Malam hari, ketika sedang makan malam, Ibu memulai obrolan tentang Gibran, begitu juga dengan Ayah.
"Gimana? Nak Gibran masih setia nungguin jawaban dari kamu, kan? Dia belum kabur dan cari wanita lain, kan?" tanya Ibu sambil menuangkan teh hangat ke cangkir milik Ayah.
"Kalau kabur dan cari wanita lain, berarti emang bukan jodoh Bu."
"Ya kamu juga sih, bukannya waktu itu langsung jawab aja. Mana pake mikir-mikir segala."
"Iya Qis, padahal Ayah udah berharap banget kamu beneran berjodoh sama dia. Lumayan kan punya mantu ganteng, kaya raya, sopan, beh komplit banget."
Bilqis cuma bisa manyun. Kenapa tak ada yang memahami hatinya? Masalah jodoh ini bukan kaya pas lagi beli gorengan yang asal pilih aja. Tapi ini masalah kelangsungan hidup nantinya. Kalau salah, ya ujungnya nggak bahagia dan perceraian. Kalau jodoh ya alhamdulillah.
"Ibu sama Ayah nggak ngertiin banget perasaan aku."
"Apalagi coba yang harus dingertiin? Ibu loh sudah pengertian banget sama kamu, uang bulanan ibu dipotong buat bayar ganti rugi tukang sayur, ibu nggak marah."
"Nggak marah gimana? Orang tiap kali Iqis pulang wajah ibu udah kaya Kak Ros, di animasi Upin Ipin, belum lagi kaya ada asep yang keluar dari telinga Ibu. Ditambah ibu selalu megang sapu kaya mau nyapu Bilqis dari rumah ini. Jangan banyak bohong Bu, nanti hidungnya tambah panjang kaya Pinokio."
Ibu langsung menatap Bilqis dengan sinis seolah ingin memulai peperangan.
"Biasa aja Bu liatnya. Nanti kalau bola matanya keluar, Iqis bawa loh ke jual beli organ."
"Kamu ya, sama orang tua nggak ada berbakti-baktinya sama sekali. Mau Ibu kutuk jadi Malin Kundang?"
"Astaghfirullahaladzim, nyebut Bu, nyebut. Masa sama anak sendiri tega begitu."
"Haaah!"
Ibu tampak menghela napasnya. Ya, mungkin dia capek meladeni Bilqis yang seperti itu. Kalau ditanya kenapa sikapnya seperti itu, harusnya tanya dulu, emang dia anaknya siapa? Turunannya siapa? Otomatis sifatnya itu perpaduan dari ibu dan ayahnya.
Selesai makan malam, Bilqis duduk sendirian di ruang tamu sambil menonton sinetron.
Suara pesan di ponselnya membuat Bilqis jadi mau tak mau membaca pesan itu. Ternyata berasal dari grup chat nya.
Uki :
Assalamualaikum semuanya, aku sudah balik kampung nih. Sorry banget ya saking sibuknya jadi nggak sering buka wa. Soalnya lagi gencar-gencarnya nanem kecebong.
Maisa :
Oleh-oleh mana?
Bilqis :
Bawain Lee Min-Ho buat aku nggak?
Uki :
Jawab salam dulu Qis, Sa. Kalau kamu ketahuan sama ayah kamu, langsung dicincang kamu Qis.
Bilqis :
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Lee Min-Ho aku dibawa nggak?
Uki :
Tenang aja aku bawa dengan selamat. Nanti aku kasih dalam bentuk kertas ya. Eh iya, ngomong-ngomong gimana soal Bilqis dia udah di ruqyah kan Sa?
Maisa :
Nggak, soalnya pas aku datang bawa ustadz ternyata Bilqis emang dilamar sama Gibran. Shock berat aku sampe rebahan di lantai.
Uki :
WHAT???!!!!!!!!!!!!! OMG! DEMI APA? Qis kok bisa? Kamu pake pelet ya?
Bilqis :
Kayanya di dunia ini nggak ada yang percaya sama aku. Aku nggak pake pelet apa-apa loh ini. Cuma pake pelet doa jalur langit, ahay, hehe.
Maisa :
Kamu wajib liat Gibran yang sekarang Ki. Makin cakep, makin glowing, makin makin segalanya pokoknya.
Uki :
Mau ketemu! Mau cuci mata liat cogan.
Bilqis :
Inget! Udah punya suami!
Uki :
Ya elah Qis, jangan diingetin napa.
Maisa :
Besok kita harus ketemu guys, ada misi yang harus kita selidiki. Seperti biasa ketemu di rumah Bilqis aja. Biar dijamu sama makanan enak sama bude, hehe.
Bilqis yang membaca pesan dari Maisa itu malah kesal. Kenapa harus di rumahnya terus kalau berkumpul, padahal di rumah yang lain kan juga bisa.
*
*
Besoknya Uki dan Maisa sudah datang ke rumah Bilqis. Mereka dijamu dengan makanan enak oleh Ibu.
"Bude mah tahu aja apa yang kita suka. Tambah lagi Bude, biar kita betah ada disini, hehe," ucap Uki.
"Tenang aja, nanti Bude buatin soto ayam terenak sejahat raya. Apalagi kamu kan baru pulang dari bulan madu. Jangan lupa oleh-olehnya."
"Hahah, tenang aja Bude, oleh-olehnya ada kok. Buat Bude mah nggak bakalan aku lupain," ucap Uki sambil mengambil mengambil makanan kemasan yang dia beli di Korea Selatan.
"Ih, buat aku mana? Kok Ibu duluan yang dikasih sih, Ki?" ucap Bilqis bertanya-tanya.
"Oleh-oleh buat kamu masih aku tahan. Soalnya aku masih nggak nyangka kamu beneran dilamar sama Gibran."
Bilqis pun manyun aja disana. Obrolan terus berlanjut. Maisa menceritakan bagiamana tatapan Gibran ke Bilqis ketika bertemu dengan Bilqis waktu itu. Kelihatannya sih emang cinta ke Bilqis, tapi kan namanya playboy pasti punya banyak taktik untuk menaklukan hati wanita.
"Intinya, kita harus selidiki apa bener si Gibran ini udah tobat? Soalnya kaya aneh aja gitu. Tiba-tiba datang melamar Bilqis pada sebelumnya mereka tak saling berkomunikasi. Takutnya si Gibran cuma main-main doang."
"Iya, aku setuju Sa. Kita emang harus selidiki Gibran lebih lanjut. Oke, mulai hari ini kita akan jadi detektif. Kita harus menyelidiki tentang keseharian Gibran. Oh, ya Qis, coba chat dia ada dimana dong. Bilang aja mau ketemu ada urusan gitu," ucap Uki ke Bilqis.
"Ih, enggak, enggak! Masa iya aku chat duluan. Nggak mau pokoknya," tolak Bilqis.
Meskipun Bilqis sudah menolak, Uki malah mengambil ponsel Bilqis dan mencari nomor kontak Gibran lalu mengetikkan pesan ke Gibran.
Tak lama kemudian pesan itu langsung dibalas dengan cepat oleh Gibran.
Oke aku akan segera ke Cafe Hijau.
"Wah, aku benar-benar tak percaya ini, Sa. Gibran bahkan langsung membalas pesan dari Bilqis kurang dari satu menit."
"Kan, kan, aku jadi semakin curiga."
Tiba-tiba Uki berdiri dan langsung menarik Bilqis untuk bangun.
"Mau kemana?"
"Menjalankan misi lah, kita harus datang lebih cepat ke Cafe Hijau untuk mempersiapkan semuanya. Disana kita akan tahu, Gibran masih playboy atau udah jadi good boy."
"Terus apa yang harus aku lakuin?" tanya Bilqis yang masih bingung dengan rencana yang Uki persiapkan.
"Nanti aku kasih tahu. Sa, bilang ke bude kalau kita pergi dulu. Bilang juga, bude harus tetap buat soto ayam karena kita bakalan datang lagi pas makan malam."
"Siap Ki!" jawab Maisa sambil memberikan hormat ke Uki seperti mendapatkan perintah dari atasan.
"Jangan yang aneh-aneh ya? Lagian aku juga bingung kalau ketemu Gibran. Canggung rasanya Ki, apalagi jantung ini suka berdebar-debar nggak karuan kaya orang lagi dugem."
"Emang siapa bilang kamu bakalan ketemu dengan Gibran?"
"Lah terus?"
Uki hanya tersenyum penuh arti.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Sani Srimulyani
up lg dong thor....
2023-10-11
1
Sani Srimulyani
kayanya bilqis tuh sosok yg nenyenangkan deh.
2023-10-11
1
@@Ayyaa@@
hehe 😁
Qis, jaga baik² jantung nya..
yang terpenting lagi, semua keputusan ada ditangan mu, Qis..
bukan di teman² mu..
mau jawaban a, b, c, d.
yang mau menjalani kamu, bukan teman² mu.. 😊
Semangat.. Author.
be the next..
2023-10-09
1