Selamat membaca...
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Pokoknya lo ga usah ambil hati sikap sama omongannya si donal bebek botak tadi...” Reno yang sedang berjalan bersama seorang gadis tomboi yang ia rangkul pundaknya.
Fania, nama gadis itu. Anak cewek tomboi yang sama seperti Andrew, Reno agak bingung itu si Fania cewek atau cowok karena penampilannya yang betul-betul seperti anak laki-laki---kala pertama kali Reno melihat Fania.
“Iya, Kak---“
“Selain cerewet, ya begitu emang tabiatnya si Andrew.” Reno menukas ucapan Fania yang menyahuti ucapannya. “Keselan orangnya, meski sama hal kecil juga,” kata Reno lagi.
“Iya---“
“Ya udah jangan murung lagi, dong?---“
🚬🚬
“Assalamu’alaikum.”
Reno dan Fania sama mengucapkan salam saat keduanya telah sampai ke dalam rumah Reno.
“Wa’alaikumsalam....”
Dan sahutan pun terdengar di telinga Reno dan Fania yang sedang berjalan ke satu arah ruangan dalam hunian Reno dan keluarganya tersebut.
Satu bentuk suara saja yang terdengar, namun yang nampak di mata Fania dan Reno kala keduanya menghampiri sumber suara, ada dua orang di dalam satu ruangan yang merupakan ruang makan terbuka.
🚬🚬
“Mau kemana, Drew?....”
Suara dari orang yang tadi menjawab salamnya Reno dan Fania terdengar lagi.
Bunda Rina.
Yang hanya suaranya yang terdengar di telinga Reno dan Fania tadi selepas mereka mengucapkan salam.
Namun nyatanya Bunda Rina tidak sendirian, ada Andrew juga di dekatnya. Yang sekarang orangnya telah berdiri dari tempatnya.
“Aku udah selesai, Bun....” dan menjawab pertanyaan Bunda Rina tadi.
“Dihabisin dulu makanannya dong Andrew, mubazir kan?---“
“Ga lah Bun. Udah ga selera.” Andrew menimpali cepat ucapan Bunda Rina, sambil ia melirik sinis kepada Fania.
🚬🚬
“Ck.”
Reno langsung saja mendecakkan lidahnya, selepas Andrew menjawab ucapan Bunda Rina yang menyuruhnya menghabiskan makanan sarapan Andrew di piringnya.
Pasalnya Reno menyadari betul kesinisan Andrew pada Fania yang nampak jelas antipatinya itu. sementara Fania nampak diam gugup di tempatnya dengan melipat spontan bibirnya kala Andrew bersikap begitu.
Fania memang merasa kalau sikap Andrew itu adalah karenanya.
Dan Gadis tomboy itu jadi merasa canggung sekarang.
🚬🚬
“Dah cuekin aja.”
Reno berkata sambil meraih lagi satu pundak Fania dengan satu tangannya.
“Lo sarapan aja dengan tenang....” Reno berucap lagi, sambil mendudukkan Fania pada kursi meja makan yang sudah ditariknya.
“Nah lo mau kemana, Kak?... sini lah sarapan sama gue,” kata Fania pada Reno yang tidak mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan.
Malah Reno nampak hendak melangkah ke lain tempat.
🚬🚬
“Nanti gue nyusul...”
Reno menanggapi ucapan Fania.
“Gue mau ngomong dulu itu sama si donal bebek botak---“
“Kalian bertengkar?” sela Bunda Rina, bertanya sambil menoleh pada Reno yang menjawab Bunda Rina dengan mata Reno yang melirik kepada Fania yang tertunduk di tempatnya. Bunda Rina memahami itu, ia pun tersenyum maklum kemudian---dimana Reno kemudian memegang kepala Fania dan mengacak rambutnya dengan pelan, lalu berucap sebelum hengkang dari tempatnya.
“Lo sarapan yang bener sama Bunda, oke?...”
🚬🚬
Reno sudah akan mengayunkan kakinya menuju area kolam renang di bagian belakang rumahnya untuk menyambangi Andrew yang terlihat berjalan ke arah sana tadi, namun ayunan kaki Reno terjeda.
“Kak, lo mau ngomongin apa deh sama dia?”
Karena Fania menahan langkahnya dan bertanya pada Reno.
“Kalo mau ngomongin soal gue sama dia mending ga usah deh. Ntar dia tambah bete sama gue...”
Fania menambahkan ucapannya, dengan ekspresi wajah yang memelas, sedikit tak tenang.
“Gitu aja dia udah sentimen banget sama gue kayaknya?...”
Sekali lagi Fania menambahkan ucapannya pada Reno.
Fania memandang sedikit sendu pada Reno. Dimana yang bersangkutan tersenyum padanya.
“Ga apa-apa Reno ngomong sama Andrew. Justru Reno pasti mau nasehatin Andrew biar ga terlalu keras sama Fania---“
“Betul sekali Bunda cantik---“
“Bunda sih ga tau permasalahannya apa,”
Bunda Rina langsung menimpali ucapan Reno yang menyambar ucapannya.
“Tapi biar sama-sama enak, abis Reno ngomong sama Andrew, Fania bisa juga ngomong maaf duluan sama Andrew? Karena walau mungkin Fania ga salah, tapi ada miskom lalu akhirnya ada pertengkaran dan membuat hubungan pertemanan jadi ga enak, kan ga nyaman. Iya kan?”
“Iya, Bun,” sahut Fania.
Bunda Rina tersenyum dan mengusap lembut kepala Fania. “Jadi terlepas siapa yang salah... Fania atau Andrew, Fania justru hebat kalau mau berkata maaf duluan...” Bunda Rina kembali memberikan nasehat dengan caranya pada gadis tomboi yang sudah anak lelakinya anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Fania sekali lagi mengangguk dan menyahut patuh, mengiyakan nasehat Bunda Rina, dan Reno juga tersenyum sekali lagi sambil mengacak kembali rambut bondolnya Fania.
🚬🚬
“Dah lo makan tenang-tenang oke? Gue cuma sebentar---“
“Iya, Kak---“
“Tinggal bentar ya?”
Pamit Reno pada Bunda Rina dan Fania.
“Iya---“
🚬🚬
Saat Reno telah mengayunkan kakinya dan berjalan ke arah kolam renang rumahnya, Bunda Rina membantu Fania untuk mengambil sarapannya. “Fania mau sarapan apa?” tanya Bunda Rina. “Roti lapis atau nasi goreng?” tanya Bunda Rina lagi.
“Bunda aja yang pilihin---“
“Loh kok Bunda yang pilih?...” tukas Bunda Rina.
“Soalnya dua-duanya pasti enak, karena buatan Bunda---“
“Duh, Bunda selalu terbang kalo udah ngomong sama Fania yang sering banget muji Bunda---“
“Memang kenyataannya begitu kan, Bun? Masakan Bunda enak-enak semua,” timpal Fania memuji Bunda Rina yang memang tulus ia katakan sesuai kenyataan.
Lalu Fania berucap lagi, namun bukan kepada Bunda Rina.
“Tapi masakan Bi Sari juga enak kok.”
Melainkan kepada 1 art keluarga Reno yang sudah juga akrab dengan Fania.
“Alhamdulillah, Bibi kebagian pujian juga.” Satu art keluarga Reno itu pun menjawab pujian Fania padanya. Lalu baik 1 art itu, Bunda Rina dan Fania---terkekeh bersama untuk sejenak.
🚬🚬
“Bunda sama Bibi udah sarapan?” Fania lalu mencetuskan pertanyaan.
“Belum, nunggu kamu sama Reno.”
“Kalo Bibi udah duluan, Non.”
Art keluarganya Reno menjawab setelah Bunda Rina.
Lalu setelahnya ia pamit untuk pergi ke belakang, melanjutkan pekerjaannya yang lain setelah menaruh satu teko kaca berisikan air minum yang diletakkan di antara menu sarapan.
“Ya udah Fania mau apa jadinya? Roti lapis atau nasi goreng?” Bunda Rina lalu bertanya pada Fania selepas kepergian artnya. “Atau mau dua-duanya sekalian?”
“Maruk amat kesannya Fania, Bun?” jawab Fania dan Bunda Rina pun terkekeh kecil.
“Ga apa-apa, biar dibolehin terus Fania main sama nginep di sini sama orang tuanya, karena kalo pulang dari sini, anaknya jadi montok.”
Bunda Rina lalu membalas ucapan Fania sambil menyertakan sedikit guyonan dalam kalimatnya, hingga gantian Fania yang terkekeh kecil. “Tapi Fania mau Nasi goreng aja deh, Bun,” ucap Fania kemudian dan Bunda Rina mengangguk sambil tangannya terulur untuk menyendokkan menu sarapan yang Fania pilih barusan. “Cukup, Bun.”
Fania lalu menahan tangan Bunda Rina yang hendak mengambil lagi nasi goreng dari wadahnya setelah menaruh satu sendok nasi ke piring Fania. “Ih dikit banget. Tambahin ya? Nanti anak perempuan kesayangan Bunda ga kenyang?”
Fania langsung nampak tersenyum senang mendengar ucapan Bunda Rina barusan. “Nanti kalo masih laper Fania nambah, Bun...”
“Bener ya?”
Bunda Rina lalu menimpali setelah mendengar ucapan Fania barusan.
Fania baru hendak buka suara, namun satu art lain keluarga Reno selain yang sebelumnya berinteraksi dengan Fania---dimana satu art itu datang dan mendekat ke tempatnya dan Bunda Rina berada, lalu menyampaikan sesuatu kepada ibunya Reno yang kemudian nampak mengangguk dan menyahut pada art nya tersebut---lalu berdiri kemudian.
🚬🚬
Bunda Rina pamit pada Fania karena ada telepon dari ayahnya Reno, sesuai dengan yang disampaikan artnya yang datang ke hadapan dua perempuan beda usia yang sedang berada di ruang makan itu, lalu Fania mengangguk maklum pada Bunda Rina yang hendak menerima panggilan telepon dari ayahnya Reno itu.
‘Kak Reno lama banget?’
Dimana setelah Bunda Rina beranjak dari tempatnya, gadis tomboy itu kemudian celingungan ke arah yang menuju kolam renang rumahnya Reno sambil ia membatin.
‘Ngomong apa ya dia sama si donal bebek?’ batin Fania lagi. Terdiam gadis itu kemudian, lalu tak seberapa lama ia bangkit dari duduknya. Mengayunkan kakinya menuju kolam renang.
🚬🚬
Sementara itu di area kolam renang rumah Reno, yang bersangkutan memanglah tidak langsung berbicara dengan Andrew.
Karena Andrew yang memang berada di area tersebut, sudahlah menceburkan dirinya ke kolam.
Sempat, menegur Andrew untuk mengajaknya bicara. “Kalo lo mau ngebahas soal si tengil gue males!”
Namun Andrew bisa membaca maksud Reno menghampirinya itu langsung melontarkan kalimat penolakan.
Setelahnya, sahabat sejak kecilnya Reno itu menggerakkan tubuh atletisnya di air kolam renang.
Tapi meski sudah mendapat penolakan dari Andrew tentang dirinya yang ingin membahas soal sikap Andrew pada adik angkat kesayangannya beberapa saat yang lalu itu, Reno tidak langsung beranjak dari tempatnya. Cowok itu memilih untuk menunggui Andrew yang sedang berenang.
Karena sungguh Reno perlu membahas tentang sikap Andrew pada Fania sejak tadi Andrew terlihat kesal pada adik angkat kesayangannya kala mereka masih di Pujasera komplek tempat tinggal keduanya.
Reno tahu betul tabiat Andrew, dan mengakui juga kalau Fania ada salahnya pada Andrew. Tapi Reno merasa keberatan tentang Andrew yang menunjukkan betul kesinisan dan keketusannya pada Fania tadi. Semua karena Reno menyayangi Fania.
Namun dengan Andrew, mereka pun layaknya saudara. Akrab, sangat dekat. Bahkan dari sebelum Reno mengenal Fania. Makanya atas hal itu, Reno ingin keduanya berhubungan baik. Bahkan Reno ingin Andrew sama menganggap Fania, seperti dirinya menganggap cewek tomboy itu sekarang.
Lalu kalau ditanya kenapa Reno bisa dengan mudahnya menyayangi Fania yang belum lama dikenalnya, Reno pun tidak tahu pasti jawabannya. Karena perasaan itu mengalir begitu saja sejak pertemuan keduanya dengan cewek tomboy itu yang bisa membuat dirinya merasa nyaman. Mungkin karena Fania begitu apa adanya.
Selain memang Fania unik dimata Reno. Baik dari penampilannya, juga karena cewek itu kelewat ceria, dan ceplas-ceplos ngomongnya.
Berbeda dengan cewek-cewek yang ada di sekolah dan sekeliling area komplek rumahnya, terlebih yang gencar mendekatinya untuk mendapatkan hati Reno, dimana cewek-cewek itu sok diimut-imutin sikapnya di hadapan Reno.
Sementara Fania?....
🚬🚬
“Hm.... permisi kak, sori nih, mau nanya deh kalo mau naek angkot lewat mana ya?....“
“Angkot?”
“Iya angkot , itu loh angkutan umum. Soalnya tadi kayaknya masuk ga lewat pintu ini , jadi bingung deh.”
“Wah maaf saya kurang tahu juga ya kalo soal naek angkot.”
“Yah.... mmm.... ya udah deh makasih kak.”
“Eh tunggu kamu.”
“Ya?”
“Kamu emang mau kemana naek angkot?”
“Mau pulang lah kak. “
“Iya paham, mau pulang ke daerah mana?.“
“Daerah Jakarta Pusat Kak. Eh ya udah kak, saya permisi dulu ya. Mau coba ke pintu yang satunya lagi.”
“Eh tunggu, kamu bareng saya saja kalau gitu.”
“Hah? seriusan nih kak?"
“Iya. Yuk itu mobil saya udah dateng.”
“.....”
“Tenang aja, saya bukan orang jahat. Jangan mikir yang ga baik."
“Emang ada orang jahat yang ngaku jahat?”
Reno berdecih geli di tempatnya kala sedang mengingat pertama kalinya ia bertemu dengan Fania.
Dari mulai ia tercenung sesaat setelah melihat penampilan cewek itu selepas menegurnya sebelum bertanya, sampai kemudian Fania nyeplos tentang perkara orang jahat---menimpali ucapan Reno sebelumnya.
Reno ingat dia sempat spontan berdecih geli mendengar ceplosan Fania yang spontan dan polos kala itu, sampai sekarang pun kalau lihat Fania, momen itu suka teringat lagi olehnya.
Bagaimana dia bisa dibuat merasa lucu oleh seseorang yang baru saja bertemu, bahkan kenalan aja belum.
“Jadi mau ikut, ga?”
“Beneran bukan orang jahat?”
“Tuh plat mobil saya. Catet aja kalo takut.”
“Pinjem pulpen?....”
“Ha? Beneran mau dicatet?”
“Ya bener lah.”
( Kala itu Reno langsung menggeleng dan terkekeh kecil )
“Catet di dalam mobil aja. Tuh liat antrian udah panjang.”
“Eemm---“
“Ya udah naik, ga denger itu udah pada ribut klakson?”
“Ya udah deh lumayan ngirit ongkos. Bismillah, Fania anak baik, Allah pasti melindungi.”
‘Cewe unik.’ ( Reno membatin geli ). ‘Eh tunggu. Ini anak cewe apa cowo? Dari suaranya sih cewe. Tapi penampilannya sangat cowo.’
----
“Makasih ya Kak sebelumnya. Ma kasih buat tumpangannya . Kakak udah cakep bae pula.”
“Iya sama sama. Lain kali jangan pergi sendirian jauh jauh. Ngomong ngomong nama kamu siapa?"
“Oh iya ya, Kakak juga namanya siapa?.”
“Orang kalau ditanya itu, jangan nanya balik. Ga sopan.”
“Hehe, maaf kak.... aku Fania Kak."
“Reno.”
“Bay Kak Reno n makasih.”
----
“Kakak Ganteng!”
( Reno sedang berada di lorong rak buku pada sebuah toko buku kala ia mendengar suara nyaring itu )
Pakk!
( Satu tepukan agak bersemangat kemudian sampai di lengan Reno )
“Kakak Ganteng Sombong Banget! Ini Aku Loh Fania Yang Waktu Itu Dianterin Masa Lupa Sih?---“
“Sssstttt suaranya tolong dikecilin.”
( Reno menyahut kemudian )
“Oh iya iya.... segini cukup?”
( Reno tak bisa menahan kekehannya kala itu, karena si Fania memang menurutinya. Tapi cewek itu tidak hanya sekedar mengecilkan volume suaranya, namun malah berbisik dan berjongkok pula )
Lamunan Reno buyar ketika ia menyadari jika Andrew sudah hendak naik ke permukaan setelah puas berenang.
“Tuh cewe tengil udah balik emang?” Andrew yang sudah naik ke permukaan dan sudah juga mendekat pada Reno itu langsung mencetuskan pertanyaan pada si empunya rumah yang sedang duduk di salah satu kursi santai dekat kolam.
“Lagi sarapan sama Bunda. Tadi kan lo sempat liat gue dateng sama dia....” jawab Reno.
“Gue pikir dia langsung balik. Males banget gue liat dia lama-lama---“
“Harus ya sikap lo kayak gini sama Fania?---“
“You know me, don’t you?....” tukas Andrew.
“Iya gue tau lo banget, makanya gue mau ngomongin soal sikap lo ke Fania yang gue rasa udah agak berlebihan---“
“Ga ada yang berlebihan. Orang tengil begitu harus dikasih pelajaran---“
“Orang tengil yang lo bilang itu udah gue anggap adik kandung gue sendiri---“
“Dan itu yang bikin gue heran sama lo.” Andrew menimpali cepat ucapan Reno. “Masa baru ketemu dia dua kali lo bisa-bisanya udah bilang kalo lo ngangkat dia sebagai adik lo? Tuh anak kan ga jelas---“
“Lo jangan sembarangan ngomong, Drew. Gue udah kenal sama keluarganya.”
Reno menyergah agak sinis ucapan Andrew yang menghela nafasnya kemudian dan terdengar sedikit berat.
“Dan penampilan lo begini waktu kenalan itu sama keluarganya si tengil?”
“Ya penampilan santai aja---“
“Ya penampilan santai lo kalau keluarganya faham barang bagus pasti udah nerka lo borju, Ren---“
“Maksud lo apaan?---“
“Nih sorry to say gue nih.”
Andrew segera menyahut.
“Kalau dari penampilannya selama ini gue liat.... Tuh si Fania ga dari kalangan berada. Sorry gue ga ada maksud merendahkan orang....”
Andrew lanjut berkata.
“Tapi dia dan keluarganya kenal sama lo yang notabene dia liat kalau lo pakai mobil, tau tempat tinggal lo seperti ini. Lo yakin si tengil itu sama keluarganya tulus sama lo?....”
Andrew mengatakan pada Reno apa yang ada di pikirannya.
Dan dua orang yang duduk membelakangi pintu penghubung area dalam rumah Reno dan kolam renangnya itu, nampak serius bercakap dengan bahasan mereka.
Sampai-sampai keduanya tidak menyadari, jika ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka itu.
🚬🚬🚬🚬
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments