Happy Reading.
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Lo kenapa?“ tanya Reno pada Andrew saat ia dan sahabatnya itu kini sedang berada di kamar pribadi Andrew dalam kediaman keluarga sahabatnya itu, dimana si empunya kamar sedang merapikan buku pelajaran yang ada di dalam jadwal pelajaran besok.
Andrew sudah menyuruh salah seorang pekerjanya untuk mengambilkan peralatan sekolahnya di kamarnya dalam rumah keluarga Reno, karena dirinya akan tidur di kamarnya dalam kediaman keluarganya tersebut – sebab orang tua Andrew sudah datang dari negara I.
Reno sih sudah merapikan buku pelajarannya untuk hari esok hari, sebelum ia menyambangi kediaman keluarga Andrew dan Reno akan tetap tidur di kamar pribadinya di rumah keluarga cowok itu, karena Bunda Rina sedang menolak untuk menginap di kediaman keluarganya Andrew.
“Kenapa gimana? –“
“Dari tadi banyak bengong gue perhatikan? –“
“Perasaan lo aja itu sih.” Andrew menimpali cepat dugaan Reno padanya.
Reno manggut – manggut saja.
“Lo ada rencana ngajak main si Fania lagi sabtu nanti? ..”
Reno langsung mengangkat alisnya sambil memandang sedikit heran pada Andrew yang barusan mencetuskan sebuah pertanyaan yang bagi Reno sedikit mengherankan.
“Kenapa? Ada ucapan gue yang salah? –“
“Ga ada yang salah .. dan itu mengherankan ..”
“Mengherankan gimana? –“
“Mengherankan. Lo sebut Fania dengan namanya, bukan seperti biasa lo sebut dia dengan sebutan cewe tengil.”
Andrew mendengus setengah geli setelah mendengar ucapan Reno barusan.
“Nanti kalo gue sebut adik angkat lo itu cewe tengil, lo marah. Serba salah.”
Setelahnya Andrew langsung berucap.
“Gue sih maunya ajak dia menginap sabtu nanti. Tapi katanya Fania mau diajak orang tuanya ke rumah saudara mereka di luar kota dan menginap juga di sana.”
“Oh –“
🚬🚬
“Kayaknya mulai sekarang, Fania ga usah main lagi kali ya Mah sama Kak Reno? .. Daripada nanti Kak Reno malah ribut sama sodaranya? ..”
Andrew yang hanya ber oh ria setelah mendengar ucapan Reno yang menimpali perkataannya perihal cara Andrew menyebut cewek tomboy yang sudah Reno anggap adiknya itu, kemudian teringat perkataan dari cewek yang sedang menjadi topik pembicaraannya dan Reno saat dirinya tadi iseng mengikuti Reno walau ada jedanya – lalu entah kenapa juga jadi iseng banget malah mengikuti itu cewek yang sedang ia dan Reno bahas.
‘Hhh!’ Andrew kemudian menghela nafasnya dengan agak sedikit berat dalam hati. Dimana Reno tak lama kemudian berpamitan padanya. Karena seorang art menyambangi kamar Andrew lalu menyampaikan pesan dari Bunda Rina yang hendak pulang, dan Reno akan ikut dengan ibunya itu – Andrew pun langsung mengangguk.
Serta juga Andrew berdiri dari duduknya dan menyertai Reno ke lantai bawah kediaman keluarganya tersebut, untuk sekedar mengantar sahabatnya beserta ibunya Reno itu sampai pintu depan kediaman keluarganya.
🚬🚬
'Sorry, Fania ..'
Adalah yang Andrew lirihkan dalam hatinya ketika Reno dan Bunda Rina telah meninggalkan kediaman keluarganya, dan Andrew sudah juga kembali lagi ke kamarnya.
Lalu Andrew mengingat setiap kalimat yang keluar dari mulut cewek yang tadi ia lirihkan dalam hatinya itu, ketika Andrew mengikuti cewek tersebut yang kemudian menyambangi sebuah warung yang menjual lauk matang di pinggir jalan – dan yang bersangkutan kemudian bicara dengan seorang wanita dewasa yang sedikit lebih muda dari ibunya.
Yang Andrew bisa perkirakan seperti itu, karena selain suara, Andrew yang sembunyi – sembunyi dan membuat dirinya agar tidak diperhatikan oleh orang yang ia ikuti dan wanita yang Andrew tebak adalah ibunya Fania – sempat melirik ke arah dua orang itu yang juga bersama seorang bocah SD.
“Kan Fania udah cerita waktu itu. Ada sodaranya Kak Reno yang mikir Fania itu deket sama Kak Reno karena Kak Reno orang kaya .. padahal Fania emang tulus bertemen sama Kak Reno. Ga ada tuh sedikit juga niat buat meretin Kak Reno .. tapi kenapa ya Mah, dia tega banget mikir Fania sejelek itu? ..”
“Ya orang kan beda – beda Fania. Apalagi mereka orang kaya. Wajar kalo sodaranya si kakak ganteng itu mikir begitu tentang kamu. Orang kaya mah rata – rata maunya bergaul sama yang sama – sama kaya aja kebanyakan. Reno aja kali tuh yang beda. Mau temenan sama kamu yang anak orang biasa ..”
“Harusnya Fania ga usah sok akrab ya waktu ketemu lagi sama Kak Reno abis dia nganterin Fania pas pertama kali ketemu dia? Harusnya kan Fania sadar diri ya Mah?”
“Ya udeh jangan ngerendahin diri sendiri. Banyak – banyak bersyukur aje. Alhamdulillah kita ga susah – susah amat. Masih bisa makan tiap hari.”
“Kayaknya mulai sekarang, Fania ga usah main lagi kali ya Mah sama Kak Reno? .. Daripada nanti Kak Reno malah ribut sama sodaranya? ..”
“Ya itu sih terserah kamu aja .. tapi jangan sampe ucapan kamu malah nyinggung perasaannya si kakak ganteng. Kalo die ajak maen ya maen aja. Tapi ga usah kali ke rumahnya apalagi nginep. Terus tolak aje setiap dia mau ngasih apalagi beliin kamu ape – ape. Tapi tolaknya yang sopan, jangan sampe nyakitin hati orang yang udeh bae sama kita –“
“Iya, Mah.”
“Hhh ..” Kembali Andrew menghembuskan nafasnya sedikit frustasi.
Ada gelungan rasa bersalah dalam hatinya pada cewek bernama Fania itu.
“Salut sama si Reno. Feelingnya memang ga pernah meleset ..”
🚬🚬
Empat hari berlalu dari ketibaan orang tua Andrew untuk mengunjungi anak – anak mereka, Andrew dan Reno pun bersekolah seperti biasa.
“Lo balik duluan aja.”
Reno berkata pada Andrew saat waktu sekolah sudah berakhir.
“Kenapa? ..” Andrew pun langsung merespons ucapan Reno itu.
“Gue ada urusan –“
“Urusan apa? –“
“Ada, lah ..”
“Jangan – jangan lo sudah punya pacar, terus mau kencan? –“
“Sampai sekarang gue belum tertarik untuk melakukan hal yang ga penting itu. selain gue lebih memilih baca buku atau menyelesaikan soal pelajaran daripada pacaran. Gue ga kurang kerjaan macam lo –“
“Haha!”
Andrew sontak tergelak ringan.
Reno memutar bola matanya malas.
🚬🚬
“Sejak kapan lo rahasia-rahasiaan sama gue?”
Andrew kembali bertanya setelah ia selesai tergelak.
Reno pun langsung menghela nafasnya. Lalu sempat melirik bersama Andrew pada teman akrab mereka di kelas yang mengajak keduanya untuk segera hengkang dari kelas mereka tersebut.
Reno dan Andrew sama menanggapi ajakan teman akrab mereka tersebut. Lalu berdiri dari duduk mereka tak lama kemudian, dan berjalan untuk keluar dari kelas – dimana Reno kemudian menjawab tudingan Andrew padanya.
“Gue mau ke rumah Fania .. anter oleh – oleh dari Bunda. Nanti sabtu sama minggu kan gue ga ketemu dia? .. jadi sekarang gue mau anter.”
🚬🚬
“Arah rumah ke sana ..” ucap Reno pada Andrew.
Dimana Reno memberhentikan motornya ketika ia menangkap refleksi Andrew yang mengendarai motornya sendiri ada persis di belakangnya. Sambil Reno membuka helmnya dan menunjuk ke arah yang berlawanan dari tempatnya mengarah.
“Gue mau ikut lo ..” sahut Andrew yang juga sudah memberhentikan motornya tepat di samping motor Reno.
“Ga ada. Ga ada ..” Reno berkata dengan cepat pada Andrew setelah mendengar ucapan sahabatnya itu. “Lo ga perlu ikut gue ke rumahnya Fania ..”
“Why?”
“Gue ga mau lo keceplosan ngerendahin Fania kalau lo ikut gue ke rumahnya.” jawab Reno.
“Gue ga pernah ngerendahin dia perasaan?“ sahut Andrew.
“Secara langsung ke orangnya engga.”
Reno menimpali cepat ucapan Andrew.
“Tapi dengan lo berpikir kalau dia mau berteman sama gue karena lo pandang status perekonomian keluarganya dari pakaian yang dia pakai dan lo berpikir dia ga sebanding dengan keluarga kita .. itu, udah termasuk lo merendahkan Fania –“
“Oke gue salah,” tukas Andrew.
“Seriously Ndrew .. lo ga perlu ikut ke rumah Fania.”
🚬🚬
“Lo ga akan merasa nyaman di sana.” Reno lanjut bicara, sambil memandang pada Andrew yang langsung menanggapi ucapannya.
“We’ll see about it.” Andrew menjawab enteng.
Membuat Reno lalu menghembuskan nafas lelahnya karena keras kepalanya Andrew.
Karena Reno memang tidak ingin Andrew menyertainya ke rumah cewek yang sudah Reno anggap adiknya sendiri itu.
Reno punya pertimbangan.
Yang sedikit banyak karena terkadang, mulut Andrew itu ‘pedas’
Suka mencibir tajam, walau Andrew melakukannya secara spontan dan berdasarkan kenyataan.
Hanya saja -- untuk seorang Reno, cewek abg yang bernama Fania itu pengecualian untuk Andrew dan mulut ‘pedas’ nya.
“Kita mau sampai sore di jalanan begini? .. kalo lo mau ngajak gue ngobrol, lebih baik balik ke warbeh,” ujar Andrew. “Paling engga di sana ga langsung terkena sinar matahari siang begini, sekaligus bisa duduk santai sambil minum minuman dingin.”
🚬🚬
“Lo tunggu di sini aja.”
Beberapa belas menit kemudian, Reno dan Andrew sampai di sebuah kawasan yang mana jalanannya adalah salah satu jalan utama di ibukota dari negara yang mereka tinggali.
Keduanya sudah memarkirkan motor mereka di sebuah area yang disebut sebagai pasar terbesar di ibukota. Reno sih yang mengarahkan, dan Andrew mengekori saja.
Pada akhirnya Reno membiarkan Andrew menyertainya, karena memang tadi mereka bicara dengan posisi di pinggir jalan besar dekat sekolah.
Yang walaupun tidak sampai mengganggu lalu lintas, namun Reno akhiri perdebatannya dengan Andrew karena sinar matahari begitu terik. Terasa menyengat di kulit. Selain polusi dari knalpot bis yang lalu lalang dan bising suara ragam kendaraan.
“Gue cuma sebentar.” Namun Reno masih mencoba lagi untuk menghalangi Andrew menyertainya ke rumah cewe bernama Fania itu.
“Lo minta gue nongkrong di pasar? .. Hell No! Gue ga mau! ..” sergah Andrew. “Gila aja lo suruh gue berdiri di sini? --“
“Yang suruh lo berdiri di sini siapa? Tuh ada warung kopi. Ada kipas angin di sana –“
🚬🚬
Reno menunjuk ke arah sebuah warkop yang tempatnya nampak permanen.
“Gue parkir motor di sini karena tempat putar balik jauh,” ucap Reno lagi. “Dan di daerah rumah Fania susah untuk cari parkiran motor.”
“Intinya gue ga mau nunggu di sini,” putus Andrew. Dan Reno pun mendecakkan lidahnya.
“Rumah Fania masih agak jauh dari sini. Masih harus melewati itu jembatan penyebrangan –“
“Gue tau.”
🚬🚬🚬🚬
To be continue......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Lindra
berasa ada bawangnya maakk😭
2023-10-18
1