Maisa dan Bilqis sudah datang ke tempat janjian pertemuan Bilqis dengan Gibran dan kakaknya. Disana masih kosong, ya wajar lah masih kosong orang janji temunya masih kurang 10 menitan lagi. Bilqis emang sengaja datang lebih awal supaya Maisa tidak diketahui oleh Gibran.
"Hati-hati ya Qis. Playboy itu banyak banget mantra cintanya. Kalau dia berkata-kata manis, kamu jangan salah tingkah. Jangan memperlihatkan kalau kamu segitu sukanya sama dia. Inget! Kamu harus nguji dia dulu sebelum jawab lamaran dia. Pokonya jangan goyah Qis. Semangat!"
Tiba-tiba dari arah depan, sudah terlihat Gibran yang berjalan tapi sendirian tanpa seseorang yang bersamanya.
"Aku mau pindah tempat duduk dulu. Aku disana ya Qis. Aku akan terus mengawasi gerak-gerik Gibran dari jauh."
Bilqis mengangguk. Ia begitu gugup karena akan bertemu dengan kakaknya Gibran. Ia begitu takut kalau ternyata kakaknya Gibran tidak suka atau sinis padanya karena berpenampilan seperti ini. Bagaimana pun juga, semua mantan Gibran tak berhijab, dia satu-satunya wanita yang disukai Gibran dengan memakai hijab.
"Sudah nunggu lama?" tanya Gibran.
"Nggak kok, aku juga baru datang. Kok sendiri? Kakak kamu mana? Kamu bohong ya?"
Jelas lah Bilqis langsung berpikiran begitu, karena ya Gibran memang datang sendirian.
"Mba Gisel masih di jalan, tunggu aja nanti dia juga datang. Lagian aku juga mau ngobrol dulu sama kamu. Ngomong-ngomong semalam kamu pulang dengan selamat kan? Maaf banget aku nggak bisa antar kamu pulang."
"Nggak usah minta maaf. Lagian kamu itu bukan supir aku yang harus nganterin aku pulang. Aku udah biasa kemana-mana sendiri saking mandirinya."
"Iya, saking mandirinya, hampir tiap hari nabrak tukang sayur, kan?"
Bilqis jadi kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Kenapa dari banyaknya hal baik yang dia punya, orang-orang ingatnya cuma kejelekannya doang. Kan bikin kesal.
"Aduh!"
Tiba-tiba Gibran merintih kesakitan karena tiba-tiba kepalanya ditoyor dari belakang oleh seorang wanita yang berhijab dengan memakai setelan gamis berwarna merah muda.
"Bagus ya, kakak sendiri ditinggal di supermarket. Kamu nya malah asik-asikan berduaan. Nggak tahu apa aku sampe capek sendiri nungguin taksi datang. Dasar adik nggak ada akhlak!"
Bilqis melongo tak percaya, ternyata kakaknya Gibran berhijab juga. Yang lebih nggak percayanya lagi, Gibran terlihat patuh dan pasrah aja ditoyor oleh kakaknya.
"Aduh! Sakit tahu Mba! Jangan kaya gini kenapa? Ada Bilqis di hadapan kita."
"Eh, astaghfirullah, lupa. Hai namaku, Gisella Alkafia. Panggil aja Mba Gisel, biar samaan kaya si playboy cap badak ini manggilnya," ucap Mba Gisel sambil mengulurkan tangannya.
"Eh, iya Mba Gisel, aku Bilqis," ucap Bilqis sambil mengulurkan tangannya juga.
"Udah tahu kok. Mba sampai bosen dengerin curhatan Gibran soal kamu. Kamu inilah, kamu itulah. Tahu nggak, dia itu udah mengagumi kamu dari lama banget. Kayanya dari ... "
"Mba, jangan buka kartu orang kenapa?"
"Apa sih? Orang mau cerita juga. Lagian Mba tuh aneh aja, kok kamu mau sih sama Gibran yang julukan playboy nya udah tenar dimana-mana ini? Padahal kamu tuh cantik, manis, berhijab pula. Harusnya tuh bisa dapetin yang lebih dari si Gibran. Kayanya, sayang banget gitu menyia-nyiakan diri kamu buat memilih Gibran yang kaya anak buaya di banyaknya buaya besar.
"Mba, jangan gitu lah, nanti adikmu itu patah hati."
"Heleh, kamu aja udah patah hati dari lama. Kenapa coba nggak dari dulu aja ngelamarnya. Bisanya cuma ngerengek mulu minta temenin buat ngelamar Bilqis dari dulu. Eh taunya malah datang sendirian."
Tentu saja Bilqis jadi terheran-heran sendiri. Apa iya Gibran menyukainya sudah dari lama? Sejak kapan? Kok bisa? Dirinya kan hanya bebek di antara banyaknya angsa.
"Nih, dengerin ya Qis. Dia itu playboy, tapi mau deketin kamu katanya malu. Aneh, kan?"
"Ih, udah jangan diterusin Mba."
Mba Gisel pun tak lanjut membuka semua hal tentang Gibran. Tapi dia lanjut bertanya soal Bilqis.
"Satu hal yang mau Mba tanya deh Qis. Apa yang kamu lakuin sampe buat cowok setan kaya dia suka sama wanita kaya malaikat seperti kamu? Coba sebutin beberapa aja kelebihan kamu."
Bilqis tampak berpikir sejenak lalu menjawabnya.
"Aku bisa makan satu mangkuk bakso dalam waktu satu menit. Aku bisa buka tutup galon tanpa digunting. Aku bisa ngabisin duit ayah sampai ibu marah dan masih banyak lagi yang lainnya."
Mba Gisel benar-benar terlihat tercengang setelah mendengarkan ucapan Bilqis. Namun beberapa menit setelahnya wanita itu bertepuk tangan.
"Pantes aja, Gibran suka sama kamu. Kamu emang bener-bener unik. Pas banget buat naklukin adik Mba ini. Jadi kapan nikahnya? Bulan depan? Tenang aja, nanti Mba yang akan urus semuanya. Kalian bisa tenang-tenang aja."
Seketika Bilqis langsung terkejut bukan main. Kenapa jadi kesana bahasannya. Kan dia masih belum memberikan jawaban ke Gibran.
"Maaf Mba, tapi Bilqis belum kasih jawaban apapun ke Gibran. Masih butuh waktu."
"Eh, ya ampun, kirain Mba udah diterima. Ternyata belum ya? Itu berarti mata kamu masih waras Qis. Emang lebih baik cari yang lain aja. Abis Mba kaya nggak rela aja gitu, kamu dapetin Gibran. Dia mah nggak tahu apa-apa. Ngaji aja baru rajin-rajinnya setahun terakhir ini. Takutnya dia jadi imam yang dzolim."
"Mba! Masa gitu sih bilangnya, aku patah hati loh nanti."
"Iya, iya. Tolong dipikir-pikir lagi ya Qis. Tenang playboy ini udah tobat kok. Mba yang jamin. Kalau berulah nantinya, ceburin aja ke kandang buaya biar kumpul sama spesiesnya."
Bilqis tertawa kecil, Mba Gisel ini orangnya lawak sekali, berbeda dengan Gibran 180 derajat sikapnya.
"Dasar mba durhaka."
"Eh, yang ada itu kamu! Ngelamar anak orang kok pakai tangan kosong. Aku kan jadi malu sendiri. Buat apa punya duit banyak kalau nggak digunain? Biar dicuri sama tuyul orang gitu?"
Rasanya Bilqis ingin meledakkan tawanya. Tapi dia harus pandai mengamati situasi.
"Eh, maaf, maaf ya Qis. Habis darah tinggi Mba suka kumat kalau urusan sama si Gibran. Lihat wajahnya aja suka langsung kesel. Kalau bukan adik, mungkin udah Mba ceburin ke empang tetangga yang banyak ta*nya."
Kali ini Bilqis sudah tak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Mba Gisel ini lucu ya."
"Kamu lebih lucu lagi Qis. Saking lucunya, dari tadi Gibran nggak berhenti buat natap kamu terus."
"Eh," seketika Bilqis langsung salah tingkah. Dia emang nggak sadar kalau Gibran menatapnya sedari tadi.
"Intinya kamu nggak usah ragu Qis. Gibran bener-bener udah berubah kok."
*
*
TBC
Yuk ah ramaikan sama komentar kalian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Ratna Fika Ajah
Ya ampun kocak bgt nih. Berasa kyk nonton Warkop DKI🤣🤣🤣🤣
2023-10-08
2
resti auliah
lanjut thor 😊😊😊
2023-10-06
1
Sinta
kocak sekalii ni calon kk ipar
2023-10-06
1