Selamat membaca...
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Mau kemana lo?!”
“Toilet. Ngantuk –“
“Jangan nyemok di sekul.”
“Hem –“
🚬
“Ren.”
“Hem?”
“Si Andrew ga balik-balik dari toilet?”
“Nyemok paling .... Ga ngajak – ngajak lagi?”
🚬
“Gue susulin si Andrew ya? ....”
“Bisa banget lu cari kesempatan mentang – mentang Pak Akmal nyantai.”
“Namanya juga usaha. Mayan sebats .... nanggung Bahasa Inggris cuma sejam doang.”
“Iya kalo Pak Akmal ga bablas langsung dua jam trus istirahat kita dimundurin .... eh jangan-jangan si Andrew emang niat bolos sejam karena mikir nanggung ini pelajaran Pak Akmal cuma sejam doang sebelum istirahat?”
“Bisa jadi .... ya udah gue susulin kalo gitu ....”
“Gue aja.”
Reno yang sebelumnya diam saja saat dua temannya itu kasak – kusuk di belakangnya, kemudian langsung bersuara setelah satu temannya yang barusan kasak – kusuk itu menawarkan diri untuk menyusul Andrew.
🚬
Reno sebenarnya sedang mengecek tas Andrew saat dua temannya itu kasak – kusuk mengenai sahabatnya yang belum kembali dari sejak ia keluar kelas karena akan ke toilet katanya. Namun sampai guru mapel yang berikutnya masuk, Andrew juga belum kembali ke kelas.
Tadinya Reno merasa masa bodoh saja. Karena ia berpikir pasti Andrew sengaja bolos jam pelajaran. Tahu betul kalau sahabatnya itu memang sering bertindak sesuka hatinya kalau ia sedang merasa bosan.
Namun saat Reno tak sengaja melirik ke dalam tas ransel Andrew yang terbuka bagian depannya, ia melihat ada sekotak rokok import yang menjadi favoritnya Andrew di kantong depan tas ransel Andrew itu.
Dan Reno langsung memikirkan kalau Andrew lama karena merokok dulu di toilet sekolah, tapi rokoknya ada di tasnya?
Kalo ga bawa rokok, ngapain Andrew lama – lama di toilet?
Mules kah?
Rasanya sih engga.
BAK masih oke.
Tapi kalau BAB di kamar mandi sekolah sih rasanya Andrew ogah.
‘Jangan-jangan dia papasan sama si biang kerok? ....’
🚬
“Maaf Pak.”
Reno kemudian bersuara lagi setelah merespons ucapan salah seorang teman dekatnya di kelas yang menawarkan diri untuk menyusul Andrew.
“Saya ijin ke kamar mandi.”
Bersuara dengan bicara pada guru mapel yang sudah masuk ke kelas saat setengah jam pelajaran telah terlewati, untuk meminta ijin ke kamar mandi sekolah, seperti yang ia ucapkan barusan.
Dan ijin itu langsung didapat oleh Reno yang langsung berdiri dari duduknya.
Lalu melangkahkan kakinya untuk pergi ke toilet sekolah.
“Kemana dia?” Reno kemudian menggumam kala ia telah sampai di salah satu kamar mandi sekolah, namun dirinya tak mendapati Andrew di sana.
🚬
‘Mungkin kurang kerjaan pergi ke kamar mandi dekat kelas dua.’
Reno membatin setelah tak menemukan Andrew di kamar mandi sekolah pertama yang ia sambangi.
Lalu Reno iseng melangkahkan kakinya untuk menuju kamar mandi sekolah yang barusan ia pikirkan.
Malas sebenarnya, tapi ia penasaran.
Was-was juga kalau sampai Andrew terlibat perkelahian dengan si biang kerok sekolah yang jelas menyimpan dendam pada Andrew yang dianggap telah memotong jalannya untuk memacari cewek yang ia sukai, yang malahan suka pada Andrew dan Andrew menanggapinya bahkan setelah diperingatkan dengan tajam oleh si biang kerok itu.
Selain Andrew juga sudah diberitahukan oleh Reno dan teman-temannya tentang si biang kerok sekolah yang punya rasa pada salah seorang cewek yang sedang mencoba menarik perhatian Andrew.
Tapi ya itu, Andrew tidak boleh diancam. Karena dia malah akan membuat orang yang mengancamnya semakin geram, dan itu yang terjadi sekarang – makanya Reno agak was –was tentang Andrew yang katanya ke toilet karena ngantuk dan Reno pikir sahabatnya itu hanya akan sekedar membasuh muka yang mana hanya sebentar saja, tapi malah ga balik – balik ke kelas sampai jam pelajaran baru dimulai dan berlangsung.
Lalu sempat berpikir kalau Andrew curi-curi kesempatan untuk merokok di kamar mandi sekolah, tapi Andrew meninggalkan rokoknya masih di dalam tas ranselnya. “Ga ada juga.”
🚬
“Ga salah lagi ini sih.”
Reno menggumam yakin di tempatnya.
Kala mencari Andrew di kamar mandi sekolah yang kedua tempatnya mencari sang sahabat dan tidak juga ia temukan orangnya di sana, kaki Reno akhirnya melangkah berdasarkan feelingnya menuju satu kelas tempat siswa yang bermasalah dengan Andrew.
Lalu otak Reno langsung menerka alasan ia tidak melihat siswa tersebut dan beberapa orang gengnya yang ada di satu kelas yang sama dengan siswa yang dimaksud dengan dirinya yang tidak menemukan Andrew di dua kamar mandi sekolah.
‘Ck!’ Reno berdecak tajam dalam hatinya kemudian.
Setelahnya, Reno membawa kakinya mengarah ke gerbang sekolah. Cukup yakin jika Andrew kemungkinan besar tidak ada dalam lingkungan sekolah sekarang. Namun sebelum itu, Reno kiranya berpikir untuk memeriksa beberapa bagian sekolah yang kiranya sedang sepi saat ini, dan bisa dimanfaatkan Andrew dan siswa yang bermasalah dengan sahabatnya itu untuk berkelahi -- jika memang yang dipikirkannya benar.
🚬
“Ren!”
Sebuah suara datang dari arah belakang Reno yang sudah menggegapkan langkahnya untuk memeriksa bagian sekolah yang sudah ia targetkan di kepalanya, dengan was-was kalau Andrew kiranya tidak hanya harus menghadapi satu siswa yang sedang bermasalah dengan sahabatnya itu, melainkan juga teman-teman segengnya siswa tersebut yang sempat satu dua diantaranya tidak ada di kelas mereka.
Meski Reno yakin kalau Andrew mampu menghadapi situasi yang katakanlah sebuah pengeroyokan, namun dirinya juga tak rela kalau ada pengeroyokan pada Andrew sementara dirinya – katakanlah berada di sekitar Andrew.
Dan Reno juga sempat berpikir, takutnya Andrew tidak siap ketika ia hendak diserang – seperti yang pernah menimpa sahabatnya itu dulu. Soalnya, kalau biasanya yang sekali selamat, yang keduanya bisa kebalikannya yang terjadi.
Ya jangan sampai.
Jangan sampai Andrew mendapat serangan dadakan dikala dirinya tak siap.
Lalu mendapat cedera yang cukup berat.
Karena siswa yang bermasalah dengan Andrew itu kan biang kerok sekolah, dan pernah juga katanya menganiaya sesama pelajar sampai luka-luka bersama geng sok jagoannya.
Bisa jadi kan mereka membawa senjata macam mau tawuran karena sadar mereka mau melawan ‘raksasa’ versi anak SMA.
Soalnya kan Andrew memang jauh lebih tinggi dari si biang kerok sekolah dan gengnya.
Dan proporsi tubuh Andrew memang diatas rata-rata proporsi cowok di usianya.
🚬
Reno dengan segera menoleh ke arah dimana telinganya menangkap seseorang memanggil penggalan nama panggilannya. “Ren!” ucap satu siswa yang datang dari arah belakang sekolah dikala Reno tengah melangkahkan kakinya menuju gudang sekolah. “Si Andrew mau dikeroyok biang kerok sama gengnya.”
“Dimana? –“
“Di Warbeh .....”
Siswa yang memanggil dan menghampiri Reno itu langsung dengan cepat menjawab pertanyaan Reno yang sebelumnya cepat juga menanggapi ucapannya yang memberitahukan tentang situasi yang sedang dihadapi Andrew saat ini.
Reno pun langsung menggegapkan langkahnya dengan lebar dan cepat menuju tempat yang diberitahukan satu siswa yang mendatanginya dengan tergopoh dan sekarang sedang terengah. Dan Reno berjalan begitu saja melewatinya.
Sementara satu siswa yang memberitahukan Reno itu mengatur nafasnya sejenak, kemudian ia dengan setengah berlari menyusul Reno yang langkahnya lebar, cepat dan pasti itu.
🚬
Melalui pintu yang sama yang digunakan Andrew sebelumnya untuk keluar dari area sekolah, Reno kemudian berlari untuk mencapai warung tongkrongan yang disebutkan oleh satu siswa yang menyampaikan situasi Andrew padanya – yang katanya, Andrew akan dikeroyok oleh siswa lain yang dijuluki biang kerok sekolah.
Dan Reno tebak, pengeroyokan itu sedang berlangsung sekarang – lalu jadi agak was – was dengan nasib Andrew.
‘Mudahan aja si Andrew lagi posisi siap!’ batin Reno yang was – was, takut Andrew keburu dihantam dari belakang dengan sebuah benda, oleh mereka yang ingin mengeroyok sahabatnya itu.
🚬
Tak berpikir lagi untuk bertanya pada siswa yang memberitahukan situasi yang dihadapi Andrew saat ini, tentang berapa orang yang mengeroyok Andrew itu dan siapa saja. Dan baru ia ingat hal itu, saat sudah hampir sampai ke warung tongkrongan yang dimaksud oleh siswa yang memberitahukannya tentang Andrew tadi.
Namun selanjutnya Reno tidak peduli, kalau ada kemungkinan itu biang kerok sekolah membawa tambahan orang selain gengnya di sekolah untuk mengeroyok Andrew – karena walau pembawaan Reno terlihat sebagai seorang pendiam, namun nyalinya bisa dikatakan sebelas dua belas dengan Andrew.
🚬
Reno masuk dengan cepat ke dalam warung tongkrongan langganan para murid di sekolahnya, ketika kakinya sudah mencapai tempat tersebut.
Melesat dengan cepat ke dalamnya, lalu berhenti dengan tiba – tiba setelah dirinya sudah di dalam warung tongkrongan tersebut. ‘Damned.’ Lalu Reno membatin diantara takjub dan tercengang.
Warung tongkrongan langganan murid di sekolahnya itu sudah macam kapal pecah. Dengan kursi dan meja yang sangat berantakan letaknya. Dengan beberapa orang yang nampak tak berdaya dengan merintih dan mengaduh di tempat mereka.
Rata-rata babak belur semua, sambil memegangi perutnya.
Mereka juga memakai seragam dengan atribut sekolah yang sama dengannya.
Lalu selain mereka yang nampak habis dipukuli dengan teramat itu, ada tiga orang yang terlihat membeku di tempat mereka.
Dimana ketiganya langsung spontan menoleh pada Reno yang kembali melangkah lagi dengan cepat ke satu titik dalam warung, tempat Andrew berada.
🚬
Tercengang lagi Reno, saat dirinya sudah mendekat pada Andrew.
Tapi kemudian, dengan cepat Reno melesat kepada sahabatnya itu.
Dimana yang bersangkutan sedang menduduki seseorang yang bahkan sepertinya sudah tak sadarkan diri, namun Andrew masih terus menghantam wajah orang yang sedang ia duduki itu – dan sudah berdarah – darah itu.
Bahaya kalau Andrew tidak segera dihentikan.
“Drew Stop!”
Reno langsung berseru dan menahan tangan Andrew kala tangan itu hendak menghantam lagi orang yang sedang sahabatnya duduki itu.
“Cukup!” seru Reno lagi. “Sadarkan diri lo!” sambil memandang tajam pada Andrew. “Awas!”
Lalu Reno menyuruh Andrew menyingkir dari tempatnya. Dan Andrew langsung bergerak bangkit.
‘Semoga aja si Ferdi masih hidup!’
Kemudian Reno membatin saat Andrew menuruti ucapannya.
Menatap prihatin dan was-was pada orang yang tergolek dihadapannya itu, dimana kondisi orang yang Reno kenal itu amat cukup mengenaskan – terutama bagian wajahnya yang penuh darah dan hampir tak berbentuk.
Terlalu babak belur.
Selain Reno khawatir pukulan Andrew pada cowok yang ia sebut dalam hatinya tadi, tidak hanya sampai pada wajah cowok yang sudah terkapar cukup mengenaskan itu -- ,melainkan Andrew juga sempat menghantam kepalanya.
Jika itu terjadi, sungguh lah fatal bisa - bisa akibatnya.
Selanjutnya tangan Reno terulur ragu dan was - was ke bagian hidung orang yang merupakan salah seorang murid di sekolahnya tersebut, yang sudah amat sangat parah kondisi wajahnya itu.
Dimana didetik berikutnya Reno menghembuskan nafasnya dengan cukup berat.
🚬🚬🚬🚬
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Avri Yani
wkwk ini di lanjutin little star pas SMK jg , keroyok tmn2 nya sendiri smpe babak belur 🤣
2023-10-21
0