Part 15

Bilqis menaruh tangannya di lutut karena cape terus berlari dari kejaran ibunya.

"Bu, aku capek. Kita berhenti dulu ya," ucap Bilqis dengan napas yang ngos-ngosan.

"Haaah, iya, Ibu juga cape, Qis."

Tapi ternyata itu semua cuma pura-pura. Bilqis langsung berlari dengan kencang masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya dari dalam.

"BILQIS SAFRINA!"

Suara Ibu lagi-lagi menggelegar.

"Sudah Bu, sudah, maklumin aja sikap Bilqis," ucap Ayah yang masih terdengar di telinga Bilqis karena kamar Bilqis berada di depan.

"Nggak mau, Yah! Ibu jadi nggak bisa belanja baju baru! Padahal kemarin ibu udah pesan ke Ci Sari."

"Udah gampang, nanti ayah tambah uang jatah bulanan Ibu," ucapan Ayah itu membuat raut wajah Ibu jadi tersenyum dan berjalan mendekat ke ayah.

"Aya mau makan apa malam ini? Biar Ibu buatkan."

"Cih! Dasar Ibu penjilat! Giliran uang bulanan ditambahin langsung berubah jadi kucing padahal tadi udah kaya harimau yang lagi mengaum."

Bilqis menutup gorden yang dibukanya sedikit lalu duduk di ranjangnya.

"Kenapa ya aku selalu nabrak tukang sayur terus? Padahal aku kalau bawa kendaraan sudah hati-hati sekali. Aku juga udah punya SIM. Haish!"

Tok tok tok

Pintu kamar Bilqis diketuk dari luar, karena takut ibunya yang mengetuk, Bilqis pun memastikan dulu melihat dari jendela, apakah ibunya masih disana atau sudah masuk ke dalam. Ternyata Ibu dan ayahnya masih di depan. Udah seperti ABG aja saling bergandengan tangan.

Pamer bener!

Bilqis pun berjalan dari ranjangnya ke pintu dan membuka pintunya yang dia kunci.

"Lama banget bukanya Qis," gerutu Uki yang kemudian langsung masuk ke dalam kamar.

"Ya maaf, aku kan harus waspada, siaga 3."

Maisa cuma geleng-geleng kepalanya.

"Sudah tahu, bude itu kesabarannya setipis tisu. Kamu demen banget cari ulahnya Qis."

"Nggak ih, itu semua musibah," sangkal Bilqis.

"Musibah kok hampir tiap hari, Qis, Qis," timpal Uki yang langsung membuat wajah Bilqis merengut.

"Aku jadi membayangkan gimana nanti kalau kamu beneran udah nikah sama Gibran. Kasian banget, dia nikahin kamu buat habisin duitnya bayarin ganti rugi ulah istrinya yang ugal-ugalan di jalan."

Bilqis tambah merengut dengan mata yang sedikit terpejam.

"Haaah!"

Terdengar helaan napas dari Bilqis.

"Kenapa?" tanya Maisa.

Bilqis menggeleng lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia melihat langit-langit kamarnya yang berwarna putih tulang.

"Aku sudah memikirkannya berulang kali. Aku juga sudah sholat istikharah, dan hasilnya pikiranku emang terus tertuju padanya. Apa emang aku harus menerima lamarannya?"

Uki dan Maisa langsung ikut rebahan juga di samping Bilqis. Uki di samping kiri, dan Maisa di samping kanan.

"Iya terima aja udah, biar aku bisa cuci mata kalau kita lagi nongkrong bareng," jawab Uki memberi saran.

"Kalau emang begitu, ya sudah terima aja Qis, tapi kamu harus siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi ke depannya. Hari ini aja, kita nggak sengaja ketemu dua mantannya Gibran. Bisa aja setelahnya kamu bertemu lebih banyak lagi mantannya Gibran. Kamu harus kuat dulu Qis. Punya suami ganteng itu ujian Qis."

"Iya sih, Maisa bener juga Qis, tapi kita akan mendukung apapun keputusan kamu, asalkan kamu bahagia."

*

*

Tak terasa satu satu Minggu pun telah berlalu. Gibran datang lagi ke rumah Bilqis. Kini tak hanya sendirian, melainkan bersama Mba Gisel dan Naina.

Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh Ibu. Rasanya Bilqis gugup sekali, tangannya sampai keringetan dan kakinya seakan gemetar ketika harus ikut duduk di ruang tamu.

"Sebentar ya, Ibu mau panggilkan Ayah dulu. Dia masih ngasih makan si Juki."

Mba Gisel dan Gibran tampak menaikan alisnya karena tak tahu siapa itu Juki.

"Si Juki itu burung pipit kesayangan Ayah," ucap Bilqis memberikan jawaban.

Mba Gisel dan Gibran menjawab oh bersamaan.

Sepuluh menit pun berlalu, Ayah sudah ikut bergabung di ruang tamu. Bukannya menyapa dengan ramah, Ayah malah membuat malu.

"Alhamdulillah, Ayah pikir Nak Gibran sudah kabur dan tak mau datang lagi ke rumah ini. Habis kelakuan Bilqis emang di luar nalar. Banyak laki-laki yang datang untuk melamar, tapi kebanyakan ditolak, tapi ada juga yang laki-lakinya kabur karena mengetahui sikap Bilqis."

Gibran dan Mba Gisel tersenyum tipis. Walau tipis, Bilqis masih bisa melihat itu.

"Sebelumnya saya mau minta maaf dulu Om, waktu itu adik saya datang tanpa persiapan apapun. Saya Gisel, kakak perempuan dan saudara satu-satunya dari Gibran. Saya datang udah menanyakan jawaban Bilqis atas lamaran Gibran waktu itu."

"Oh, nggak papa Nak Gisel. Mau datang tanpa atau membawa apapun, Ayah tidak mempermasalahkan itu. Yang penting mah niatnya baik."

"Om, Tante itu yang bakalan jadi tantenya Ina?" tanya Naina dengan suara lirih.

"Iya, cantik kan?"

Naina mengangguk lalu berucap lagi, "Sama kaya mama rambutnya ditutup, jadi terlihat cantik. Ina juga nanti kalau sudah besar mau seperti itu."

Gibran mengelus rambut Naina karena gemas. Rupanya Bilqis melihat pemandangan itu dan ikut gemas juga.

"Qis gimana? Ayah dan Ibu mah setuju-setuju aja. Jawaban ada di tangan kamu sekarang. Kalau kamu nolak, dijamin nyesel Qis. Mending terima aja ya Qis."

Yah, begitulah ayahnya, awalnya melemparkan jawaban ke Bilqis, tapi pada akhirnya ayahnya sendirilah yang memaksa Bilqis menjawab iya.

"Bismillah, Iqis terima lamaran Gibran," ucap Bilqis dengan menundukkan kepalanya.

"Alhamdulillah, Ibu punya calon mantu ganteng dan kaya," ucap Ibu yang tiba-tiba datang dengan membawa beberapa makanan dan minuman.

"Silahkan dimakan risolnya, dijamin enak, soalnya buatan sendiri yang banyak proteinnya."

"Iya, terima kasih jamuannya, maaf merepotkan."

"Ah nggak repot kok, sama calon besan masa repot. Jadi gimana? Mau langsung nikah kan? Ibu sih maunya secepatnya, Iqis tuh disini terkenal sama julukannya perawan tua. Soalnya, teman-teman bermainnya dulu rata-rata udah punya buntut."

"Ibu!" Bilqis merengek di depan ibunya karena ucapan ibunya yang suka tanpa filter.

"Apa sih Qis? Orang benar kok apa yang Ibu bilang. Lagian nih ya, lebih cepat menikah tuh lebih baik. Ibu jadi cepat punya cucu. Ibu mau punya cucu yang lebih mirip Gibran biar nggak minimalis kaya kamu."

"Ibuuu!"

Bilqis mengerucutkan bibirnya, sementara Mba Gisel dan Gibran tertawa kecil. Naina yang belum terlalu paham ucapan orang dewasa pun jadi ikut tertawa.

"Iya, memang lebih cepat itu lebih baik, Bu. Gimana kalau bulan depan? Semua persiapan pernikahan biar saya yang urus. Semua biaya pun biar pihak kami yang nanggung. Pokoknya Ibu, Om, sama Bilqis tinggal bawa diri dan datang aja."

"Masyaallah, Qis, Qis, mimpi apa Ibu semalam ya? Biasanya orang nikah itu ngeluarin banyak duit, tapi kok Ibu sama Ayah, malah nggak ngeluarin apa-apa. Apa ini semua adalah balasan dari uang bulanan ibu yang terpotong tiap harinya?"

Gibran yang mendengar itu langsung tertawa kecil karena tahu apa maksud Ibu. Bilqis cuma bisa menahan malu aja. Kenapa sih selalu ada saja hal yang membuatnya malu?

Ibu, Ayah, tak bisakah sikap kalian normal-normal aja di depan orang yang aku sukai?

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

rindu senja

rindu senja

ntar kl nikah gmn ya 😂 ,,, sanggupkah gibran menghadapi kesomplakan istrinya yg ternyata terlalu mentok,pa lg kl tiap hr hrs ganti rugi tkng sayur 😂😂

2023-10-18

1

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

sebenarnya bagus ko Qis,drpd kita ja-im jd bersikap munafik...tapi demi Marwah kita LBH ke jaga sikap&ucapan x ya tuk ayah ibumu.....🤭🙏

2023-10-17

1

Yunia Afida

Yunia Afida

keluarga yang somplak ni ngakak

2023-10-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!