Pertemuan dengan Raden Parapat.

Kami berdiri dihalaman depan sebuah rumah yang besar, Taman didepan rumah itu sungguh cantik dan teduh. Pak Hasbulah tidak langsung masuk ia hanya berdiri didepan, tidak lama pintu gapura rumah yang terbuat dari semacam besi yang kokoh mengeluarkan suara semacam alarm kecil dan keluarlah 2 orang bertubuh tinggi.

"Selamat siang Patih..silahkan masuk" ucap Salah satunya.

Patih? Hmm..Pak Hasbulah ternyata seorang Patih..entah sebagai patih apa.

Pa Hasbulah tersenyum dan menarik tanganku, sebelum itu dua penjaga itu menempelkan sebuah alat seperti tongkat kecil yang mungkin adalah alat deteksi ketubuhku.

Pintu masuk rumah terbuka bak korden, lempengan besi pintu melipatkan diri secara otomatis. Semuanya serba ultra modern. Aku belum pernah melihat pintu rumah yang secanggih itu.

Kami disambut sepasang laki dan pertempuan yang umurnya hampir sama dengan pak Hasbulah.

"Waah..inikah pemilik kunci itu? Masih muda dan ganteng!" ucap yang wanita.

Sang priya menghampiri diriku, ia berjalan mengelilingi aku sambil mulutnya berdecak berkali kali.

"Engkau benar patih, inilah manusianya. Aneh, aku pernah bermimpi melihat seseorang tapi pada mimpiku wajahnya tidak jelas..hmm rupanya anak muda ini"

"Ya..inilah dia manusianya yang kita tunggu tunggu" jawab pa Hasbulah.

"boleh saya liat tandanya?" Tanya laki laki paruh baya itu.

"Silahkan..boleh 'kan Manto?"

Aku hanya mengangkat kedua pundakku dan tersenyum.

Laki laki itu dengan berhati hati membuka kerah bajuku dan terkejut ia langsung menundukkan wajahnya dan memberikan salam hormat. Aku jadi kebingungan..apa yang terjadi?

"Maafkan aku yang lancang..terimalah salam hormatku kepada Sang Nara Pusaka"

Wanita paruh baya itu juga menundukkan kepala seraya berucap hal yang sama.

"Manto..mereka kaget dan sangat hormat denganmu..seperti yang aku katakan kau mempunyai tanda tato dileher belakangmu..itu adalah tanda kerajaan kami, tidak ada yang punya tanda itu kecuali mereka yang diberikan oleh pemimpin tertinggi kami...kamulah orangnya"

Semuanya mengalir begitu cepat, kejadian kejadian aneh satu persatu datang. Bahwa selama ini aku adalah penyandang lambang kerajaan hanya Tuhan yang tau...

"Beliau juga datang bersama adiknya, bernama Rini..entahlah apakah ini wujud aslinya sang adik yang seharusnya bernama Sang Maha Rudini yang juga kita nantikan..aku juga belum tau" ucap pa Hasbulah.

"Lho? Dimanakah kini adiknya berada?" Tanya wanita itu.

"Dia sedang tidur, istirahat..semoga besok dia bisa main kerumahmu sebelum aku bawa keistana" jawab Pak Hasbulah.

"Lalu..apakah rencanamu malam ini?"

"Kami akan kembali, besok kami akan kesini lagi. Kita bersama sama akan ke Istana membawa tamu tamu agung kita"

"Baiklah, besok pagi sebelum kalian datang aku akan beritakan kepada penjaga Istana..terima kasih patih sudah mampir..Namun, satu lagi..apakah sudah diterangkan jenis tipe warga kita?" ucap laki laki itu sambil menundukkan kepalanya.

"Belum semua..biarkan sang Raden yang akan ceritakan sendiri besok. Terima kasih patih Narda, sampai besok"

Malam itu kami kembali kerumah pa Hasbulah. Banyak pertanyaan yang aku lontarkan dan banyak juga jawaban dan pengulasan dari pa Hasbulah tentang keberadaan mereka.

"Bapak sendiri sebetulnya jabatannya apa? Saya dengar tadi bapak dipanggil dengan nama patih"

"Namaku adalah patih Kardah Hasbulah, aku ditugaskan sebagai pengawas dunia manusia sedangkan patih Narda yang tadi adalah kepala urusan penjaga garis alam manusia dan alam kami, diduniamu mungkin seperti menteri imigrasi hehe"

Aku menganggukan kepala berkali kali, meskipun semuanya masih terasa asing dan aneh..

"Minumlah air ini..setelah itu kamu istirahat, besok pagi akan aku bangunkan..kita akan keistana"

Entah bagaimana dalam hitungan detik mataku terasa berat, apakah aku pingsan atau tertidur yang jelas aku hilang ingatan.

Malam itu tidurku pulas sekali..dan dalam tidurku sebuah mimpi hadir..

"Ibu? Apakah ini ibu?"

"Ya anakku sayang, aku datang memberimu salam. Nampaknya kamu sudah berjumpa dengan patih Kardah..ikuti petunjuk beliau nak, kamu akan menjadi seorang manusia yang hebat..tapi jaga adikmu baik baik"

"Aku kangen buk..kita disini kangen sekali"

"Sudahlah..semua memang sudah suratan..kini kalian akan menjadi manusia hebat. ibu bangga akan kalian"

"Oh ibu.."

Itu yang terahir pembicaraanku..mimpi itu terasa seperti benar benar terjadi, begitu jelas ibu hadir dihadapanku.

®®®®®

Aku sontak bangun dari tidurku ketika pintu kamar diketuk berulang kali. Ketika ku buka pintu, seorang pelayan wanita sudah berdiri dengan senyumannya yang khas.

"Maaf, bapak minta agar segera mandi, rencana ke Istana sebentar lagi dilaksanakan" ucapnya.

"Oh ya sebentar ya, saya bangunkan adikku juga"

Ternyata ketika aku bangunkan Rini, dia juga mendapatkan mimpi yang sama. Ibu hadir dalam mimpinya, bedanya..Rini tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia bingung kenapa ibu mengatakan bahwa sebentar lagi dirinya dan diriku akan menjadi manusia terkenal?

Setengah jam kemudian kami dihidangkan sarapan pagi yang menurut adikku seperti sarapan orang gedongan. Wajar ia katakan demikian, karena selain roti dan kondimen disana ada juga nasi goreng, Tempe dan Tahu goreng kesukaan Rini.

Setelah sarapan, Pak Hasbulah mulai bercerita panjang lebar dari awal hingga ahir kepada Rini. Sudah pasti Rini terkejut, selama Pak Hasbulah bercerita ia terus menerus memegangi tanganku.

"Jadi kita sekarang tidak berada didunia?"

"Tidak Rini..dan ini bukan mimpi, semua benar benar terjadi" ucapku kepada Rini.

"Apakah kita bisa kembali pulang?"

"Sudah pasti bisa..tapi sesuai rencana hari ini kita akan bertandang keistana. Bapak akan Antar kalian kesana, tidak usah takut..kami bukan mahluk jahat" ujar Pak Hasbulah.

Rini terlihat menarik nafas panjang, ia sekarang sadar bagaimana tangannya yang cedera berat bisa sembuh seketika.

Pa Hasbulah memanggil semua pelayan rumah kehadapannya. Satu persatu mereka masuk, terhitung ada 6 anggota tenaga kerja.

"Rutrut kita akan berangkat keistana, kunci semua pintu dan jendela"

"Apakah kita akan pakai kendaraan inti? Tanya Rutrut kemudian.

"Ya siapkan kendaraan inti agar semua bisa masuk, Marwan..kamu tinggal disini ya sampai kita kembali"

Marwan menunduk dengan hormat.

"Saya siapkan patih" Kata Rutrut.

Ternyata apa yang dikatakan kendaraan inti adalah sebuah piring terbang yang besar. Entah dimana mereka simpan tiba tiba kendaraan itu sudah mengambang didepan rumah.

"Halo..oh ya, kami sudah siap berangkat, Jadi tidak usah mampir kerumahmu ya..oke kalian Jalan duluan saja kalau demikian" tiba tiba pa Hasbulah berbicara sendiri.

Aku tau dia sedang menggunakan alat komunikasi semacam wireless headphone, bedanya..aku tidak melihat alat dikupingnya. Ia berbicara secara bebas entah dimana alat komunikasi berada.

Kendaraan piring terbang itu benar benar aneh, aku sempat menyentuh badan kendaraan itu. Bahan yang digunakan bukan dari besi atau aluminium, bahan ini lembut tapi apabila kita melarikan telapak tangan badan kendaraan itu seperti bersisik mirip sosok ular. Sangat menarik.

"Manto jangan pegang tombol itu!" tiba tiba pak Hasbulah teriak.

Aku tertegun, hampir saja jariku memegang tombol berwarna merah disebelah bawah.

"Kalau kau sentuh ia akan mengeluarkan suara alarm yang sangat kencang, gendang kupingmu bisa pecah"

Waah..gila, rupanya itu alat alarm.

Rutrut memencet sesuatu ditubuh kendaraan dan sebuah pintu terbuka dan mengeluarkan anak tangga ketanah.

"Silahkan naik kedalam" ujar Rutrut dengan suara lembut.

...>>>>>>...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!