Selamat membaca...
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Panggil Taksi!”
Reno berseru dengan cepat, sambil menoleh ke arah beberapa orang selain Andrew, setelah ia mengecek kondisi siswa yang dipukuli dengan membabi buta oleh Andrew.
Reno nampak agak panik.
Namun semata-mata hanya karena dia tidak ingin kalau siswa yang habis dipukuli dengan membabi buta oleh Andrew itu sampai kehilangan nyawa, melihat betapa parah kondisi wajah siswa tersebut.
Ditambah, ada darah yang merembes dari atas kepalanya. Lalu nadi sang siswa pun begitu lemah. Yang bisa jadi—kalau tidak segera mendapat pertolongan medis, siswa itu dihadapkan pada kemungkinan dirinya segera menghadap Sang Ilahi.
Itu yang Reno amat sangat khawatirkan sehingga dirinya terlihat panik.
Tapi bukan karena ia begitu peduli pada siswa yang kondisinya cukup mengenaskan itu, melainkan nasib Andrew ke depannya kalau siswa tersebut sampai mati----yang sudah pasti akan ditunjuk oleh teman-teman si siswa yang dipukuli Andrew sampai pada keadaannya yang cukup mengenaskan itu, bahwa Andrew lah yang menjadi penyebab kematian satu teman mereka tersebut.
Lalu Andrew akan diadili, kemudian meringkuk bertahun-tahun di balik jeruji besi.
Apabila benar, satu siswa yang dipukuli Andrew dengan beringas sekali itu sampai betulan mati. Bagaimana masa depan Andrew nanti?.. Reno sungguh tak bisa membayangkan.
🚬
“Gue yang akan anter si Ferdi ke rumah sakit. Lo mending balik aja—“
“Ga. Gue bukan pengecut.”
Andrew dengan cepat menukas ucapan Reno.
“Lo nyusul aja pakai motor, urus mereka dulu.”
Reno langsung menanggapi ucapan Andrew sambil ia menunjuk ke arah teman – teman Ferdi yang masih nampak menahan kesakitan.
Andrew pun langsung mengangguk mengiyakan arahan Reno tersebut.
Lalu tak lama kemudian satu orang siswa yang pergi untuk mencegat taksi, datang ke hadapan Andrew dan Reno dengan setengah tergesa. “Ren, dapet tuh taksinya!..” ia pun menunjuk ke arah luar warung.
Reno dan Andrew mengangguk, lalu keduanya bergerak untuk membopong tubuh Ferdi dibantu oleh 1 siswa yang berkenalan dengan Andrew, dan Babeh pemilik warung. “Babeh ikut Reno kalo gitu!” lalu si Babeh berseru.
🚬
“Lo bawa dia ke Rumah Sakitnya Om Denny?..” tanya Andrew pada Reno yang sudah akan masuk ke dalam taksi dimana Ferdi sudah lebih dulu dimasukkan di kursi penumpang belakang dengan kepalanya yang ditopang oleh pahanya Babeh Warung.
Reno langsung menggeleng. “Kejauhan dari sini..” jawab Reno dengan cepat kemudian. “Ke Klinik yang ada di seberang jalan besar.”
“Oke.”
Andrew langsung juga menyahut cepat.
🚬
“Lo semua ada yang merasa perlu ke Rumah Sakit juga?” Adalah Andrew yang kemudian berjalan menuju area dalam warung lagi, lalu mencetuskan pertanyaan pada gerombolan Ferdi yang ia lihat sedang saling memapah----hendak meninggalkan warung tongkrongan.
Dimana kesemua gerombolan Ferdi itu sontak kompak terkejut ketika melihat kehadiran Andrew.
Padahal Andrew bertanya dengan ekspresi dan nada suara yang biasa saja.
Tapi mungkin gerombolannya si Ferdi itu lumayan trauma dengan sosok Andrew yang sanggup menghajar mereka semua, dengan Andrew yang sendirian saja.
Jadi saat melihat Andrew ada di hadapan mereka, kesemua gerombolan si Ferdi itu jadi memasang sikap waspada.
Lalu langsung bergerak mundur dengan kompak juga, saat Andrew mengayunkan kakinya----terarah pada mereka semua.
“Heh!” Andrew jadi spontan mendengus karenanya.
Sadar, kalau gerombolannya Ferdi itu merasa takut padanya sekarang.
Dan kemungkinan mereka mundur dengan waspada, adalah karena takut mendapat lagi hantaman dari Andrew.
“Gue udah ga selera buat memukuli kalian lagi. Tapi kalau lo semua coba cari gara-gara lagi sama gue atau lancang mulut macam bos kalian tadi, gue pastikan lo semua bernasib sama dengan dia.. entah dia hidup, sekarat ataupun mati. Gue ga peduli. Yang jelas akan gue buat nasib kalian sama dengan dia. Ngerti?”
“Ng..ngerti—“
“Good.”
Andrew lalu tersenyum miring setelah mendengar jawaban dari mulut gerombolan Ferdi tanpa terkecuali padanya.
Selepas Andrew memberikan penegasan sekaligus ancaman yang membuat gerombolan Ferdi itu cukup bergidik.
Selanjutnya satu dari mereka ada yang mewakili teman-temannya, bertanya pada Andrew apa mereka bisa pergi dari hadapannya.
Andrew mempersilahkan. “Kasih tau gue kalau ada diantara lo semua atau bahkan semuanya, butuh biaya pengobatan..” ucap Andrew saat gerombolan Ferdi mulai hendak pergi dari hadapannya.
🚬
“Gimana dia?” Andrew sudah menyusul ke satu klinik yang tadi dimaksud Reno saat membawa Ferdi untuk segera mendapatkan pertolongan medis.
“Lo beruntung karena dia ga mati.”
Reno pun langsung menjawab Andrew.
Dimana ada teman-teman terdekatnya yang datang bersama Andrew ke klinik tempat mereka berada sekarang, setelah tak lama gerombolan Ferdi keluar dan Andrew merapikan letak meja dan kursi warung tongkrongan yang berantakan, waktu istirahat sekolah tiba.
Lalu tak lama, kasak-kusuk tentang adanya duel di warung tongkrongan dekat sekolah akhirnya tersebar dengan cepat di lingkungan sekolah, sampai pada ke telinga teman-teman dekat Reno yang sudah menjadi teman-teman dekat Andrew juga, terutama yang sekelas---dan memang juga sudah cepat-cepat melangkah keluar kelas karena Reno yang sebelumnya bilang mau menyusul Andrew ke kamar mandi, nyatanya ga balik-balik sampai bel istirahat berbunyi.
Dan berita tentang adanya keributan di warung tongkrongan mereka, sampai disaat para teman Reno dan Andrew itu sedang saling menghampiri seperti biasa saat istirahat sekolah, karena selalunya memang pergi bareng entah ke kantin atau ke warung tongkrongan.
Lalu merasa keributan itu ada kaitannya dengan Reno juga Andrew yang tak mereka dapati setelah berkumpul, teman-teman yang cukup dekat dengan Reno dan Andrew pun langsung kesemuanya berlari menuju warung tongkrongan dekat sekolah tersebut.
Kemudian mereka semua berpapasan dengan Andrew yang hendak pergi ke parkiran sekolah.
Hingga kesemua teman-teman dekat Reno dan Andrew di sekolah itu, memutuskan untuk ikut serta dengan Andrew yang ingin menyusul Reno ke klinik, yang membawa Ferdi bersama Babeh warung untuk membuat si biang kerok sekolah itu segera mendapatkan pertolongan medis.
“Tapi lo harus siap menghadapi keluarganya nanti. Bokapnya juga bukan orang sembarangan, yang gue yakin dia ga terima lo buat anaknya jadi begini.”
🚬
Ferdi harus dirujuk ke Rumah Sakit setelah tindakan untuk pertolongan pertama oleh seorang dokter dan perawat di sebuah klinik besar tak jauh dari sekolah yang sama tempatnya menimba ilmu dengan Andrew dan Reno, telah dilakukan pada cowok yang punya julukan biang kerok sekolah itu.
Ada beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan pada Ferdi, namun klinik tempat dia dibawa karena keterbatasan peralatan di klinik tersebut yang masih terbilang baru. Jadi fasilitas, peralatan dan tenaga medis disana masih terbatas.
Dan perihal rujukan tersebut, perlu ada perwakilan dari keluarga Ferdi yang mengurusnya.
“Lo semua ada yang tau nomor telefon rumahnya?”
Andrew kemudian mencetuskan pertanyaan pada teman-teman yang kini ada bersamanya dan Reno di klinik perihal Ferdi.
Lalu Andrew dan Reno sama mendengkus, karena teman-teman mereka itu menggeleng semua.
🚬
“Andrew, Reno.”
Andrew dan Reno yang kemudian berembuk bersama teman-teman mereka serta juga si Babeh pemilik warung, menoleh bersama ketika satu suara itu terdengar bersamaan dengan si empunya suara yang juga sudah berada didekat mereka yang sedang berembuk itu.
“Om Kusuma?..”
Andrew dan Reno mengenali orang yang menyebut nama mereka tersebut.
“Om kenapa bisa di sini?”
“Kalian kembalilah ke sekolah.”
“Tapi Om—“
“Aku tahu yang sedang kalian hadapi.”
Pria yang disebut oleh Andrew dan Reno dengan Om Kusuma itu kemudian menukas ucapan Andrew.
Membuat Andrew dan Reno spontan mengernyit kecil. Dimana Om Kusuma menyambung ucapannya.
“Murid yang kalian urus disini itu selanjutnya akan jadi urusan Om—“
“Darimana Om tau tentang ini?—“
“Itu ga penting.”
Om Kusuma dengan cepat menukas pertanyaan Reno.
“Dan seperti yang aku katakan tadi, kalian kembalilah ke sekolah, atau kalo perlu langsung pulang ke rumah,” ucap Om Kusuma lagi.
Andrew dan Reno langsung saling tatap.
“Tidak perlu lama berpikir, lakukan saja apa yang aku katakan. Kalian tinggalkan tempat ini.”
Om Kusuma bicara lagi saat Andrew dan Reno sedang saling tatap itu.
Selanjutnya, Andrew dan Reno kembali saling tatap sejenak lalu sama mengangguk.
“Ya sudah kalo gitu, Om,” ucap Andrew dan Reno kemudian. “Kami pergi sekarang.”
Om Kusuma yang gantian mengangguk, lalu bertanya. “Kalian akan kembali ke sekolah atau langsung pulang ke rumah?”
“Sekolah Om. Tas kami masih disana. Dan lagi, kabar ini juga pasti udah sampai ke telinga guru-guru dan bisa jadi kepala sekolah juga.”
Andrew yang menjawab Om Kusuma.
“Dan aku yakin kalau mereka menunggu kami untuk sebuah penjelasan, terutama dariku.”
“Ya sudah. kita bertemu di rumah,” balas Om Kusuma.
“Iya, Om..”
Andrew dan Reno sama menyahut.
“Di Kediaman Adjieran Smith atau di rumah kamu, Ren?..”
“Di Kediaman aja Om. Aku ga mau Bunda dengar soal ini dan dia jadi khawatir berkepanjangan.” Reno yang menjawab pertanyaan Om Kusuma itu.
Dan Om Kusuma pun langsung mengiyakan. “Oke.”
🚬
“Menurut lo kenapa Om Kusuma bisa tahu kita di sini?” tanya Reno pada Andrew, saat dirinya dan sahabatnya itu, telah meninggalkan ruang tunggu klinik bersama rombongan mereka.
“Entah.” Andrew menjawab Reno sambil mengendikkan bahunya. “Bisa jadi dia kebetulan lagi lewat daerah sini, terus lihat motor gue terparkir di depan ini klinik, jadi dia memutuskan untuk masuk—“
“Tapi lo tangkep ga ucapan Om Kusuma tadi?—“
“Yang mana?”
“Dia tahu yang kita hadapi.“
“Mungkin Om Kusuma tidak langsung menghampiri kita saat sudah melihat kita disini, lalu mendengar obrolan kita sekilas tentang si biang kerok tadi, baru Om Kusuma menghampiri kita.”
Reno lalu manggut-manggut kecil setelah mendengar ucapan Andrew itu.
"Bisa jadi," cetus Reno kemudian.
🚬
Segerombolan orang yang baru keluar dari klinik itu sudah berada di area parkir sebuah Klinik tempat mereka berada saat ini.
“Ngomong-ngomong. Itu tadi siapanya kalian?..“ lalu satu teman Andrew dan Reno mencetuskan pertanyaan.
“Salah satu orang kepercayaan Dad gue..”
🚬🚬🚬🚬
To be continue..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments