Happy Reading.
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Parah banget lo, Ndrew!” satu seruan tertuju pada Andrew dari Jerico.
Dimana Andrew kini sudah mendekat padanya dan beberapa teman lain termasuk Reno, selepas Andrew telah selesai bicara dengan seorang cewek yang beberapa hari belakangan nampak sedang didekati oleh Andrew.
Andrew pun langsung merespons seruan Jerico. Dengan memasang tampang seolah tak paham dengan seruan Jerico padanya itu. Yang mana sebenarnya Andrew paham kenapa Jerico bicara seperti itu padanya. Lantaran Andrew yakin kalau Jerico dan lainnya mendengar obrolannya dengan Wulan.
Karena posisi Jerico dan mereka yang bersamanya, terbilang berada dalam jarak yang dekat. Walau ga tepat ngumpul di samping Andrew.
“Parah gimana? –“
“Omongan lo ke si Wulan –“
“Tau lo Ndrew? .. Begitu amat lu ngomong sama si Wulan?”
“Gue ga suka bohong ..”
Andrew menanggapi dengan santai cecaran teman-temannya itu.
🚬
“Selain, gue ga suka basa – basi.”
Andrew menambahkan.
Membuat teman – temannya yang ada, spontan berdecak – decak sambil menggelengkan kepala mereka dengan ekspresi tak percaya, memandang pada Andrew.
“Parah! Parah!”
“Kakak Andrew Raja Tega!”
Sekali lagi celetukan - celetukan yang merutuki Andrew namun dengan candaan, terlontar dari mulut salah satu temannya dan Reno itu.
Dimana sisanya cekikikan, dan Reno hanya tersenyum geli --- namun tipis saja.
Sementara Andrew sih tetap dengan sikap masa bodohnya.
“Jadi sekarang nargetin si Icha nih yang dari awal emang lo incer? ..”
Fattan lalu nyeletuk sambil cengengesan pada Andrew. Sambil sekelompok cowok populer itu berjalan menuju parkiran sekolah.
“Akan gue pikirkan,” tanggap Andrew pada celetukan Fattan tadi.
“Sobet ganteng lu, Drew –“
“Emang dia ganteng Pea!”
celetukan – celetukan dari teman – teman Andrew dan Reno itu kembali terdengar.
Sepanjang langkah mereka menuju parkiran.
“Tajir mampus pula! ..” celetuk Jerico, menimpali ucapan satu teman segengnya yang berbeda kelas. Yang sebelumnya menimpali rutukan Fattan pada Andrew yang katanya sok ganteng.
“Yongkru! Wajar dia sok!” Teman yang lain ikut juga menimpali.
Lalu Andrew langsung menjentikkan jarinya sambil membuat gestur todongan, kode kalau ucapan yang bersangkutan sangat benar.
Selanjutnya, sekelompok orang populer itu tertawa bersama, termasuk juga Reno.
Namun memang karena pembawaan seorang Moreno Alexander itu selalu cool adanya, dia hanya tersenyum geli saja mendengar obrolan tak penting teman – temannya dan Andrew itu.
Tidak tergelak dan petakilan macam beberapa temannya dan Andrew yang memang sering lemes mulutnya.
“Btw, Ren.” Andrew yang selesai tergelak bersama teman – temannya yang sedang berjalan bersamanya dan Reno itu, kemudian mengajak Reno bicara.
“Hem? ..”
Reno pun langsung menanggapi Andrew. Namun hanya dengan deheman saja.
“Itu Pak Kepala Sekolah kayaknya masih ada. Apa gue temui aja dia sekarang dan ngomong soal si Ferdi? –“
“Elah ngapain sih Ndrew?! –“
“Tau lu! Udah bagus begini jadi nama kita ga perlu masuk buku BP!”
Bukan Reno yang menjawab ucapan Andrew, melainkan beberapa teman keduanya.
“Sebrengsek – brengseknya gue sebagai cowo dalam soal menyepelekan perasaan cewe, tapi gue diajarkan Dad dan Grandpa berikut para Uncle gue, untuk mempertanggung jawabkan setiap perbuatan gue ..”
Andrew lalu membalas ucapan beberapa teman – temannya itu.
Normal saja nada bicaranya, namun Andrew nampak sungguh – sungguh mengatakan kalimatnya tentang berani mempertanggung - jawabkan setiap perbuatannya tersebut.
“Ga ada pengecut dalam keluarga gue,” tambah Andrew, dan Reno tersenyum penuh arti di tempatnya---dimana para teman itu kemudian diam.
Lalu Andrew kembali berkata.
“Gue ga minta lo semua ikut kok menghadap kepala sekolah kok, apa yang dialami si Ferdi murni tindakan gue sendiri.”
Sekali lagi Andrew berkata, datar suara----namun aura ketegasannya kentara.
“Jadi gue sendiri yang akan mempertanggung – jawabkannya.”
🚬
“Lagipula, akan membuang waktu gue kalau baru besok gue dipanggil gara – gara masalah gue dan si Ferdi terus gue dapat sangsi skors ..”
Andrew kembali berkata.
“Cape – capein gue datang ke sekolah cuma untuk menerima skorsing doang. Jadi lebih baik sekarang. Kalau sekolah mau skors gue, mending mereka kasih tahu gue sekarang, biar besok gue bisa bangun siang! ..”
“Iya juga sih ..” timpal Fattan. Yang kemudian didukung oleh teman – temannya juga.
“Temuin aja .. Gue temenin lo ..” Lalu Reno baru terdengar suaranya. Dan Andrew merespons ucapan sahabatnya itu.
“Ga usah lah. Lo secara teknis juga ga ada kaitannya sama masalah gue dan si biang kerok itu –“
“Ada.”
Reno menukas ucapan Andrew.
“Lo dan gue ada kaitannya. Akan selalu ada, karena kita brother. Yang harus selalu saling dukung satu sama lain –“
“Thanks, Bro!”
Andrew langsung menjawab ucapan Reno yang disampaikan dengan datar saja oleh sahabatnya itu, namun Andrew tahu kalau Reno tulus mengucapkannya.
🚬
“Kita semua juga temenin lo berdua ngadep Kepsek sama Bu Endang deh kalo gitu ..”
Jerico lalu bersuara setelah Andrew dan Reno sepakat untuk pergi menghadap kepala sekolah dan guru BP yang mereka tahu masih ada di sekolah.
Kepala sekolah sih yang jelas masih ada, karena mobilnya masih terlihat di parkiran. Entah kalau sang guru BP, yang keberadaannya ga bisa dideteksi----karena yang bersangkutan tidak membawa kendaraan sendiri.
Tapi rasa-rasanya bagi Andrew dan Reno, kalau kepala sekolah mereka masih ada di tempat, tak ada guru-guru yang sudah pulang mendahului orang yang punya jabatan diatas para guru.
Apalagi ini masih baru beberapa menit jam pulang sekolah, dan biasanya para guru akan mendekam di kantor sampai sekolah sudah agak sepi. Entah hanya sekedar ngobrol dengan sesama rekan, atau mengoreksi lembaran tugas yang mereka sempat berikan saat mengajar.
“Ga perlu ..”
Andrew merespons ucapan Jerico yang ingin menyertainya serta Reno ke kantor sekolahan.
“Kalian balik aja langsung ..” kata Andrew lagi. “Santai aja, Bro!”
Reno pun mendukung ucapan Andrew yang ditujukan untuk Jerico, berikut teman – teman mereka yang mengiyakan ucapan Jerico tersebut.
Namun Jerico dan teman – temannya yang lain, kekeh akan ikut serta dengan Andrew dan Reno untuk menghadap kepala sekolah dan guru BP----Kan kita pren?
Andrew dan Reno pun akhirnya membiarkan kekekehan teman-teman mereka yang setia kawan itu. lalu mengarahkan kaki mereka bersama menuju kantor sekolah.
“Tuan Muda!” hanya saja, sebelum Andrew, Reno berikut teman – teman mereka lebih jauh melangkah, sebuah suara yang mengarah pada Andrew----terdengar.
Berikut dengan penampakan seorang pria berbaju safari yang nampak melangkah lebar ke arah Andrew dan Reno berada.
Dimana keduanya spontan menghentikan langkah, setelah sebuah seruan itu tertangkap oleh telinga mereka. Termasuk juga para teman Andrew dan Reno yang setia kawan itu.
🚬
“Pak Daus? ..”
Andrew dan Reno mengenali pria yang berseru tadi. Dan kini yang bersangkutan telah berada tepat di hadapannya dan Reno.
“Tuan Muda berdua, sudah harus segera ke kediaman The Adjieran Smith, karena Pak Kusuma sudah mengarah ke sana.” Pria yang bernama Daus itu langsung berkata pada Andrew dan Reno.
“Tapi saya sama Reno mau bertemu kepala sekolah itu ..”
“Kalau anda berdua ingin menemui kepala sekolah bermaksud membahas soal murid yang anda bawa ke Klinik, itu tidak perlu. Pak Kusuma yang meminta saya menyampaikan itu pada anda berdua Tuan Muda Andrew, Tuan Muda Moreno –“
“Tapi –“
“Ini titahnya Tuan Anthony juga –“
“Jadi Dad sudah tahu tentang masalah saya ini? ..”
“Untuk lebih detailnya saya kurang tahu, yang jelas perkara titah Tuan Anthony agar anda berdua segera kembali ke Kediaman The Adjieran Smith, itu keluar dari mulut Pak Kusuma.”
“Begitu ya?”
“Urusan anda dengan sekolah terkait anak yang dibawa ke Klinik tadi, anda berdua tidak perlu memusingkannya, karena semua sudah diurus oleh Pak Kusuma dan Tuan Glenn juga.”
Pria bernama Daus itu kembali menerangkan.
“Jadi anda berdua tidak perlu khawatir, dan lebih baik segera pulang.“
Lalu Andrew dan Reno saling tatap setelahnya.
🚬🚬🚬🚬
To be continue......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments