Part 14

Di saat makan, Uki dan Maisa masih terus saja tertawa membayangkan kesalnya mantan kekasih Gibran nantinya kalau ternyata orang yang dihubunginya bukan Gibran yang asli melainkan tukang sedot WC.

"Haha, aku benar-benar tidak menyangka kamu begini, Gib. Jadi kamu udah sepenuhnya jatuh cinta sama Bilqis?" tanya Uki lagi.

Gibran tak menjawab, tapi laki-laki itu melihat ke Bilqis sambil tersenyum. Uki yang melihat itu benar-benar dibuat tak percaya.

"Kamu hebat banget Qis! Bisa menaklukan playboy yang satu ini," bisik Uki ke Bilqis.

"Aku juga nggak tahu, masih heran sampe sekarang," balas Bilqis berbisik.

"Seminggu lagi aku akan datang ke rumah kamu Qis, tentu aja nggak sendiri. Aku akan ajak kakakku. Semoga jawaban yang aku terima nantinya sesuai dengan keinginanku," ucap Gibran sambil tersenyum.

"Manis banget," ucap Bilqis tanpa ia sadari.

"Apanya yang manis, Qis?" tanya Gibran yang heran. Masalahnya, bakso yang Bilqis pesan dicampur sambal yang banyak, dan minuman pun Bilqis mintanya yang tanpa gula.

"Kamu, eh," jawab Bilqis yang kemudian menutup mulutnya sendiri.

Aduh, Qis, Qis! Kenapa mulut kamu nggak bisa dikontrol sih!?

Bilqis memarahi dirinya sendiri di dalam hati.

Gibran tersenyum mendengar itu, sementara Uki dan Maisa hanya geleng-geleng kepala. Mereka berdua sudah hapal dengan sikap Bilqis yang terlalu jujur ketika memuji orang.

"Qis, butuh bantuan untuk nutup mulut kamu nggak? Daripada pake tangan sendiri, mending pake tangan orang lain. Tenang ada garansinya kok," ucap Uki yang langsung membuat Bilqis membulatkan matanya ke Uki.

Bilqis tahu apa yang dimaksud Uki, wanita itu ingin men*bok mulutnya yang terlalu jujur.

"Aku tahu, aku memang manis sejak dulu, tapi kamu juga manis, Qis."

Pujian yang dilontarkan Gibran ke Bilqis membuat Uki dan Maisa ikut meleleh juga. Mereka berdua bahkan sampai terbatuk karenanya. Begitu juga dengan Bilqis yang tampak membeku di tempat karena baru kali ini ada seorang pria yang memuji dirinya. Bahkan ayahnya saja, sukanya mengumbar kejelekannya.

"Sebaiknya kita cepat akhiri makan ini, terus pulang," ucap Uki.

*

*

Mereka berempat pun kini telah sampai di Cafe Hijau. Mereka hendak berpisah disana, akan tetapi ada seorang wanita lagi yang menghampiri Gibran. Yang membuat kesalnya adalah, Gibran mengingat wanita itu bahkan namanya juga ingat.

"Bella? Ngapain disini?" tanya Gibran ketika wanita itu berdiri tepat di hadapan Gibran.

"Aku baru aja mau masuk ke dalam cafe, tapi aku melihat orang yang mirip dengan kamu, makanya aku mendekat dan ternyata itu benar kamu, Gib. Apa kabar? Lama ya kita nggak ketemu. Terakhir sepertinya di hari kelulusan," ucap Bella.

"Ah, iya aku memang sibuk setelah lulus," jawab Gibran.

"Ngomong-ngomong kok bisa kamu sama mereka bertiga? Setahu aku dulu kalian tak saling mengenal. Circle pertemanan kita saja berbeda."

Bella menatap satu persatu wajah Uki, Maisa dan Bilqis dengan tatapan yang tidak suka. Ya wajar sih, masalahnya emang penampilan berbeda, bahkan dulu mereka tak saling mengenal, cuma sekedar tahu aja.

"Mereka adalah temanku, tapi Bilqis adalah calon istriku, insyaallah," jawab Gibran yang membuat Bella membulatkan matanya.

Bella mengeluarkan tawa kecilnya sambil memegang perutnya.

"Kalau becanda jangan kelewatan Gib. Mana mungkin kamu suka sama wanita modelan kaya dia. Tipe kamu itu yang seperti aku. Daripada sama dia mending kita balikan," ajak Bella yang tiba-tiba semakin mendekat ke Gibran dan hendak meraih tangan Gibran. Sayangnya, hal itu tak sampai terjadi, karena Gibran lebih dulu menghindar dan bersembunyi di belakang tubuh kecil Bilqis.

Bilqis yang sudah tak bisa menahan kesalnya langsung maju dan mengeluarkan suaranya.

"Denger ya, Mba mantan yang hanya masa lalu. Dekat-dekat sama kamu aja Gibran takut, apalagi sampai balikan. Jelas-jelas tadi kamu udah dengar kalau aku itu calon istri dari Gibran. Apa telinga kamu itu tidak bisa mendengar dengan baik? Kamu boleh jadi tipenya di masa lalu, tapi kini aku adalah tipenya. Jadi, sana pergi jauh-jauh, percuma mendekat, karena Gibran nggak akan mau sama kamu!"

"Gib, dia benar-benar keterlaluan sama aku. Kamu nggak mau memberikan pembelaan untuk aku?"

Gibran menggeleng.

Bilqis semakin melawan dengan menaruh kedua tangannya di pinggangnya. Wanita itu pun kesal dan tiba-tiba pergi dengan sendirinya.

Gibran tersenyum.

"Apa senyum-senyum begitu, udah nggak manis lagi, malah kecut!" ucap Bilqis yang masih kesal.

Uki dan Maisa mengusap punggung Bilqis untuk menenangkan sahabatnya.

"Aku sudah mendapatkan jawabannya. Kamu sudah menerima lamaranku. Tadi kamu udah mengakui dengan sendirinya kalau kamu adalah calon istriku. Jadi kapan mau nikahnya?"

Seketika rasa kesal Bilqis langsung menghilang diganti dengan rasa terkejut. Dia tak sadar dengan ucapan yang sudah dikeluarkannya tadi.

"Nggak, belum, itu tadi keceplosan aja," ucap Bilqis beralibi.

"Em begitu, baiklah," ucap Gibran sambil mengangguk-angguk.

Mereka pun pada akhirnya berpisah disana, mobil Gibran sudah lebih dulu pergi, sementara Uki, Maisa dan Bilqis masih berdiri disana.

"Qis, kayanya bukan kamu yang melet dia, tapi Gibran yang melet kamu. Abis dia keliatan lebih cinta daripada kamu," ucap Maisa.

"Ngawur, mana mungkin. Aku yang dulu sama aku yang sekarang lebih buluk yang dulu," ucap Bilqis.

"Sebuluk-buluknya kamu, tapi cowok ganteng pun mendekat Qis sampai melamar pula. Nggak mungkin dong matanya bermasalah."

"Tau ah, pusing," jawab Bilqis yang kemudian berjalan ke parkiran. Dia mencari mobil milik Uki disana.

Di perjalanan, ketiga sejoli itu masih mengobrol. Tiba-tiba mobil Uki yang dikendarai Bilqis menabrak tukang sayur yang lewat. Rupanya itu tukang sayur yang sama seperti biasanya.

Bilqis menurunkan kaca mobil dan melongoknya kepalanya.

"Bang Ben maaf nggak sengaja, Iqis buru-buru, langsung telpon ayah aja buat ganti ruginya."

Setelah itu Bilqis melajukan lagi mobilnya dan menerima sedikit kemarahan dari Bang Ben.

"Qis, Qis, kebiasaan kamu emang nggak bisa diubah. Siap-siap aja pulang-pulang di rumah langsung dimarahi sama pade. Aku sih nggak masalah mobil ini baret atau rusak, toh aku emang sudah bosan dan mau minta dibelikan yang baru sama suamiku."

"Ih, jangan diingetin, nanti ayah tuh suka ngungkit-ngungkit."

Mobil Uki sudah berhenti di depan rumah Bilqis. Baru saja keluar dari dalam mobil Uki, Ayah Bilqis sudah berkacak pinggang di depan pintu. Bilqis menelan ludahnya sendiri. Apalagi ditambah ibunya yang sudah bersiap memegang sapu.

"Siaga lima Ki, Mai. Tolong bantu aku!" ucap Bilqis yang tiba-tiba bersembunyi di belakang tubuh kedua sahabatnya.

"BILQIS SAFRINA! SINI KAMU!"

Suara Ibu begitu menggelegar di telinga Bilqis. Bilqis masih bersembunyi. Lalu tiba-tiba Ibu mendekat dan hendak memukul Bilqis dengan sapu yang dipegang Ibunya.

Bilqis dengan cepat langsung berlari sekuat tenaga lalu dikejar oleh Ibu.

Uki, Maisa dan Ayah hanya bisa menonton saja sambil tertawa.

"Uang belanjaan bude sudah jadi minus gara-gara Bilqis udah tiga kali nabrak si Ben, padahal belum juga ada sebulan."

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

Rita Riau

Rita Riau

ini yg ketiban sial Bilqis apa si tukang sayur ya,,, kayak nya langganan bgt tabrakan,,, Alhamdulillah bgt ga ada yg masuk rumah sakit 🤔🤭😁

2024-02-21

0

Depoll

Depoll

astaghfirullah Bilqis sumpah ngakakakkk bgd nih

2023-10-17

2

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

Belajar lebih luwes dlm bersikap dong Qis..............

2023-10-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!