Part 16

Gibran dan Mba Gisel kembali ke mobil untuk membawakan hantaran lamaran untuk keluarga Bilqis. Yang bikin Ibu, Ayah terkejutnya adalah karena barang yang dibawa mahal-mahal semua. Padahal biasanya, di daerah Bilqis tinggal itu, biasanya lamaran ya cuma bawa cincin aja sama beberapa bingkisan makanan, tapi ini berbeda, udah kaya orang mau nikahan aja. Segala keperluan Bilqis ada.

"Aduh, ya ampun, nggak usah repot-repot padahal Nak Gisel."

"Nggak repot Bu, lamaran Gibran diterima aja saya udah sangat bersyukur."

"Ibu sekeluarga jadi malu, cuma bisa ngasih makan seadanya aja. Bentar ya Ibu mau ke warung dulu, kali aja ada ayam bakar madu. Biar kita bisa makan bareng yang enak. Soalnya di rumah cuma ada sayur rebung sama tempe goreng plus sambel aja."

"Nggak usah Bu, itu aja udah cukup kok."

"Masyaallah, udah cantik, adiknya ganteng, putrinya lucu dan gemesin, duh, Ibu jadi seneng banget ini punya besan dan mantu kualitas unggul."

Mba Gisel tertawa pelan mendengarkan perkataan Ibu.

"Terima kasih pujiannya, Bu. Oh, iya ini saya udah beli cincin juga udah mengikat Bilqis sebelum menikah. Semoga pas di jarinya."

"Masyaallah," ucap Ibu lagi saat melihat cincin berlian yang begitu indah dan terlihat mahal itu.

"Ayok, kita lakuin proses tukar cincinnya."

Karena masih belum boleh bersentuhan, Bilqis dipakaikan cincinnya oleh Mba Gisel begitu juga Gibran yang dipakaikan oleh Ibu.

"Nah, kalau begini, kalian udah saling mengikat. Jadi, harus saling menjaga hati masing-masing sampai hari H pernikahan tiba."

"Iya Mba, aku mengerti," ucap Gibran.

"Bentar ya, Ibu panggilkan Tania dulu, suruh dia fotoin kita. Biar jadi dokumentasi negara."

Mba Gisel geleng-geleng kepala, sedari tadi Mba Gisel terlihat heran dan sesekali tertawa karena ucapan dan tingkah Ibu.

"Mba, maaf ya, orang tuaku emang begini, maklumin aja," ucap Bilqis.

Mba Gisel menggeleng.

"Nggak ada yang salah Qis, mereka ini lucu loh. Mba malah senang Gibran punya calon mertua seperti mereka. Pasti hari-harinya akan penuh tawa dan ceria. Mba jadi tahu, kenapa kamu seperti ini, ya karena turunan dari orang tua kamu sendiri. Mba titip Gibran ya, Qis."

"Mba apaan sih? Masa nitipin aku gitu? Harusnya yang jagain Bilqis ya aku. Bukan Bilqis yang malah jagain aku," sangkal Gibran yang tidak terima.

"Ah, udah diem aja kamu!"

Dan ternyata ucapan Mba Gisel emang bisa langsung membuat Gibran terdiam. Sementara Ayah kini sedang menggendong Naina yang ingin melihat si Juki. Padahal baru pertama kali bertemu, tapi sudah akrab saja. Memang sepertinya sudah jodoh, makanya jalannya mulus sekali seperti jalan tol.

Tak lama kemudian si heboh datang.

"Ommo! Oppa datang lagi? Ya ampun, Mba, jadi beneran dia calon suami Mba Iqis? Masyaallah, subhanallah. Bagi tips nya Mba."

"Pengganggunya datang lagi deh," gumam Bilqis.

"Dia siapa Qis?" tanya Mba Gisel yang tak tahu.

Tania memperkenalkan dirinya di depan Gibran dan Mba Gisel.

"Perkenalkan aku adalah Tania Haruna, sepupu paling cantik dan imut dari Mba Iqis. Sekian, terima kasih."

Mba Gisel pun tersenyum.

"Orang-orang di keluarga kamu lucu-lucu ya Qis?"

"Tentu aja lucu, apalagi aku," ucap Tania yang langsung nimbrung sambil bergaya jari telunjuk ke kedua bagian pipinya.

"Haha, iya."

Tak lama kemudian, Ibu, Ayah dan Naina pun ikut bergabung lagi di ruang tamu. Seperti apa kata Ibu tadi. Tania sekarang sedang berperan sebagai fotografernya. Setelah mengambil beberapa foto. Tiba-tiba Tania mendekat ke Gibran dan minta untuk foto berdua.

"Mba Iqis fotoin dong!" pinta Tania.

"Jangan mau Qis," ucap Ibu.

"Ih, Bude, padahal aku udah bantuin foto loh. Jangan lupa bayarannya ya Bude, oh iya, ditambah ongkos jalannya Bude."

Bilqis geleng-geleng kepalanya sendiri.

"Kecil-kecil kok perhitungan!"

"Bukan gitu Mba, ini namanya bisnis Mba. Biar jadi kaya," jawab Tania.

Mba Gisel tampak mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya lalu meraih tangan Tania.

"Buat jajan, biar sekolahnya tambah pinter."

"Woahh, duit merah, bukan ijo lagi," ucap Tania yang membuat Mba Gisel dan Gibran senyum-senyum.

"Bude liat ini, aku dikasih duit merah bukan ijo seperti yang Bude tawarkan, tapi ini kan bukan dari Bude. Jadi, bude tetep harus bayar ya. Ingat loh Bude, janji itu adalah hutang. Permisi semuanya, orang cantik mau pamit dulu. Mba Iqis jangan lupa kalau nanti nikahan aku yang jadi pager ayu kecilnya ya. Bye bye."

Tania pergi dengan tangannya yang melambai bak artis yang berjalan di red karpet.

"Maaf ya, Tania emang gitu orangnya. Maklumin aja, saudara Bilqis kelakuannya hampir sama semua. Kayanya Iqis sih yang ngajarin."

"Ibuu!" Bilqis tidak terima kalau dirinya lagi-lagi disebut-sebut.

"Udah kamu diam aja Qis. Yok kita makan dulu, tadi Ibu dapat gulai ayam dari mamanya Tania."

*

*

Malamnya, Ibu masih terus memperhatikan barang-barang yang dikasih oleh Gibran tadi. Ada tas branded, sepatu branded, pakaian branded, kosmetik, pakaian dalam, serta beberapa merk roti terkenal juga sambal dari perusahaan milik Gibran.

"Bener kan apa kata Ibu, dia itu emang paling cocok buat kamu Qis. Ibu bener-bener kaya lagi kejatuhan duren, dapet rezeki nomplok dari menantu."

Bukan hanya Bilqis saja yang mendapatkan hantaran, tapi ada untuk Ayah dan Ibu juga sepasang baju couple juga tas dan sepatu.

"Pas banget besok ada yang lagi hajatan, Ibu mau pake ah, kali-kali bikin iri tetangga yang mulutnya udah kaya cabe."

"Astaghfirullahaladzim, nggak boleh gitu Bu," ucap Bilqis mengingatkan.

"Boleh, kan sesekali Qis. Lagian nih ya, kalau dikasih barang tuh ya dipake dan pasnya besok adalah hari yang tepat. Ibu mau pamer pokoknya."

Ibu tampak sedang memegang baju itu dan mencocokkannya di tubuhnya.

"Ayah setuju Bu, besok kita datang pake itu, biar kaya anak muda jaman sekarang, kalau kondangan pakainya yang kopel-kopel gitu."

"Couple Ayah, bukan kopel," ucap Bilqis membenarkan pengucapan Ayah yang salah.

"Ah, udah Qis, namanya juga orang tua. Susah ngomongnya. Kamu juga pakai baju itu ya Qis, kita besok kondangan bareng. Lagian yang hajatan kan emang temen SD kamu sendiri yang nikah. Sekalian pamerin cincin lamaran itu ke orang-orang biar nggak dibilang perawan tua terus."

"Ah, tau ah. Iqis sebel pokoknya. Mending makan lagi aja biar hati tenang."

Bilqis pun pergi ke dapur untuk makan lagi.

"Qis, jangan makan terus ih, udah malam loh ini, yang ada nanti jadi lemak."

"Iqis nggak denger Bu!" teriak Bilqis dari dapur. Padahal mah sebenarnya Bilqis masih mendengar hanya pura-pura aja begitu.

Bilqis memandangi jari manisnya yang sudah ada cincinnya. Dia senyum-senyum terus tanpa henti.

"Ayah, jangan-jangan Iqis udah gila. Dia senyum-senyum terus dari tadi. Gimana ini Yah?"

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

Depoll

Depoll

sumpah keluarga nya kocak abis n untungnya calon menantunya ga kabur ya ..wkwkww

2023-10-18

3

Yunia Afida

Yunia Afida

emang keluarga kocak semuanya

2023-10-18

1

Sani Srimulyani

Sani Srimulyani

lucu juga sama karakter tania.

2023-10-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!