PART 4

Selamat membaca...

🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬

“Pokoknya lo ga usah ambil hati sikap sama omongannya si donal bebek botak tadi...” Reno yang sedang berjalan bersama seorang gadis tomboi yang ia rangkul pundaknya.

Fania, nama gadis itu. Anak cewek tomboi yang sama seperti Andrew, Reno agak bingung itu si Fania cewek atau cowok karena penampilannya yang betul-betul seperti anak laki-laki---kala pertama kali Reno melihat Fania.

“Iya, Kak---“

“Selain cerewet, ya begitu emang tabiatnya si Andrew.” Reno menukas ucapan Fania yang menyahuti ucapannya. “Keselan orangnya, meski sama hal kecil juga,” kata Reno lagi.

“Iya---“

“Ya udah jangan murung lagi, dong?---“

🚬🚬

“Assalamu’alaikum.”

Reno dan Fania sama mengucapkan salam saat keduanya telah sampai ke dalam rumah Reno.

“Wa’alaikumsalam....”

Dan sahutan pun terdengar di telinga Reno dan Fania yang sedang berjalan ke satu arah ruangan dalam hunian Reno dan keluarganya tersebut.

Satu bentuk suara saja yang terdengar, namun yang nampak di mata Fania dan Reno kala keduanya menghampiri sumber suara, ada dua orang di dalam satu ruangan yang merupakan ruang makan terbuka.

🚬🚬

“Mau kemana, Drew?....”

Suara dari orang yang tadi menjawab salamnya Reno dan Fania terdengar lagi.

Bunda Rina.

Yang hanya suaranya yang terdengar di telinga Reno dan Fania tadi selepas mereka mengucapkan salam.

Namun nyatanya Bunda Rina tidak sendirian, ada Andrew juga di dekatnya. Yang sekarang orangnya telah berdiri dari tempatnya.

“Aku udah selesai, Bun....” dan menjawab pertanyaan Bunda Rina tadi.

“Dihabisin dulu makanannya dong Andrew, mubazir kan?---“

“Ga lah Bun. Udah ga selera.” Andrew menimpali cepat ucapan Bunda Rina, sambil ia melirik sinis kepada Fania.

🚬🚬

“Ck.”

Reno langsung saja mendecakkan lidahnya, selepas Andrew menjawab ucapan Bunda Rina yang menyuruhnya menghabiskan makanan sarapan Andrew di piringnya.

Pasalnya Reno menyadari betul kesinisan Andrew pada Fania yang nampak jelas antipatinya itu. sementara Fania nampak diam gugup di tempatnya dengan melipat spontan bibirnya kala Andrew bersikap begitu.

Fania memang merasa kalau sikap Andrew itu adalah karenanya.

Dan Gadis tomboy itu jadi merasa canggung sekarang.

🚬🚬

“Dah cuekin aja.”

Reno berkata sambil meraih lagi satu pundak Fania dengan satu tangannya.

“Lo sarapan aja dengan tenang....” Reno berucap lagi, sambil mendudukkan Fania pada kursi meja makan yang sudah ditariknya.

“Nah lo mau kemana, Kak?... sini lah sarapan sama gue,” kata Fania pada Reno yang tidak mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan.

Malah Reno nampak hendak melangkah ke lain tempat.

🚬🚬

“Nanti gue nyusul...”

Reno menanggapi ucapan Fania.

“Gue mau ngomong dulu itu sama si donal bebek botak---“

“Kalian bertengkar?” sela Bunda Rina, bertanya sambil menoleh pada Reno yang menjawab Bunda Rina dengan mata Reno yang melirik kepada Fania yang tertunduk di tempatnya. Bunda Rina memahami itu, ia pun tersenyum maklum kemudian---dimana Reno kemudian memegang kepala Fania dan mengacak rambutnya dengan pelan, lalu berucap sebelum hengkang dari tempatnya.

“Lo sarapan yang bener sama Bunda, oke?...”

🚬🚬

Reno sudah akan mengayunkan kakinya menuju area kolam renang di bagian belakang rumahnya untuk menyambangi Andrew yang terlihat berjalan ke arah sana tadi, namun ayunan kaki Reno terjeda.

“Kak, lo mau ngomongin apa deh sama dia?”

Karena Fania menahan langkahnya dan bertanya pada Reno.

“Kalo mau ngomongin  soal gue sama dia mending ga usah deh. Ntar dia tambah bete sama gue...”

Fania menambahkan ucapannya, dengan ekspresi wajah yang memelas, sedikit tak tenang.

“Gitu aja dia udah sentimen banget sama gue kayaknya?...”

Sekali lagi Fania menambahkan ucapannya pada Reno.

Fania memandang sedikit sendu pada Reno. Dimana yang bersangkutan tersenyum padanya.

“Ga apa-apa Reno ngomong sama Andrew. Justru Reno pasti mau nasehatin Andrew biar ga terlalu keras sama Fania---“

“Betul sekali Bunda cantik---“

“Bunda sih ga tau permasalahannya apa,”

Bunda Rina langsung menimpali ucapan Reno yang menyambar ucapannya.

“Tapi biar sama-sama enak, abis Reno ngomong sama Andrew, Fania bisa juga ngomong maaf duluan sama Andrew? Karena walau mungkin Fania ga salah, tapi ada miskom lalu akhirnya ada pertengkaran dan membuat hubungan pertemanan jadi ga enak, kan ga nyaman. Iya kan?”

“Iya, Bun,” sahut Fania.

Bunda Rina tersenyum dan mengusap lembut kepala Fania. “Jadi terlepas siapa yang salah... Fania atau Andrew, Fania justru hebat kalau mau berkata maaf duluan...” Bunda Rina kembali memberikan nasehat dengan caranya pada gadis tomboi yang sudah anak lelakinya anggap seperti adik kandungnya sendiri.

Fania sekali lagi mengangguk dan menyahut patuh, mengiyakan nasehat Bunda Rina, dan Reno juga tersenyum sekali lagi sambil mengacak kembali rambut bondolnya Fania.

🚬🚬

“Dah lo makan tenang-tenang oke? Gue cuma sebentar---“

“Iya, Kak---“

“Tinggal bentar ya?”

Pamit Reno pada Bunda Rina dan Fania.

“Iya---“

🚬🚬

Saat Reno telah mengayunkan kakinya dan berjalan ke arah kolam renang rumahnya, Bunda Rina membantu Fania untuk mengambil sarapannya. “Fania mau sarapan apa?” tanya Bunda Rina. “Roti lapis atau nasi goreng?” tanya Bunda Rina lagi.

“Bunda aja yang pilihin---“

“Loh kok Bunda yang pilih?...” tukas Bunda Rina.

“Soalnya dua-duanya pasti enak, karena buatan Bunda---“

“Duh, Bunda selalu terbang kalo udah ngomong sama Fania yang sering banget muji Bunda---“

“Memang kenyataannya begitu kan, Bun? Masakan Bunda enak-enak semua,” timpal Fania memuji Bunda Rina yang memang tulus ia katakan sesuai kenyataan.

Lalu Fania berucap lagi, namun bukan kepada Bunda Rina.

“Tapi masakan Bi Sari juga enak kok.”

Melainkan kepada 1 art keluarga Reno yang sudah juga akrab dengan Fania.

“Alhamdulillah, Bibi kebagian pujian juga.” Satu art keluarga Reno itu pun menjawab pujian Fania padanya. Lalu baik 1 art itu, Bunda Rina dan Fania---terkekeh bersama untuk sejenak.

🚬🚬

“Bunda sama Bibi udah sarapan?” Fania lalu mencetuskan pertanyaan.

“Belum, nunggu kamu sama Reno.”

“Kalo Bibi udah duluan, Non.”

Art keluarganya Reno menjawab setelah Bunda Rina.

Lalu setelahnya ia pamit untuk pergi ke belakang, melanjutkan pekerjaannya yang lain setelah menaruh satu teko kaca berisikan air minum yang diletakkan di antara menu sarapan.

“Ya udah Fania mau apa jadinya? Roti lapis atau nasi goreng?” Bunda Rina lalu bertanya pada Fania selepas kepergian artnya. “Atau mau dua-duanya sekalian?”

“Maruk amat kesannya Fania, Bun?” jawab Fania dan Bunda Rina pun terkekeh kecil.

“Ga apa-apa, biar dibolehin terus Fania main sama nginep di sini sama orang tuanya, karena kalo pulang dari sini, anaknya jadi montok.”

Bunda Rina lalu membalas ucapan Fania sambil menyertakan sedikit guyonan dalam kalimatnya, hingga gantian Fania yang terkekeh kecil. “Tapi Fania mau Nasi goreng aja deh, Bun,” ucap Fania kemudian dan Bunda Rina mengangguk sambil tangannya terulur untuk menyendokkan menu sarapan yang Fania pilih barusan. “Cukup, Bun.”

Fania lalu menahan tangan Bunda Rina yang hendak mengambil lagi nasi goreng dari wadahnya setelah menaruh satu sendok nasi ke piring Fania. “Ih dikit banget. Tambahin ya? Nanti anak perempuan kesayangan Bunda ga kenyang?”

Fania langsung nampak tersenyum senang mendengar ucapan Bunda Rina barusan. “Nanti kalo masih laper Fania nambah, Bun...”

“Bener ya?”

Bunda Rina lalu menimpali setelah mendengar ucapan Fania barusan.

Fania baru hendak buka suara, namun satu art lain keluarga Reno selain yang sebelumnya berinteraksi dengan Fania---dimana satu art itu datang dan mendekat ke tempatnya dan Bunda Rina berada, lalu menyampaikan sesuatu kepada ibunya Reno yang kemudian nampak mengangguk dan menyahut pada art nya tersebut---lalu berdiri kemudian.

🚬🚬

Bunda Rina pamit pada Fania karena ada telepon dari ayahnya Reno, sesuai dengan yang disampaikan artnya yang datang ke hadapan dua perempuan beda usia yang sedang berada di ruang makan itu, lalu Fania mengangguk maklum pada Bunda Rina yang hendak menerima panggilan telepon dari ayahnya Reno itu.

‘Kak Reno lama banget?’

Dimana setelah Bunda Rina beranjak dari tempatnya, gadis tomboy itu kemudian celingungan ke arah yang menuju kolam renang rumahnya Reno sambil ia membatin.

‘Ngomong apa ya dia sama si donal bebek?’ batin Fania lagi. Terdiam gadis itu kemudian, lalu tak seberapa lama ia bangkit dari duduknya. Mengayunkan kakinya menuju kolam renang.

🚬🚬

Sementara itu di area kolam renang rumah Reno, yang bersangkutan memanglah tidak langsung berbicara dengan Andrew.

Karena Andrew yang memang berada di area tersebut, sudahlah menceburkan dirinya ke kolam.

Sempat, menegur Andrew untuk mengajaknya bicara. “Kalo lo mau ngebahas soal si tengil gue males!”

Namun Andrew bisa membaca maksud Reno menghampirinya itu langsung melontarkan kalimat penolakan.

Setelahnya, sahabat sejak kecilnya Reno itu menggerakkan tubuh atletisnya di air kolam renang.

Tapi meski sudah mendapat penolakan dari Andrew tentang dirinya yang ingin membahas soal sikap Andrew pada adik angkat kesayangannya beberapa saat yang lalu itu, Reno tidak langsung beranjak dari tempatnya. Cowok itu memilih untuk menunggui Andrew yang sedang berenang.

Karena sungguh Reno perlu membahas tentang sikap Andrew pada Fania sejak tadi Andrew terlihat kesal pada adik angkat kesayangannya kala mereka masih di Pujasera komplek tempat tinggal keduanya.

Reno tahu betul tabiat Andrew, dan mengakui juga kalau Fania ada salahnya pada Andrew. Tapi Reno merasa keberatan tentang Andrew yang menunjukkan betul kesinisan dan keketusannya pada Fania tadi. Semua karena Reno menyayangi Fania.

Namun dengan Andrew, mereka pun layaknya saudara. Akrab, sangat dekat. Bahkan dari sebelum Reno mengenal Fania. Makanya atas hal itu, Reno ingin keduanya berhubungan baik. Bahkan Reno ingin Andrew sama menganggap Fania, seperti dirinya menganggap cewek tomboy itu sekarang.

Lalu kalau ditanya kenapa Reno bisa dengan mudahnya menyayangi Fania yang belum lama dikenalnya, Reno pun tidak tahu pasti jawabannya. Karena perasaan itu mengalir begitu saja sejak pertemuan keduanya dengan cewek tomboy itu yang bisa membuat dirinya merasa nyaman. Mungkin karena Fania begitu apa adanya.

Selain memang Fania unik dimata Reno. Baik dari penampilannya, juga karena cewek itu kelewat ceria, dan ceplas-ceplos ngomongnya.

Berbeda dengan cewek-cewek yang ada di sekolah dan sekeliling area komplek rumahnya, terlebih yang gencar mendekatinya untuk mendapatkan hati Reno, dimana cewek-cewek itu sok diimut-imutin sikapnya di hadapan Reno.

Sementara Fania?....

🚬🚬

“Hm.... permisi kak, sori nih, mau nanya deh kalo mau naek angkot lewat mana ya?....“

“Angkot?”

“Iya angkot , itu loh angkutan umum. Soalnya tadi kayaknya masuk ga lewat pintu ini , jadi bingung deh.”

“Wah maaf saya kurang tahu juga ya kalo soal naek angkot.”

“Yah.... mmm.... ya udah deh makasih kak.”

“Eh tunggu kamu.”

“Ya?”

“Kamu emang mau kemana naek angkot?”

“Mau pulang lah kak. “

“Iya paham, mau pulang  ke daerah mana?.“

“Daerah Jakarta Pusat Kak. Eh ya udah kak, saya permisi dulu ya. Mau coba ke pintu yang satunya lagi.”

“Eh tunggu, kamu bareng saya saja kalau gitu.”

“Hah? seriusan nih kak?"

“Iya. Yuk itu mobil saya udah dateng.”

“.....”

“Tenang aja, saya bukan orang jahat. Jangan mikir yang ga baik."

“Emang ada orang jahat yang ngaku jahat?”

Reno berdecih geli di tempatnya kala sedang mengingat pertama kalinya ia bertemu dengan Fania.

Dari mulai ia tercenung sesaat setelah melihat penampilan cewek itu selepas menegurnya sebelum bertanya, sampai kemudian Fania nyeplos tentang perkara orang jahat---menimpali ucapan Reno sebelumnya.

Reno ingat dia sempat spontan berdecih geli mendengar ceplosan Fania yang spontan dan polos kala itu, sampai sekarang pun kalau lihat Fania, momen itu suka teringat lagi olehnya.

Bagaimana dia bisa dibuat merasa lucu oleh seseorang yang baru saja bertemu, bahkan kenalan aja belum.

“Jadi mau ikut, ga?”

“Beneran bukan orang jahat?”

“Tuh plat mobil saya. Catet aja kalo takut.”

“Pinjem pulpen?....”

“Ha? Beneran mau dicatet?”

“Ya bener lah.”

( Kala itu Reno langsung menggeleng dan terkekeh kecil )

“Catet di dalam mobil aja. Tuh liat antrian udah panjang.”

“Eemm---“

“Ya udah naik, ga denger itu udah pada ribut klakson?”

“Ya udah deh lumayan ngirit ongkos. Bismillah, Fania anak baik, Allah pasti melindungi.”

‘Cewe unik.’ ( Reno membatin geli ). ‘Eh tunggu. Ini anak cewe apa cowo? Dari suaranya sih cewe. Tapi penampilannya sangat cowo.’

----

“Makasih ya Kak sebelumnya. Ma kasih buat tumpangannya . Kakak udah cakep bae pula.”

“Iya sama sama. Lain kali jangan pergi sendirian jauh jauh. Ngomong ngomong nama kamu siapa?"

“Oh iya ya,  Kakak juga namanya siapa?.”

“Orang kalau ditanya itu, jangan nanya balik. Ga sopan.”

“Hehe, maaf kak.... aku Fania Kak."

“Reno.”

“Bay Kak Reno n makasih.”

----

“Kakak Ganteng!”

( Reno sedang berada di lorong rak buku pada sebuah toko buku kala ia mendengar suara nyaring itu )

Pakk!

( Satu tepukan agak bersemangat kemudian sampai di lengan Reno )

“Kakak Ganteng Sombong Banget! Ini Aku Loh Fania Yang Waktu Itu Dianterin Masa Lupa Sih?---“

“Sssstttt suaranya tolong dikecilin.”

( Reno menyahut kemudian )

“Oh iya iya.... segini cukup?”

( Reno tak bisa menahan kekehannya kala itu, karena si Fania memang menurutinya. Tapi cewek itu tidak hanya sekedar mengecilkan volume suaranya, namun malah berbisik dan berjongkok pula )

Lamunan Reno buyar ketika ia menyadari jika Andrew sudah hendak naik ke permukaan setelah puas berenang.

“Tuh cewe tengil udah balik emang?” Andrew yang sudah naik ke permukaan dan sudah juga mendekat pada Reno itu langsung mencetuskan pertanyaan pada si empunya rumah yang sedang duduk di salah satu kursi santai dekat kolam.

“Lagi sarapan sama Bunda. Tadi kan lo sempat liat gue dateng sama dia....” jawab Reno.

“Gue pikir dia langsung balik. Males banget gue liat dia lama-lama---“

“Harus ya sikap lo kayak gini sama Fania?---“

“You know me, don’t you?....” tukas Andrew.

“Iya gue tau lo banget, makanya gue mau ngomongin soal sikap lo ke Fania yang gue rasa udah agak berlebihan---“

“Ga ada yang berlebihan. Orang tengil begitu harus dikasih pelajaran---“

“Orang tengil yang lo bilang itu udah gue anggap adik kandung gue sendiri---“

“Dan itu yang bikin gue heran sama lo.” Andrew menimpali cepat ucapan Reno. “Masa baru ketemu dia dua kali lo bisa-bisanya udah bilang kalo lo ngangkat dia sebagai adik lo? Tuh anak kan ga jelas---“

“Lo jangan sembarangan ngomong, Drew. Gue udah kenal sama keluarganya.”

Reno menyergah agak sinis ucapan Andrew yang menghela nafasnya kemudian dan terdengar sedikit berat.

“Dan penampilan lo begini waktu kenalan itu sama keluarganya si tengil?”

“Ya penampilan santai aja---“

“Ya penampilan santai lo kalau keluarganya faham barang bagus pasti udah nerka lo borju, Ren---“

“Maksud lo apaan?---“

“Nih sorry to say gue nih.”

Andrew segera menyahut.

“Kalau dari penampilannya selama ini gue liat.... Tuh si Fania ga dari kalangan berada. Sorry gue ga ada maksud merendahkan orang....”

Andrew lanjut berkata.

“Tapi dia dan keluarganya kenal sama lo yang notabene dia liat kalau lo pakai mobil, tau tempat tinggal lo seperti ini. Lo yakin si tengil itu sama keluarganya tulus sama lo?....”

Andrew mengatakan pada Reno apa yang ada di pikirannya.

Dan dua orang yang duduk membelakangi pintu penghubung area dalam rumah Reno dan kolam renangnya itu, nampak serius bercakap dengan bahasan mereka.

Sampai-sampai keduanya tidak menyadari, jika ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka itu.

🚬🚬🚬🚬

Bersambung......

Episodes
1 BLURB & PART 1
2 PART 2
3 PART 3
4 PART 4
5 PART 5
6 PART 6
7 PART 7
8 PART 8
9 PART 9
10 PART 10
11 PART 11
12 PART 12
13 PART 13
14 PART 14
15 PART 15
16 PART 16
17 PART 17
18 PART 18
19 PART 19
20 PART 20
21 PART 21
22 PART 22
23 PART 23
24 PART 24
25 PART 25
26 PART 26
27 PART 27
28 PART 28
29 PART 29
30 PART 30
31 PART 31
32 PART 32
33 PART 33
34 PART 34
35 PART 35
36 PART 36
37 PART 37
38 PART 38
39 PART 39
40 PART 40
41 PART 41
42 PART 42
43 PART 43
44 PART 44
45 PART 45
46 PART 46
47 PART 47
48 PART 48
49 PART 49
50 PART 50
51 PART 51
52 PART 52
53 PART 53
54 PART 54
55 PART 55
56 PART 56
57 PART 57
58 PART 58
59 PART 59
60 PART 60
61 PART 61
62 PART 62
63 PART 63
64 PART 64
65 PART 65
66 PART 66
67 PART 67
68 PART 68
69 PART 69
70 PART 70
71 PART 71
72 PART 72
73 PART 73
74 PART 74
75 PART 75
76 PART 76
77 PART 77
78 PART 78
79 PART 79
80 PART 80
81 PART 81
82 PART 82
83 PART 83
84 PART 84
85 PART 85
86 PART 86
87 PART 87
88 PART 88
89 PART 89
90 PART 90
91 PART 91
92 PART 92
93 PART 93
94 PART 94
95 PART 95
96 PART 96
97 PART 97
98 PART 98
99 PART 99
100 PART 100
101 PART 101
102 PART 102
103 PART 103
104 PART 104
105 PART 105
106 PART 106
107 PART 107
108 PART 108
109 PART 109
110 PART 110
111 PART 111
112 PART 112
113 PART 113
114 PART 114
115 PART 115
116 PART 116
117 PART 117
118 PART 118
119 PART 119
120 PART 120
121 PART 121
122 PART 122
123 PART 123
124 PART 124
125 PART 125
126 PART 126
127 PART 127
128 PART 128
129 PART 129
130 PART 130
131 PART 131
132 PART 132
133 PART 133
134 PART 134
135 PART 135
136 PART 136
137 PART 137
138 PART 138
139 PART 139
140 PART 140
141 PART 141
142 PART 142
143 PART 143
144 PART 144
145 PART 145
146 PART 146
147 PART 147
148 PART 148
149 PART 149
150 PART 150
151 PART 151
152 PART 152
153 PART 153
154 PART 154
155 PART 155
156 PART 156
157 PART 157
158 PART 158
159 PART 159
160 PART 160
161 PART 161
162 PART 162
163 PART 163
164 PART 164
165 PART 165
166 PART 166
167 PART 167
168 PART 168
169 PART 169
170 PART 170
171 PART 171
172 PART 172
173 PART 173
174 PART 174
175 PART 175
176 PART 176
177 PART 177
178 PART 178
179 PART 179
180 PART 180
181 PART 181
182 PART 182
183 PART 183
184 PART 184
185 PART 185
186 PART 186
187 PART 187
188 PART 188
189 PART 189
190 PART 190
191 PART 191
192 PART 192
193 PART 193
194 PART 194
195 PART 195
196 PART 196
197 PART 197
198 PART 198
199 PART 199
200 PART 200
201 PART 201
202 PART 202
203 PART 203
204 PART 204
205 PART 205
206 PART 206
207 PART 207
208 PART 208
209 PART 209
210 PART 210
211 PART 211
212 PART 212
213 PART 213
214 PART 214
215 PART 215
216 PART 216
217 PART 217
218 PART 218
219 PART 219
220 PART 220
221 PART 221
222 PART 222
223 PART 223
224 PART 224
225 PART 225
226 PART 226
227 PART 227
228 PART 228
229 PART 229
230 PART 230
231 PART 231
232 PART 232
233 PART 233
234 PART 234
235 PART 235
236 PART 236
237 PART 237
238 PART 238
239 PART 239
240 PART 240
241 PART 241
242 PART 242
243 PART 243
244 PART 244
245 PART 245
246 PART 246
247 PART 247
248 PART 248
249 PART 249
250 PART 250
251 PART 251
252 PART 252
253 PART 253
254 PART 254
255 PART 255
256 PART 256
257 PART 257
Episodes

Updated 257 Episodes

1
BLURB & PART 1
2
PART 2
3
PART 3
4
PART 4
5
PART 5
6
PART 6
7
PART 7
8
PART 8
9
PART 9
10
PART 10
11
PART 11
12
PART 12
13
PART 13
14
PART 14
15
PART 15
16
PART 16
17
PART 17
18
PART 18
19
PART 19
20
PART 20
21
PART 21
22
PART 22
23
PART 23
24
PART 24
25
PART 25
26
PART 26
27
PART 27
28
PART 28
29
PART 29
30
PART 30
31
PART 31
32
PART 32
33
PART 33
34
PART 34
35
PART 35
36
PART 36
37
PART 37
38
PART 38
39
PART 39
40
PART 40
41
PART 41
42
PART 42
43
PART 43
44
PART 44
45
PART 45
46
PART 46
47
PART 47
48
PART 48
49
PART 49
50
PART 50
51
PART 51
52
PART 52
53
PART 53
54
PART 54
55
PART 55
56
PART 56
57
PART 57
58
PART 58
59
PART 59
60
PART 60
61
PART 61
62
PART 62
63
PART 63
64
PART 64
65
PART 65
66
PART 66
67
PART 67
68
PART 68
69
PART 69
70
PART 70
71
PART 71
72
PART 72
73
PART 73
74
PART 74
75
PART 75
76
PART 76
77
PART 77
78
PART 78
79
PART 79
80
PART 80
81
PART 81
82
PART 82
83
PART 83
84
PART 84
85
PART 85
86
PART 86
87
PART 87
88
PART 88
89
PART 89
90
PART 90
91
PART 91
92
PART 92
93
PART 93
94
PART 94
95
PART 95
96
PART 96
97
PART 97
98
PART 98
99
PART 99
100
PART 100
101
PART 101
102
PART 102
103
PART 103
104
PART 104
105
PART 105
106
PART 106
107
PART 107
108
PART 108
109
PART 109
110
PART 110
111
PART 111
112
PART 112
113
PART 113
114
PART 114
115
PART 115
116
PART 116
117
PART 117
118
PART 118
119
PART 119
120
PART 120
121
PART 121
122
PART 122
123
PART 123
124
PART 124
125
PART 125
126
PART 126
127
PART 127
128
PART 128
129
PART 129
130
PART 130
131
PART 131
132
PART 132
133
PART 133
134
PART 134
135
PART 135
136
PART 136
137
PART 137
138
PART 138
139
PART 139
140
PART 140
141
PART 141
142
PART 142
143
PART 143
144
PART 144
145
PART 145
146
PART 146
147
PART 147
148
PART 148
149
PART 149
150
PART 150
151
PART 151
152
PART 152
153
PART 153
154
PART 154
155
PART 155
156
PART 156
157
PART 157
158
PART 158
159
PART 159
160
PART 160
161
PART 161
162
PART 162
163
PART 163
164
PART 164
165
PART 165
166
PART 166
167
PART 167
168
PART 168
169
PART 169
170
PART 170
171
PART 171
172
PART 172
173
PART 173
174
PART 174
175
PART 175
176
PART 176
177
PART 177
178
PART 178
179
PART 179
180
PART 180
181
PART 181
182
PART 182
183
PART 183
184
PART 184
185
PART 185
186
PART 186
187
PART 187
188
PART 188
189
PART 189
190
PART 190
191
PART 191
192
PART 192
193
PART 193
194
PART 194
195
PART 195
196
PART 196
197
PART 197
198
PART 198
199
PART 199
200
PART 200
201
PART 201
202
PART 202
203
PART 203
204
PART 204
205
PART 205
206
PART 206
207
PART 207
208
PART 208
209
PART 209
210
PART 210
211
PART 211
212
PART 212
213
PART 213
214
PART 214
215
PART 215
216
PART 216
217
PART 217
218
PART 218
219
PART 219
220
PART 220
221
PART 221
222
PART 222
223
PART 223
224
PART 224
225
PART 225
226
PART 226
227
PART 227
228
PART 228
229
PART 229
230
PART 230
231
PART 231
232
PART 232
233
PART 233
234
PART 234
235
PART 235
236
PART 236
237
PART 237
238
PART 238
239
PART 239
240
PART 240
241
PART 241
242
PART 242
243
PART 243
244
PART 244
245
PART 245
246
PART 246
247
PART 247
248
PART 248
249
PART 249
250
PART 250
251
PART 251
252
PART 252
253
PART 253
254
PART 254
255
PART 255
256
PART 256
257
PART 257

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!