Part 2

"Bu, ayah kenapa?" tanya Bilqis yang langsung meraih ponselnya dari tangan Gibran.

"Nggak papa, Nak. Cuma pingsan doang kok. Bentar lagi juga bangun, apalagi pas banget Ibu mau kentut."

Ah, rasanya ingin sekali Bilqis menjauh dari sana. Apa tanggapan Gibran setelah ini, keluarganya begitu absurd, dan aneh-aneh tingkahnya.

"Bu, besok saya akan datang ke rumah."

"Ah, iya, datang aja Nak. Nggak usah bawa apa-apa ya, tapi kalau mau bawa kue black forest nggak papa, Ibu pasti terima."

Bilqis menepuk jidatnya sendiri. Lalu mengakhiri pembicaraan di dalam telepon. Wanita itu melihat ke arah Gibran yang tampak datar saja wajahnya.

"Kamu lagi taruhan sama temen-temen kamu? Bilang sama mereka kalau kamu gagal."

"Nggak, aku lagi nggak sedang taruhan, Qis."

"Terus apa? Kamu lagi buat video prank ya? Dimana kameranya, aku mau ngomong."

"Nggak ada prank ataupun taruhan Qis. Aku emang bener-bener mau lamar kamu."

Bilqis yang masih belum percaya langsung celingukan ke kanan, kiri, depan, dan belakang sampai ia memperhatikan gerobak Mang Ujang takutnya ada kamera tersembunyi disana. Tapi ia tak menemukan apapun.

Enam tahun tak bertemu setelah kelulusan, membuat wajah Gibran semakin tampan dan menawan. Gimana bisa coba, orang setampan itu mau melamar dirinya. Benar-benar tak bisa dipercaya. Apalagi Gibran ini di masa kuliah adalah seorang playboy, ceweknya dimana-mana. Kayanya di setiap jurusan ada satu. Intinya, dia itu laki-laki yang nggak bisa jadi jomblo meskipun cuma beberapa jam doang.

Anehnya semua cewek tetep mau jadi pacarnya walaupun tahu Gibran itu playboy, dan salah satu cewek anehnya termasuk dia yang menyukai Gibran diam-diam. Ya walaupun, dia tak pernah masuk dalam kriteria wanita idaman bagi Gibran.

Rata-rata mantan Gibran itu berkulit putih mulus, bodynya seksi aduhai, rambutnya licin, saking licinnya semut pun yang nempel langsung jatuh. Beda dengan dirinya yang berkulit kuning langsat. Body gepeng kaya tripleks terus dibungkus sama baju yang sangat tertutup karena dia sudah lama berhijab sejak SMA.

"Mba ini baksonya udah jadi, mau ditaruh dimana?" tanya Mang Ujang.

"Disana Mang. Minta tolong kasih cabe yang banyak sekalian. Empat sendok juga nggak papa."

"Waduh, banyak bener Mba. Nggak bakalan kepedesan emangnya?"

"Nurut aja Mang."

"Baik Mba."

"Lebih baik kamu nggak usah datang ke rumahku. Percuma, aku sudah menikah."

Bilqis sengaja mengatakan itu agar dia tak kecewa. Ya gimana ya, sesuka-sukanya dia sama Gibran, tapi kalau Gibran masih playboy yang ada dia makan hati terus tiap harinya.

"Kamu bohong. Kamu masih single. Buktinya nggak ada cincin yang melingkar di jari manis kamu."

"Karena aku nggak pake," jawab Bilqis.

"Jangan bohong Qis. Dosa bikin anak orang sakit hati tuh. Tapi meskipun kamu sudah menikah, aku akan tunggu jandamu."

Bilqis dibuat ternganga dengan ucapan Gibran. Harusnya dia salto sambil guling-guling karena diinginkan oleh Gibran, haruskah? Tapi, eh, jangan senang dulu. Masih ada kemungkinan kalau Gibran tak serius dengannya.

"Ya sudah datang aja, paling kamu pun nggak berani datang. Ayah aku tuh banyak maunya perihal calon suami untuk anaknya."

Secara tidak langsung Bilqis membongkar kalau dirinya memang masih single. Hal itu membuat Gibran tersenyum. Dan senyuman itu membuat hati Bilqis meleleh. Senyum yang sama seperti dulu.

"Tenang aku akan tetap datang. Persiapkan dirimu, Qis. Aku pergi, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawab Bilqis kemudian melihat Gibran yang menaiki motor sport nya. Motor yang biasanya Gibran pakai untuk membawa pacar-pacarnya. Dirinya pernah berharap menjadi salah satu yang bisa duduk di motor itu, tapi itu cuma harapan saja. Kini Bilqis harus berpikir jernih, kalau apa yang diucapkan Gibran tadi, cuma gurauan semata.

Bilqis duduk di kursi lalu mengaduk baksonya dan melahapnya.

"Haah! Haaah! Mang kok pedes banget sih?"

"Lah, kan tadi si Mba yang minta cabe 4 sendok. Saya mah cuma nurut aja."

"Huh! Hah! Pulang-pulang bibirku pasti kaya abis disengat tawon."

*

*

"Assalamualaikum, Iqis pulang."

Bukannya dibalas ucapan salamnya, Ayah langsung menarik tangan Bilqis dan mendudukkannya di sofa ruang tamu. Bilqis seolah-olah sedang disidang disana.

"Siapa laki-laki yang ngobrol ditelpon sama Ayah tadi?"

"Jawab salam dulu Ayah."

"Waalaikumsalam, cepet jawab, Qis."

"Sabar, Ayah sabar, katanya orang sabar nanti istrinya melebar."

"Auww!" Bilqis mendapatkan cubitan di tangannya dari Ibu.

"Kamu mau doain Ibu biar gemuk gitu? Ibu udah capek-capek diet biar langsing kaya Luna Maya begini."

"Hehe," cuma dijawab cengiran oleh Bilqis.

"Ucapan laki-laki ditelpon tadi jangan dianggap serius ya, Ayah, Ibu. Dia cuma bercanda kok. Dia itu temen aku saat masa kuliah. Kami aja nggak pernah saling komunikasi, kenal aja cuma sekilas. Bahkan nggak punya nomor telepon satu sama lain. Emang Ayah sama Ibu mau kalau anaknya nikah sama orang yang nggak kalian kenal? Kalau tiba-tiba aku di Kdrt nantinya gimana? Nanti Ayah, Ibu sendiri yang nyesel karena sudah salah pilihin jodoh buat Iqis."

Ayah dan Ibu tampak saling memandang, ucapan putrinya memang ada benarnya juga. Cuma mengingat usia Bilqis yang sudah 29 tahun, membuat keduanya saling menghela napas bersamaan.

Semua wanita yang seumuran dengan Bilqis di sekitar tempat tinggal mereka sudah pada nikah. Bahkan ada yang sudah punya anak sekitar 10 tahun. Apalah putrinya ini, yang masih jomblo dari lahir.

"Kapan kamu mau nikah, Qis? Setidaknya kenalin cowok kek, ke Ayah sama Ibu. Lihat, si Uki aja udah nikah, itu si Maisa udah punya pacar. Lah kamu? Jomblo terus. Sampai kapan kamu selalu menolak orang yang datang melamarmu ke rumah? Sampai kapan juga Ayah harus mikirin alasan buat nolak lamaran para laki-laki yang datang?"

Bilqis terdiam. Ya kalau ditanya seperti itu, dia juga tidak tahu. Yang dia tahu, emang masih belum siap untuk menikah.

"Ayah sama Ibu nggak bosen ya? Nanyanya itu-itu terus? Aku aja yang denger sampai bosen. Kalau udah ketemu yang cocok dan pas Iqis juga bakalan nikah kok, tenang aja."

"Tapi kapan, Qis, kapan? Dari dulu kamu selalu aja jawabnya gitu. Ayah sama Ibu harus nunggu sampai berapa tahun lagi?"

"Udah ah, Iqis nggak mau bahas itu. Mau ke kamar aja."

Bilqis pun pergi dari hadapan kedua orang tuanya. Ayah dan Ibu sama-sama menghela napas lagi.

"Apa Iqis kita jodohin aja sama tukang sayur yang biasa Iqis tabrak? Katanya dia lagi cari istri kedua. Nggak papa deh punya mantu yang tukang sayur juga, yang penting tanggungjawab."

Seketika Ayah langsung digeplak tangannya oleh Ibu.

*

*

TBC

Yuk ah ramaikan dengan komentar ya.

Terpopuler

Comments

Rita Riau

Rita Riau

aduch ibu 😬😁 bikin reputasi anak jatuh aja,,,, masa anak perawan dapetnya tukang sayur 🤔🤭😁🥰

2024-02-21

0

Ria Eka

Ria Eka

ortunya iqis kocak abis.. kalau nyerah lambaikan tangan aja yah 😅

2023-12-01

0

Ratna Fika Ajah

Ratna Fika Ajah

Ya ampun kocak bgt ortunya si Iqis🤣🤣🤣🤣

2023-10-08

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!