Happy Reading.
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“By the way Boy –“
“Ya, Dad?”
“Aku tahu kamu kuat, tapi aku harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, hem? ..”
“Aku tidak akan bertindak melewati batas, kalau orang itu tidak memprovokasi emosiku, Dad ..”
“Aku paham mengenai hal itu, Boy – “
“Seperti yang Dad dan para opa serta uncle ku katakan, aku harus menjunjung tinggi keluarga kita bukan? Dan aku tidak hanya sekedar menjunjung tinggi keluarga kita, tapi aku sangat mencintai keluarga kita ini, Dad .. Dan atas hal itu, sekecil apapun hinaan bagi keluarga ini apalagi sudah menyertakan Mom dan Michelle di dalamnya, aku tidak akan bisa dan tidak mau menahan emosiku.”
“Anak itu menghina Mom dan Michelle?”
“Mengancamku dengan menyinggung soal mereka,yang kata-katanya aku anggap merendahkan Mom dan Michelle.”
“Hemm ..”
“Ya sudah, akan aku panggilkan Om Kusuma.”
“Tentang bodyguard, seperti yang aku katakan tadi, setidaknya kamu 1 dan Reno 1 –“
“Tidak. Dan aku yakin Reno pun tidak akan setuju. 1 orang yang selama ini Dad tempatkan untuk mengawasiku dan Reno sudah cukup.”
“......”
“Kalaupun bisa aku inginnya Dad tarik saja orang yang selama ini mengawasiku dan Reno itu. Toh Dad sudah lihat kalau aku bisa menjaga diriku ..”
“Aku tidak ragu soal itu, Boy. Tapi urusanmu dengan salah satu murid yang kamu pukuli hingga kondisinya cukup parah, itu akan sedikit melebar .. ”
“......”
“Aku sudah mendapatkan informasi tentang keluarganya. Dan sudah paham seperti apa ayah dari anak itu.”
“Sedikit banyak aku juga sudah tahu –“
“Kalau begitu perihal bodyguard aku sudah mengambil keputusan.”
“Dad –“
“Aku akan menempatkan 2 orang yang paling kompeten untukmu dan Reno –“
“Ayolah, Dad –“
“Tenang saja, mereka akan sangat berjarak dari kalian berdua.”
“Aku menolaknya, Dad –“
“Maka ingatlah kesepakatan kita.”
“Ck!”
“Satu, setiap keputusanku untuk setiap anggota keluarga jika aku sudah menegaskan kalau aku telah memutuskannya, maka hal itu bersifat final. Tidak dapat diganggu gugat.”
“......”
“Kedua, jika bersikeras ingin mengganggu gugatnya, jadilah lebih hebat dari opa putramu. Atau setidaknya, kau bisa melebihiku dulu, sebelum kau ingin merubah apa yang sudah aku putuskan –“
“Ya ya .. aku selalu mengingatnya, Dad .. tak perlu Dad sering mengulang mengatakannya. Membuat kupingku berdengung saja–“
“Haha. Barangkali kamu lupa.”
“Ya sudah. Aku panggilkan Om Kusuma.”
🚬
Dengan apa yang sudah terjadi mengenai apa yang Andrew lakukan, kiranya hal itu dianggap selesai dengan kesepakatan antara Andrew dan ayahnya yang mau tidak mau Andrew iyakan.
Karena apa yang diingatkan oleh sang ayah padanya, merupakan sebuah kesepakatan bersama yang belum lama disepakati dalam rapat keluarga.
Hal yang ayahnya Andrew rasa perlu kalau anaknya diberikan batasan untuk setiap perbuatannya, meski tak bermaksud untuk mengekang kehidupan anak sulungnya tersebut.
Namun karena tabiat Andrew yang lumayan temperamental, lalu apa yang cowok itu lakukan biasanya spontan dalam hal perseteruan dalam lingkup pergaulannya, makanya sang ayah menetapkan satu peraturan pada Andrew.
Yang juga karena Andrew sudah akan melangkah menuju usia kedewasaan, dimana kepribadiannya sudah harus dibentuk dan ayah Andrew ingin anak sulungnya itu lebih terarah. Otot dan otaknya haruslah seimbang.
Jadi dikatakan dan diputuskan oleh ayahnya Andrew, sampai anak sulungnya itu bisa melebihi dirinya dalam hal apapun, Andrew tidak bisa menolak setiap keputusan yang ayahnya sudah tetapkan. Bukan karena takut, lebih ke hormat pada sang ayah yang memang Andrew idolai sebenarnya.
🚬
“Terus lo sampai mukulin si Ferdi begitu, ga mungkin karena dia ngajak lo berantem gara-gara si Wulan aja, kan?”
“Dia bilang dia akan cari tau tentang keluarga gue. Dan kalo gue punya adik atau kakak perempuan, dia bilang mau dia perkosa rame-rame, termasuk ibu gue katanya ..”
“Dia ngomong begitu?! ..”
“Hem –“
“B*ngsat banget mulutnya. Nyesel gue nolongin dia,“ ucap Reno yang kemudian nampak geram.
Andrew pun lantas langsung terkekeh mendengar ucapan Reno yang nampak geram itu.
“Kalo udah bawa-bawa Michelle dan Mom, harusnya gue bikin lebih parah itu si biang kerok.”
Reno berucap lagi dengan masih nampak geram. Karena baginya, ibu dan adik perempuan Andrew adalah ibu dan adik perempuannya juga.
Sebagaimana Andrew menganggap bundanya Reno sebagai ibu kandungnya.
Lalu sebagaimana sahabat kental, dan Reno juga sudah dianggap anak oleh ayahnya Andrew, sahabat Andrew sejak kecil itu pun diberitahukan mengenai rencana ayahnya Andrew perkara bodyguard yang akan ditempatkan di dekat mereka berdua, namun dalam jarak tertentu.
Reno sih tidak berkomentar. Namun ia paham juga kalau mau tidak mau ia harus mengiyakan keputusan ayahnya Andrew yang Reno anggap sebagai ayah keduanya. Karena Reno sendiri juga masih memiliki ayah kandungnya yang masih hidup dan sehat.
Namun ya itu, macam ayahnya Andrew, ayahnya Reno juga seorang pengusaha.
Walau tidak sekaya dan sehebat ayahnya Andrew.
Tapi tetap juga ayahnya Reno itu begitu sibuk. Jarang ada di rumah bahkan.
Yang Reno maklumi--walau sedikit banyak Reno sudah mempelajari tentang bisnis perusahaan, namun Reno belum merasa cukup secara ilmu dan mental untuk membantu ayahnya mengurus perusahaan keluarga.
Jadi Reno biarkan sang ayah dengan kesibukannya.
Karena meski sesibuk apapun sang ayah dan jarang ada di rumah—yang kalau penuturan sang ayah walau perusahaan mereka itu berada di Ibukota, tapi ayahnya ingin perusahaan keluarga mereka itu juga ada di daerah-daerah.
Macam bisnis keluarga Andrew yang tidak hanya ada di daerah –daerah lokal negara I, tapi juga tersebar di beberapa negara. Dimana Reno selalu menganggap, semua yang sang ayah lakukan hingga sesibuk sekarang, adalah untuknya dan sang bunda—lagipula, ayahnya—walau sibuk, tetap selalu menyempatkan menghubunginya dan sang bunda.
Reno tak kekurangan kasih sayang dan perhatian dari sosok seorang ayah.
Jadi cowok itu tak pernah protes tentang jarangnya sang ayah berkumpul bersamanya dan sang bunda di rumah mereka.
Andrew saja jauh dari kedua orang tuanya yang bahkan tinggal di luar negara. Dan sahabatnya itu nampak oke-oke saja, walau ya memang—tak hanya bermandikan harta hidupnya, tapi Andrew dan adik perempuannya bermandikan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang yang berada dalam lingkup keluarga sang ayah.
Selain kedua orang tua Andrew memang juga rajin berkomunikasi dengan anak-anak mereka saat sedang jauh, orang tua Andrew juga tak pernah begitu lama tidak mengunjungi anak-anaknya. Lalu menghabiskan waktu bersama layaknya keluarga, tidak dalam waktu yang singkat. Yang seringnya juga mengajak Andrew dan adik perempuan berikut anak-anak yang dikatakan adalah saudara angkat Andrew, untuk bepergian bersama.
Dan tentunya, Reno juga diajak.
🚬
Makanya, saat Andrew bilang, “Dad akan menempatkan bodyguard di dekat kita.”
Reno tidak berkomentar untuk memprotesnya. Selain kiranya Reno sudah bisa menebak, apa alasan ayahnya Andrew memutuskan hal tersebut.
“Just in case ayahnya si biang kerok yang katanya belagu juga macam anaknya itu mau celakain gue –“
“Tepat seperti yang gue pikirkan.” Reno pun langsung menimpali ucapan Andrew tersebut. “Tapi ga mereka nempel sama kita kan?”
“Kehadiran itu bodyguard itu aja udah ganggu buat gue. Apalagi mereka sampai nempel sama gue? ..” sahut Andrew. “Tapi Dad udah menjanjikan kalau mereka akan sangat berjarak dari kita.”
🚬
Hari berlalu dari sejak insiden perkelahian Andrew dengan Ferdi dan geng biang keroknya.
Ayahnya Andrew merealisasikan ucapannya tentang bodyguard khusus untuk menjaga Andrew dan Reno, selain mengawasi keduanya—walau yakin dua cowok itu itu tidak akan melakukan hal-hal yang akan mempermalukan nama baik keluarga.
Andrew dan Reno sendiri tidak bersikap layaknya seperti biasa, meski kini punya bodyguard. Yang dimasabodohkan saja keberadaannya oleh Andrew dan Reno. Dan semasa dari insidennya Andrew dan Ferdi serta geng biang keroknya cowok itu, Andrew dan Reno tidak mendapatkan pemanggilan dari pihak sekolah.
Lalu tidak ada juga yang namanya Andrew disergap oleh beberapa orang preman yang kemungkinan adalah suruhan dari ayahnya Ferdi yang dikenal juga berasal dari keluarga yang cukup berada dan punya banyak kolega di beberapa instansi pemerintah.
Begitu sih kalau dari desas-desusnya, makanya si Ferdi itu jadi belagu adanya. Yang mungkin belagunya Ferdi akan berkurang setelah dihajar Andrew dengan beringas sampai harus mendapatkan perawatan medis secara intensif.
Tapi entahlah, nanti setelah sembuh apakah si Ferdi menjadi orang yang ga ada kapoknya atau tidak setelah bertemu lagi dengan Andrew. Yang jelas Andrew tidak peduli. Kalau itu anak cari gara-gara laginya sampai kelewatan seperti waktu itu, Andrew tidak akan segan untuk menghajarnya dengan beringas sekali lagi.
Dan Reno juga sudah memastikan kalau sampai si Ferdi melontarkan kalimat yang berkesan hinaan pada ibu dan adik perempuannya Andrew, maka ia sendiri yang akan membuat si Ferdi sekarat sekali lagi.
Well, lihat saja nanti.
🚬
Kemudian terkait ayahnya si biang kerok yang dikhawatirkan akan menargetkan Andrew untuk membalaskan apa yang cowok itu lakukan pada anaknya, sampai sudah 3 hari berlalu dari insiden, tak nampak ada bau-bau akan ada penyerangan pada Andrew dari orang-orang suruhan ayahnya Ferdi itu—lalu Om Kusuma menyampaikan jika Andrew dapat santai saja menjalani tiap harinya.
Soal anak yang Andrew pukuli sampai mungkin hampir mati, lebih baik Andrew jangan pikirkan lagi. Begitu yang Om Kusuma sampaikan pada Andrew kurang lebihnya. Semua hal tentang hal itu sudah diurus.
Termasuk juga soal ayah dari murid yang Andrew pukuli sampai parah itu. Yang entah ayahnya si Ferdi itu tidak mempersoalkan apa yang sudah terjadi pada anaknya, atau dad nya—Andrew pikir, sudah bernegosiasi dengan ayahnya Ferdi.
Jadi, Andrew mengikuti saja apa yang salah satu orang kepercayaan dad nya untuk santai saja menjalani hari-harinya. Toh Andrew sudah sempat mengatakan akan mempertanggung jawabkan perbuatannya sampai membuat satu murid di sekolahnya masuk Rumah Sakit—walau itu juga karena kesalahan murid tersebut sendiri yang mencetuskan kalimat yang Andrew anggap sangat merendahkan ibu dan adik perempuannya.
Tapi orang kepercayaan sang daddy yang selama ini berada di dekat Andrew, sudah mengatakan jika sikap Andrew yang menunjukkan ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya terkait tindakan beringasnya tersebut, telah dirasa cukup untuk membuat ayahnya Andrew memutuskan kalau dia saja yang akan membereskan masalah Andrew yang satu itu. Dan hal tesebut sudah disampaikan kepada Andrew yang ikut saja apa yang menjadi keputusan dad nya tersebut.
🚬
Saat ini, sudah terhitung 6 hari Andrew menjadi siswa di sekolah yang sama dengan Reno.
“Besok gue mau ajak Fania jalan ..” ucap Reno pada Andrew yang sedang bermain game konsol bersamanya di malam libur sekolah, karena besoknya adalah hari minggu.
Andrew langsung melirik Reno setelah mendengar ucapan Reno tersebut. Lalu langsung bertanya setelahnya. “Nginep di sini?..”
“Ga lah. Besok minggu. Sekolahnya jauh dari sini.“ Reno lalu langsung juga memberikan jawabannya. Dimana Andrew lekas lagi merespons jawaban Reno itu.
Yang selanjutnya, duo sahabat itu saling merespons ucapan satu sama lain sambil terus bermain game konsol.
“Oh. Ngajak main aja ke sini?---“
“Ga kayaknya. Gue mau ajak dia nonton---“
“Ren, Ren .. di sekolah cewe yang naksir lo ngantri buat lo ajak jalan. Imut-imut pula. Lo malah milih habisin waktu sama cewek tengil ga jelas dan minim attitude gitu.“
Lalu ucapan Andrew yang barusan dicetuskan oleh cowok itu, membuat Reno menghentikan jemarinya di joystick game konsol yang sedang ia mainkan bersama sahabatnya itu.
“Peringatan terakhir dari gue ya, Ndrew. Berhenti lo ngatain Fania begitu. Gue ga suka dengernya. Paham lo?”
Dimana Reno terdengar berkata dengan nada tegas pada Andrew sambil melirik sahabatnya itu dengan sinis.
🚬
Reno memang akan selalu mendukung Andrew, tapi untuk yang 1 ini, Reno bertentangan dengan Andrew.
Fania.
Yang Reno pun tak tahu bagaimana bisa dirinya sepeduli itu pada gadis tomboy yang kerap dikatai Andrew.
Tapi yang jelas, Reno menyayangi Fania.
Dan atas dasar rasa sayangnya itu, Reno akan menjadi jengah bila Andrew mengatakan hal yang tidak sedap di dengar tentang Fania.
Andrew juga heran pada sikap Reno terkait gadis SMP kelas 2 yang namanya Fania itu.
“Oke oke.” Namun karena pernah sempat bertanya pada Reno tentang keheranannya tersebut dan Reno jawab kalau sahabatnya itu pun ga tau persis.
“Yang jelas gue nyaman sama Fania. Dan gue akan memperlakukan dia layaknya adik perempuan gue, yang akan gue sayangi dan lindungi.” Dan hal itu yang Reno katakan pada Andrew, jadi sekarang Andrew memilih untuk mengiyakan permintaan Reno yang diucapkan sedikit sinis padanya.
“Kalo lo mau ajak dia ke sini ya lo ajak aja. Gue menyingkir ke Kediaman nanti .. Toh dad sama mom juga mau datang dan mereka akan langsung ke Kediaman. Jadi gue akan tunggu mereka di sana.” Andrew kembali berkata. “Lagipula gue juga mau kencan dulu sama itu cewek anak dewan,” tambah Andrew.
Lalu Reno mulai kembali nampak santai. Dan melanjutkan lagi bermain game konsol sampai rasa kantuk pada diri mereka menyerang.
🚬
🚬
‘Nih cewek tengil punya susuk di badannya apa gimana?’
Adalah Andrew yang membatin itu, karena alih-alih kencan dengan anak dewan, malah dirinya merasa tergoda untuk menguntit Reno yang katanya mau ajak jalan cewek tomboy yang Reno anggap sebagai adiknya.
‘Bisa-bisanya gue penasaran sama itu cewek tengil yang minus attitude? ..’ batin Andrew lagi. Sambil ia memberhentikan motor milik asisten rumah tangganya yang ia pinjam demi menguntit Reno agar tidak ketahuan oleh yang bersangkutan.
Berbekal dari informasi bodyguardnya yang Andrew suruh untuk mencari tahu ke daerah mana Reno pergi dan tempat tujuannya, Andrew jadi bisa menyusul Reno dengan mudah. Walau rentang waktunya tak pas saat Reno keluar dari rumahnya.
Lalu setelah beberapa lama, Andrew mendapatkan informasi lagi kalau Reno sudah selesai di gedung bioskop non Mal, namun cukup tersohor—saat Andrew sedang menunggu Reno selesai nonton dengan cewek bernama Fania itu. Yang Andrew kemudian ikuti dengan santai, karena ada bimbingan satu orang yang mengarahkan jalan, yang tau kemana tujuan Reno berikutnya.
Dan disinilah dirinya sekarang, mengikuti seorang anak perempuan berambut minimalis.
Yang sedang menaiki sebuah jembatan penyebrangan, setelah Reno menurunkan itu anak perempuan di pinggir jalan dekat jembatan tersebut.
“MAH!” seruan terdengar dari dia yang sedang Andrew ikuti saat kaki yang bersangkutan telah menapaki permukaan di bawah anak tangga terakhir jembatan penyeberangan selepas melaluinya.
Lalu berhenti di sebuah warung pinggir jalan, dan cewek yang sedang Andrew ikuti itu kemudian terlihat menyapa seorang yang kiranya diantara usia ibunya Andrew, namun sedikit lebih muda.
“Loh udah pulang aja kamu Fan?” perempuan seusia ibunya yang Andrew tebak adalah ibu dari cewek yang sedang Andrew ikuti dalam jarak tertentu itu, segera menyahut pada si cewek sambil juga dia berinteraksi dengan pemilik warung.
Lalu ada juga satu bocah yang kiranya masih SD, juga ada berada bersama 2 orang tersebut—yang nampak asyik mengobrol, tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Tidak menyadari ada yang memperhatikan mereka dari bagian luar warung. Lagipula Andrew sendiri bersikap layaknya orang yang biasa berdiri di pinggir jalan sambil menyalakan rokoknya.
Namun Andrew berdiri pada titik di mana dia bisa mendengar pembicaraan cewek yang tengah diikutinya dengan perempuan yang Andrew yakini adalah ibunya cewek tersebut.
“Nonton doang.”
“Ga diajak makan sama Kak Reno emang?”
“Diajak. Tapi Fania ga makan makanan yang dibeliin Kak Reno.”
“Loh kenapa? –“
“Buat Prita aja, soalnya kan Prita belom pernah makan yang beginian? .. Kalo papah gajian beliinnya dundon melulu soalnya Mamah kan bilang ini makanan mahal tapi dikit dapetnya.”
Di detik itu Andrew tertegun. Saat ia melirik ke arah cewek yang sedang ia perhatikan itu, dimana yang bersangkutan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya--kemudian ia sodorkan kepada bocah yang ada di samping perempuan dewasa yang bersamanya itu.
“Lah kenapa ga minta beliin 2 sekalian sama Kak Reno? Jadi kamu ga bela – belain ga makan ini makanan orang barat gara – gara mau ngasih buat Prita?”
“Kan Fania udah cerita waktu itu. Ada sodaranya Kak Reno yang mikir Fania itu deket sama Kak Reno karena Kak Reno orang kaya, ga sebanding sama Fania yang dia tau kalo baju Fania itu baju murah. Meskipun dia tadi ga ikut, tapi Kak Reno kan deket banget sama dia. Trus .. pasti cerita ngapain aja sama Fania, jajanin Fania apa aja .. Nanti, kalo sodaranya Kak Reno itu denger Fania minta jajan berlebihan, ini kan makanannya juga ga murah, Mah? Dia pasti makin sebel dan benci sama Fania. Makin jelek aja sodaranya Kak Reno itu mikir tentang Fania .. padahal Fania emang tulus bertemen sama Kak Reno. Ga ada tuh sedikit juga niat buat meretin Kak Reno .. tapi kenapa ya Mah, dia tega banget mikir Fania sejelek itu? ..”
Ucapan panjang dari seorang cewek ABG dengan suaranya yang sedikit melirih itu, membuat Andrew seketika terpaku di tempatnya.
🚬🚬🚬🚬
Nikmatin aja dulu......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments