Selamat membaca...
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Harus ya sikap lo kayak gini sama Fania?“ Ada Reno yang sedikit melontarkan cibiran pada Andrew yang sedang bersamanya. Dimana yang bersangkutan kemudian menukas ucapan Reno dengan santai.
“You know me, don’t you?....”
“Iya gue tau lo banget, makanya gue mau ngomongin soal sikap lo ke Fania yang gue rasa udah agak berlebihan---“
“Ga ada yang berlebihan. Orang tengil begitu harus dikasih pelajaran.“
Andrew lalu menimpali cepat ucapan Reno. Dimana Reno langsung memasang tampang sedikit tidak suka pada ucapan Andrew.
“Orang tengil yang lo bilang itu udah gue anggap adik kandung gue sendiri.“
Dan atas sedikit ketidaksukaannya pada ucapan Andrew mengenai pembahasan mereka itu, Reno pun segera mencetuskan kalimat sesuai dengan perasaannya itu.
“Dan itu yang bikin gue heran sama lo.” Dan Andrew yang memang kukuh dengan sikapnya yang sedang antipati pada subjek utama bahasannya dan Reno, menimpali cepat ucapan sahabatnya itu, “Masa baru ketemu dia dua kali lo bisa-bisanya udah bilang kalo lo ngangkat dia sebagai adik lo? Tuh anak kan ga jelas....“
Andrew lalu mencetuskan kalimat yang sekali lagi tidak Reno sukai.
“Lo jangan sembarangan ngomong, Drew. Gue udah kenal sama keluarganya.”
Dan ucapan agak sinis Reno kemudian keluar untuk menyeragah perkataan Andrew yang sebelumnya.
“Dan penampilan lo begini waktu kenalan itu sama keluarganya si tengil?” ucapan ini yang kemudian menjadi respons Andrew pada Reno yang dianggapnya membela sekali subjek utama pembahasan mereka tersebut, setelah Andrew sempat menghela nafasnya yang agak sedikit berat.
“Ya penampilan santai aja....“ jawab Reno.
“Ya penampilan santai lo kalau keluarganya faham barang bagus pasti udah nerka lo borju, Ren....“ dimana Andrew langsung dengan cepat menimpali jawaban Reno tersebut.
“Maksud lo apaan?....“ ucapan yang berkesan sebagai rasa tidak terima Reno atas ucapan Andrew yang punya dugaan jelek tentang subjek utama bahasa mereka pun langsung terlontar dari mulutnya sambil melemparkan lirikan tak senangnya pada Andrew.
“Nih sorry to say gue nih. Kalau dari penampilannya selama ini gue liat.... Tuh si Fania ga dari kalangan berada. Sorry gue ga ada maksud merendahkan orang....”
Andrew lalu segera menyahut.
Menanggapi perkataan Reno sebelumnya.
“Tapi dia dan keluarganya kenal sama lo yang notabene dia liat kalau lo pakai mobil, tau tempat tinggal lo seperti ini. Lo yakin si tengil itu sama keluarganya tulus sama lo?....”
Andrew mencetuskan pendapat miringnya tentang Fania.
“Kenapa?....”
Lalu Andrew bertanya, karena Reno nampak baru memalingkan wajahnya ke arah belakang mereka.
‘Perasaan gue kayak ada yang lagi merhatiin gue sama Andrew?’
Disaat itu Reno membatin, lalu kembali beralih pada Andrew di sebelahnya.
Selepas Reno yang merasa jika ada orang yang sedang memperhatikan dirinya dan Andrew sedari tak lama mereka bicara tadi, kemudian ia spontan menoleh ke arah belakangnya dan Andrew.
“Ada apa sih?....”
Andrew bertanya lagi, sambil juga melirik ke arah dimana Reno tadi sempat menoleh ke sana, yang kosong saja.
“Never mind. Lo bilang apa tadi?....”
Reno menjawab Andrew, dengan dirinya yang sudah menoleh ke arah Andrew seraya bertanya.
Kembali fokus pada sahabat rasa saudaranya itu.
“Si tengil dari awal tau lo pake mobil. Dari penampilan lo juga udah keliatan kalo lo borju. Dengan penampilan borju lo yang jelas keliatan meski lo cuma pakai baju santai lalu lo dikenalin sama keluarga dia yang pasti bisa nebak dari keluarga seperti apa lo berasal, lo yakin si tengil itu sama keluarganya tulus sama lo?....”
Andrew kemudian langsung menjawab pertanyaan Reno dengan kalimat yang cukup panjang, yang intinya mengungkapkan prasangkanya pada Fania.
Bahkan juga pada keluarga cewek tomboy itu. Dan Reno pun langsung menjawabnya.
“Gue yakin, kalau Fania tulus sama gue. Begitu juga keluarganya.”
Andrew kemudian menaikkan alisnya setelah mendengar ucapan Reno yang menjawab pertanyaan barusan.
Dimana Reno nampak betul yakin dengan ucapannya.
“Well, terserah lo sih kalo begitu....” kata Andrew kemudian. “Gue Cuma kasih lo perspektif gue yang lo tau benar gue jarang salah.”
Andrew menambahkan, dan Reno setengah menyungging. Lalu Reno mengomentari ucapan Andrew tersebut, “Jarang. Means perspektif lo pernah salah....”
🚬🚬
“Walau jarang itu hanya sekali terjadi, itu menandakan sudut pandang lo atas apa dan siapa pernah salah....”
“.....”
“Tapi feeling gue engga.”
Reno lanjut berkata kala Andrew terdiam di tempatnya.
“Feeling gue ga pernah salah, dan perasaan gue bilang kalo Fania itu, tulus.”
Reno menegaskan pendapatnya kemudian.
“Begitu juga keluarganya,” tambah Reno, dimana Andrew nampak menghembuskan nafas dengan sedikit berat setelahnya.
Sedikit meringis, sebelum Andrew berkata lagi sambil ia menoleh ke arah Reno.
“Well seperti yang gue bilang tadi, terserah lo. Kalau begitu pendapat lo tentang si tengil dan keluarganya, tapi gue tetap pada perspektif gue tentang mereka....”
“Alright then ( Baik kalo begitu )” timpal Reno. “Gue ga akan menuntut lo untuk menyukai dan menerima Fania kalo emang lo ga sreg sama dia. Tapi satu hal gue minta sama lo, Drew---“
“Apa?---“
“Simpan dalam hati aja ketidaksukaan lo sama Fania. Meski gue tau --- macam gue, sulit untuk menyembunyikan ketidaksukaan kalo udah kesel sama seseorang....”
🚬🚬
“Tapi soal Fania gue minta pengecualian lo.”
Diliriknya Andrew oleh Reno kemudian, dan Andrew menoleh padanya.
“Kalo lo memang ga bisa terima keberadaan dia di dekat lo, gue beri lo dua pilihan....”
Reno lanjut berkata.
Dan Andrew tak menyela.
“Antara lo yang minggir saat Fania ada sama gue, atau lo bisa stay tapi kunci mulut lo kalau rasanya gatal ingin ngeluarin cibiran buat dia....”
Andrew kemudian berdecih singkat sambil menyungging setengah miring selepas Reno mencetuskan permintaan dengan memberikannya pilihan.
Andrew sedikit juga menelengkan kepalanya kala ia berdecih lalu menyunggingkan bibirnya itu. “Lo ada rasa sama si tengil?---“
“Ada,” jawab Reno, dimana Andrew langsung menaikkan satu alisnya. “Sayang,” tambah Reno. “Sebagaimana seorang kakak ke adenya....”
“Okaayy....”
🚬🚬
“Tapi gue juga punya permintaan....”
Andrew kemudian mencetuskan satu kalimat lagi pada Reno setelah ia mengiyakan permintaan Reno sambil berkesah.
“Say it....”
Reno pun langsung memberikan responsnya pada Andrew untuk mengatakan apa yang menjadi permintaan sahabatnya itu sebagai balasan dirinya yang mengiyakan permintaan Reno sebelumnya.
“Terhitung senin nanti, lo tau gue akan pindah ke sekolah lo.”
Reno lalu manggut-manggut kecil mengiyakan.
“Which is gue akan sangat sering bolak-balik ke sini....”
Andrew lanjut bicara.
“Takut lo lupa, rumah ini rumah kedua gue dari kita masih kecil. Dan atas dasar hal itu, terlebih mulai hari ini gue akan stay di kota ini.... which is-again, gue kemungkinan besar akan lebih sering berada di sini daripada di kediaman mom and dad. Permintaan gue sama lo, sebelum gue merasa benar-benar sreg sama si tengil, tolong jangan ajak dia ke sini saat gue sedang ada di sini.”
🚬🚬
“Termasuk saat weekend atau diwaktu kita nongkrong bareng. Gimana?---“
“Hhhh.”
Reno menghembuskan nafasnya dengan berat sebelum menjawab ucapan Andrew.
“Jujur, gue terima keberadaan dia selama ini karna lo. Karna bunda. Tapi setelah kejadian tadi, gue ga bisa memaksakan diri lagi.”
Namun sebelum Reno memberikan jawabannya, Andrew keburu bicara lagi.
“Gue ga suka sama attitudenya.”
“.....”
“Tapi gue hargai kalo lo mau care sama dia....”
Andrew masih mendominasi pembicaraan, dan Reno sabar saja mendengarkan.
“Cuma gue ingatkan, we’re brother. Jauh dari lo belum kenal itu si tengil. Dan gue ga mau, hubungan kita rusak gara-gara orang luar.”
“Fine.... Gue akan inget kata-kata lo itu---“
“Then we have a deal now, tentang permintaan satu sama lain antara lo dan gue tentang si tengil?”
“Oke deal,” putus Reno. Lalu ia menerima uluran tangan Andrew padanya setelah mereka sepakat. “Tapi kalo bilang gue mau ajak Fania ke sini, lo harus fair seperti yang gue bilang tadi. Jauh-jauh dari dia, atau shut your mouth.”
“Okay,” ucap Andrew saat ia berjabat dengan Reno. “Ada lagi yang mau lo sampaikan?.... karena kalo engga gue mau nyebur lagi....”
“Gue masuk kalo gitu....” balas Reno.
🚬🚬
Kaki Reno sudah sampai ke dalam ruang makan dalam rumahnya itu.
‘Kayaknya perasaan gue aja tadi yang ngerasa Fania ada di belakang gue sama Andrew yang ngomong di kolam renang....’
Reno membatin saat ia melihat cewek yang ia sebut dalam hatinya itu ada di tempatnya duduk saat Reno pergi menyusul Andrew ke area kolam renang rumahnya.
Bukan apa, Reno sedikit khawatir saja kalau Fania dengar ucapan Andrew tentang cewek tomboy yang sudah Reno anggap sebagai adiknya itu di kolam renang tadi, yang cukup nyelekit hitungannya.
Tapi sekarang Reno sudah merasa tenang, karena ia lihat Fania masih duduk di tempatnya dan juga tetap bersama Bunda Rina, sama seperti sebelum dia menyusul Andrew dan bicara dengan sahabat sejak kecilnya itu.
Reno lalu menggegapkan langkahnya untuk menyambangi Fania dan Bunda Rina, yang nampak sedang mengobrol. Lalu sesi mengobrol dua perempuan yang berbeda jauh usia itu terjeda, saat keduanya menyadari keberadaan Reno yang sedang melangkah untuk mendekati mereka.
“Maap ya Kak, gue sarapan duluan?” Fania langsung berkata saat Reno sudah berada di dekatnya. Reno lalu tersenyum.
“Santai,” sahut Reno.
“Bunda kok yang nyuruh. Abis kamu lama banget....”
Bunda Rina menimpali kemudian, dan Reno tersenyum lagi.
“Iya maaf kalau gitu.... tadinya mau sebentar.... tapi tau lah ya, namanya donal bebek kan cerewet?....”
Reno lalu berkelakar sambil ia mendudukkan dirinya di samping Fania.
“Kita ngomong sebaris, dia sepuluh baris....” Reno beralasan.
Sambil ia tersenyum pada Fania di sampingnya, dimana cewek tomboy yang sudah Reno gadang-gadangkan sebagai adik angkatnya itu juga balas tersenyum padanya.
“Ga usah dipikirin lagi soal sikapnya si donal bebek ke elo, oke?”
Reno berucap pada Fania dengan sedikit mengacak rambut bondol cewek itu.
“Iya, Kak.”
Fania pun menyahut mengiyakan.
🚬🚬
Lepas satu minggu dari kesepakatannya dengan Andrew, Reno punya keinginan untuk mengajak lagi cewek tomboy yang sudah Reno tetapkan sebagai adik angkatnya itu untuk main ke rumahnya, setelah selama 6 hari dirinya seolah disandera Andrew yang selama 6 hari itu tinggal di rumahnya sejak sahabat sejak kecilnya itu pindah ke sekolah yang sama dengannya.
Dan lagi memang, biasanya selama hari sekolah Reno tidak pernah mengajak Fania main.
Lalu baru hari sabtu, Reno akan mengajak Fania menghabiskan waktu bersama yang biasanya diajak menginap dirumahnya selepas Fania akrab dengan Bunda Rina.
Sementara sabtu kemarin Reno tidak bisa mengajak Fania, karena Andrew yang seperti lima hari sebelumnya, tinggal di rumah Reno yang menjadi rumah kedua Andrew.
Dan atas kesepakatan mereka, Reno menepati janjinya pada Andrew.
“Besok gue mau ajak Fania jalan....” ucap Reno pada Andrew yang sedang bermain game konsol bersamanya.
“Nginep di sini?....” sahut Andrew seraya bertanya.
“Ga lah. Besok minggu. Sekolahnya jauh dari sini---“
“Oh. Ngajak main aja ke sini?---“
“Ga kayaknya. Gue mau ajak dia nonton---“
“Ren, Ren.... di sekolah cewe yang naksir lo ngantri buat lo ajak jalan. Imut-imut pula. Lo malah milih habisin waktu sama cewek tengil ga jelas dan minim attitude gitu---“
“Peringatan terakhir dari gue ya, Ndrew. Berhenti lo ngatain Fania begitu. Gue ga suka dengernya. Paham lo?” tegas Reno sambil melirik Andrew dengan sinis.
🚬🚬🚬🚬
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments