Menghadap tiga penguasa.

Ternyata daerah yang dituju memang benar benar sakral dan terlihat dikejauhan banyaknya janur berwarna warni berdiri melambai lambai terrtiup angin. Janur janur itu agak sedikit berbeda dengan yang pernah aku liat.

Batangnya nampak seperti dari batang kayu yang melengkung tinggi diatas, terlihat dibatang kayu itu berbagai macam bendera kecil dengan logo yang berbeda. Diatasnya ada bermacam tipe kembang berwarna warni indah keliatannya dan dipucuk paling atas aku terpana melihat bendera sang saja merah putih berkibar, ukurannya tidak besar dan berbentuk segi tiga.

Ada sebuah bangunan gapura tinggi dimana berdiri beberapa mahluk astral sebagai penjaga gerbang.

Namun ketika kita turun mendekat, serentak semua penjaga secara spontan jongkok memberi hormat, mereka semua meletakkan tombak dan pedang ditanah.

"Salam bahagia dari kami,Mohon maaf kedatangan kami secara mendadak" ucap Burwa yang kini telah berubah dalam bentuk aslinya.

Aura didaerah itu sungguh sakral, bermacam bau wewangian terdengar diudara. Suara gamelan dengan irama Jawa Barat terdengar dilantunkan secara perlahan.

"Tidak apa apa patih..tempat kami selalu terbuka..Ada keperluan apakah hingga mampir ketempat kami?" ucap Salah satu dari penjaga gerbang yang berbentuk raksasa bernama Kalibuta. rambutnya panjang dan lebat berkibar terkena terpaan angin. Nampak gigi gigi yang tajam tersembuk diujung mulutnya. Hanya ia yang tidak meletakkan senjata. Ditangan Kanan ia memegang sebuah gada yang sangat besar dan dikirinya ia memegang sebuah tombak panjang.

Rini terkejut dan memegang erat tanganku ketika melihat seekor ular cukup besar melilit diperutnya. Ular itu menatap tajam kearah kami.

"Saya datang mendahului patih Kardah Hasbulah sebagai panglima dua dunia atas perintah Raden Parapat sang penguasa Tanah Nur Zamata. Dan ini adalah Sang Nara Pusaka bersama adiknya Sang Maha Rudini pewaris kekayaan Nur Zamata"

Seketika sang penjaga tadi membungkukkan kepalanya...

"Ternyata dalam hidupku ini aku bisa menyaksikan dengan mata kepalaku dua legenda yang sering diceritakan leluhur kami..mereka bercerita pada saat yang khusus dua sosok mulia ini akan hadir dan kini dihadapan kami telah hadir..kami sangat betbahagia"

"Apakah Sang Hyang Petir sedang mengadakan pertemuan khusus disini?"

"Benar yang mulia..beliau bersama beberapa raja dari negeri sebrang sedang menunggu kehadiran Prabhu Siliwangi,.sangat berbahagia sekali kami kedatangan beliau dan juga yang mulia ditanah kami ini"

"Lho Prabhu Siliwangi akan hadir? Ckckck...istimewa. Baiklah berikan kami ijin untuk masuk"

"Baik yang mulia..Saya sendiri akan antar kedalam..mangga atuh"

Kami terbang secara pelan mengikuti Kalibuta. Tempat ini tertatat rapih, meskipun kita terbang Namun sebetulnya kita terbang diatas sebuah Jalan yang terbuat dari bongkahan batu kali. Disetiap pojok lekukan jalan berdiri dua penjaga dan mereka memberikan salam hormat ketika kami terbang melayang dihadapan mereka.

Tidak lama terlihat sebuah bangunkan berbentuk siput yang menjulang tinggi diatas sebuah bukit. Pemandangan sangat Indah dibawah sana pas didepan bangunkan itu terbentang danau yang luas, berbagai macam burung terbang melintas diatasnya.

Kalibuta turun dibawah sebuah anak tangga, ia berbicara pelan dengan penjaga.

"Yang mulia sampai disini perjumpaan kita, kalian akan diantar oleh salah satu penjaga Istana..ini sudah bukan wewenang saya lagi..ijin pamit"

"Terima kasih Kalibuta, nanti kita jumpa lagi ketika pulang"

Kalibuta menundukkan kepala dengan memberi hormat.

Kamipun kembali terbang secara pelan kearah atas anak tangga tujuan kita Istana dibukit. Susunan anak tangga itu mengingatkan aku kepada susunan anak tangga makam imogiri di jogja. Tinggi sekali kami terbang keatas.

"Mas..liat dibawah danau itu berembun" ucap Rini, aku menoleh kebelakang dan memang danau yang besar itu sangat indah.

®®®®®

Kembali kami disambut sejumlah penjaga ketika sampai didepan Istana.

Ternyata kubah istana berbentuk siput ini sangat sangat besar, bahkan atapnya sampai tidak terlihat. Diujung bangunan siput itu ada semacam lorong dan disanalah pintu masuknya.

Lantunan gamelan berirama sunda terdengar jelas yang keluar dari dalam Istana siput ini.

Burwa berjalan paling depan mengikuti seorang prajurit muda yang memakai busana kain serba hijau. Ia tidak membawa senjata Namun setiap kaki kakinya berjalan terdengar gemerincing.

Kami dipersilahkan berdiri didepan sebuah pintu yang sangat tinggi menjulang keatas atap yang sangat tinggi.

Tidak lama terdengar sebuah gong, pintu besar itu secara otomatis terbuka.

Ruangan dalam Istana sangat luas, kini aku bisa melihat seperangkat gamelan disebelah kiri.

"Mas..ga ada yang nabuh tapi gamelan berbunyi sendiri" bisik Rini, akupun menoleh dan melihat tidak satupun ada yang menaruh tapi gamelan itu berbunyi sendiri. Bulu kudukku berdiri.

"Lho lho lho..patih Burwa! Sungguh satu kehormatan berada disini..kebetulan kami sedang Ada pertemuan sambil menunggu kanjeng Prabhu Siliwangi hadir!" terdengar suara lantang diujung ruangan.

Aku merasakan tanganku ditarik dengan kencang oleh Rini. Mataku terbelalak ketika melihat seekor buaya putih berukuran besar sedang berjalan dari sebuah meja yang besar.

"Itulah Sang Hyang Petir utusan Raden Parapat yang menjaga daerah Jawa Barat yang Istananya berada dikaki Cileungsi tadi..Ayo kita kesana,jangan takut" ucap Burwa.

Secara perlahan buaya putih berubah bentuknya. Disana kita melihat seorang priya setengah tua yang gagah, adanya bidang tangannya kuat berotot. Ia mengenakan semacam topi atau mahkota berwarna putih.

Burwa dipeluk dengan erat oleh sang Hyang Petir, mereka saling melepaskan kangen.

"Ini..kenalkan patih Burwa Salah satu kepala benteng Istana Nur Zamata..Mari Saya perkenalkan yang lainnya..ini adalah Pangeran Hilir dan Pangeran Muda Radhi mereka penguasa Gunung slamet dan Gunung Galunggung dan Batur" ucap sang Hyang Petir sambil tersenyum ramah.

Dari kedua Pangeran itu, Pangeran Hilir yang pertama kali terperanjat adanya kita disana bersama Burwa . Ia bangkit dan mendekatkan dirinya kearah diriku. Ia berjalan mengelilingi aku dan Rini.

"Ooh sang Hyang Widi!" agak teriak sedikit Pangeran Hilir sambil menutup mulutnya.

"Ada apa Pangeran? dan siapakah tamu kita ini?" tanya Sang Hyang Petir baru sambil menoleh kearah kita.

"Aku sudah perkirakan..Jagatdalah! Dulu aku diceritakan oleh ayahku bahwa disaat akan datang akan muncul dua titisan kerajaan tua dari semenanjung Sumatra mereka pembawa kejadian dimulai bumi ini..ternyata inilah mereka! Kita bersukur bisa melihatnya!"

Sang Hyang Petir ikut mendekat begitu juga pangeran muda Radhi.

Burwa maju kedepan dan mulai bercerita hal ihwal keberadaan kita.

"Ayok..kita duduk semua dulu..wah wah! Ajaib sekali!" ucap Sang Hyang Petir.

"Ceritakan Burwa..ceritakan semuanya"

"Jadi...kedatangan kita disini sebetulnya mengemban perintah patih Kardah Hasbulah.."

Belum lagi dimulai Burwa menceritakan perihal kita tiba tiba terdengar petir meledak diatas atap istana. Semua mata memandang keatas atap, dua penjaga pintu berlari dengan kencang kearah meja kita dan jongkok memberi hormat.

"Ada apa diluar??" Tanya sang Hyang Petir kepada penjaga yang datang tergopoh gopoh.

...>>>>>>...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!