Ketika Gibran sedang pergi ke toilet, Mba Gisel mulai bicara yang lebih serius lagi ke Bilqis. Bahkan tatapan matanya terlihat berubah jadi sendu seperti ada sesuatu yang memang disembunyikan.
"Kamu tahu Qis, selama ini yang jadi penyemangat Gibran untuk menjalani hidupnya adalah kamu."
Bilqis terlihat bingung dengan ucapan Mba Gisel. Karena dia tak pernah melakukan apapun ke Gibran. Saling bicara aja cuma sekali, bahkan kenal pun hanya sekedar kenal dari orang karena Gibran memang populer. Sangat beda jauh dengannya yang populer juga nggak, pinter banget saat kuliah juga nggak. Ya pas-pasan aja hidupnya tuh.
"Aku merasa tidak melakukan apapun Mba. Bahkan bisa dibilang aku dan Gibran itu hanya kenal ya sebatas kenal."
Mba Gisel tampak tersenyum tipis.
"Nanti kamu juga bakalan tahu sendiri Qis apa yang Mba maksud tadi. Intinya Mba cuma mau yang terbaik untuk adik Mba sendiri. Mba tahu, Gibran itu pasti kalah jauh ilmu agamanya daripada kamu. Tapi Mba benar-benar berharap kamu menerimanya."
Sikap Mba Gisel sangat beda sekali ketika bicara tentang Gibran tanpa ada Gibran disana. Benar-benar terlihat sebagai sosok kakak yang begitu menyayangi adiknya.
Tak lama kemudian Gibran pun kembali dan tampak heran karena suasana jadi terlihat sepi.
Drtt drtt
Suara nada dering ponsel dari Mba Gisel.
"Halo sayang, ada apa?"
" ... "
"Iya Bunda akan cepat pulang kok. Tunggu sebentar ya Nak."
Mba Gisel mematikan teleponnya ketika selesai bicara.
"Sorry ya, aku nggak bisa lama-lama. Putriku minta aku cepat pulang. Kapan-kapan kita janjian ketemu lagi ya Qis. Tentunya tanpa ada buaya di antara kita. Just you and me. Kita gosip-gosip bareng."
Gibran tampak terlihat sedikit kesal. Sementara Bilqis hanya mengangguk saja.
"Ingat! Jangan berduaan, nanti orang ketiganya itu setan. Kamu juga setelah ini langsung pulang Gib. Naina pasti nyariin kamu kalau weekend nggak ada di rumah."
Naina itu adalah putri dari Mba Gisel yang masih berusia 6 tahun. Kata Mba Gisel, Naina itu dekat sekali dengan Gibran karena ayahnya Naina jarang pulang karena pekerjaannya sebagai pilot.
Setelah Mba Gisel pergi, Bilqis merasa jadi kikuk sendiri. Kikuk antara berdebar-debar dan bingung mau ngobrol apa. Karena kalau urusan pekerjaan, sudah pasti berbeda. Ngobrol masalah kuliah, jurusan mereka pun berbeda. Bilqis dulunya jurusan akuntansi sedangkan Gibran manajemen bisnis.
"Kalau begitu aku pamit pulang ya, sudah nggak ada lagi kan yang mau dibicarain?" pamit Bilqis.
Bukannya menanggapi ucapan Bilqis, Gibran malah bertanya ke Bilqis.
"Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Jadi, kenapa sampai sekarang kamu belum tanya apapun tentang aku? Pasti banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran kamu. Aku akan jawab semuanya."
Rasanya ingin sekali Bilqis membuka pembicaraan tentang apa yang dibicarakan Mba Gisel tadi. Tapi, lidahnya terasa kelu, seperti terkunci.
"Darimana kamu tahu rumahku?"
Jadilah pertanyaan itu yang keluar dari mulut Bilqis.
Gibran tersenyum lalu menjawab, "Aku udah tahu dari lama bahkan dari jaman kuliah. Tak penting dari siapanya. Cuma nggak pernah mampir aja. Karena aku sadar, kamu itu tak seperti wanita yang ada di sekitarku dulu. Kamu selalu menjaga jarak dengan laki-laki. Bahkan tak pernah sekalipun aku lihat kamu naik motor dengan laki-laki. Kamu wanita baik-baik yang harus didapatkan dengan cara baik-baik juga."
Rasanya, hati Bilqis ingin terbang ke langit. Sebenarnya sejak kapan Gibran mulai melirik ke arahnya. Tapi emang dia selalu deg-degan kalau banyak tanya ke Gibran, takut jawaban yang keluar dari mulut Gibran manis semua. Bisa-bisa di melayang dan nggak balik-balik lagi ke dunia nyata. Kan bisa gawat dunia pernovelan ini.
Ting!
Suara pesan masuk dari Maisa ke ponsel Bilqis.
Ingat jangan salting! Atur kondisi hati baik-baik. Udah jangan kelamaan berduanya, buruan pulang Qis. Lama-lama aku bisa iri sama kamu.
Bilqis jadi manyun setelah mendapatkan pesan dari Maisa itu. Dengan berat hati dia pun berpamitan ke Gibran dan beralasan ada hal penting yang harus dilakukan.
"Aku harap kamu tidak membuat aku patah hati Qis."
Gibran hanya berucap itu ketika Bilqis mau pergi dari hadapan Gibran.
"Lihat saja hasil akhirnya," jawab Bilqis menanggapi kemudian pergi dari sana. Diikuti oleh Maisa di belakang.
Kedua wanita itu kini berjalan ke parkiran bersama. Maisa langsung memakaikan helm di kepalanya. Dia pun naik motor yang dikendarai oleh Bilqis. Tujuan utama mereka saat ini yaitu tempat langganan mereka sejak jaman kuliah dulu. Tenda biru bakso Mang Ujang.
"Mang dua porsi kaya biasa. Buat si Bilqis dikasih anak baksonya yang banyak. Sama bawain sambelnya yang baru jangan yang bekas orang. Mau yang ori-ori aja Mang."
Mang Ujang yang emang udah hapal sama kelakuan dua wanita itu cuma bisa geleng-geleng kepala aja.
Raut wajah Maisa sudah mulai ke mode interogasi.
"Jujur deh Qis, kamu beneran nggak melet si Gibran, kan?"
"Ya enggak lah Mai. Walaupun muka pas-pasan begini. Aku juga ngerti agama. Nggak cocok banget pakaian udah syar'i begini tapi masih main dukun aja," sangkal Bilqis.
"Abis aku beneran nggak nyangka banget. Ternyata Gibran yang ngelamar kamu beneran Gibran yang populer dan playboy itu. Mana makin kesini makin glowing lagi. Tapi, yang bikin aku iri dan bener-bener nggak nyangkanya, tatapan matanya ke kamu itu tatapan cinta dan kagum Qis. Ah, pokoknya bikin iri. Aku kan juga mau."
"Inget! Udah punya Rifki. Mau dikemanain dia?"
"Ah, kamu nggak asik, kenapa harus ngingetin aku sih?"
"Tapi jujur Mai, aku benar-benar nggak nyangka kalau dia udah suka lama ke aku. Menurut kamu apa coba yang dia lihat dari aku?"
"Jangan tanya aku, karena aku pasti jawab nggak ada kelebihan yang kamu miliki. Semuanya minus nggak ada plus nya."
Bilqis jadi mengerucutkan bibirnya. Harusnya emang dia nggak tanya itu ke Maisa. Pasti ujung-ujungnya bikin sakit hati walaupun sebenarnya udah biasa.
Padahal sejujurnya, Maisa sendiri sangat kagum dengan sikap Bilqis yang tenang dan apa adanya. Hanya saja kalau sudah ada yang mancing, Bilqis suka keluar taringnya. Bilqis memang tak secantik dirinya dan Uki. Tapi kalau orang-orang sudah mengenal lama dengan Bilqis, mereka akan tahu betapa cantiknya hati Bilqis apalagi tingkahnya yang selalu baut orang ketawa.
"Qis, jangan cepat nikah ya."
"Lah, kenapa?"
"Biar aku dulu yang nikah. Biar kamu masih tetep jadi bahan ledekan aku dan Uki."
"Emang jadi seorang Bilqis Safrina itu sulit. Harus tahan banting dan tahan fitnahan dari setan yang terkutuk."
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Rita Riau
aduch Maisa,,, jgn sirik gitu,, mang jodoh bisa di tunda" kalo udah datang.
2024-02-21
0
Chu Shoyanie
Ah aku ngebayangin Bilqis kayak aku:cantik hati&suka bikin orang tersenyum dgn kelucuan sikapnya....eh!kebalik nya:mksdnya aku pingin kyk Bilqis🤭🤭🙏
2023-10-13
1
Farida Wahyuni
ih apaan sih maisa. orang cepat nikah atau cepat dapat jodoh itu bukan karna cantiknya, banyak kok yg csntik tp lambat atau malah ga nikah2, jodoh rezeki dan maut itu adalah takdir dari tuhan.
temen kok pedes bgt mulutnya.
2023-10-07
1