Selamat membaca...
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
Pada suatu hari,
“Halo, Bun.” Seorang cowok kepalanya tak berambut mencetuskan sapaan dari mulutnya pada seorang wanita yang merupakan ibu dari Moreno Alexander. Alias Reno.
Dia Andrew Eager Adjieran Smith.
Alias Andrew.
Cowok yang sudah mengenal seorang Moreno Alexander sedari kecil, hingga pada akhirnya dekat dan katakanlah jika kedua cowok itu kemudian bersahabat.
Bahkan sejak remaja belia, sudah jadi macam saudara kandung karena Andrew dan Reno memang begitu dekat seiring mereka kenal satu sama lain dan karena memang intens juga bertemu atas pertemanan orang tua keduanya.
Ibu Andrew dan Reno bersahabat, karena sudah memang kenal lama atas ayah Andrew yang menjalin kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Reno yang dipegang kakeknya saat beliau masih hidup.
Lalu saling mengenalkan keluarga masing-masing, hingga keakraban macam keluarga dalam satu silsilah terjalin antara keluarga Andrew dan Reno---dimulai dari para orang tua keduanya. Merambat pada Andrew dan Reno yang menjadi dekat macam saudara kandung itu kemudian.
Hingga keduanya pun saling menganggap orang tua masing-masing layaknya orang tua sendiri, meski Andrew hanya begitu dekat pada ibunya Reno saja. Kalau dengan ayah Reno, Andrew biasa saja. Tapi kalau dengan ibu kandung Reno, Andrew cukup dekat. Bahkan tak segan untuk bermanja padanya.
“Eh, Andrew? Kapan datang, Nak? .. Reno ga bilang kamu mau dateng ke Jakarta hari ini?” seorang wanita yang kiranya seusia ibunya Andrew, yang merupakan ibunya Reno---menyahut dan menyambut kedatangan Andrew dengan sedikit keterkejutan. Andrew yang datang ke rumah Reno itu langsung menjawab pertanyaan ibundanya Reno tersebut.
“Memang ga ada rencana, Bun....“ jawab Andrew sambil ia mendekati ibunda Reno yang biasa ia panggil dengan sebutan ‘Bunda’ itu, sama sebagaimana Reno memanggil ibu kandungnya tersebut.
Ibunda Reno yang sedang nampak sibuk menyiapkan makanan yang beliau atur dengan begitu apik di meja makan dalam rumahnya itu, kemudian menjeda kegiatannya dan berjalan mendekati Andrew yang sedang mendekatinya.
“Michelle ga ikut?” tanya ibundanya Reno. Bunda Rina---sebut saja begitu---yang bertanya seraya tersenyum pada Andrew yang kemudian sedikit merentangkan tangannya, lalu menyapa Bunda Rina dengan pelukan.
Andrew pun langsung menjawab pertanyaaan Bunda Rina tersebut. “Nope....“ kata Andrew sambil mengurai pelukannya pada Bunda Rina, serta sempat juga mengecup pipi kanan dan kiri wanita yang memiliki aura kelembutan begitu nyata itu.
🚬🚬
Andrew lalu mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan dalam rumah keluarga Reno, dimana dimejanya---telah tertata beberapa jenis makanan dengan nampak apik. “Mau langsung makan sekarang, Drew?” tanya Bunda Rina pada sahabat karib anaknya yang sudah juga ia anggap anak sendiri itu, karena sudah mengenal Andrew dari sejak sahabat putranya tersebut masih balita.
Andrew menggeleng setelah mendengar tawaran dari Bunda Rina. “Nanti saja bareng Reno, Bun.... dia di kamar?....” Lalu Andrew menjawab Bunda Rina dengan juga mencetuskan pertanyaan.
Bunda Rina menggeleng, sambil ia menjawab.
“Engga, Reno lagi ngajak Fania beli sesuatu di pujasera komplek....“
Dan Andrew langsung mengernyit kecil di tempatnya, “Fania? ..” cetus Andrew bertanya – tanya, sambil ia memandang kepada Bunda Rina.
Bunda Rina mengangguk kecil, lalu sudah hendak menjawab pertanyaan Andrew yang ia lihat sedang nampak heran itu.
“T –“
“Pacarnya Reno?” namun keburu didahului Andrew yang bertanya lagi.
“Bukan.”
Bunda Rina segera menjawab Andrew.
“Sepupu?”
Andrew bertanya lagi.
“Eh, tapi Reno hanya memiliki tiga sepupu dari pihak keluarga Uncle Pete yang mana tidak ada yang akrab dengan anak Bunda yang terlalu dingin pada siapapun itu, dan itupun laki – laki semua, kan?”
Namun Andrew malah langsung menjawab pertanyaannya sendiri.
Bunda Rina mengangguk sambil ia tersenyum geli mendengar cerocosan Andrew tersebut.
“Lalu siapa Fania? cewek kan itu kalau dengar dari namanya? –“
“Iya lah cewek! Namanya aja Fania. udah jelas kedengeran manis gitu namanya?”
“Manis juga orangnya? –“
“Semanis gula....”
🚬🚬
Andrew langsung tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Bunda Rina atas pertanyaan isengnya, dan ia pun langsung berkomentar.
“Kalau Bunda sudah bilang seperti itu, maknanya gadis itu benar-benar manis. Ah aku jadi penasaran –“
“Penasaran boleh, tapi coba dijadiin pacar ga boleh –“
“Kenapa begitu? Bunda tadi bilang dia bukan pacarnya Reno? Jadi sah – sah aja dong kalau aku mau mendekati itu cewek yang namanya Fania? –“
“Mau coba dekati dia sebagai teman boleh, lebih dari itu, No.”
“Why?....”
Andrew menunggu penjelasan.
“Pertama, Moreno udah menyayangi Fania layaknya adik kandung.”
Bunda Rina pun mulai memberikan Andrew penjelasan.
"Kapan kenalannya Reno sama itu cewek? tau - tau udah sayang - sayang aja? -"
"Ya kamu kan dari sejak Reno kenal sama Fania, baru ini ke Jakarta lagi, kan?"
"Iya sibuk sama gebetan baru -"
Bunda Rina geleng-geleng kecil saja mendengar ucapan Andrew barusan.
"Terus sekarang ke sini, pasti udah bosen sama gebetannya? -"
"Betul sekali!"
Sekali lagi Bunda Rina geleng-geleng kecil.
"Ya udah terusin soal si.... siapa itu tadi cewe yang katanya udah disayang sama Reno?"
"Fania."
"Iya itu."
“Ya pokoknya kamu ga boleh coba-coba godain Fania. Ga cuma Reno, tapi Bunda juga udah menyayanginya. Jadi tidak akan Bunda biarkan Fania dideketin terus dimainin sama playboy macam Andrew Adjieran Smith ini, biar dia kaya dan ganteng juga.”
Andrew langsung terkekeh kecil mendengar ucapan Bunda Rina barusan. Dan wanita yang berwajah teduh serta bersuara lembut itu tersenyum geli.
“Lalu alasan yang kedua? –“
“Fania masih kelas dua SMP.”
“Hah?!”
🚬🚬
“Kok Reno bisa temenan sama anak kecil?” tanya Andrew setelah ia sempat tercengang. Dirinya tak habis pikir.
“Ga sengaja –“
“Ga sengaja gimana sampai Reno bisa berteman sama anak kelas dua SMP? Cewe lagi? –“
“Waktu Reno lagi ke PIM, Fania muncul lalu langsung tanya sama Reno soal tempat naik angkutan umum....”
“Dia pindahan dari luar kota?”
Bunda Rina menggeleng menjawab pertanyaan Andrew tersebut.
“Fania asli sini, tapi baru itu katanya dia main jauh karena diajak sama temen-temennya.”
“Heemm.”
“Terus karena Reno liat Fania kebingungan, jadi Reno menawarkan Fania untuk diantar sama dia, sama Pak Yanto juga.”
🚬🚬
“Kan kamu tau, biarpun anak Bunda dingin begitu, tapi dia punya rasa ga tega sama orang lain cukup besar? –“
“Tapi seengga teganya Reno, dia kan super cuek sama yang namanya cewe? Jadi tumben sekarang dia bisa ga tega sama itu cewe bernama Fania?”
“Yah mungkin karena Reno lihat kalo Fania itu kira-kira seusia Michelle?”
“Lalu Reno sekarang bisa jadi akrab terus sayang segala sama dia?”
“Mereka ketemu lagi di toko buku setelah beberapa hari dari Reno anter Fania pulang waktu itu –“
“Terus? Habis ketemu lagi bisa langsung akrab begitu? Biarpun anak Bunda itu ketua OSIS, tapi dia kan cueknya bukan main? Apalagi sama cewe? Anak SMP pula!”
Andrew bercerocos.
“Aneh kan? –“
“Sangat....” tukas Andrew.
Bunda Rina lalu langsung tersenyum.
“Karena Fania unik –“
“Unik? –“
“Hmm –“
“Uniknya?”
Andrew penasaran.
“Nanti kamu lihat sendiri.”
Bunda Rina menjawab yang makin menambah rasa penasaran Andrew. “Unik karena terlalu cantik?”.
“Cantik itu relatif, dan kadang membosankan untuk dipandang. Yang manis yang ga ngebosenin. Dan Fania sangat manis –“
🚬🚬
Andrew tersenyum geli kemudian setelah mendengar Bunda Rina yang memuji seorang gadis yang tidak Andrew kenal.
“Aku jadi makin penasaran karena Bunda memuji si Fania itu sampai begitu....” ucap Andrew kemudian, dan Bunda Rina pun terkekeh kecil---lalu sejenak tidak ada pembicaraan diantara Bunda Rina dan Andrew, karena ibundanya Reno itu melangkahkan kakinya ke dapur---lalu Andrew meraih apel yang ada di atas sebuah wadah saji untuk buah dihadapannya, kemudian menggigit apel tersebut---sambil menunggu Bunda Rina kembali ke dekatnya.
“Kamu mau dibuatkan minum apa, Drew?....”
Lalu tak lama selang Andrew sedang menikmati apel yang ia ambil dari wadahnya, Bunda Rina telah kembali mengajaknya bicara, seraya bertanya.
“Anything asal dingin, Bun....” jawab Andrew.
Bunda Rina pun mengiyakan, lalu bicara pada salah seorang artnya untuk menyajikan minuman kepada Andrew.
“Kenapa sih kamu kalau ke sini ga pernah ajak Michelle?” tanya Bunda Rina pada Andrew lagi selepas ia bicara dengan salah seorang artnya.
“Malas jadi baby sitter ..” jawab Andrew santai. Dan Bunda Rina langsung geleng – geleng kecil saja setelah mendengar jawaban Andrew.
“Kamu nih. Orang adik kamu sendiri. Ya wajar lah kamu jagain dia,” ucap Bunda Rina kemudian.
“Repot, Bun –“
“Repot gimana sih?”
“Ya repot kalau aku ajak Michelle ke sini jika dad dan mom tidak ada di Jakarta. Karena Michelle akan selalu minta ikut kemana aku pergi.”
“Ya kenapa memang? ..”
“Ya repot dong Bun. Masa iya aku bawa si Michelle saat aku mau pergi dengan cewe?”
Andrew dengan sifatnya yang santai itu, menjawab dengan sikap tersebut pada Bunda Rina yang sudah memahami sifat Andrew tersebut.
“Kamu nih. Cewe aja terus.”
Dan Bunda Rina juga bukan tipikal orang tua yang kaku.
Selain beliau sudah cukup maklum dengan sikap Andrew, seperti dia memaklumi sifat anak kandungnya sendiri.
“Salahkan cewe – cewe itu yang suka flirting dengan aku.”
Andrew kemudian berucap setelah ia tersenyum geli mendengar ucapan Bunda Rina yang sudah Andrew anggap macam ibu kandungnya sendiri itu.
Bahkan Andrew betah berlama – lama dengan Bunda Rina, karena wanita itu begitu lembut, dengan tutur kata yang halus berikut suaranya yang selembut beledu.
Sungguh jauh berbeda dengan ibu kandung Andrew yang walaupun penuh perhatian dan kasih sayang padanya -- namun suaranya – apalagi kalau sudah merepet, kuping Andrew akan jadi pengang dalam sekejap.
Namun begitu, tetap Andrew sangat menyayangi ibu kandungnya tersebut.
“Dan Kalau yang flirting dengan aku itu cewe cantik, ya aku sambat daripada mubazir.”
Andrew lalu menambahkan ucapannya, sambil ia mengerling pada Bunda Rina yang langsung terkekeh kecil.
“Makanan kali mubazir,” celetuk Bunda Rina kemudian.
Andrew pun tersenyum geli sekali lagi, lalu manggut – manggut kecil---saat Bunda Rina kemudian menasehatinya.
“Tapi inget, pacarannya jangan kebablasan .. kamu masih sekolah. Selain, ingatlah selalu untuk menghargai yang namanya perempuan. Karena sebaiknya laki – laki, adalah yang bisa menjaga kehormatan perempuan.”
“Iya, Bun. Aku akan selalu mengingatnya,” jawab Andrew. “Aku juga punya adik perempuan kan? Yang tidak aku akan biarkan ada laki – laki yang berani mempermainkan, apalagi memanfaatkannya. Dan untuk itu aku harus memulainya dari diriku sendiri, bukan begitu Bunda Rina yang lembut? Yang jauh berbeda sekali dengan Mom Erna yang suaranya nyaring itu ..”
Andrew lalu geleng –geleng.
“Haish ..”
Berkesah kemudian.
“Seingatku aku tidak pernah melihat mom bicara selembut Bunda?” tambah Andrew dengan wajah yang dibuat memelas. “Aku rasa mom mengkonsumsi burung beo tanpa kita ketahui ..”
Bunda Rina jadi langsung terkekeh geli.
‘Kalau Erna aja Andrew keluhkan nyaring suaranya, bagaimana nanti bila Andrew bertemu Fania lalu mendengar suaranya? ..’
Bunda Rina membatin kemudian, sambil mengulum senyum gelinya. Lalu ia langsung kembali lagi bertanya pada Andrew yang langsung menjawab pertanyaannya.
“Eh iya Andrew, ini kan hari minggu. Kalau kamu ke sini hari ini, besok kamu sekolah gimana? ..”
“Aku mau pindah sekolah ke sini, Bun.”
“Oh, ya?”
“Iya.” Andrew dengan cepat menimpali ucapan Bunda Rina yang sedikit terkejut itu.
“Kenapa? Bukannya cewe – cewe Bandung cantik – cantik? ..”
“Di sini juga banyak cewe cantik.”
“Ya terus kenapa kamu pindah? .. Kasihan dong Michelle jadi sendirian di Bandung? eh ada Jeff di sana ya? ..”
Andrew lalu mengangguk kecil sebelum ia menjawab ucapan Bunda Rina barusan.
“Michelle akan pindah ke London, Bun. Dan aku sudah bosan di Bandung.Michelle memang sudah merengek ingin tinggal di London sejak lama. Tapi dad belum lama baru mengiyakan. Entah apa alasannya meninggalkanku dan Michelle sedari kecil di Bandung saat mereka dad dan mom memutuskan untuk tinggal di London."
"Anthony pasti punya alasan kuat untuk itu. Mungkin masih repot dengan bisnis dan Erna juga mengelola Yayasan milik keluarga dad kamu kan, dan Yayasan itu sudah jadi tanggung jawab Erna sepenuhnya. Belum lagi kalau dad kamu sedang ada perjalanan bisnis, Erna pasti ikut kan? --"
"Iya sih --"
"Jadi mungkin karena di Bandung waktu itu masih ada Opa Putra dan keluarga kalian yang lain, Anthony lebih tenang meninggalkan kamu dan Michelle di sana daripada harus membawa kalian ke London lalu benar-benar diasuh sama baby sitter --"
"Ya mungkin Bunda benar."
"Toh kamu dan Michelle selain sering diajak ke London saat liburan, juga sering dikunjungi oleh Anthony dan Erna. Dan mereka juga tidak pernah singgah sebentar untuk menyediakan waktu buat kalian. Bahkan Reno, Jeff dan John sebelum dia memilih buat sekolah di Amrik aja kebagian perhatiannya Anthony dan Erna."
Andrew lalu manggut-manggut.
"Jeff kemungkinan juga akan move ke London.”
“Nah lalu kenapa kamu memilih Jakarta untuk pindah sekolah? Kenapa ga ke London juga? ..”
“Nanti Bunda ga ada yang jaga? Uncle Pete kan sama sibuknya macam dad ..”
Andrew menyahut, sambil ia merebahkan kepalanya dengan manja di salah satu pundak Bunda Rina.
“Reno juga udah cukup buat jaga Bunda –“
“Iya sih, percaya,”
Andrew menimpali balasan Bunda Rina atas ucapannya soal menjaga ibu kandung Reno, dengan makna candaan itu.
“Tapi berhubung aku dan Reno adalah soulmate, jadi aku rasa aku harus selalu berada di dekatnya. Selain aku ingin memastikan agar dia tetap berada di jalan yang lurus sebagai laki – laki normal, karena aku tidak pernah melihatnya tertarik pada cewe sedikit pun.”
Bunda Rina jadi terkekeh lagi setelah mendengar ucapan Andrew barusan itu.
“Insya Allah anak Bunda normal .. Lagian Reno ga playboy macam kamu –“
🚬🚬
Andrew terkekeh mendengar ledekan dari Bunda Rina itu, “No, Bun. Aku bukan playboy. I’m a badboy. Badboy yang mudah menaklukkan cewe,” balas Andrew kemudian pada ibu kandungnya Reno tersebut.
“Dasar. Nanti suatu hari, kamu yang akan ditaklukkan oleh seorang cewe yang membuat dunia kamu jungkir balik ..”
Andrew tergelak, lalu berkata setelahnya, selepas Bunda Rina memperingatkannya---yang Andrew tanggapi dengan remeh.
“Haha .. Itu tidak akan mungkin, Bun.”
“Tidak akan ada dalam kamus hidupku, bila aku akan takluk pada seorang cewe –“
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika Yang Maha Kuasa sudah berkehendak.”
“Iya, iya ..”
Andrew menyahut. Memilih mengalah saja pada Bunda Rina yang kemudian langsung tersenyum mendengar sahutan Andrew tersebut.
“Tapi tetap aku tidak akan pernah takluk pada seorang cewe.”
Andrew menambahkan ucapannya, dan Bunda Rina tersenyum lagi – lalu mengusap kepala Andrew dengan sayang.
“By the way, Reno udah dari tadi perginya dengan si Fania itu atau belum lama?”
“Sebentar lagi juga balik, cuma beli coklat sama es krim aja. Katanya Reno janji mau belikan buat Fania, tapi dia lupa ..”
“Katanya bukan pacar? Tapi kedengarannya Reno perhatian banget sama itu cewe? Mungkin Reno naksir kali sama itu si Fania? kan ga sedikit anak SMP yang perawakannya macam anak SMA?”
Andrew mencetuskan dugaannya.
‘Dan itu membuat gue semakin penasaran sama cewe yang namanya Fania itu ..’
Lalu Andrew membatin setelahnya.
“Bagi Reno, Fania udah dianggap adik kandungnya sendiri seperti Michelle –“
“Tapi Reno ga seperhatian dia pada si Fania itu ke Michelle, kalau aku tangkap gambarannya dari perkataan Bunda –“
“Ya itu kan Michelle juga sama tertutupnya macam Reno .. dan Fania saangat berbeda dengan Michelle –“
“That’s why aku sangat – sangat penasaran dengan si Fania itu, yang bisa buat Reno yang dingin macam kulkas, jadi begitu perhatian pada seorang cewe.”
“ASALAMUALAIKOM! ..”
Lalu sepersekian detik setelah Andrew berkata pada Bunda Rina, suara amat sangat nyaring terdengar dari arah pintu depan rumah Reno.
“Astaga!”
Teramat sangat nyaring, sampai Andrew terperanjat lumayan kaget di tempatnya.
Lalu didetik berikutnya, Andrew yang sudah berdiri dari duduknya itu, memperhatikan dengan seksama sosok yang datang bersama Reno, lalu menghambur dengan ceria kepada Bunda Rina.
“Dia?? Yang namanya Fania?? ..” tanya Andrew sambil menunjuk makhluk yang sudah berdiri di samping Bunda Rina dengan menyilangkan tangannya ke satu lengan sang Bunda yang langsung mengangguk mengiyakan tebakan Andrew.
Andrew mengernyit kemudian.
‘Cewe?? ..’
Lalu membatin dengan matanya yang tak putus memperhatikan makhluk yang kalau dari namanya iya nama cewe, tapi tampilannya ga ada keliatan ada cewe – cewenya.
Rambutnya super pendek, lalu kaos yang dipakai jelas bukan kaos cewe. Belum lagi celana jeans gombrong dan sepatu kets. “Yakin dia cewe nih???? ..” celetuk Andrew meragukan gender makhluk asing didepannya itu.
Dimana yang bersangkutan langsung melepaskan kaitan tangannya dari lengan Bunda Rina dan langsung berkacak pinggang sambil mendelik dan berkata ketus pada Andrew, “Maksud Lo Apa Ngomong Begitu?!”
“Ga Ada Maksud Apa-Apa!”Andrew pun langsung menjawab tak kalah ketus. “Wajar dong gue tanya lo cewe Apa cowo karena Penampilan lo begini?? Karena seumur hidup, baru ini gue liat cewe yang tampilannya macam lo ini ..“ tambahnya.
Dan yang sedang berhadapan dengan Andrew pun kembali berucap dengan ketus, membalas ejekan Andrew padanya.
“Lo Aja Yang Udik! Ga Pernah Liat Cewe Keren! –“
“Heu?!” Andrew langsung melongo.
Sementara Bunda Rina dan Reno terkekeh tanpa suara di tempat mereka.
“Seenaknya Ngatain Guee?! Lo Tuh Yang Ga Usah Sok Ganteng! Pala Lo Aja Kayak Bohlam! –“
‘What the ..’
Andrew melongo lagi dan langsung membatin tak percaya kalau sosok yang ia ragukan gendernya itu bahkan berani sekali mengatainya.
‘Gue rasa mata Bunda bermasalah waktu bilang ini anak manis ..’ batin Andrew lagi. ‘Dari sisi manapun, ini anak ga ada manis – manisnya. Dan suaranya ya ampuun!!! Suara mom aja udah bisa bikin sakit telinga. Tapi si Fania ini lebih parah!‘
Dan sementara Andrew melongo sambil membatin, Bunda Rina dan Reno langsung tergelak setelah Andrew mendapat ledekan tajam dari makhluk yang sedang berkacak pinggang dengan berekspresi judes pada Andrew itu, dimana yang bersangkutan mengeluarkan kalimat yang membuat geli perut Reno dan Bunda Rina.
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
Nikmatin aja dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Avri Yani
tekuk lutut di hadapan kajolita 😝
2023-10-21
1