Selamat membaca...
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Bangun lo!” Seseorang berseru sambil mencengkeram kerah kemeja seragam Andrew yang sedang sedang mengobrol bersama dua siswa kelas tiga yang baru berkenalan dan berbeda jurusan dengannya. “Lo budeg?! Bangun Gue Bilang!“ orang itu berseru lagi pada Andrew yang saat dicengkeram secara tiba-tiba kerah seragamnya, sahabatnya Reno itu mendengkus malas saja di tempatnya, bahkan terlihat santai-santai saja.
Salah satu dari siswa yang baru berkenalan dengan Andrew itu sempat berseru, menyergah kepada orang yang mencengkeram kerah kemeja seragam Andrew itu.
Namun dirinya langsung mendapat ancaman dari orang yang mencengkeram kerah seragam Andrew dengan nampak begitu emosi pada sahabatnya Reno itu.
Lalu Andrew langsung memberi kode padanya dengan gerakan kepala agar siswa yang hendak membantu Andrew itu diam dan menjauh saja, “B*ngsat...” namun sepersekon detik dari itu, Andrew langsung mengumpat.
Pasalnya, tubuhnya ditarik dengan kasar, sampai ia jadi sedikit terhuyung dari duduknya.
Dan Andrew yang sebelumnya santai saja, kini nampak berbeda.
🚬🚬
Andrew sudah berdiri tegak sekarang, terlihat cukup kontras perbedaan tingginya dengan orang yang barusan mencengkeram kerah kemeja seragamnya.
Andrew juga menepiskan dengan kasar tangan dari orang yang mencengkeram kerah seragamnya sebelum ia menegakkan dirinya di hadapan orang tersebut, yang merupakan siswa di SMA nya Andrew juga.
Andrew tahu kenapa sampai satu siswa itu sampai berlaku demikian padanya, dan Andrew sungguh malas menanggapinya---berkelahi karena cewek.
Yang benar saja?
Berkelahi memperebutkan cewek, tidak ada dalam kamusnya.
‘Ada juga cewek yang saling bertengkar karena berebut jadi pacar gue!’
Begitu Andrew menyombongkan dirinya.
Tak asal sombong sih, karena memang begitu seringnya kenyaatan serapahnya Andrew tentang dirinya yang jadi rebutan banyak cewek.
Keren walau punya kesan sangar, khas Badboy.
Namun justru itu yang membuat dirinya jadi incaran cewek-cewek di sekelilingnya.
Jadi pacar seorang Andrew Eager Adjieran Smith menjadi suatu kebanggaan bagi para cewek yang menyukai cowok itu.
Badboy yang cukup mempesona dengan wajah Andrew yang masuk ke dalam kategori ganteng, lalu bersih terawat---meski seragam sekolahnya tidak ia rapikan dengan kemeja seragam yang diposisikan di luar celana sekolahnya.
Dipadu dengan begitu atletis tubuhnya yang sesuai dengan tinggi badannya, jago olahraga---belum lagi... Anak orang kaya! Royal Pula!
Tak perlu lihat ‘tunggangannya’ ke sekolah, image anak orang kaya sudah terlihat dari tas dan sepatu sekolah yang Andrew pakai, belum lagi jam tangannya---yang memang brand luar negeri dan belinya pun juga di sana.
Andrew adalah sepaket cowok idaman buat dijadiin pacar.
Makanya tak heran kalau Andrew bisa mencetuskan serapahnya tentang dirinya yang jadi rebutan banyak cewek.
Yang Andrew tegaskan, tidak akan terjadi kebalikannya---yakni ia berkelahi gara-gara memperebutkan cewek.
Namun saat ini situasinya berbeda.
Andrew memang memastikan dirinya tidak akan berkelahi karena memperebutkan cewek, tapi urusannya dengan siswa yang nampak berapi untuk memukulinya itu adalah karena cewek, yang bsa dikatakan---Andrew lah yang menyulut emosi siswa tersebut, karena sudah lancang mengancamnya---dan Andrew benci diancam, bukan tidak suka lagi---jadi dirinya memprovokasi emosi siswa yang ingin memukulinya itu.
Dan sekarang---Andrew harus menghadapinya, mau tidak mau.
Meski sudah membayangkan malasnya nanti dia mendengar rumor yang beredar tentang perseteruannya dengan siswa yang berlabel biang kerok sekolah ini, adalah karena memperebutkan cewek yang bernama Wulan.
Padahal Andrew tidak sedikitpun punya rasa pada cewek yang bernama Wulan itu. Cuma sengaja lebih didekati lagi, terkait ancaman si biang kerok sekolah padanya.
Sekali lagi, demi membuat si biang kerok sekolah menjadi uring-uringan karena ceweknya Andrew dekati---dan dipikir Andrew telah memacari yang bersangkutan.
Padahal lagi, Andrew pun belum ‘menembak’ cewek tersebut. Memang ga niat untuk Andrew jadiin pacar sih, itu cewek yang namanya Wulan.
Karena pendekatan Andrew pada yang bersangkutan, murni hanya untuk meledek si biang kerok sekolah itu saja.
Yang Andrew sadari betul konsekuensinya, karena yang ia ledek adalah orang yang suka cari masalah---namanya juga biang kerok!
🚬🚬
Malas, tapi Andrew sadari konsekuensi dari sikapnya yang seolah balik menantang si biang kerok sekolah yang sudah mencetuskan ancaman padanya.
Jadi sekarang, kalau yang bersangkutan berniat untuk berkelahi dengannya---dengan membawa gerombolannya juga.
Malas tak malas, Andrew harus menghadapinya. Jadi Andrew kini sudah menegakkan dirinya selepas ia menepiskan dengan kasar tangan si biang kerok sekolah yang sempat mencengkeram kerah kemeja seragamnya.
Selain itu, Andrew juga sekaligus mendorong dengan agak kasar si biang kerok yang ia tepiskan tangannya tersebut---yang mana orangnya nampak jelas begitu tak terima, dan semakin nampak saja emosinya pada Andrew.
“Mati lo!” yang mana si biang kerok sekolah sudah langsung mengepalkan tangannya sedetik selepas Andrew mendorongnya, dan sudah menggerakkan kepalan tangannya itu untuk menghantam wajah Andrew.
“Naik ke bangku kalau mau tonjok gue.” Yang sayangnya dengan mudah Andrew hindari.
Ditambah Andrew melontarkan ejekan pada si biang kerok sekolah yang tak sampai memukul wajah Andrew itu.
“ANJ*NG!”
Dan yang bersangkutan pun, semakin geram pada Andrew yang sudah menyungging miring.
Terdengar dari umpatan kasar yang keluar dengan cepat dari mulutnya setelah Andrew meledeknya dengan ejekan mengenai tinggi badan si biang kerok sekolah itu secara tidak langsung.
“HAJAR!” teriak si biang kerok sekolah secara tiba-tiba, dan semua teman segengnya langsung maju untuk menyerang Andrew bersama-sama. Namun Andrew dengan cepat menghindari serangan tersebut.
🚬🚬
“Mati lo!”
Satu teman si biang kerok alias Ferdi berhasil mencengkeram kerah kemeja seragam Andrew yang kemudian ia pegang dengan kuat, dan membuat bosnya menyungging senang.
Lalu langsung lebih bernafsu untuk menghantam Andrew.
Namun, sedetik saja sunggingan di bibir Ferdi dan juga teman-temannya itu terbentuk.
Karena tangan satu orang komplotan Ferdi itu langsung dipegang dan di pelintir Andrew sampai hampir ke titik 180 derajat dengan cepat.
Mengaduh?
Tentu saja!
Namun siswa yang dipelintir tangannya oleh Andrew itu mencoba menghantam Andrew dengan satu tangannya yang bebas, disaat yang sama Ferdi dan gerombolannya yang lain ingin menyerang Andrew secara bersama untuk yang kedua kalinya.
Dan sekali lagi, percobaan mereka untuk merubuhkan Andrew itu gagal---yang ada, tubuh Ferdi dan teman-temannya terdorong keras akibat satu rekan mereka yang tangannya Andrew pelintir itu dijerembabkan oleh Andrew kepada mereka.
Walhasil, Ferdi dan komplotan terjatuh bersamaan.
Lalu sebagian dari mereka merasakan sakit sembari mengaduh spontan, akibat punggungnya membentur meja kayu warung tongkrongan yang kemudian jadi bergeser dari tempatnya.
Mendengar ada ribut-ribut di warungnya, lalu melihat ada perkelahian tak seimbang, sang pemilik warung keluar dari dapur warung yang juga dapur rumahnya---dan berteriak ke arah sebuah pertarungan antar siswa sedang terjadi.
“WOY BERHENTI!” dengan si pemilik warung yang hendak maju untuk melerai beberapa siswa yang ia kenali sering jajan di warungnya itu, tapi satu orang baru terhitung 3 kali jajan, soalnya anak baru---tapi sudah cepat akrab, karena murid baru itu katanya saudaranya Reno yang sudah cukup akrab dengannya.
“NANTI SAYA GANTI SEMUA KERUSAKAN BEH!” Andrew sempat-sempatnya berseru tentang penggantian pada si pemilik warung, karena sudah pasti yang bersangkutan panik melihat warungnya sudah acak-acakan---dan rasanya akan menjadi lebih berantakan, kalau perkelahian tidak segera dilerai.
“Ya Bukan Begitu—“
“RENO JAMINANNYA!...”
Kembali Andrew sempat-sempatnya lagi mengeluarkan celetukan, padahal dirinya kini sudah hendak lagi di serang.
Jaga-jaga aja sih, takutnya si pemilik warung tak percaya, karena tanggung Andrew merasa kalau harus dilerai sekarang perkelahiannya---kalau-kalau si pemilik warung memanggil para guru di sekolahnya.
Penyerangnya yang berkurang 1, karena tangannya yang dipelintir Andrew sampai 180 derajat baru ia rasakan begitu sakit, belum lagi Andrew menendang punggungnya kala didorong ke arah teman-temannya.
Lalu sang pemilik warung tetap berusaha untuk maju, dan sekali lagi ia tertahan.
Kali ini istrinya yang menahan, mengingatkan jangan ikut campur---karena resiko ikut babak belur.
“Kamu Bantuin Itu Temennya!”
Sang pemilik warung itu berseru ke anak kelas 3 IPA yang sebelumnya ia lihat mengobrol dengan Andrew.
Namun kini hanya ada 1 orang saja, padahal seingat si pemilik warung yang akrab dipanggil Babeh oleh para murid sekolahnya Andrew yang jajan di warungnya, tadi ada 2 siswa yang bersama Andrew.
Pemilik warung mengira satu orang siswa yang tadi bersama Andrew itu kabur, supaya ga kena imbas dari perseteruan Andrew dan Ferdi CS---padahal siswa itu sedang berlari kencang ke sekolah untuk mencari Reno dan memberitahukan tentang situasi Andrew saat ini, meski tadi Andrew sempat melarangnya untuk tidak perlu memberitahukan Reno soal dirinya yang didatangi Ferdi CS dan gelagatnya mau dikeroyok oleh mereka itu.
🚬🚬
“Ga Perlu!”
Namun jawaban bukan keluar dari siswa yang barusan diajak ngomong oleh si Babeh, melainkan jawaban itu keluar dari mulut Andrew.
Padahal sekarang dia sedang nampak menghadapi serangan, yang ujungnya kembali terdengar erangan kemudian, setelah suara pukulan dan tendangan.
Bukan erangan Andrew tapi, melainkan Ferdi dan teman-temannya yang sudah terjerembab ke beberapa titik---lantai sih rata-rata berakhirnya, setelah sempat mendarat di atas meja-kursi bahkan pinggirannya.
🚬🚬
Andrew menyeringai melihat pemandangan di depannya, dimana mereka yang mencoba mengeroyoknya sudah terkapar semua dengan mengaduh memegangi bagian perut mereka yang kesemuanya mendapat tendangan atau tonjokan Andrew.
Sementara itu, sepasang suami istri pemilik warung dan satu siswa yang tadi bersama Andrew---nampak tercengang di tempat mereka, pertarungan tak imbang itu malah berakhir dengan pihak penyerang yang terdiri dari beberapa orang yang nampak kalah telak oleh hanya satu orang saja.
Memang sih satu siswa yang tadinya akan jadi target pengeroyokan cukup terbilang tinggi dan tegap badannya, tapi kan ada juga yang perawakannya saja nampak begitu macho, tapi tenaganya bisa dibilang ga ada---dihantam sekali langsung rubuh.
Sementara yang satu ini, dia dapat berdiri dengan tegak di tempatnya setelah mengeluarkan tenaga yang kiranya cukup banyak untuk menghadapi orang-orang yang berusaha memukulinya.
Tak ada sedikitpun goresan di wajahnya, bahkan nafasnya hanya nampak sedikit tersengal saja. Memandangi orang-orang yang terkapar di hadapannya, yang merupakan murid di sekolah yang sama---yang kini berdiri layaknya jawara itu.
🚬🚬
“Masih mau coba gue? Sini, bangun. Sekalian gue buat kalian masuk UGD.”
Suara Andrew terdengar, sambil ia memandangi Ferdi dan kawan-kawan segengnya yang sudah nampak terkapar itu.
Dengan mulut mereka yang mengaduh lirih sambil memegangi beberapa bagian tubuh mereka termasuk wajah, yang kena hantam tangan dan kaki Andrew.
Yang jika diperhatikan, teman-temannya Ferdi ada yang kena jotos Andrew di wajah mereka, sampai hidung dan bibirnya berdarah, belum lagi pipi yang sangat lebam.
Lalu yang perutnya di tendang Andrew, merasakan sakit di ulu hatinya---karena tendangan Andrew tepat mengenai bagian itu dari luarnya, ada juga yang kena hantam selangkangannya oleh tendangan Andrew.
Dan untuk satu orang itu, dia yang paling terdengar parah rintihannya.
Selain rasa sakit yang teramat sangat dibagian vitalnya, mungkin rintihannya adalah ratapan bagaimana nasibnya sebagai seorang lelaki di masa depan setelah titik kebanggaannya ditendang dengan cukup tenaga oleh Andrew.
Ingin yang bersangkutan segera memeriksakan bagian kebanggaannya sebagai lelaki yang ditendang Andrew itu, ngeri kalau 2 telornya pecah---tapi apa daya, untuk bangkit dirinya merasa susah---ya udah, akhirnya hanya bisa merintih pasrah.
Karena teman-temannya juga sedang sama merasakan sakit di beberapa bagian tubuh mereka, jadi tak ada juga yang bisa menolongnya---walau memang dirinya yang paling apes.
Dan UGD, seperti yang disebut Andrew tadi, kiranya satu siswa yang seperangkat selangkangannya kena hantam satu kaki Andrew itu pikir---adalah tempat yang perlu ia datangi dengan segera.
Sementara biarkan dia yang merasa paling apes itu meratapi nasibnya, Andrew yang kiranya sudah mencukupkan dirinya memberi pelajaran pada beberapa murid sok jagoan dan sempat ia tantang lagi meski para murid sok jagoan itu nampak sudah terkapar tanpa lagi punya tenaga untuk menyerangnya---kemudian berdecih kecil di tempatnya.
Menyeringai tipis, lalu berbalik badan dan melangkahkan kakinya menuju sepasang suami istri pemilik warung yang kemudian memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki---lalu satu siswa yang belum lama berkenalan dengan Andrew juga melangkah cepat menghampirinya, kemudian melontarkan pertanyaan dengan ekspresi takjub.
“Lo oke, Ndrew?”
“Haus.”
Andrew menjawab dengan santainya.
“Tolong satu minuman dingin macam tadi, Beh...”
Kemudian Andrew bicara pada si pemilik warung tongkrongan.
“Sekalian Babeh hitung ini kerugian yang ada, sementara pegang pegang dulu ini...”
Selanjutnya, Andrew yang sudah merogoh saku celana seragamnya dan mengeluarkan dompetnya dari sana---mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dengan nominal yang terbilang besar per lembarnya, yang kemudian Andrew sodorkan pada si pemilik warung tongkrongan yang jadi tercengo melihat Andrew dengan entengnya mengeluarkan sejumlah uang yang setara dengan pemasukan warungnya beberapa hari.
“Yah ini mah ga usah sementara pegang, kelebihan malah kayaknya.” Lalu si pemilik warung berkata, sambil bergantian melihat Andrew dan uang yang disodorkannya.
“Hitung saja dulu total kerugian Babeh, kalau memang lebih, simpan aja.” kata Andrew kemudian, sambil ia meraih tangan si Babeh warung, dan langsung menempatkan uang yang ia keluarkan dari dompetnya itu.
Babeh mengangguk gugup. Tapi senang juga hatinya. Rezeki kan ga boleh ditolak?
Juga si Babeh warung berpikir, itu orang tuanya Andrew kerja apa? sampe uang jajan anaknya---yang kayaknya kalau tadi sempat ia lirik isi dompet seorang murid di depannya itu, bisa buat beli isi warung jumlah uangnya di dompet.
🚬🚬
“Lo panggil tim UKS sekolah.”
Andrew lalu berbicara pada satu siswa yang ada di warung tongkrongan, selepas istri si pemilik warung tongkrongan yang bergegas untuk membuatkan minuman pesanan Andrew.
“Suruh obati itu kecoak-kecoak. Kalo ada yang harus masuk rumah sakit, gue yang tanggung biayanya.”
Siswa yang diajak bicara oleh Andrew itu mengangguk,
“Oke—“
“Urusan Lo Sama Gue Belom Selesai!”
Lalu saat siswa yang diajak bicara Andrew itu mengangguk setelah Andrew memintanya melakukan hal yang tadi dikatakan Andrew pada siswa tersebut, sebuah suara bernada ancaman terdengar dari belakang mereka.
Andrew lalu mendengkus saja menanggapinya.
Tak mau menjawab, Malas!
“Udah Ga Usah Cari Gara-Gara Lagi!...”
Malah si Babeh warung yang kemudian merespons ucapan dari salah seorang yang sudah bangkit setelah kena hantam beberapa kali oleh Andrew.
“Ga Kapok Itu Muka Udah Babak Belur Begitu?!... Bukannya pada sekolah yang bener, malah pada sok-sok-an jadi jagoan. Kamu juga...”
Si Babeh warung kemudian mengoceh untuk menasehati, termasuk juga pada Andrew.
“Biar kata kuat tenaganya, tapi yang gini-gini jangan dilakuin lagi—“
“Iya, Beh,” tukas Andrew, sambil ia mesam-mesem saja di tempatnya, lalu hendak menerima minuman dingin pesanannya yang sudah jadi.
“Gue Ga Akan Tinggal Diam!...”
Namun baru saja Andrew memegang gelas berisikan minuman pesanannya, suara ocehan yang adalah ocehannya Ferdi yang masih kekeh mengancam Andrew, terdengar lagi.
Sementara si Babeh Warung dan istrinya berikut satu siswa selain Andrew yang ada di sana, geleng-geleng saja memandang pada Ferdi yang memang dirasa ga kapok telah dipukuli Andrew.
“Gue Cari Tentang Keluarga Lo Nanti! Dan Kalo Lo Punya Kakak Ato Adek Perempuan Bakal Gue Perkosa Bareng-Bareng Kalo Perlu Nyokap Lo Juga Sekalian Gue Perkosa!”
Ferdi berseru geram di tempatnya.
Tak menyadari, jika air muka Andrew sudah sangat berubah sekarang.
Sempat dingin, saat tadi dirinya menghadapi Ferdi dan kawan-kawannya dalam perkelahian mereka tadi.
Namun sekarang, wajah Andrew tidak hanya sekedar dingin.
“Bokap Gue Punya Cukup Duit Buat Bayar Preman!—“
PRAAKK!!
“ARRGGHH!!...”
Tak sampai Ferdi melanjutkan kalimat tambahannya, gelas yang Andrew pegang sudah dengan cepat menimpa kepalanya, hingga spontan ia mengaduh dan terhuyung.
Beberapa temannya yang sudah perlahan bisa menahan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya kemudian langsung mencoba menolong Ferdi, namun tak lama kemudian Ferdi sudah berada dalam cengkraman Andrew yang langsung memukulinya dengan bringas.
Kembali pemilik warung dan satu murid yang tadi di dekat Andrew dibuat terkejut dan terperangah juga.
Lalu bergidik tak seberapa lama kemudian, karena yang ketiganya lihat sekarang---Andrew nampak bengis sekali.
Beberapa teman Ferdi yang sudah perlahan pulih itu coba melerai Andrew, namun apes karena Andrew kini tak nampak lagi menahan diri.
Bukan pukulan dan tendangan yang Andrew hantamkan pada mereka yang mencoba melerainya dari Ferdi, melainkan hantaman kursi kantin dari Andrew---yang setelahnya kembali memukuli Ferdi lebih membabi buta sampai cowok berlabel biang kerok sekolah itu sudah merosot ke lantai dengan wajah yang lebih parah kondisinya dari sebelumnya.
Namun begitu, Andrew tak nampak hendak berhenti---karena kemudian Ferdi ia duduki, dan tiga orang yang sempat berinteraksi dengan Andrew tadi benar-benar terpaku kelu melihat Andrew yang kini terlihat bringas memukuli Ferdi itu.
“Drew Stop!”
Sampai kemudian tangan Andrew tertahan, baru Andrew berhenti memukuli Ferdi yang sudah tak sadarkan diri.
Reno yang menahan kuat tangan Andrew itu setelah ia sampai di warung tongkrongan yang kondisinya sudah acakadul.
“Cukup! Sadarkan diri lo!”
Reno berseru lagi sambil menatap tajam pada Andrew yang sedang memandanginya.
“Awas!”
Setelahnya Reno langsung menyuruh Andrew menyingkir dari posisinya yang menduduki Ferdi.
‘Semoga aja si Ferdi masih hidup!’ Kemudian membatin was-was setelah ia melihat dengan jelas kondisi si biang kerok sekolah, yang wajahnya begitu parah.
Entah apa yang dikatakan atau dilakukan si Ferdi ini sampai Andrew membuat kondisi si biang kerok sekolah jadi separah itu, tapi sekarang yang perlu dikhawatirkan adalah keadaan Ferdi yang sudah jelas tak sadarkan diri.
Bibir Ferdi nampak pecah, ada darah yang merembes dari bagian atas kepalanya juga. Pelipisnya pun robek.
🚬🚬
Reno langsung dengan cepat mendekatkan jarinya ke hidung Ferdi, lalu Reno menghembuskan nafasnya dengan berat---lalu sekali lagi Reno menghembuskan nafas beratnya yang bahkan lebih berat dari sebelumnya, setelah ia mengecek nadinya Ferdi.
“Panggil Taksi!”
Reno lalu berseru sambil menoleh ke arah satu siswa yang mendekatinya---sang informan.
“Dia Harus Cepet Dibawa Ke RS!” seru Reno lagi dengan cepat.
Bukan dia peduli pada Ferdi sebenarnya, tapi justru Reno mengkhawatirkan Andrew.
Jika telat mendapat pertolongan medis, si Ferdi bisa mati.
Lalu Andrew akan diadili karena menghilangkan nyawa orang dengan sengaja, dan berakhir menghabiskan bertahun-tahun di balik jeruji besi.
Sungguh Reno sangat tidak ingin itu terjadi.
🚬🚬🚬🚬
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Yeyet Suryadi
oh ternyata flasbacknya Andrea tuh sama kejadiannya kaya poppanya
dimasa depan Andrea akan menghajar kk klsnya ..ssama seperti poppanya jaman SMA
2024-02-20
0