Selamat membaca...
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Lo lagian kurang kerjaan banget, tinggal setahun lagi pake pindah sekolah? Dan di sekolah lo sana, lo udah jadi penguasa.” Reno sedang bersama Andrew di halaman depan rumahnya. “Bahkan jalanan di sana udah lo kuasai juga kan?”
“Satu daerah kekuasaan ga cukup, My Bro.”
Andrew langsung merespons ucapan Reno.
“Beside gue udah kelewat bosan di sana,” tambah Andrew.
“Bosan karena cewe populer di sekolah udah lo jajal semua?”
Reno menimpali.
“Haha.” Andrew langsung tergelak.
Reno berdecih geli saja melihatnya.
“Jangan terlalu berprasangka buruk, brother!”
Andrew lalu langsung berkata selepas ia tergelak.
“Gue hanya memacari mereka supaya gue punya teman untuk gandengan aja kalau pergi kemana-mana.”
🚬
“Ga ada tuh yang namanya jajal-jajal body walaupun sekitar dada aja!”
“Ya ya gue percaya.”
Reno menimpali malas ucapan Andrew.
“Lo boleh tanya sama mantan-mantan gue itu.”
“Kerajinan..”
Reno langsung lagi menimpali ucapan Andrew.
Yang mana orangnya langsung terkekeh kecil setelah mendengar timpalan Reno barusan.
“Silahkan cap gue sebagai playboy.. tapi yang jelas gue bukan cowo brengsek bertangan ‘ramah’.”
“Heemm..”
Reno berdehem saja menanggapi Andrew yang sedang membela dirinya sendiri itu.
“Jangankan touching-touching.. bahkan ga ada satupun mantan-mantan gue itu yang gue pernah cium bibirnya.”
🚬
“Karena ciuman pertama gue akan gue persembahkan buat cewe yang nanti bisa bikin hati ini berdebar walau cuma liat mukanya aja.” Andrew menambahkan ucapannya.
Reno menanggapinya sambil memutar bola matanya malas. “Masa bodo amat!” timpal Reno kemudian. Namun dalam hati dia percaya apa yang sahabat sejak kecilnya ucapkan itu.
Reno tahu betul Andrew dengan baik, sebagaimana Andrew tahu betul tentangnya dengan baik juga.
Andrew memang sering gonta-ganti pacar dari mulai kelas satu SMA. Dan Reno juga tahu siapa saja cewe yang pernah dipacari Andrew.
Termasuk, bagaimana cara Andrew menjalin hubungan pacarannya dengan cewe-cewe tersebut.
Karena Andrew itu selalu bercerita padanya tentang setiap hal yang ia alami dan lakukan, tanpa perlu Reno bertanya duluan.
Lagipula, Andrew itu tak pernah pergi pacaran berduaan dengan cewenya. Jika Reno sedang mengunjungi Andrew di Bandung, Andrew pasti mengajaknya serta.
Atau Andrew akan mengajak teman-temannya yang lain kalau Reno sedang tidak ada bersamanya. Termasuk dua orang cowo yang hitungannya masih kerabat dekatnya keluarga Andrew.
Hanya adik perempuannya saja yang tidak pernah Andrew ikut sertakan kalau ia kencan dengan pacarnya yang sebatas nonton bioskop plus makan dan belanja itu.
“Dah gue mau tidur! Lo juga tidur sana! Inget besok senin. Dateng lebih pagi, upacara. Gue ga akan nungguin lo besok kalo saat gue udah rapih lo belum siap. Termasuk gue ga akan segan kasih lo hukuman kalo lo telat dateng ke sekolah!”
Reno berujar pada Andrew sambil ia bangkit dari duduknya.
“Heeemmm.” Andrew hanya berdehem saja menanggapinya.
“Lo nginep di sini apa balik ke kediaman dad sama mom?—“
“Ya nginap disinilah stupid. Jam segini gue masih di sini?”
“Ya terus kenapa?” sahut Reno. “Dari sini ke kediaman ga sampe lima menit.”
“Kan gue udah bilang seminggu ini gue akan bener-bener stay di sini,” timpal Andrew. “Lupa lo?”
“Seragam sekolah lo yang baru udah lo coba?” Reno bertanya lagi pada Andrew setelah ia manggut-manggut kecil.
“Udah,” jawab Andrew yang juga sudah berdiri dari duduknya.
Yang kemudian berjalan bersama Reno pada akhirnya ke lantai dua rumah keluarga Reno untuk pergi ke kamarnya masing-masing, dimana memang karena sudah terlalu akrabnya hubungan Andrew dan Reno----Andrew sampai disediakan kamar untuknya di rumah sahabat sejak kecilnya itu, dan begitu juga sebaliknya.
🚬
🚬
Gerbang sebuah sekolah di Jakarta nampak telah terbuka lebar, lalu dua motor sport memasuki halaman sekolah dan berbelok ke tempat parkir kendaraan yang tersedia, lalu dua pengendara motor sport tersebut, menghentikan laju motor terus memarkirkan motor sport mereka itu diantara beberapa motor-motor lain yang sudah lebih dulu parkir di sana.
Pengendara dua motor tersebut, tak lain dan tak bukan adalah Reno dan Andrew.
Yang memarkirkan dengan apik motor sport yang mereka kendarai secara terpisah.
🚬
“Atribut lo jangan lupa!”
Reno yang berseru pada Andrew yang berjalan berdampingan dengannya setelah memarkirkan motor dan melepaskan helm yang kemudian disangkutkan di stang motor.
“Bawel banget!”
Andrew langsung merespons seruan Reno itu.
“Lo udah bukan ketua OSIS lagi kan?—“
“Memang bukan. Tapi gue ketua MPK. Ketua OSIS pun ada di bawah kaki gue!” timpal Reno dengan cepat.
Andrew lalu memutar bola matanya malas.
🚬
Reno dan Andrew kemudian mengayunkan kaki mereka menjauh dari parkiran menuju gedung sekolah.
Dimana keduanya lalu menjadi perhatian siswa-siswi yang sudah lebih dulu datang ke sebuah SMA favorit di kota yang ditinggali oleh Reno tersebut.
Reno yang memang seorang Most Wanted Boy di sekolahnya, memanglah akan selalu menjadi perhatian para siswi di sekolah tersebut pada setiap gerak-geriknya.
Lalu sekarang Reno nampak berjalan bersama satu cowok lain yang masuk dalam kategori tampan dan sama coolnya dengan Reno.
Hanya agak lebih tinggi dari Reno tubuhnya. Hingga membuatnya dapat dilihat dengan jelas. Sejelas jantung beberapa siswi yang kemudian berdebar kala melihatnya.
Satu cowok tampan ada lagi di sekolah mereka. Kalo Reno susah didapet, yang ini boleh juga—begitu kiranya kata hati para siswi yang menganggap Andrew adalah tipe cowok ‘selera’ mereka.
Andrew sudah ditandai oleh beberapa siswi. Yang menargetkannya untuk didekati.
Silahkan saja sih.
Andrew memang playboy, tapi selera ceweknya tinggi.
Ga cuma cantik, tapi harus seksi. Itupun masih harus lewat tahap seleksi.
“Lo ke kantor dulu sana, laporan sama bagian kesiswaan. Nanti gue nyusul.“
Reno berucap pada Andrew, ketika langkah mereka telah sampai di gedung sekolah.
Mengabaikan pandangan para siswi disekitar, yang penuh minat ke arahnya dan Andrew.
“Laporan apalagi? Berkas gue udah masuk semua! Tuh Kepseknya juga kenal sama gue! lagian kita sekelas?”
Andrew merespons ucapan Reno dengan gelagat penolakan.
“Paling engga lo temui dulu wali kelas—“
“Gue ga butuh sesi perkenalan depan kelas.”
“Tata tertib ikutin. Selain tata krama. Lo itungannya masih tamu di sini. Jadi sebagai tamu, lo sambangi tuan rumahnya dulu. Itu kepsek sama guru-guru—“
“Ck.” Andrew langsung mendecakkan lidahnya. Mendengar ucapan Reno yang sedikit merepet. “Iya, okay!” seru Andrew kemudian. Lalu melangkah malas menuju area kantor sekolah tempatnya akan menempuh tahun terakhirnya di SMA.
Meski Andrew seringkali bersikap semaunya, namun Reno yang hanya satu tahun lebih tua darinya, Andrew anggap sebagai kakaknya. Untuk hal-hal tertentu, Andrew akan mendengarkan dan melakukan ucapan Reno.
“Nih sekalian bawain tas gue ke kelas!” Andrew mengestafetkan begitu saja tas ransel sekolahnya pada Reno yang langsung mendecakkan lidahnya.
Lalu Andrew berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan kemana Reno menuju.
“Baju lo masukin!”
Reno berseru kala Andrew telah sedikit melangkah menjauh darinya menuju area kantor sekolah.
Lalu Andrew kembali memutar bola matanya malas sambil ia berjalan tanpa menyahut dan menoleh ke arah Reno berada.
Hanya tangannya saja yang terangkat satu, dengan jari tengah yang ia tampakkan—Andrew tujukan pada Reno yang langsung menyungging samar.
Tak ada rasa tersinggung, karena tabiat Andrew memang Reno paham betul. Lagipula mereka sudah macam saudara kandung.
Dan layaknya saudara kandung, ribut-ribut kecil, bersikap seenaknya pada saudara sendiri dalam interaksi sehari-hari tapi dalam batas kewajaran—adalah hal yang biasa.
Termasuk penunjukkan jari tengah, yang jadi suatu hal yang biasa dilakukan oleh mereka yang seusia Andrew dan Reno dalam pergaulan untuk sekedar menunjukkan rasa sebal.
Beda kalau hal itu dilakukan ke orang yang tidak dikenal ataupun pada siswa dari sekolah lain. Penunjukkan jari tengah seperti yang dilakukan Andrew tadi, bisa dianggap sebagai sebuah tantangan untuk adu kepalan dalam perkelahian.
🚬
Sebal pada Reno, namun tangan Andrew bergerak untuk memasukkan kemeja seragamnya ke balik celana seragam yang ia kenakan. Hanya saja ya begitu, Andrew memasukkannya dengan asal. Lalu berjalan dengan langkah tegap menuju kantor sekolah.
Ada aura keangkuhan yang nampak di ekspresi wajah Andrew yang kepalanya tegak dengan garis rahangnya yang nampak tegas.
🚬
Pada dasarnya, Andrew dan Reno itu kurang lebih sama kalau soal penunjukkan ekspresi yang dapat dilihat oleh mereka yang memperhatikan keduanya.
Meskipun Andrew hitungannya lebih supel daripada Reno--karena memang cowo itu hobi nongkrong dan menjalin pertemanan dengan orang baru dalam pergaulan, namun layaknya Reno—Andrew akan terlihat seperti cowok dingin kala dia sedang diam.
Bahkan, terkesan garang.
Reno sendiri, yang memang selalu cool pembawaannya selain bersahaja.
Bukan juga tidak supel karena dirinya yang tak banyak bicara.
Reno yang lebih senang menghabiskan waktunya di rumah atau kemana-mana sendirian, bukan tak bergaul juga. Selalu gabung dengan para siswa yang lain saat istirahat. Entah itu teman sekelasnya, atau anak tim basket yang mana Reno adalah kaptennya.
Mau juga kalo diajak nongkrong di luar jam sekolah. Sesekali tapi. Ga sesering Andrew yang memang hobi banget nongkrong di luar itu. Sampai anak sekolah lain pun kenal sama sahabat sejak kecilnya Reno itu.
Bahkan di kota yang Reno tinggali, rasanya teman Andrew lebih banyak darinya.
Saking Andrew memang mainnya kemana-mana, terutama ke tempat-tempat dimana ada sesi untuk balapan motor.
Bukan balapan resmi tapi. Balapan liar. Namun tak sembarang balapan liar.
Andrew mau ikutan balapan liar hanya kalau di tempat yang dikhususkan untuk itu.
Atau di sebuah area tertutup yang biasanya sudah terbengkalai atau belum dipergunakan.
Yang membuat tempat itu sepi dari lalu lalang pengguna umum jalanan, bukan balapan dengan ugal-ugalan di jalanan umum yang mengganggu ketertiban.
Kampungan.
Kalau Andrew bilang.
🚬
Singkat kata, Andrew tak menemui kesulitan untuk berbaur sebagai murid baru di SMA tempat Reno bersekolah.
Selain memang Andrew mudah bergaul, statusnya sebagai saudara Reno yang sahabatnya itu akui di depan teman – teman Reno—yang katakanlah paling sering ngumpul sama Reno di sekolah sebagai saudaranya, sudah cukup membuat Andrew jadi sorotan.
Walau tanpa Reno mengatakan kalau dirinya adalah saudara cowo itu, Andrew sudah cukup menarik perhatian warga sekolah. Postur tubuh dan wajah blasterannya Andrew amat sangat cukup membuatnya akan terlihat menonjol diantara para siswa yang lain.
🚬
Lima hari berlalu dari sejak Andrew masuk ke SMA yang sama dengan Reno. Dan dalam lima hari itu, Andrew sudah sangat menyesuaikan dirinya di sekolah barunya itu, bahkan seolah dia sudah bersekolah di sana sejak awal.
Namun begitu, ada juga beberapa siswa yang kelihatan jelas kalau mereka itu satu kelompok—menampakkan ketidaksukaannya pada Andrew. Yang mana sebabnya, kata mereka—Andrew sok keren dan pentantang-petenteng.
Padahal kan, emang Andrew keren.
Dan si keren itu sedang di hadang oleh beberapa orang siswa yang kemudian mengerubunginya, yang sedang bolos satu jam pelajaran di warung dekat sekolah.
🚬🚬🚬🚬
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments