Selamat membaca...
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
Selepas menjawab pertanyaan satu teman mereka yang mempertanyakan perihal seorang laki-laki dewasa yang tiba-tiba datang ke Klinik tempat Reno dan Babeh warung tongkrongan, Andrew dan Reno berikut gerombolan keduanya----langsung bergerak untuk hengkang dari klinik tersebut dengan saling berboncengan.
Termasuk si Babeh tongkrongan yang dibonceng salah seorang teman Andrew dan Reno yang sendirian di motornya.
“Kita ke Warbeh dulu ya? Laper gue!...”
Satu teman Andrew dan Reno nyeletuk saat dirinya sudah menduduki motornya.
“Nah iya bener!” Satu teman yang lain lalu menimpali. “Kita orang nih ga sempet minum apalagi makan tadi.”
“Masakin mi ya, Beh?... Sama gorengan kalo abis digorengin lagi.”
“Beres!...”
“Gimana Drew, Ren?”
Satu teman Andrew dan Reno bertanya tentang persetujuan dua orang itu.
“Nanti sampe sekolah, gue yakin kita bakal langsung disuruh ke kantor,” tambah si teman. “Biarpun Andrew yang bentrok langsung sama si biang kerok dan gue yakin tentang keadaannya juga udah diketahui guru-guru bahkan kepsek, selain Reno yang ada di tempat kejadian sebelum kita orang.. kita-kita juga pasti tetep disuruh ikut masuk kantor, karena kita nemenin lo berdua sekarang.”
“Yoi! Pasti kita orang dianggap terlibat juga.”
🚬
“Nih kita selain dapet sangsi atau tegoran, sebelumnya pasti dapet ceramah yang ga mungkin sebentar. Jadi untuk itu kita perlu energi.”
“Tul!”
Andrew dan Reno lalu saling tatap setelah mendengar ocehan teman-temannya itu.
“Ya udah, mampir Warbeh dulu...”
“Berangkaaatt!!!”
Teman-teman akrab Andrew dan Reno di sekolah itu, lalu berseru semangat.
Andrew dan Reno hanya mendengkus geli melihatnya, lalu Andrew dan kawanannya yang kebagian pegang stang motor----kemudian menstarter motor yang akan mereka lajukan.
Dan selanjutnya, beberapa motor sport itu beriringan keluar dari parkiran klinik----yang sebagian besarnya menggunakan seragam SMA, mengarah ke arah sekolah mereka.
Namun akan mampir dulu ke warung tongkrongan dekat sekolah mereka tersebut.
🚬
Andrew dan Reno berikut rombongan sudah sampai di warung tongkrongan dekat sekolah.
“Nih mau pada makan mi semua?...” lalu sang pemilik warung yang baru turun dari boncengannya, bertanya pada mereka yang kesemuanya berseragam SMA.
“Iya Beh!”
Semua anak berseragam SMA itu menjawab kompak dengan berseru semangat, terkecuali 2 orang.
Yakni Andrew dan Reno.
Dimana Andrew hanya menunjukkan satu jempolnya, dan Reno mengangguk saja.
Lalu keduanya berjalan santai mengekori teman-temannya yang sudah pada ngacir duluan, masuk ke Warbeh.
"Entah Om Kusuma udah kasih tau Dad soal ini atau belum, tetep nanti lo harus sempatkan kasih tau Dad soal tindakan lo terkait si Ferdi ini."
Reno berucap pada Andrew yang langsung mengangguk mengiyakan, kala mereka berjalan untuk masuk ke dalam warung tongkrongan yang disebut Warbeh.
🚬
Dari beberapa warung yang ada di sekitar SMA nya Andrew dan Reno, Warbeh alias Warung Babeh----bisa dikatakan, adalah warung favorit para murid yang belajar di SMA tersebut.
Disini para siswa yang agak-agak bandel, tertawa keras-keras----bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi dengan keras juga, bahkan bisa dengan santai merokok----tanpa takut akan kegep guru lalu ditegur sampai dimarahi, plus nama mereka masuk buku keramatnya guru BP.
Contohnya seperti sekarang ini, disaat Andrew dan Reno beserta rombongan yang tadi bersama keduanya di Klinik sehubungan kondisi si biang kerok sekolah yang lumayan parah akibat dipukuli Andrew telah sampai di warung tongkrongan langganan mereka dekat sekolah, lalu sudah berada di sana selama kurang lebih 30 menit dan waktu istirahat sekolah telah berakhir, Andrew berikut Reno dan teman-teman mereka----santai saja nongkrong di sana.
Menikmati batangan nikotin dengan santai, sambil menikmati gorengan si Enyak yang kata mereka juara rasanya, padahal belum lama menghabiskan mi instan semangkok berikut es teh manis.
“Jadi nanti kita ke sekul langsung ngadep ke ruang guru apa gimana?”
Satu teman Andrew dan Reno yang ada bersama mereka itu mencetuskan pertanyaan.
Dan Reno yang langsung menjawabnya. “Balik ke kelas aja dulu. Nanti kalau dipanggil atau saat masuk ke kelas disuruh ke kantor sama guru yang lagi mengajar, baru jalan ke kantor.”
🚬
“Gimana keadaan si Ferdi?” seorang laki-laki di usia pertengahan langsung bertanya kepada Reno, Andrew dan gerombolan, saat satu gerombolan itu telah sampai di parkiran sekolah dengan motor-motor yang digunakan lalu langsung diparkirkan.
Laki-laki itu adalah penjaga sekolah. Yang langsung menghampiri Reno, Andrew dan teman-teman mereka itu.
“Kalian abis pada liat dia kan?” tanya si penjaga sekolah itu lagi.
“Yang jelas masih idup.” Satu teman Reno dan Andrew yang menjawab.
Penjaga sekolah itu pun manggut-manggut kecil. “Sukur dah kalo gitu!” cetusnya kemudian.
“Heh! Malah ngobrol di sini?! Masuk sana. Jam pelajaran udah mulai dari tadi.” Satu penjaga sekolah yang lain berseru, dengan orangnya yang nampak habis patroli ke sekeliling sekolah.
Teman-teman Reno dan Andrew mengiyakan dengan antusias dan serempak.
Sementara Reno dan Andrew hanya tersenyum tipis saja. Lalu sama-sama mengangkat tangan mereka pada dua penjaga sekolah itu. Dan beranjak pergi dari hadapan keduanya kemudian.
🚬
Sebagian dari teman-teman sekolah yang bersama Reno serta Andrew dari Klinik, memisahkan diri untuk masuk ke kelas masing-masing.
Namun sebelum itu Reno memberikan arahan pada teman-temannya dan Andrew tersebut.
“Kalo ditanya darimana, jawab jujur aja soal kalian yang datang ke Klinik untuk lihat keadaan itu si Ferdi. Tapi kalo ditanya sama guru yang ngajar si Ferdi tentang kenapa dan gimana, kasih jawaban klasik. Ga tau,” tekan Reno.
Lalu kesemua teman-teman Reno dan Andrew itu segera mengangguk dengan kompak untuk mengiyakan arahan Reno tersebut. “Siap Bos.”
“Kalau langsung disuruh menghadap Bu Endang atau Pak Kepsek, kalian samper kita orang dulu,” tambah Reno, pada mereka yang tidak sekelas dengannya dan Andrew.
Yang sekali lagi, ucapan Reno langsung diiyakan oleh mereka yang bersangkutan.
🚬
“Ni guru-guru sama Pak Kepsek ga mungkin ga tau soal si Ferdi kan?” satu teman Reno dan Andrew yang sekelas dengan keduanya nyeletuk, saat waktu pulang sekolah tiba.
Jerico namanya. Anak dari teman ayahnya Andrew. Namun Andrew tidak terlalu akrab dengan yang bersangkutan, karena memang tak pernah bertemu sebelumnya sampai saat Reno mengajak Andrew nongkrong bersama teman-teman sekolahnya, dan ada Jerico diantaranya.
Lalu Andrew dan Jerico sendiri kemudian menyadari ayah mereka saling kenal, juga karena obrolan yang tak sengaja.
“Dan pasti kasak-kusuk lo yang bikin si biang kerok itu masuk RS juga udah pasti sampe ke kuping mereka.” Jerico menambahkan ucapannya. “Kok adem-adem aja perasaan gue?”
Sambil ia duduk bersandar di meja Reno dengan memandangi Reno dan Andrew bergantian, dimana keduanya sama-sama mengendikkan bahu dalam merespons keheranannya Jerico itu.
“Lu pengen banget di panggil ke ruang BP, Sob?”celetuk teman sebangku Jerico. Fattan, namanya.
“Sab sob sab sob! Nama gue Jerico! Bukan Sobri!” Jerico agak sewot..
Fattan pun terkekeh, “Lucu juga lu kadang-kadang,” katanya kemudian pada Jerico.
“Gue beri juga lo!” balas Jerico pada Fattan.
“Beri duit?“ timpal Fattan sambil cengengesan pada Jerico.
“Beri ketek gue!”
Sambil Jerico meraih leher Fattan dengan cepat, lalu mendekatkan wajah temannya itu ke ketiaknya.
“Ketek lu bau menyan sialan!” seru Fattan yang langsung menggunakan tenaganya untuk melepaskan diri dari Jerico yang langsung tergelak.
Sementara Reno dan Andrew mendengkus geli saja melihat tingkah dua orang teman mereka yang seringkali konyol itu.
🚬
Reno dan Andrew jadi pusat perhatian murid-murid di SMA mereka saat keduanya telah keluar dari kelas dan sedang berjalan di lorong sekolah menuju parkiran, dimana sebelum mereka keluar dari kelasnya dan guru pengajar sudah hengkang, tempat duduk Reno dan Andrew diserbu beberapa teman sekelas mereka yang mempertanyakan kebenaran soal Ferdi yang katanya sampai masuk rumah sakit gara-gara dipukuli Andrew.
Yang kemudian dijawab oleh Reno dan Andrew yang mengendikkan bahu mereka. Lalu dibubarkan oleh Jerico dan Fattan.
Lalu Reno dan Andrew yang kini jadi pusat perhatian siswa siswi yang sudah berhambur ke kelas mereka, adalah terkait dengan berita Ferdi yang katanya masuk rumah sakit gara-gara dipukuli Andrew itu. Namun tak ada yang bertanya langsung pada keduanya dengan beragam alasan.
“Andrew!”
Seorang siswi kelas 2 menghampiri Andrew yang sedang berjalan bersama Reno dan dua teman dekat mereka yang sekelas dengan keduanya itu.
“Hem?” Andrew langsung menanggapi 1 siswi kelas 2 yang sudah ada dihadapannya itu hanya dengan deheman, dan Andrew menghentikan langkahnya.
“Kamu katanya berantem sama Ferdi?”
“Dengar dari mana?” Andrew balik bertanya pada seorang siswi yang sedang ada dihadapannya itu.
Yang merupakan sumber kenapa cowok yang dijuluki biang kerok sekolah jadi begitu dendam pada Andrew. Wulan.
“Desas-desusnya begitu.“ Wulan pun menjawab Andrew.
“Heem—“
“Terus katanya si Ferdi sampe masuk RS?”
“Lo mau jenguk dia?” kembali Andrew balik bertanya pada Wulan.
Dimana yang bersangkutan langsung menggeleng. Lalu tersenyum pada Andrew.
“Engga ah. Nanti kamu cemburu,” ucap Wulan kemudian, dan Andrew spontan menaikkan satu alisnya.
“Cemburu?...”
🚬
Andrew menunjuk dirinya sambil ia mengucapkan satu kata itu, sebagai responsnya atas ucapan Wulan yang langsung mengangguk dengan memasang ekspresi imut pada Andrew, dan Andrew langsung mendengus geli ditempatnya.
“Kamu kan berantem sama Ferdi gara-gara ngerebutin aku. Aku sih prihatin kalo si Ferdi sampe masuk rumah sakit karena berantem sama kamu... Tapi biar gimanapun aku kamu yang aku pilih,” beo Wulan.
“Woo.” Andrew bersuara dengan ekspresi wajah yang kiranya kurang Wulan pahami hingga ia langsung mengernyit, cowok yang selama ini sering memepetnya----katakanlah begitu----itu nampak tertawa walau tanpa tergelak.
“Kenapa?...” tanya Wulan kemudian.
“Gue emang berantem sama Ferdi.”
🚬
“Dia memang nyerang gue gara-gara dia ga terima gue deket sama lo selama ini. Tapi gue 'melayani' dia dan teman-temannya yang sok jagoan itu bukan karena lo, girl—“
“Tapi kan—“
“Lalu soal memilih,”
Andrew memotong Wulan yang ingin menyergah.
“Lo anak raja?” Dimana Andrew dengan cepat bicara lagi.
“Maksudnya?—“
“Lo anak raja mana, sampai sombong bilang lo yang memilih gue?...”
“............”
“Dengan tidak mengurangi rasa hormat, lo camkan ini baik-baik, girl...”
Andrew lanjut bicara, dimana Wulan sudah nampak heran dan merasa aneh dengan ucapan cowok didepannya itu.
“Gue, yang memilih cewek buat jadi pacar gue. Bukan sebaliknya, sekalipun lo anak raja. Dan lo, bukan anak raja...”
🚬
“Yang mana artinya, lo ga bisa sembarangan memilih gue, girl.”
Andrew tersenyum pada Wulan yang menurut cewek itu, senyuman Andrew aneh.
“Ya udah oke, kamu yang pilih aku—“
“Gue ga ngomong begitu juga—“
“Tapi kamu kan deketin aku? Berarti kamu punya perasaan kan sama aku?—“
“Ah, soal itu...” Andrew menukas lagi kalimat Wulan. “Ya benar gue memang dekatin lo. Tapi punya perasaan sama lo...”
Andrew lalu menggantungkan kalimatnya. Kemudian memilin bibirnya, sebelum ia lanjut bicara.
“Hal itu masih jauh banget.”
Andrew lalu menampakkan senyumnya.
“Sorry udah buat lo ge-er, Dan maaf, kalau lo harus dengar ini...” Andrew lanjut berkata. “Lo bukan tipe gue,” tegas Andrew pada Wulan kemudian, meski nada suaranya biasa saja.
Ekspresi Andrew nampak ramah bahkan pada cewek itu.
Namun kalimat Andrew kemudian dengan ekspresinya yang ramah pada Wulan itu, malah membuat airmata Wulan jatuh ke pipinya.
“Lo cantik. Tapi ga cukup cantik buat gue lirik jadi pacar. Apalagi sampai punya perasaan sama lo... Fyuh... Jauh, girl. Lo jauh dari kriteria cewe yang memenuhi syarat sebagai bidadari surganya gue. Jadi jangan kelewat sesumbar kalo gue punya perasaan sama lo—“
Puk Puk
Andrew menepuk pelan bahu Wulan, sambil melipat bibirnya. “Last... Sorry, tapi gue perlu jujur.” Lalu Andrew bicara lagi. “Gue deketin lo, cuma karena meledek itu si biang kerok aja. Jangan dendam oke?”
Kemudian Andrew lanjut melangkah dengan santainya, meninggalkan Wulan yang sudah sesenggukkan.
🚬
Dan interaksi Andrew pada Wulan itu, tak luput dari perhatian Reno dan teman-temannya yang menunggu Andrew selesai bicara dengan Wulan pada jarak tertentu. Namun setiap ucapan Andrew dan juga Wulan yang meski tak banyak, masih dapat Reno dan beberapa temannya itu dengar.
“Wah parah banget sodara lo, Ren.”
“Duh, kasian Neng Wulan.”
Celetukan lalu keluar dari mulut teman-teman Reno.
“Ga heran.”
Reno menanggapinya dengan gumaman malas.
‘Itu cewek orang lain hitungannya. Si Fania aja yang jelas udah gue tekankan sama Andrew, kalau itu si Little F udah gue anggap sebagai adik gue aja, masih sering dapet cibiran tajam dari mulut si Donal Bebek...’
Lalu Reno membatin.
‘Ngomong-ngomong soal Fania... Masih mau ga tuh ya dia ke rumah, gara-gara selek sama si Andrew kemarin?’
🚬🚬🚬🚬
To be continue......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments