Penyerangan pertama

Baru dua hari setelah kepulanganku dari alam Nur Zamata, kemaren ini urusan kontrakan sudah kita selesaikan dan rencananya siang ini akan membereskan semua barang barang, yang perlu kita bawa,meskipun tidak banyak tapi ada beberapa yang akan aku bawa dan yang tidak perlu kami kumpulkan dan buang.

Tiba tiba pada sekitar jam 5 pagi pintu diketuk seseorang. siapakah yang datang? Aku mengambil linggis yang tergeletak dilantai dan Jalan perlahan kearah pintu.

"Sang Nara, tolong bukan pintu..ini Burwa" terdengar suara sedikit berbisik diluar sana.

Pintu kubuka dan benar saja Burwa berdiri sambil tersenyum.

"Maafkan saya pagi pagi mengagetkan" ucapnya pelan.

"Aku kira siapa yang datang..silahkan masuk"

Burwa masuk kedalam sambil melihat kekiri dan Kanan..mungkin ia kaget melihat kondisi rumah yang kecil.

"Ayok duduk..Ada apa Burwa?"

"Aku dapat pesan dari Pak Hasbulah bahwa keberangkatan ditunda sampai 2 Bulan kedepan..saat ini Pak Hasbulah sedang menjemput pasukan kuning untuk datang kesini"

"Pasukan kuning? Ada apakah Burwa?"

"Ada kabar masuk bahwa pasukan Dewi Mas sedang menyiapkan penyerbuan dan penculikan kepada Sang Nara dan Sang Maha Rudini. Kabar ini begitu jelasnya sehingga Pak Hasbulah harus pulang dan membawa pasukan pilihan dari grup pasukan kuning"

"Mohon jangan kemana mana, tetap dirumah..Saya akan ada disini bersama kalian"

"Wah..hampir saja, padahal rencananya aku ingin kerumah ayah,mengambil beberapa foto keluarga"

"Ya sebaiknya jangan kesana..ibu tirimu sudah menyiapkan penyergapan disana, jangan balas kirimkan pesan pendek dari dia..abaikan saja"

"Lalu bagaimana dengan makan dan keperluan lain kita?" tanyaku agak kebingungan, kebetulan karena kesibukan membereskan rumah kami belum sempat membeli makanan.

"Saya akan bantu membelikan, apa yang kalian inginkan akan saya belikan dari warung terdekat..mulai dari sekarang apapun yang terjadi jangan keluar rumah..semua akses masuk sudah saya kunci termasuk juga yang punya rumah ini tidak akan datang kesini"

"Baiklah Burwa"

"Ingat hanya aku yang bisa masuk lainnya tidak, ini sangat penting bagi keselamatan kalian..aku akan datang kesini dengan mengirimkan telepati, dan hanya saya yang bisa masuk kedalam jaringan pikiranmu"

"Baik terima kasih"

Tidak lama Burwa meninggalkan kita, akupun langsung mengunci pintu masuk dari luar sekaligus mengunci pintu belakang dan jendela rumah.

"Kamu dengar apa kata Burwa tadi? perjalanan kesana dibatalkan"

Rini nampak lesu, aku tau ia kangen Raden Parapat. Tapi ya sudahlah mau gimana lagi, semuanya demi keselamatan kita bersama.

Tidak lama kemudian tiba tiba masuk sebuah pesan dari bu Siti.

"Sudah lama kalian tidak mampir kerumah, kebetulan aku masak opor ayam kesukaanmu..ibu tunggu hari ini" pesan itu aku pandang dan perlihatkan kepada Rini.

"Dia mau memperangkap kita mas"

"Ya pastinya, Biarkan..abaikan saja..ayok kita bereskan koper ini"

Semenjak kepergian Burwa sebetulnya sudah ada dua kali orang yang datang, anehnya pertama seorang laki laki dan yang kedua seorang ibu. Aku dan Rini sempat mengintip dari balik korden jendela.

Orang orang itu berteriak dari arah pintu halaman, seakan mereka datang dari kantor pos membawa kirimkan barang.

"Jangan biarkan dia masuk, Burwa sudah mengunci semua akses masuk" ucapku pada Rini.

"Liat..orang itu mencoba mendorong pintu" Kata Rini dari balik korden.

"Tapi mas, kalau ga salah kata Raden..mahluk mahluk itu akan takut sama mas?"

"Ya itu pikiranku..tapi juga sesuai apa yang dikatakan Burwa jangan keluar..ya kita disini saja biar aman"

Aku mencoba mengintip lagi kearah luar, ternyata orang itu sudah tidak ada.

"Eh..kemana dia?"

Dhuaar!

Jantungku terasa mau copot, sebuah benda entah apa memukul dengan sangat keras timbunan bekas kaleng minyak yang memang aku tumpuk dibelakang.

Rini menggenggam kencang tanganku, matanya terbelalak ketakutan..

"Aku datang! Jangan takut aku datang dari depan!" sebuah bisikan masuk ditelingaku.

"Rin! Liat siapa itu!" ucapku ketika melihat Burwa sudah datang dengan bentuk yang asli. Wajahnya menyeramkan, tubuhnya besar sekali. Dalam hitungan detik ia loncat keatas genting, aku bisa merasakan kehadiran Burwa yang membawa aura seram.

Dibelakang terdengar suara kencang seperti ada keributan, bahkan suara suara itu bagaikan dua suara harimau sedang bertarung. Aku dan Rini lari kearah dapur mencoba melihat ada apa dibelakang.

Ternyata Burwa sedang membanting kekiri dan kekanan satu sosok menyerupai tupai tapi berkuku sangat panjang, dua kupingnya nyungkup tinggi keatas. Bulu badannya tebal.

Sosok tupai raksasa itu terlihat kesakitan dan mengeluarkan banyak cairan mirip darah dari mulutnya.

Ahirnya Burwa mengangkat tangan kanan dan menghantamkan kekening mahluk itu, suara benturannya sangat keras seperti sebuah Batu Kali sedang dipecahkan.

Mahluk tupai itu roboh dengan kepala hancur berantakan.

Burwa mengeluarkan sebuah kain yang menyerupai sebuah tas, ia membuka bagian atas dan seperti alat vacuum kain itu menghisap semua darah dan pecahan kepala lawannya.

Tiba tiba ia mengirimkan pesan..

"Aku akan buang mahluk ini kelaut, tunggu aku didalam rumah"

Bagaikan roket luar angkasa ia mengangkat tubuh yang lunglai itu dan terbang keatas langit.

®®®®®

Aku baru sadar dikemudian hari setelah mendapatkan cerita dari Pak Hasbulah bahwa bu Siti, ibu tiriku sedang menyiapkan pasukan Jin tupai hitam dari Gunung Bromo. Dan sosok yang datang dan tempur dengan Burwa adalah sosok yang menembus pertama.

Kurang lebih lima menit Burwa telah kembali dan kini ia telah berubah menjadi seorang laki laki biasa.

Aneh..padahal semua pintu sudah aku kunci, Namun dengan santai ia mengetuk dan membuka pintu.

"Sang Nara sebaiknya kita berangkat meninggalkan tempat ini..kita akan menuju kedekat sungai Cileungsi, disana ada wakil Raden Parapat yang menjaga sungai..sambil menunggu kedatangan pasukan Pak Hasbulah"

"Oh kenapa Burwa?"

"Saya menditeksi pasukan tupai dalam jumlah besar sedang menuju kesini, Sebab mereka sudah merasakan kehilangan salah satu saudara mereka..kita harus berangkat secepatnya..tinggalkan semua disini. Sang Nara silahkan pegang tangan kanan dan Maha Rudini pegang tangan kiriku.

Tidak pakai lama kami seakan naik keatas bak didalam sebuah lift super cepat kami menembus atap ruangan rumah tanpa merusak sedikitpun disana..berarti kita berubah telah wujud menjadi transparan dan halus.

Perjalanan tidak memakan lama, kita diturunkan dipinggir sungai. Aku sempat melihat beberapa wisatawan yang berjalan dengan riang disekitar sungai.

"Tunggu sebentar, saya minta ijin masuk" ucap Burwa.

"Rin..perhatikan..kita telah turun didekat pinggiran sungai tapi tidak satupun orang melihat kita"

"Ia mas, aku juga sedang berpikir gitu, berarti kita menjadi sosok halus"

Lewat beberapa menit Burwa telah kembali didampingi seorang laki laki tua yang mengenakan kain sarung bertelanjang dada membawa tongkat kayu.

"Kita ke Gunung Pancar, menurut Pak tua ini sedang ada hajatan besar disana"

...>>>>>>...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!