Part 19

Gedung yang akan jadi tempat pernikahan Bilqis luas sekali. Apalagi ketika Bilqis melihat beberapa rekomendasi dekorasi dari pihak WO nya. Benar-benar megah dan berkelas. Kalau Ibu ikut kesini pasti sudah heboh dan ingin segera pamer.

"Gimana menurut kamu, Qis? Gedungnya bagus kan?"

"Bagus banget Mba. Aku sampai speechless saking gedenya. Apa nggak bisa cari yang lebih kecil aja Mba? Kayanya gedung ini kemahalan deh," ucap Bilqis yang tak mau menghabiskan uang pernikahan terlalu banyak.

"Jangan pikiran masalah biaya, sudah ditanggung semua kok sama Gibran. Lagian, Gibran mah sanggup buat pernikahan yang lebih mewah dari ini juga. Apalagi buat kamu, Qis. Apa aja pasti dikabulkan."

"Tetep aja ... "

"Udah ya, pokoknya fix gedungnya pake yang disini. Dekorasinya yang ini menurut kamu gimana?"

Sepertinya percuma saja Bilqis memberikan pendapatnya ujung-ujungnya dia tetap kalah juga.

"Bagus Mba, aku mah terserah Mba aja deh. Pusing kalau mikirin kaya gini tuh," ucap Bilqis dengan jujur.

Mba Gisel tampak tersenyum.

"Kamu dan Gibran itu sama aja, sama-sama nggak mau repot."

Dibalas dengan cengiran oleh Bilqis.

Obrolan masih terus berlanjut tentang undangan dan souvenir untuk tamu undangan. Hingga waktu pun tak terasa sudah pukul 5 sore aja. Untungnya, semuanya sudah selesai dibicarakan. Tinggal nanti mengurus masalah gaun pernikahan.

"Mba aku anterin Bilqis pulang dulu ya," pamit Gibran.

"Iya anterin dulu sana, sekalian bawain sesuatu buat calon mertua. Pasti mereka senang."

Gibran pun mengangguk.

*

*

Di perjalanan, Bilqis meminta Gibran untuk menurunkannya di sekolah saja karena motornya dia tinggal di sekolah, tapi Gibran menolak dengan alasan keselamatan Bilqis.

"Tapi, kalau kamu antar aku ke rumah pakai mobil kamu, besok pagi aku berangkat kerjanya gimana?"

"Gampang, aku anterin, sekalian anterin Naina berangkat sekolah."

"Ya udah deh, terserah," jawab Bilqis yang membuat senyum tipis di bibir Gibran mengembang.

Setibanya di depan rumah, Bilqis pikir kedua orang tuanya ada di dalam rumah, rupanya kedua orangtuanya lagi asik duduk-duduk santai di depan rumah. Belum lagi Ibu yang sudah heboh karena Bilqis diantar pulang oleh calon menantunya.

"Ya ampun cah bagus, cah ayu ayo masuk dulu," sambut Ibu dengan Ramah.

Gibran pun mengangguk sambil menyerahkan beberapa bingkisan kue yang tadi dibeli di jalan.

"Qis, buatin minuman!" pinta Ibu ke Bilqis.

Walaupun kini Bilqis ada di dapur, tapi obrolan Ibu dan Gibran itu masih kedengaran ke telinga Bilqis. Maklumlah lah, rumahnya emang enggak terlalu besar.

"Nak Gibran, Ibu tadi udah liat foto gedung sama dekorasinya, dikirimin sama kakaknya Nak Gibran, bagus banget. Ibu kira mau buatnya di depan rumah ini aja, soalnya halaman rumah Ibu kan luas juga, tinggal sewa pratag dari Pak RW."

"Nggak Bu, sewa gedung aja biar nggak perlu cape bersihin kalau udah selesai acara nanti. Terus masalah makanan juga nanti kita catering Bu."

"Masyaallah, banyak betul nanti keluar uangnya, duh Ibu jadi nggak enak gini. Nggak bantu apa-apa."

"Lagaknya nggak enak, Bu, Bu. Padahal pasti di dalam hati Ibu senang tuh," ucap Bilqis yang ngedumel sambil memasukan gula ke dalam gelas.

"Nggak papa, Bu. Kan kemarin udah dibilang, Ibu, Ayah, sama Bilqis cuma datang aja nanti."

Tak lama kemudian Bilqis pun datang dengan membawa minuman. Naina yang memang sudah haus langsung mengambil minuman dingin itu.

"Sini duduk sama Tante aja," ajak Bilqis ke Naina.

Naina pun menurut dan duduk di pangkuan Bilqis. Gibran yang melihat kedekatan Bilqis dan Naina pun jadi ikut senang.

"Ayah kemana ya, Bu?" tanya Gibran yang mungkin heran, padahal tadi Ayah kan ada di depan. Entah sejak kapan panggilan Gibran ke Ayah berubah yang tadinya manggil Om.

"Mandi, malu katanya ketemu calon mantu tapi dianya masih buluk. Takut kalah saing katanya," ucap Ibu yang membuat Gibran tertawa tipis.

"Lagipula sebentar lagi kan juga udah mau magrib. Sebenarnya emang kebiasaan Ayah mandi sorenya kalau mau magrib."

Gibran mengangguk-angguk saja.

Adzan magrib berkumandang tepat ketika Ayah datang ke ruang tamu. Pakaiannya sudah ganti dengan koko dan mengenakan peci dan sarung. Apalagi tubuhnya, beh wanginya semerbak kembang tujuh rupa. Sepertinya satu botol minyak wangi habis dipakai oleh Ayah.

"Ayo ke masjid Nak Gibran," ajak Ayah, dan Gibran pun mengiyakan.

Ketika dua laki-laki itu tak ada di rumah. Aku dan Ibu memasak di dapur, sementara Naina bermain dengan boneka yang Bilqis miliki di waktu kecil. Untungnya, gadis kecil itu tak rewel meski ditinggal sendirian.

"Kamu harus mulai belajar masak Qis. Punya suami terlalu tampan itu mesti dijaga. Banyak pelakor dimana-mana apalagi dia bukan cuma tampan aja, kaya pula."

"Kan Iqis juga udah belajar masak Bu. Dikit-dikit lah."

"Dikit-dikit apanya? Kamu tuh bisanya cuma rebus mie instan doang. Goreng telur aja sampe gosong. Terus kalau disuruh sama Ibu goreng ikan udah kaya mau perang aja malah pake helm. Astaghfirullah banget kelakuan kamu tuh Qis."

Bilqis manyun karena Ibunya lagi-lagi menjelekkan dirinya.

"Aku itu anak Ibu bukan sih? Hobi banget jelek-jelekin anak sendiri."

"Astaghfirullah, ya anak Ibu lah. Kamu itu brojol dari perut Ibu."

"Tapi kok gitu sikap Ibu ke Iqis? Bikin sakit hati tau!"

Ibu menoyor kening Bilqis pelan.

"Biar kamu tuh nyadar Qis, kamu udah dewasa, kamu udah mau menikah. Kudu bisa semuanya. Kamu pikir nikah itu cuma butuh cinta? Ya enggak dong. Kalau cinta doang mah, nggak bakalan kenyang Qis. Pokoknya mulai sekarang kamu mau Ibu ospek di dapur. Nanti biar Ayah yang jadi kelinci percobaannya."

Bilqis cuma bisa geleng-geleng kepala.

Kenapa coba harus Ayah, padahal Ibu aja kan bisa. Dasar nggak mau ambil resiko kalau aku masaknya nggak enak.

Satu jam berlalu, semua masakan pun sudah siap, Ayah dan Gibran pun sudah pulang dari masjid. Mereka di masjid sampai waktu isya.

"Wah, harum banget baunya, masak apa Bu?" tanya Ayah yang tiba-tiba nongol di dapur.

"Masak rica-rica ayam, tempe goreng, tumis kangkung. Panggilin Gibran sama Naina Yah. Kita makan bareng."

Ayah pun kembali lagi ke ruang tamu untuk memanggil Gibran dan Naina.

Suasana makan malam terasa sangat hangat. Apalagi celotehan Naina membuat suasana jadi rame. Belum lagi hati Ibu yang udah melayang tinggi ke langit karena terus-terusan dipuji sama calon menantunya.

"Pokoknya kalau kamu mau makan masakan Ibu lagi, datang aja kesini, Ibu masakin yang enak pokoknya. Iqis mah jangan diharepin, bisanya cuma makan doang, tapi tenang aja, Ibu bakalan ajarin dia mati-matian biar kamu betah di rumah nantinya."

Masyaallah Ibuku, kamu emang suka banget bikin anaknya malu.

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

itulah bedanya ibuku ma ibu Iqis:ibuku MH pendiam meski anaknya gk BS masak jg,tp ibu Iqis bagus itu,bagiku ibu Iqis itu LBH ke "menyemangati"spy anaknya hrs bisa masak👍🤭

2023-11-04

0

Yunia Afida

Yunia Afida

lahhhhhhhh kok ngulang maneh, semangat terus

2023-10-18

0

Nar Sih

Nar Sih

semgatt kakk,jgn sering di ulang ya💪

2023-10-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!