PART 11

Selamat membaca...

🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬

“Bangun lo!” Seseorang berseru sambil mencengkeram kerah kemeja seragam Andrew yang sedang sedang mengobrol bersama dua siswa kelas tiga yang baru berkenalan dan berbeda jurusan dengannya. “Lo budeg?! Bangun Gue Bilang!“ orang itu berseru lagi pada Andrew yang saat dicengkeram secara tiba-tiba kerah seragamnya, sahabatnya Reno itu mendengkus malas saja di tempatnya, bahkan terlihat santai-santai saja.

Salah satu dari siswa yang baru berkenalan dengan Andrew itu sempat berseru, menyergah kepada orang yang mencengkeram kerah kemeja seragam Andrew itu.

Namun dirinya langsung mendapat ancaman dari orang yang mencengkeram kerah seragam Andrew dengan nampak begitu emosi pada sahabatnya Reno itu.

Lalu Andrew langsung memberi kode padanya dengan gerakan kepala agar siswa yang hendak membantu Andrew itu diam dan menjauh saja, “B*ngsat...” namun sepersekon detik dari itu, Andrew langsung mengumpat.

Pasalnya, tubuhnya ditarik dengan kasar, sampai ia jadi sedikit terhuyung dari duduknya.

Dan Andrew yang sebelumnya santai saja, kini nampak berbeda.

🚬🚬

Andrew sudah berdiri tegak sekarang, terlihat cukup kontras perbedaan tingginya dengan orang yang barusan mencengkeram kerah kemeja seragamnya.

Andrew juga menepiskan dengan kasar tangan dari orang yang mencengkeram kerah seragamnya sebelum ia menegakkan dirinya di hadapan orang tersebut, yang merupakan siswa di SMA nya Andrew juga.

Andrew tahu kenapa sampai satu siswa itu sampai berlaku demikian padanya, dan Andrew sungguh malas menanggapinya---berkelahi karena cewek.

Yang benar saja?

Berkelahi memperebutkan cewek, tidak ada dalam kamusnya.

‘Ada juga cewek yang saling bertengkar karena berebut jadi pacar gue!’

Begitu Andrew menyombongkan dirinya.

Tak asal sombong sih, karena memang begitu seringnya kenyaatan serapahnya Andrew tentang dirinya yang  jadi rebutan banyak cewek.

Keren walau punya kesan sangar, khas Badboy.

Namun justru itu yang membuat dirinya jadi incaran cewek-cewek di sekelilingnya.

Jadi pacar seorang Andrew Eager Adjieran Smith menjadi suatu kebanggaan bagi para cewek yang menyukai cowok itu.

Badboy yang cukup mempesona dengan wajah Andrew yang masuk ke dalam kategori ganteng, lalu bersih terawat---meski seragam sekolahnya tidak ia rapikan dengan kemeja seragam yang diposisikan di luar celana sekolahnya.

Dipadu dengan begitu atletis tubuhnya yang sesuai dengan tinggi badannya, jago olahraga---belum lagi... Anak orang kaya! Royal Pula!

Tak perlu lihat ‘tunggangannya’ ke sekolah, image anak orang kaya sudah terlihat dari tas dan sepatu sekolah yang Andrew pakai, belum lagi jam tangannya---yang memang brand luar negeri dan belinya pun juga di sana.

Andrew adalah sepaket cowok idaman buat dijadiin pacar.

Makanya tak heran kalau Andrew bisa mencetuskan serapahnya tentang dirinya yang jadi rebutan banyak cewek.

Yang Andrew tegaskan, tidak akan terjadi kebalikannya---yakni ia berkelahi gara-gara memperebutkan cewek.

Namun saat ini situasinya berbeda.

Andrew memang memastikan dirinya tidak akan berkelahi karena memperebutkan cewek, tapi urusannya dengan siswa yang nampak berapi untuk memukulinya itu adalah karena cewek, yang bsa dikatakan---Andrew lah yang menyulut emosi siswa tersebut, karena sudah lancang mengancamnya---dan Andrew benci diancam, bukan tidak suka lagi---jadi dirinya memprovokasi emosi siswa yang ingin memukulinya itu.

Dan sekarang---Andrew harus menghadapinya, mau tidak mau.

Meski sudah membayangkan malasnya nanti dia mendengar rumor yang beredar tentang perseteruannya dengan siswa yang berlabel biang kerok sekolah ini, adalah karena memperebutkan cewek yang bernama Wulan.

Padahal Andrew tidak sedikitpun punya rasa pada cewek yang bernama Wulan itu. Cuma sengaja lebih didekati lagi, terkait ancaman si biang kerok sekolah padanya.

Sekali lagi, demi membuat si biang kerok sekolah menjadi uring-uringan karena ceweknya Andrew dekati---dan dipikir Andrew telah memacari yang bersangkutan.

Padahal lagi,  Andrew pun belum ‘menembak’ cewek tersebut. Memang ga niat untuk Andrew jadiin pacar sih, itu cewek yang namanya Wulan.

Karena pendekatan Andrew pada yang bersangkutan, murni hanya untuk meledek si biang kerok sekolah itu saja.

Yang Andrew sadari betul konsekuensinya, karena yang ia ledek adalah orang yang suka cari masalah---namanya juga biang kerok!

🚬🚬

Malas, tapi Andrew sadari konsekuensi dari sikapnya yang seolah balik menantang si biang kerok sekolah yang sudah mencetuskan ancaman padanya.

Jadi sekarang, kalau yang bersangkutan berniat untuk berkelahi dengannya---dengan membawa gerombolannya juga.

Malas tak malas, Andrew harus menghadapinya. Jadi Andrew kini sudah menegakkan dirinya selepas ia menepiskan dengan kasar tangan si biang kerok sekolah yang sempat mencengkeram kerah kemeja seragamnya.

Selain itu, Andrew juga sekaligus mendorong dengan agak kasar si biang kerok yang ia tepiskan tangannya tersebut---yang mana orangnya nampak jelas begitu tak terima, dan semakin nampak saja emosinya pada Andrew.

“Mati lo!” yang mana si biang kerok sekolah sudah langsung mengepalkan tangannya sedetik selepas Andrew mendorongnya, dan sudah menggerakkan kepalan tangannya itu untuk menghantam wajah Andrew.

“Naik ke bangku kalau mau tonjok gue.” Yang sayangnya dengan mudah Andrew hindari.

Ditambah Andrew melontarkan ejekan pada si biang kerok sekolah yang tak sampai memukul wajah Andrew itu.

“ANJ*NG!”

Dan yang bersangkutan pun, semakin geram pada Andrew yang sudah menyungging miring.

Terdengar dari umpatan kasar yang keluar dengan cepat dari mulutnya setelah Andrew meledeknya dengan ejekan mengenai tinggi badan si biang kerok sekolah itu secara tidak langsung.

“HAJAR!” teriak si biang kerok sekolah secara tiba-tiba, dan semua teman segengnya langsung maju untuk menyerang Andrew bersama-sama. Namun Andrew dengan cepat menghindari serangan tersebut.

🚬🚬

“Mati lo!”

Satu teman si biang kerok alias Ferdi berhasil mencengkeram kerah kemeja seragam Andrew yang kemudian ia pegang dengan kuat, dan membuat bosnya menyungging senang.

Lalu langsung lebih bernafsu untuk menghantam Andrew.

Namun, sedetik saja sunggingan di bibir Ferdi dan juga teman-temannya itu terbentuk.

Karena tangan satu orang komplotan Ferdi itu langsung dipegang dan di pelintir Andrew sampai hampir ke titik 180 derajat dengan cepat.

Mengaduh?

Tentu saja!

Namun siswa yang dipelintir tangannya oleh Andrew itu mencoba menghantam Andrew dengan satu tangannya yang bebas, disaat yang sama Ferdi dan gerombolannya yang lain ingin menyerang Andrew secara bersama untuk yang kedua kalinya.

Dan sekali lagi, percobaan mereka untuk merubuhkan Andrew itu gagal---yang ada, tubuh Ferdi dan teman-temannya terdorong keras akibat satu rekan mereka yang tangannya Andrew pelintir itu dijerembabkan oleh Andrew kepada mereka.

Walhasil, Ferdi dan komplotan terjatuh bersamaan.

Lalu sebagian dari mereka merasakan sakit sembari mengaduh spontan, akibat punggungnya membentur meja kayu warung tongkrongan yang kemudian jadi bergeser dari tempatnya.

Mendengar ada ribut-ribut di warungnya, lalu melihat ada perkelahian tak seimbang, sang pemilik warung keluar dari dapur warung yang juga dapur rumahnya---dan berteriak ke arah sebuah pertarungan antar siswa sedang terjadi.

“WOY BERHENTI!” dengan si pemilik warung yang hendak maju untuk melerai beberapa siswa yang ia kenali sering jajan di warungnya itu, tapi satu orang baru terhitung 3 kali jajan, soalnya anak baru---tapi sudah cepat akrab, karena murid baru itu katanya saudaranya Reno yang sudah cukup akrab dengannya.

“NANTI SAYA GANTI SEMUA KERUSAKAN BEH!” Andrew sempat-sempatnya berseru tentang penggantian pada si pemilik warung, karena sudah pasti yang bersangkutan panik melihat warungnya sudah acak-acakan---dan rasanya akan menjadi lebih berantakan, kalau perkelahian tidak segera dilerai.

“Ya Bukan Begitu—“

“RENO JAMINANNYA!...”

Kembali Andrew sempat-sempatnya lagi mengeluarkan celetukan, padahal dirinya kini sudah hendak lagi di serang.

Jaga-jaga aja sih, takutnya si pemilik warung tak percaya, karena tanggung Andrew merasa kalau harus dilerai sekarang perkelahiannya---kalau-kalau si pemilik warung memanggil para guru di sekolahnya.

Penyerangnya yang berkurang 1, karena tangannya yang dipelintir Andrew sampai 180 derajat baru ia rasakan begitu sakit, belum lagi Andrew menendang punggungnya kala didorong ke arah teman-temannya.

Lalu sang pemilik warung tetap berusaha untuk maju, dan sekali lagi ia tertahan.

Kali ini istrinya yang menahan, mengingatkan jangan ikut campur---karena resiko ikut babak belur.

“Kamu Bantuin Itu Temennya!”

Sang pemilik warung itu berseru ke anak kelas 3 IPA yang sebelumnya ia lihat mengobrol dengan Andrew.

Namun kini hanya ada 1 orang saja, padahal seingat si pemilik warung yang akrab dipanggil Babeh oleh para murid sekolahnya Andrew yang jajan di warungnya, tadi ada 2 siswa yang bersama Andrew.

Pemilik warung mengira satu orang siswa yang tadi bersama Andrew itu kabur, supaya ga kena imbas dari perseteruan Andrew dan Ferdi CS---padahal siswa itu sedang berlari kencang ke sekolah untuk mencari Reno dan memberitahukan tentang situasi Andrew saat ini, meski tadi Andrew sempat melarangnya untuk tidak perlu memberitahukan Reno soal dirinya yang didatangi Ferdi CS dan gelagatnya mau dikeroyok oleh mereka itu.

🚬🚬

“Ga Perlu!”

Namun jawaban bukan keluar dari siswa yang barusan diajak ngomong oleh si Babeh, melainkan jawaban itu keluar dari mulut Andrew.

Padahal sekarang dia sedang nampak menghadapi serangan, yang ujungnya kembali terdengar erangan kemudian, setelah suara pukulan dan tendangan.

Bukan erangan Andrew tapi, melainkan Ferdi dan teman-temannya yang sudah terjerembab ke beberapa titik---lantai sih rata-rata berakhirnya, setelah sempat mendarat di atas meja-kursi bahkan pinggirannya.

🚬🚬

Andrew menyeringai melihat pemandangan di depannya, dimana mereka yang mencoba mengeroyoknya sudah terkapar semua dengan mengaduh memegangi bagian perut mereka yang kesemuanya mendapat tendangan atau tonjokan Andrew.

Sementara itu, sepasang suami istri pemilik warung dan satu siswa yang tadi bersama Andrew---nampak tercengang di tempat mereka, pertarungan tak imbang itu malah berakhir dengan pihak penyerang yang terdiri dari beberapa orang yang nampak kalah telak oleh hanya satu orang saja.

Memang sih satu siswa yang tadinya akan jadi target pengeroyokan cukup terbilang tinggi dan tegap badannya, tapi kan ada juga yang perawakannya saja nampak begitu macho, tapi tenaganya bisa dibilang ga ada---dihantam sekali langsung rubuh.

Sementara yang satu ini, dia dapat berdiri dengan tegak di tempatnya setelah mengeluarkan tenaga yang kiranya cukup banyak untuk menghadapi orang-orang yang berusaha memukulinya.

Tak ada sedikitpun goresan di wajahnya, bahkan nafasnya hanya nampak sedikit tersengal saja. Memandangi orang-orang yang terkapar di hadapannya, yang merupakan murid di sekolah yang sama---yang kini berdiri layaknya jawara itu.

🚬🚬

“Masih mau coba gue? Sini, bangun. Sekalian gue buat kalian masuk UGD.”

Suara Andrew terdengar, sambil ia memandangi Ferdi dan kawan-kawan segengnya yang sudah nampak terkapar itu.

Dengan mulut mereka yang mengaduh lirih sambil memegangi beberapa bagian tubuh mereka termasuk wajah, yang kena hantam tangan dan kaki Andrew.

Yang jika diperhatikan, teman-temannya Ferdi ada yang kena jotos Andrew di wajah mereka, sampai hidung dan bibirnya berdarah, belum lagi pipi yang sangat lebam.

Lalu yang perutnya di tendang Andrew, merasakan sakit di ulu hatinya---karena tendangan Andrew tepat mengenai bagian itu dari luarnya, ada juga yang kena hantam selangkangannya oleh tendangan Andrew.

Dan untuk satu orang itu, dia yang paling terdengar parah rintihannya.

Selain rasa sakit yang teramat sangat dibagian vitalnya, mungkin rintihannya adalah ratapan bagaimana nasibnya sebagai seorang lelaki di masa depan setelah titik kebanggaannya ditendang dengan cukup tenaga oleh Andrew.

Ingin yang bersangkutan segera memeriksakan bagian kebanggaannya sebagai lelaki yang ditendang Andrew itu, ngeri kalau 2 telornya pecah---tapi apa daya, untuk bangkit dirinya merasa susah---ya udah, akhirnya hanya bisa merintih pasrah.

Karena teman-temannya juga sedang sama merasakan sakit di beberapa bagian tubuh mereka, jadi tak ada juga yang bisa menolongnya---walau memang dirinya yang paling apes.

Dan UGD, seperti yang disebut Andrew tadi, kiranya satu siswa yang seperangkat selangkangannya kena hantam satu kaki Andrew itu pikir---adalah tempat yang perlu ia datangi dengan segera.

Sementara biarkan dia yang merasa paling apes itu meratapi nasibnya, Andrew yang kiranya sudah mencukupkan dirinya memberi pelajaran pada beberapa murid sok jagoan dan sempat ia tantang lagi meski para murid sok jagoan itu nampak sudah terkapar tanpa lagi punya tenaga untuk menyerangnya---kemudian berdecih kecil di tempatnya.

Menyeringai tipis, lalu berbalik badan dan melangkahkan kakinya menuju sepasang suami istri pemilik warung yang kemudian memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki---lalu satu siswa yang belum lama berkenalan dengan Andrew juga melangkah cepat menghampirinya, kemudian melontarkan pertanyaan dengan ekspresi takjub.

“Lo oke, Ndrew?”

“Haus.”

Andrew menjawab dengan santainya.

“Tolong satu minuman dingin macam tadi, Beh...”

Kemudian Andrew bicara pada si pemilik warung tongkrongan.

“Sekalian Babeh hitung ini kerugian yang ada, sementara pegang pegang dulu ini...”

Selanjutnya, Andrew yang sudah merogoh saku celana seragamnya dan mengeluarkan dompetnya dari sana---mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dengan nominal yang terbilang besar per lembarnya, yang kemudian Andrew sodorkan pada si pemilik warung tongkrongan yang jadi tercengo melihat Andrew dengan entengnya mengeluarkan sejumlah uang yang setara dengan pemasukan warungnya beberapa hari.

“Yah ini mah ga usah sementara pegang, kelebihan malah kayaknya.” Lalu si pemilik warung berkata, sambil bergantian melihat Andrew dan uang yang disodorkannya.

“Hitung saja dulu total kerugian Babeh, kalau memang lebih, simpan aja.” kata Andrew kemudian, sambil ia meraih tangan si Babeh warung, dan langsung menempatkan uang yang ia keluarkan dari dompetnya itu.

Babeh mengangguk gugup. Tapi senang juga hatinya. Rezeki kan ga boleh ditolak?

Juga si Babeh warung berpikir, itu orang tuanya Andrew kerja apa? sampe uang jajan anaknya---yang kayaknya kalau tadi sempat ia lirik isi dompet seorang murid di depannya itu, bisa buat beli isi warung jumlah uangnya di  dompet.

🚬🚬

“Lo panggil tim UKS sekolah.”

Andrew lalu berbicara pada satu siswa yang ada di warung tongkrongan, selepas istri si pemilik warung tongkrongan yang bergegas untuk membuatkan minuman pesanan Andrew.

“Suruh obati itu kecoak-kecoak. Kalo ada yang harus masuk rumah sakit, gue yang tanggung biayanya.”

Siswa yang diajak bicara oleh Andrew itu mengangguk,

“Oke—“

“Urusan Lo Sama Gue Belom Selesai!”

Lalu saat siswa yang diajak bicara Andrew itu mengangguk setelah Andrew memintanya melakukan hal yang tadi dikatakan Andrew pada siswa tersebut, sebuah suara bernada ancaman terdengar dari belakang mereka.

Andrew lalu mendengkus saja menanggapinya.

Tak mau menjawab, Malas!

“Udah Ga Usah Cari Gara-Gara Lagi!...”

Malah si Babeh warung yang kemudian merespons ucapan dari salah seorang yang sudah bangkit setelah kena hantam beberapa kali oleh Andrew.

“Ga Kapok Itu Muka Udah Babak Belur Begitu?!... Bukannya pada sekolah yang bener, malah pada sok-sok-an jadi jagoan. Kamu juga...”

Si Babeh warung kemudian mengoceh untuk menasehati, termasuk juga pada Andrew.

“Biar kata kuat tenaganya, tapi yang gini-gini jangan dilakuin lagi—“

“Iya, Beh,” tukas Andrew, sambil ia mesam-mesem saja di tempatnya, lalu hendak menerima minuman dingin pesanannya yang sudah jadi.

“Gue Ga Akan Tinggal Diam!...”

Namun baru saja Andrew memegang gelas berisikan minuman pesanannya, suara ocehan yang adalah ocehannya Ferdi yang masih kekeh mengancam Andrew, terdengar lagi.

Sementara si Babeh Warung dan istrinya berikut satu siswa selain Andrew yang ada di sana, geleng-geleng saja memandang pada Ferdi yang memang dirasa ga kapok telah dipukuli Andrew.

“Gue Cari Tentang Keluarga Lo Nanti! Dan Kalo Lo Punya Kakak Ato Adek Perempuan Bakal Gue Perkosa Bareng-Bareng Kalo Perlu Nyokap Lo Juga Sekalian Gue Perkosa!”

Ferdi berseru geram di tempatnya.

Tak menyadari, jika air muka Andrew sudah sangat berubah sekarang.

Sempat dingin, saat tadi dirinya menghadapi Ferdi dan kawan-kawannya dalam perkelahian mereka tadi.

Namun sekarang, wajah Andrew tidak hanya sekedar dingin.

“Bokap Gue Punya Cukup Duit Buat Bayar Preman!—“

PRAAKK!!

“ARRGGHH!!...”

Tak sampai Ferdi melanjutkan kalimat tambahannya, gelas yang Andrew pegang sudah dengan cepat menimpa kepalanya, hingga spontan ia mengaduh dan terhuyung.

Beberapa temannya yang sudah perlahan bisa menahan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya kemudian langsung mencoba menolong Ferdi, namun tak lama kemudian Ferdi sudah berada dalam cengkraman Andrew yang langsung memukulinya dengan bringas.

Kembali pemilik warung dan satu murid yang tadi di dekat Andrew dibuat terkejut dan terperangah juga.

Lalu bergidik tak seberapa lama kemudian, karena yang ketiganya lihat sekarang---Andrew nampak bengis sekali.

Beberapa teman Ferdi yang sudah perlahan pulih itu coba melerai Andrew, namun apes karena Andrew kini tak nampak lagi menahan diri.

Bukan pukulan dan tendangan yang Andrew hantamkan pada mereka yang mencoba melerainya dari Ferdi, melainkan hantaman kursi kantin dari Andrew---yang setelahnya kembali memukuli Ferdi lebih membabi buta sampai cowok berlabel biang kerok sekolah itu sudah merosot ke lantai dengan wajah yang lebih parah kondisinya dari sebelumnya.

Namun begitu, Andrew tak nampak hendak berhenti---karena kemudian Ferdi ia duduki, dan tiga orang yang sempat berinteraksi dengan Andrew tadi benar-benar terpaku kelu melihat Andrew yang kini terlihat bringas memukuli Ferdi itu.

“Drew Stop!”

Sampai kemudian tangan Andrew tertahan, baru Andrew berhenti memukuli Ferdi yang sudah tak sadarkan diri.

Reno yang menahan kuat tangan Andrew itu setelah ia sampai di warung tongkrongan yang kondisinya sudah acakadul.

“Cukup! Sadarkan diri lo!”

Reno berseru lagi sambil menatap tajam pada Andrew yang sedang memandanginya.

“Awas!”

Setelahnya Reno langsung menyuruh Andrew menyingkir dari posisinya yang menduduki Ferdi.

‘Semoga aja si Ferdi masih hidup!’ Kemudian membatin was-was setelah ia melihat dengan jelas kondisi si biang kerok sekolah, yang wajahnya begitu parah.

Entah apa yang dikatakan atau dilakukan si Ferdi ini sampai Andrew membuat kondisi si biang kerok sekolah jadi separah itu, tapi sekarang yang perlu dikhawatirkan adalah keadaan Ferdi yang sudah jelas tak sadarkan diri.

Bibir Ferdi nampak pecah, ada darah yang merembes dari bagian atas kepalanya juga. Pelipisnya pun robek.

🚬🚬

Reno langsung dengan cepat mendekatkan jarinya ke hidung Ferdi, lalu Reno menghembuskan nafasnya dengan berat---lalu sekali lagi Reno menghembuskan nafas beratnya yang bahkan lebih berat dari sebelumnya, setelah ia mengecek nadinya Ferdi.

“Panggil Taksi!”

Reno lalu berseru sambil menoleh ke arah satu siswa yang mendekatinya---sang informan.

“Dia Harus Cepet Dibawa Ke RS!” seru Reno lagi dengan cepat.

Bukan dia peduli pada Ferdi sebenarnya, tapi justru Reno mengkhawatirkan Andrew.

Jika telat mendapat pertolongan medis, si Ferdi bisa mati.

Lalu Andrew akan diadili karena menghilangkan nyawa orang dengan sengaja, dan berakhir menghabiskan bertahun-tahun di balik jeruji besi.

Sungguh Reno sangat tidak ingin itu terjadi.

🚬🚬🚬🚬

Bersambung......

Terpopuler

Comments

Yeyet Suryadi

Yeyet Suryadi

oh ternyata flasbacknya Andrea tuh sama kejadiannya kaya poppanya
dimasa depan Andrea akan menghajar kk klsnya ..ssama seperti poppanya jaman SMA

2024-02-20

0

lihat semua
Episodes
1 BLURB & PART 1
2 PART 2
3 PART 3
4 PART 4
5 PART 5
6 PART 6
7 PART 7
8 PART 8
9 PART 9
10 PART 10
11 PART 11
12 PART 12
13 PART 13
14 PART 14
15 PART 15
16 PART 16
17 PART 17
18 PART 18
19 PART 19
20 PART 20
21 PART 21
22 PART 22
23 PART 23
24 PART 24
25 PART 25
26 PART 26
27 PART 27
28 PART 28
29 PART 29
30 PART 30
31 PART 31
32 PART 32
33 PART 33
34 PART 34
35 PART 35
36 PART 36
37 PART 37
38 PART 38
39 PART 39
40 PART 40
41 PART 41
42 PART 42
43 PART 43
44 PART 44
45 PART 45
46 PART 46
47 PART 47
48 PART 48
49 PART 49
50 PART 50
51 PART 51
52 PART 52
53 PART 53
54 PART 54
55 PART 55
56 PART 56
57 PART 57
58 PART 58
59 PART 59
60 PART 60
61 PART 61
62 PART 62
63 PART 63
64 PART 64
65 PART 65
66 PART 66
67 PART 67
68 PART 68
69 PART 69
70 PART 70
71 PART 71
72 PART 72
73 PART 73
74 PART 74
75 PART 75
76 PART 76
77 PART 77
78 PART 78
79 PART 79
80 PART 80
81 PART 81
82 PART 82
83 PART 83
84 PART 84
85 PART 85
86 PART 86
87 PART 87
88 PART 88
89 PART 89
90 PART 90
91 PART 91
92 PART 92
93 PART 93
94 PART 94
95 PART 95
96 PART 96
97 PART 97
98 PART 98
99 PART 99
100 PART 100
101 PART 101
102 PART 102
103 PART 103
104 PART 104
105 PART 105
106 PART 106
107 PART 107
108 PART 108
109 PART 109
110 PART 110
111 PART 111
112 PART 112
113 PART 113
114 PART 114
115 PART 115
116 PART 116
117 PART 117
118 PART 118
119 PART 119
120 PART 120
121 PART 121
122 PART 122
123 PART 123
124 PART 124
125 PART 125
126 PART 126
127 PART 127
128 PART 128
129 PART 129
130 PART 130
131 PART 131
132 PART 132
133 PART 133
134 PART 134
135 PART 135
136 PART 136
137 PART 137
138 PART 138
139 PART 139
140 PART 140
141 PART 141
142 PART 142
143 PART 143
144 PART 144
145 PART 145
146 PART 146
147 PART 147
148 PART 148
149 PART 149
150 PART 150
151 PART 151
152 PART 152
153 PART 153
154 PART 154
155 PART 155
156 PART 156
157 PART 157
158 PART 158
159 PART 159
160 PART 160
161 PART 161
162 PART 162
163 PART 163
164 PART 164
165 PART 165
166 PART 166
167 PART 167
168 PART 168
169 PART 169
170 PART 170
171 PART 171
172 PART 172
173 PART 173
174 PART 174
175 PART 175
176 PART 176
177 PART 177
178 PART 178
179 PART 179
180 PART 180
181 PART 181
182 PART 182
183 PART 183
184 PART 184
185 PART 185
186 PART 186
187 PART 187
188 PART 188
189 PART 189
190 PART 190
191 PART 191
192 PART 192
193 PART 193
194 PART 194
195 PART 195
196 PART 196
197 PART 197
198 PART 198
199 PART 199
200 PART 200
201 PART 201
202 PART 202
203 PART 203
204 PART 204
205 PART 205
206 PART 206
207 PART 207
208 PART 208
209 PART 209
210 PART 210
211 PART 211
212 PART 212
213 PART 213
214 PART 214
215 PART 215
216 PART 216
217 PART 217
218 PART 218
219 PART 219
220 PART 220
221 PART 221
222 PART 222
223 PART 223
224 PART 224
225 PART 225
226 PART 226
227 PART 227
228 PART 228
229 PART 229
230 PART 230
231 PART 231
232 PART 232
233 PART 233
234 PART 234
235 PART 235
236 PART 236
237 PART 237
238 PART 238
239 PART 239
240 PART 240
241 PART 241
242 PART 242
243 PART 243
244 PART 244
245 PART 245
246 PART 246
247 PART 247
248 PART 248
249 PART 249
250 PART 250
251 PART 251
252 PART 252
253 PART 253
254 PART 254
255 PART 255
256 PART 256
257 PART 257
Episodes

Updated 257 Episodes

1
BLURB & PART 1
2
PART 2
3
PART 3
4
PART 4
5
PART 5
6
PART 6
7
PART 7
8
PART 8
9
PART 9
10
PART 10
11
PART 11
12
PART 12
13
PART 13
14
PART 14
15
PART 15
16
PART 16
17
PART 17
18
PART 18
19
PART 19
20
PART 20
21
PART 21
22
PART 22
23
PART 23
24
PART 24
25
PART 25
26
PART 26
27
PART 27
28
PART 28
29
PART 29
30
PART 30
31
PART 31
32
PART 32
33
PART 33
34
PART 34
35
PART 35
36
PART 36
37
PART 37
38
PART 38
39
PART 39
40
PART 40
41
PART 41
42
PART 42
43
PART 43
44
PART 44
45
PART 45
46
PART 46
47
PART 47
48
PART 48
49
PART 49
50
PART 50
51
PART 51
52
PART 52
53
PART 53
54
PART 54
55
PART 55
56
PART 56
57
PART 57
58
PART 58
59
PART 59
60
PART 60
61
PART 61
62
PART 62
63
PART 63
64
PART 64
65
PART 65
66
PART 66
67
PART 67
68
PART 68
69
PART 69
70
PART 70
71
PART 71
72
PART 72
73
PART 73
74
PART 74
75
PART 75
76
PART 76
77
PART 77
78
PART 78
79
PART 79
80
PART 80
81
PART 81
82
PART 82
83
PART 83
84
PART 84
85
PART 85
86
PART 86
87
PART 87
88
PART 88
89
PART 89
90
PART 90
91
PART 91
92
PART 92
93
PART 93
94
PART 94
95
PART 95
96
PART 96
97
PART 97
98
PART 98
99
PART 99
100
PART 100
101
PART 101
102
PART 102
103
PART 103
104
PART 104
105
PART 105
106
PART 106
107
PART 107
108
PART 108
109
PART 109
110
PART 110
111
PART 111
112
PART 112
113
PART 113
114
PART 114
115
PART 115
116
PART 116
117
PART 117
118
PART 118
119
PART 119
120
PART 120
121
PART 121
122
PART 122
123
PART 123
124
PART 124
125
PART 125
126
PART 126
127
PART 127
128
PART 128
129
PART 129
130
PART 130
131
PART 131
132
PART 132
133
PART 133
134
PART 134
135
PART 135
136
PART 136
137
PART 137
138
PART 138
139
PART 139
140
PART 140
141
PART 141
142
PART 142
143
PART 143
144
PART 144
145
PART 145
146
PART 146
147
PART 147
148
PART 148
149
PART 149
150
PART 150
151
PART 151
152
PART 152
153
PART 153
154
PART 154
155
PART 155
156
PART 156
157
PART 157
158
PART 158
159
PART 159
160
PART 160
161
PART 161
162
PART 162
163
PART 163
164
PART 164
165
PART 165
166
PART 166
167
PART 167
168
PART 168
169
PART 169
170
PART 170
171
PART 171
172
PART 172
173
PART 173
174
PART 174
175
PART 175
176
PART 176
177
PART 177
178
PART 178
179
PART 179
180
PART 180
181
PART 181
182
PART 182
183
PART 183
184
PART 184
185
PART 185
186
PART 186
187
PART 187
188
PART 188
189
PART 189
190
PART 190
191
PART 191
192
PART 192
193
PART 193
194
PART 194
195
PART 195
196
PART 196
197
PART 197
198
PART 198
199
PART 199
200
PART 200
201
PART 201
202
PART 202
203
PART 203
204
PART 204
205
PART 205
206
PART 206
207
PART 207
208
PART 208
209
PART 209
210
PART 210
211
PART 211
212
PART 212
213
PART 213
214
PART 214
215
PART 215
216
PART 216
217
PART 217
218
PART 218
219
PART 219
220
PART 220
221
PART 221
222
PART 222
223
PART 223
224
PART 224
225
PART 225
226
PART 226
227
PART 227
228
PART 228
229
PART 229
230
PART 230
231
PART 231
232
PART 232
233
PART 233
234
PART 234
235
PART 235
236
PART 236
237
PART 237
238
PART 238
239
PART 239
240
PART 240
241
PART 241
242
PART 242
243
PART 243
244
PART 244
245
PART 245
246
PART 246
247
PART 247
248
PART 248
249
PART 249
250
PART 250
251
PART 251
252
PART 252
253
PART 253
254
PART 254
255
PART 255
256
PART 256
257
PART 257

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!