"Oke..kalian berdua bisa menginap dikamar khusus tamu..kalau mau mandi air hangat sudah kami siapkan dikamar mandi. Setelah itu kita akan makan malam, saya tunggu ya" ucap pak Hasbulah sambil tersenyum ramah.
Rumah ini tidak begitu besar tapi ditata dengan rapih dan bersih sekali. Hal menakjubkan yang kita dapati ketika memasuki kamar tidur. Bagaimana tidak mengagetkan, 2 tempat tidur single bed tersedia bak tempat tidur hotel bintang lima. kasur yang empuk dan selimut tebal yang sangat bersih. Ruangan itu tidak Ada air condition tapi sejuk dan sangat nyaman.
"Mas! coba liat sini!" teriak Rini dari dalam kamar mandi. Aku bergegas kekamar mandi.
Wow! Disana ada sebuah bath tub cukup besar dimana didalamnya sudah penuh berisikan air hangat. Tempat buang air pun tidak kalah canggih, modelnya duduk bukan jongkok.
"Rin, kamu merasa aneh tidak?"
"Iya mas, ko dipedalaman desa begini tapi kamar tidur dan kamar mandinya mewah seperti didalam hotel berbintang dan mas ingat sama para pembantu tadi? Kain yang mereka pakai sangat bagus dan...mereka memakai headphone!"
"Hmm..ya udah kamu bersihkan badan terus kita makan malam..tanganmu tidak apa apa?"
"Tanganku agak membaik mas, aneh tidak sakit dan pegal..oke deh aku mandi nanti kita bahas klo sudah mau tidur"
Sebetulnya rasa curiga sudah mulai ada, dimulai dari Jalan yang turun seperti terjun kealam bebas selanjutnya sang kusir dokar yang tidak pernah bicara, ia bagaikan robot tanpa ekspresi..selanjutnya para pelayan yang berpakaian unik dan mengenakan headphone semacam alat monitor..hmm aneh.
Tok tok tok..terdengar ketukan dipintu. Tidak terasa sudah cukup lama kita dikamar. Eeh ko jam tanganku berhenti bergerak? Aku menarik handphone ternyata handphone juga tidak ada sinyal dan jam terlihat seperti diam membeku.
Tok tok tok kembali terdengar.
"Oh ya kami sudah siap" ucapku dari dalam.
Aku dan Rini dijemput oleh dua pelayan yang ternyata berbeda dari yang tadi. Kali ini mereka adalah dua wanita muda dan cantik. Meskipun memakai pakaian ala kebaya tapi rambut mereka tersusun rapih dijepit oleh sebuah mahkota kecil. Tubuh mereka mengeluarkan bau wangi.
"Mas, mereka memakai minyak wangi yang harum" ucap Rini.
"Ssst hihi" jawabku sambil tersenyum.
Lho rumah ini ko jadi membesar? Tadi waktu masuk kedalam sepertinya tidak sebesar ini..aku menoleh kearah adikku. Iapun kaget dan sempet menunjuk kearah atap. diatas sana aku melihat lampu semacam chandelier yang sinarnya sangat indah. Aku memutar tubuhku memeriksa sekeliling ruangan wah beda sekali. Pintu rumah juga berubah seperti terbuat dari tembaga yang kuat.
"Ko gini ya..aku jadi takut mas"
"Tidak apa apa..aku menjagamu dik" aku mencoba menenangkan hatinya.
Diruang belakang rumah itu aku mendengar suara suara. Disana ternyata sudah ada Pak Hasbulah yang sedang berbicara dengan Warman, anaknya.
"Halo! Mari silahkan.." Kata Pak Hasbulah gembira melihat kedatangan kita.
Warman juga terlihat senang melihat kita dan langsung mendekat kepada Rini.
"Bagaimana? Sudah agak seger?" Tanya Warman pada Rini. Adikku menjawab dengan senyum manisnya.
"Baik..sekarang kita makan malam dulu, sambil makan kita akan cerita cerita..silahkan" ucap Pak Hasbulah sambil membentangkan kedua tangannya.
Lauk yang dihidangkan ternyata enak sekali, ayam goreng pedas kesukaanku dan sayur sop kesukaan Rini.
"Ini yang masak jago pak, enak sekali"
"Enak kan? Ini masakan mbok Kasam dia emang Jagonya"
Tanpa ragu kita melahap semua yang dihidangkan bahkan lalap segar pun dihabisi Rini.
"Ayok..kita keruang duduk, banyak cerita yang akan bapak uraikan"
Tadinya aku dan Rini ingin bergerak kearah ruang depan karena menurutku itulah tempat bercengkrama. Ternyata Pak Hasbulah membawa kita keruangan lain yang berada disamping kamar makan. Ini rumah ko ga habis habisnya? padahal tadi waktu kita sampai terlihat seperti rumah ukuran biasa.
2 pelayan wanita tadi mengantarkan sepiring buah buahan yang terlihat segar dan juga satu botol berisikan semacam air juice dingin.
"Dik Rini tanganmu patah dan agak sakit ya?" ucap Pak Hasbulah membuka percakapan.
"Agak sakit sedikit tapi tidak apa apa"
"Kalau kekamar mandi pasti agak repot" ucap pa Hasbulah lagi sambil memandang ketangan Rini yang tergantung dibalutan.
"Mas Manto saya akan menyembuhkan tangan adikmu ya, kasian dia"
Aku belum memberikan reaksi apa apa, tiba tiba pa Hasbulah meletakkan telapak tangan kanan kepundak Rini. Rini juga belum bereaksi apa apa, tapi menurut saja ketika tersentuh tangan pa Hasbulah.
Dari atas pundak kanan sampai jari jari Rini tiba tiba terlihat sinar merah campur ungu. Rini memejamkan kedua matanya, seperti merasakan sebuah kekuatan misterius yang masuk kedalam tangannya.
Aku mendekatkan diriku keRini.
"Tidak apa apa..ini sebentar ko, masih bisa dibetulkan" ucap pa Hasbulah sambil melepaskan senyum khasnya.
"Baik..sudah selesai, kain ini saya buka dan lepaskan, dik Rini sudah sembuh..coba sekarang gerakan tanganmu" lanjut pa Hasbulah sambil terus tersenyum dan melepaskan kain pembalut.
Perlahan lahan Rini mengangkat tangan kanannya yang cedera, awalnya ia ragu..Sebab biasanya diangkat beberapa centimeter saja pasti dia sudah kesakitan. Rini kaget, ia tidak merasakan apa apa..kemudian ia angkat lagi dan putar seperti gerakan baling baling..Sembuh!
"Waah! Hebat!" ujarku kagum.
Pak Hasbulah berdiri dan berjalan kepojok ruangan, disana ada sebuah pot bunga yang cukup besar dan keliatannya cukup berat.
"Dik Rini..angkat ini" katanya sambil menaruh pot besar itu didepan Rini.
Tanpa ragu ragu Rini mengangkatnya..ia terkejut akupun juga kaget, impossible! Pikirku..
"Ini lukamu yang bekas dioperasi dimana ada jahitan..bapak hilangkan" Pak Hasbulah menempelkan dua jari digoresan bekas jahitan.
Dalam sekejap luka itu hilang tanpa bekas..
"Nah..kamu sudah sembuh, malam ini sebelum tidur kamu minum pil ini ya..kegunaannya agar semua otot dan urat syarafmu kembali normal..besok kita liat bagaimana hasilnya"
Aku dan Rini saling menatap, ini aneh dan tidak wajar..siapakah pa Hasbulah ini? Hebat sekali ilmunya.
"Oke..sekarang kamu istirahat dan tidur, tapi bapak ingin berbintang bincang dulu dengan Manto ya, oke Rini?"
"Ya bapak..aduh terima kasih sekali, entah apa yang harus Rini bayarkan atas sembuhnya tanganku ini"
"Tidak ada hehe..sudah kamu istirahat, besok kita akan jalan jalan melihat desa ya..mba Rutrut antar dik Rini kekamar ya" ucap pa Hasbulah sambil meminta seorang pelayan yang bernama Rutrut untuk mengantar Rini kekamar.
Pak Hasbulah menepuk pundakku dan mengajak aku kedepan tembok diujung ruangan.
"Manto, kamu pasti bingung dengan apa yang telah terjadi"
"Hmm..betul pak, sebetulnya siapakah bapak ini?"
"Hehe..Ayo kita duduk disini" ucap Pak Hasbulah sambil meletakkan dua kursi yang ia hadapkan ketembok.
Aku bingung, kenapa kita duduk menghadap ketembok? Meskipun demikian aku ikut saja, dan kamipun duduk bersebelahan.
"Kamu dan dik Rini adalah 2 Anak manusia yang memang sudah menjadi pilhan. Jangan kaget dengan apa yang akan bapak ceritakan"
Aku hanya menganggukan kepala, meskipun tidak tau arah kemana Pak Hasbulah akan bercerita.
Ia mengambil sebungkus rokok Gudang Garam, dengan santai menarik 2 batang rokok. Satu ia taruh dibibirnya dan satu lagi ia berikan kepadaku.
"Ini rokok kegemaranmu bukan? Santai..kita merokok sambil bercerita" Pak Hasbulah mengambil sebuah lighter dan menyalahkan tokonya, setelah itu giliran aku ia nyalakan.
Roko ini nikmat sekali rasanya, tidak seperti rokok yang biasa aku beli. Rasanya berat,mantap manis semua bersatu...
...>>>>>>...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments