Selamat membaca...
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
Hanya sebentar saja Andrew berada di kantor sekolah yang selama satu tahun ke depan akan akrab dalam kesehariaannya.
Andrew menuruti apa kata Reno untuk melapor ke bagian kesiswaan, bahwa dirinya yang per hari ini tercatat di SMA yang sama dengan Reno itu telah tiba untuk memastikan bahwa dirinya benar akan sekolah di sana.
Yang menurut Andrew hanya membuat kakinya pegal saja. Padahal saat di kantor sekolah tersebut Andrew di suruh duduk. Bahkan duduk di sofa nyaman ruangan kepsek layaknya seorang tamu penting buat sekolah saja.
Tapi yah memang seperti itu kiranya arti seorang Andrew Eager Adjieran Smith bagi sang kepsek SMA tempat Reno menimba ilmu di Sekolah Menengah Atas, karena kata Pak Kepsek, beliau kenal baik dengan ayahnya Andrew yang sebelumnya titip-titip padanya tentang Reno yang sudah ayah kandungnya Andrew anggap sebagai anaknya sendiri.
Andrew penting baginya, karena anak dari seseorang yang cukup berjasa untuknya hingga sang Kepsek bisa berada dalam posisinya sekarang, selain punya kehidupan yang cukup sejahtera dengan keluarganya. Dan karena hal itu, Andrew bahkan diperlakukan dengan cukup hati-hati oleh sang Kepsek.
🚬🚬
Andrew tidak ingin berlama-lama berada di ruangan Kepsek walaupun ruangan itu cukup nyaman. Jadi Andrew hanya duduk sebentar saja di ruangan pribadinya Pak Kepsek sambil sedikit basa-basi pada yang punya ruangan yang kemudian memperkenalkannya dengan para guru pengajar yang hampir kesemuanya sudah datang ke sekolah.
Lalu Andrew permisi dari hadapan sang Kepsek dan para guru tersebut, yang diantaranya ada wali kelasnya Andrew yang masuk di kelasnya Reno----seperti keinginan Andrew yang ia cetuskan kala ia bilang pada ayahnya kalau Andrew ingin pindah sekolah ke Kota J.
Andrew juga menyampaikan rencananya pada Reno tentunya, kalau Andrew ingin menghabiskan tahun terakhirnya sebagai anak SMA di sekolah tempat Reno menimba ilmu saat ini----termasuk sekalian berada di kelas yang sama dengan sahabat sejak kecilnya itu.
Reno pun iya-iyakan saja rencana Andrew itu, di larang juga percuma----karena si Andrew itu kalau sudah punya mau, ya maunya.
Dan akan Reno iyakan, selama itu tidak mengganggunya.
🚬🚬
Dia ingin berkeliling sekolah dulu sebelum nanti waktunya upacara.
Tentu, sambil dia berniat untuk hunting cewek-cewek yang menjadi siswi di SMA tempat dia akan menghabiskan tahun terakhirnya sebagai seorang pelajar sebelum mencapai bangku kuliah.
Mau tahu para cewek populer di sana, sambil nanti Andrew seleksi kira-kira siswi populer mana yang bisa jadi pacar pertamanya di sekolah tersebut. Dan sudah ada beberapa cewe yang kini sudah memperhatikan sosok Andrew yang sedang berjalan di lorong sekolah.
Namun tidak ada satupun yang Andrew tegur----baik yang cantik, apalagi yang mukanya biasa aja.
Karena seplayboy-playboynya dia, tetap Andrew pentingkan pencitraan kalau di depan orang lain yang tidak dekat dengannya.
Apalagi di depan cewek-cewek yang sudah Andrew baca kalau mereka menaruh minat padanya, ataupun pada cewek yang dinilai Andrew memenuhi kriterianya.
Tetap, Andrew akan bersikap jual mahal.
Tapi selalu, cewek yang Andrew incar, akan dalam genggamannya tanpa Andrew nembak duluan.
Salah satu poin lebihnya seorang Andrew Eager Adjieran Smith, yang kalau serapah----cewek manapun yang ia mau, ga mungkin ga bisa dia dapat.
Walaupun satu poin lebih yang itu, kiranya ga penting amat buat dibangga-banggain.
🚬🚬
“Not bad ( Lumayan )...”
Andrew yang sedang mengayunkan kaki jangkungnya di sebuah lorong sekolah dari arah kantor sekolah tersebut, menggumam setelah matanya menyisir beberapa bagian sekolah dari tempatnya berada, memberi penilaiannya untuk sekolah barunya itu.
Brukk!
Lalu saat Andrew tengah melihat-lihat sekolah barunya itu, lengannya tertabrak cukup keras dari belakangnya.
“Woy! Buta Mata Lo?!” sebuah seruan terdengar cukup nyolot, namun bukan dari mulut Andrew----melainkan dari orang yang menabraknya.
Yang merupakan salah seorang siswa di SMA yang kini jadi sekolah tempat Andrew menimba ilmu di tahun terakhirnya sebelum mencapai bangku kuliah.
Andrew menaikkan satu alisnya pada siswa tersebut yang memandanginya dengan tatapan tak suka dan menantang, “Excuse me? lo yang nabrak gue kenapa jadi lo yang nyolot?”
Andrew lalu langsung membalas ucapan siswa yang menabraknya itu, yang kemudian langsung melotot pada Andrew----namun kemudian dia menelisik diri Andrew dengan matanya. “Lu anak baru?“ siswa yang menabrak Andrew itu, lalu mencetuskan pertanyaan padanya.
🚬🚬
“B*ngsat. WOY!”
Sebuah seruan emosi terdengar lagi, setelah satu kata umpatan sebelumnya.
Dari siswa yang sama----yang tadi terlihat geram pada Andrew, padahal dia yang salah.
“Wah anak baru cari gara-gara dia, Fer!”
Seruan terdengar lagi dari satu siswa lain yang memang bersama dengan siswa yang menabrak Andrew tadi.
Dimana satu siswa yang dipanggil dengan sebutan ‘Fer’ oleh temannya itu, memang nampak kian geram karena saat dia bertanya perihal status Andrew yang si siswa tersebut asing wajahnya----Andrew malah ngeloyor dari hadapannya begitu saja dengan santai.
“Minta dihajar emang," gumam si siswa dengan panggilan 'Fer' itu sambil menggeram tertahan.
“Yoi!....” teman yang memprovokasi siswa yang menabrak Andrew itu menimpali ucapan geram sang teman sambil menatap emosi ke arah Andrew yang mengabaikannya itu.
“WOY ANAK BARU!....”
Si ‘Fer’ itu lalu teriak sambil menggegapkan langkahnya untuk menghampiri Andrew.
Andrew tetap masa bodoh saja.
“Emang b*ngsat nih orang....” Fer menggumam geram kemudian.
Pasalnya, sudahlah Andrew benar-benar tak sedikit pun menoleh kala ia berteriak pada sosok siswa baru itu----ditambah Andrew seolah mengejeknya dengan memasukkan satu telunjuk ke telinga, membuat gestur sedang mengorek isi telinga setelah Fer berteriak.
Dan semua yang sedang berlangsung itu----akibat teriakan si Fer, membuat para siswa dan siswi yang mendengarnya jadi memusatkan perhatian pada Fer dan temannya yang nampak sedang menghampiri dengan tergesa satu siswa di depan mereka, yang langkahnya begitu lebar----namun cara berjalannya terlihat santai.
“BER----“
“Apaan lo pagi-pagi udah berisik?!” tepat saat si Fer itu sudah berada di belakang Andrew dalam jarak yang dekat dan hendak meraih satu pundak Andrew dengan tangannya, Reno tahu-tahu muncul di arah depan Andrew.
“Ga usah ikut campur lu!”
Si Fer langsung membalas ucapan Reno.
“Lo lupa jabatan gue di sekolah ini?! Kalo ada bau-bau biang kerok sekolah mau bikin masalah, gue perlu ikut campur!” Reno juga dengan cepat menimpali ucapan si Fer yang ketus dan sinis padanya.
“Cih!”
Fer pun langsung berdecih.
“Ada juga orang kampungan di sekolah fave begini?”
Disaat yang sama, celetukan keluar dari mulut Andrew sambil ia tersenyum remeh. Dan cowok kini telah berhenti berjalan, lalu baru menoleh ke arah si Fer dan temannya.
“B*ngsat diem lu!”
Merasa kalau Andrew tengah meremehkan dan juga mengatainya, Si Fer itu langsung menunjuk dan berkata geram pada Andrew yang malah cengegesan.
“Lo yang diem!”
Dan Reno yang membalas ucapan si Fer.
“Lepas dari posisi gue di sini, urusan dia jadi urusan gue!”
Reno berseru lagi, dengan dirinya yang kini berkacak pinggang menghadap pada si Fer dan temannya.
“Oh kenalan lo dia?----“
“Ga ada urusan hubungan gue dan dia sama lo!” timpal Reno dengan cepat dan ketus.
🚬🚬
Tak seberapa lama, area di sekeliling Andrew dan Reno bersama dua orang siswa yang tadinya hendak mengajak ribut Andrew----mulai ramai. Terlebih, saat beberapa temannya Fer yang lain kemudian menghampiri teman mereka itu, yang nampak sedang adu mulut dengan Reno.
Namun tak hanya gerombolan si Fer yang lalu lebih mendekat ke area 4 orang yang sedang nampak adu argumen itu. Beberapa siswa dari yang menjadi kubu Reno pun mulai berdatangan.
“Weh! Andrew Mamen! Ternyata elo anak barunya?!”
Dimana salah satu siswa yang berada di kubu Reno itu mengenali Andrew.
Satu siswa yang mengenali Andrew dan dikenali juga oleh Andrew karena pernah nongkrong bersama, kemudian melingkarkan lengannya sok akrab ke bahu Andrew yang membalas sapaannya dengan hanya menggerakkan dagunya saja, namun sedikit menampilkan senyumnya.
Pun Andrew membiarkan satu teman Reno itu bersikap sok akrab padanya, karena memang sudah cukup kenal juga----tak hanya dengan satu siswa itu, namun dengan beberapa teman sekolah Reno yang lain----yang sudah berdatangan dan berdiri mengambil posisi di sisi kiri dan kanan tempat Reno dan Andrew berdiri.
Mereka juga kenal dengan Andrew, dan sempat menyapa singkat Andrew sebelum berdiri menghadap si Fer dan kawanannya. Lalu celetukan remeh keluar dari mulut si Fer. “Weh anak mama pada ngumpul....” cibirnya sambil terkekeh remeh, lalu diikuti oleh teman-temannya. Namun kekehan mereka tak bertahan lama, karena cibiran kemudian datang juga dari seorang teman Reno.
“Ini anak mama pada pernah bikin lo sama jongos-jongos lo itu bonyok kalo lo lupa?.... jagoan??....” lalu mengucapkan penekanan di akhir kalimatnya, dimana satu kata itu bukanlah bentuk sebuah pujian----lalu kekehan yang kini terdengar dari kubu Reno, “Tapi kok jagoan gampang bonyok?----“
“Diem lu!----“
“Coba bikin gue diem?”
“Bubar!”
Reno tiba-tiba berseru karena bel sekolah terdengar, saat si Fer menyergah geram pada satu temannya yang ditimpali juga oleh gerombolan dari siswa yang Reno sebut sebagai biang kerok sekolah itu.
Lalu dengkusan terdengar dari Fer dan kawan-kawannya, dimana mereka hendak membubarkan diri kemudian----namun sebelumnya dia menelisik lagi Andrew yang memasang tampang masa bodoh dan balik menatapnya dengan remeh.
“Gue colok tuh mata!”
Satu celetukan terdengar lagi dari kubu Reno yang memperhatikan gerak-geriknya si Fer yang sedang menelisik Andrew.
“Kita ingetin sama lo dan lo kasih tau jongos-jongos lo itu.... ni orang, sodaranya Reno.... nyenggol dia, urusannya ga cuma sama Reno, tapi sama kita orang juga.”
Lalu ujaran yang terdengar sebagai sebuah peringatan untuk si Fer dan gerombolannya, keluar dari mulut siswa yang masih merangkul Andrew sok akrab itu. Dimana Fer langsung mendengkus sinis setelahnya.
“Oh, jadi dia sodara ketua lo pada?.... pantes sama belagunya!----“
“Belagu tapi ganteng sah-sah aja, Nyet!” satu teman Reno menimpali dengan cepat cibiran si Fer itu. “Pinter banget pula! Ga kayak lo! Yang masuk ini sekolah juga gue yakin malsuin nilai plus sogokan!----“
“Jangan sembarangan lo!----“
“Ga ada gue sembarangan! Kalo gue niat bisa gue bongkar fakta tentang nilai-nilai lo sampe bisa masuk sini selain karena nama bapak lo!”
Satu teman Reno yang mencibir Fer langsung lagi menjawab sergahan cowok itu padanya.
“Lupa bokap gue siapa? Cari fakta tentang lo cuma segede upil gampangnya.”
Satu teman Reno yang sedang adu argumen dengan si Fer itu langsung lagi berkata.
Dan si Fer pun diam, karena memang satu teman Reno itu punya ayah yang kerjanya mencari fakta tentang para kriminal untuk menyeret mereka ke dalam jeruji besi.
Kalau sudah satu teman Reno yang ayahnya bekerja dalam satu bidang itu berkata begitu, tak ada yang bisa Fer lalukan selain hengkang saja dari tempatnya sekarang. Kemudian langsung berjalan menerobos Reno dan teman-temannya dengan wajah yang kesal.
“Tambeng!” seru satu teman Reno lainnya yang melihat si Fer itu sengaja menyenggolkan bahunya ke bahu Reno dengan keras, sementara Reno sendiri diam saja----malas lebih jauh menanggapi biang kerok sekolah yang hobinya cari gara-gara dengan siswa lain dan sok jagoan pula.
“Dah lo semua ke lapangan.”
Reno lalu angkat suara dan memberikan perintah pada teman-temannya itu.
“Termasuk lo Andrew Smith!”
Juga pada Andrew.
🚬🚬
Dari sejak kejadian itu, si Fer alias Ferdi tak nampak lagi dekat-dekat dengan Andrew yang kini memang selalu gabung dengan Reno dan teman-teman Reno yang biasa berkumpul dengannya saat istirahat, dimana sebagian adalah teman sekelas Reno dan Andrew juga----dan sebagian lagi anggota tim basket unggulan sekolah.
Pun Andrew lebih masa bodoh lagi pada si Ferdi dan gerombolannya yang tampang mereka nampak begajulan di mata Andrew, belum lagi memang sok jagoan sekali Andrew perhatikan----rasanya Andrew gemas ingin memberikan salam lewat tampolan ke muka itu anak yang sok jagoan, kalau kelakuan si Ferdi dan teman-temannya sedang banyak lagak pada siswa yang takut pada mereka.
Hanya saja, Andrew sudah diperingatkan oleh Reno soal si Ferdi. “Ga usah lo tanggepin itu orang dan gerombolannya. Ga guna! Buang waktu! Termasuk ga usah masuk campur urusan dia.”
“Hem.” Yang Andrew tanggapi begitu saja peringatan Reno itu, yang mana memang Andrew juga ogah ngurusin urusan orang lain----yang penting itu orang jangan coba cari perkara dengannya saja.
Karena kalau sampai itu terjadi, Andrew tak bisa menahan diri----karena dia tidak bisa sedikit saja disulut emosinya, apalagi kalau ada yang coba ‘main fisik’ dengan menyerangnya lebih dulu. Sungguh kesabaran Andrew hanya setipis tisu yang dibelah dua.
Lalu bagaimana jika kesabaran seorang Andrew Eager Adjieran Smith sedang dicoba lewat emosinya?....
🚬🚬
Namanya orang tak suka, pasti ada saja alasan yang dijadikan argumen untuk cari gara-gara.
Terlebih, umumnya anak SMA yang berjiwa muda sedang dalam gejolak mereka sendiri dalam pertemanan serta urusan cinta-cintaan dengan dia yang jadi incaran buat dijadiin pacar.
🚬🚬
Terhitung baru 3 hari Andrew jadi murid baru di SMA tempat Reno bersekolah.
Tapi dalam masa 3 hari itu, Andrew sudah menunjukkan eksistensinya sebagai seorang cowok idaman buat para siswi yang merasa Andrew adalah tipe mereka.
Dan sudahlah banyak dari siswi itu yang terang-terangan sedang mendekatinya, yang Andrew terima-terima saja----selama mereka cantik dalam pandangan Andrew.
Yang satu dari para siswi yang sedang mendekati Andrew itu, ternyata adalah incaran si Ferdi----namun cinta si biang kerok pada siswi tersebut bertepuk sebelah tangan karena yang bersangkutan tidak minat sekali pada Ferdi.
“Gue kasih tau sama lo ya? Gue ga peduli lo sodaranya Reno dan gengnya itu para anak mama. Lo udah cari gara-gara sama gue dari awal lo masuk sini tapi lo gue lepasin karena kebetulan gue lagi bae!....”
Atas hal itu Ferdi pernah menghampiri Andrew di satu ketika, saat Andrew sedang sendirian pergi ke kamar mandi sekolah----memberikan Andrew peringatan sekaligus ancaman.
“Tapi sekarang gue ga akan diem kalo si Wulan lo deketin! Dia milik gue! ngerti lo?!.... Kalo gue liat lo deketin dia lagi, abis lo!”
Yang ditanggapi Andrew dengan masa bodoh tanpa dia merespons ucapannya Ferdi, yang kala itu langsung Andrew tinggal begitu saja.
🚬🚬
Andrew benci diancam.
Makanya kemudian dia sengaja menyulut emosi si Ferdi melalui siswi yang bernama Wulan.
Tadinya si Wulan itu yang gencar mendekati Andrew, dan kini Andrew intens menanggapinya karena memang Andrew sengaja, karena si Ferdi sok-sok-an mengancamnya.
Lagian, si Wulan itu lumayan juga orangnya.
Cantik, putih, semampai, dan panjang rambutnya.
Beda jauh dengan yang namanya Fania, adik angkatnya Reno itu.
Cantik?....
Tau deh.
Kata Bunda Rina cantik itu relatif.
Putih?....
Si Fania itu sering main di lapangan waktu cuaca lagi terik kayaknya.
Hitam banget sih engga....
Tapi untuk ukuran cewek kriteria Andrew, dari warna kulit Fania aja, itu cewek ga masuk kriterianya.
Semampai?....
Iya, ‘Semeter Ga Sampai’
Walaupun itu kiasan.
Yang namanya Wulan juga ga tinggi-tinggi amat.
Tapi Fania lebih pendek darinya.
Jauh dari kata semampai, karena bagi Andrew cewek tengil itu kurcaci.
Belum lagi lurus aja bodinya itu si Fania macam papan triplek.
Terakhir, yang benar-benar membuat seorang Fania amat sangat bukan tipenya Andrew.
Itu cewek rambutnya pendek banget!
Kalo pas dibelai pas mau bilang ‘Sayang’, hanya akan berhenti di ‘Sa’ aja.
Ga nyampe itu kata sayang selesai diucapkan kalau Andrew punya cewek yang rambutnya macam si tengil Fania.
Dah mana tuh cewek SMP ga ada lembut-lembutnya, songong pula pada dirinya yang cukup jauh usia di atas cewek yang Reno anggap sebagai adiknya itu.
Ngeselin!
Kalau kata Andrew tentang si tomboy adik angkatnya Reno itu.
‘Engga banget gue punya cewe macam itu si Demi Moore KW!’
Andrew berseru dalam hatinya.
‘Eh tunggu!’
Hati Andrew berseru lagi.
‘Kenapa gue jadi mikirin itu si tengil?!----‘
🚬🚬🚬🚬
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Nunung Nurul hikmah
kenapa gk bikin cerita yg lain lg mak biar gk monoton trs peminat nya jd banyak lg...maaf cuma kasih saran aj🙏
2023-10-06
0