian itu powernya kuat-kuat. Mukul rebana bisa, ngaji bisa, baca Yasin bisa, sholawat bisa. Sampai ngusir setan kaya Mba pun kayanya bisa deh. Apa mau saya usir sekarang juga? Saya bacain Al Baqarah ya?"

"Gib, kayanya dia gila deh! Kamu nemu orang kaya dia, dimana deh?"

Berbeda dengan Gibran, laki-laki itu malah tersenyum tipis. Seolah-olah bisa membaca kecemburuan yang tersirat dari ucapan Bilqis.

"Bukan dia yang gila tapi aku. Aku yang tergila-gila karena sikapnya."

Wanita teman dari Gibran pun pergi karena merasa kesal.

Bilqis pun kelihatan kesal karena Gibran masih tersenyum manis ke wanita lain, juga karena Gibran selalu aja membuat hatinya berdebar-debar. Nggak bisa apa ya, jangan berkata-kata manis di depannya? Sudah tahu, Bilqis itu lemah kalau masalah hati, eh malah hatinya dibuat nggak karuan.

"Tenang aja, aku nggak bakalan goyah. Aku sudah milih kamu Qis."

"Pede banget kamu bakalan aku terima."

"Harus pede, dan harus yakin Qis. Kalau pun nggak diterima, sudah aku bilang, aku bakalan tunggu jandamu."

*

*

TBC

Maaf banget di bab ini kayanya komedinya dikit, hehe. Pencerahan tiba-tiba ilang 🤣

Terpopuler

Comments

Rita Riau

Rita Riau

keren bgt Iqis ucapan mu bak palu mukul telak 👍🏻😍

2024-02-21

0

Sani Srimulyani

Sani Srimulyani

gaspol tetus gib iqis nya.

2023-10-11

0

Endangdaman

Endangdaman

benar banget kamu qis

2023-10-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!