Minggu itu memang merupakan minggu yang tidak bisa lupakan seumur hidupku. Rencana untuk berbicara empat mata dengan ayah tiba tiba tidak jadi. Hari itu kami mendapatkan berita buruk.
Ayah kena musibah besar, menuju kembali kerumah dari urusan bisnisnya diluar kota, mobil yang dikendarai tabrakan dengan bis antar kota, semuanya hancur berantakan, kendaraan ayah hancur begitu juga dengan bis kota itu..bahkan beberapa penumpangnya bernasip kritis. Sesuai berita dari kepolisian ayah dilarikan kerumah sakit karena terjadi pendarahan otak.
Dunia rasanya berhenti, belum lagi masalah Rini kini aku harus menerima kenyataan yang tidak kalah pahitnya bahkan sangat tragis.
Aku dan Rini diantar Sofyan teman kuliahku berangkat ke Bogor kerumah sakit dimana ayah dimasukan ke ruang UGD.
Sesuatu keganjilan terjadi, dirumah sakit tidak nampak adanya bu Siti. Padahal waktu kejadian sudah beberapa jam yang lalu.
"saudara putranya?" seorang dokter mendekat ketika kami sudah berada di kounter UGD.
"Sebaiknya cepat masuk dan temui ayahmu, dia berteriak teriak dari tadi mencari anaknya" ucap dokter itu lagi. Tanpa menunggu lama aku menarik tangan Rini mengikuti langkah dokter masuk kesebuah kamar khusus.
"Pak..ya Allah Pak!" aku berteriak ketika melihat tubuh ayahku yang bersimbah darah tanpa mengenakan baju hanya diselimuti sebuah selimut tipis yang juga penuh darah.
"Manto, Rini maafkan bapak..bapak akan pergi selamanya..jaga diri kalian..maafkan bapak"
2 sister dan dokter langsung menginginkan kami dan melakukan pemeriksaan. Aku dan Rini termanggu dipojok ruangan, mataku memandangi sebuah alat pengatur nafas disamping tempat tidur bapak.
Sebuah sinar lampu berjalan pelan naik dan turun dilayar monitor. Hingga beberapa saat kemudian terdengar bunyi suara seperti siulan panjang, dimonitor aku melihat sinar biru itu tidak naik turun lagi, hanya bergerak datar melintas di layar.
"Maafkan kami, bapak sudah tiada" suara dokter terdengar mendekat.
Dunia ini terasa gelap, tubuhku merinding dan merasakan kedinginan. Berat rasanya berdiri dari situ,selanjutnya aku tidak ingat lagi.
®®®®®
Hari itu juga, setelah semua selesai pembersihan dan pengurusan rumah sakit. Jenazah bapak diserahkan kepada kami.
"Bu Siti, Saya akan membawa bapak pulang kekampung hari ini juga akan kami makamkan disana" ucapku kepada bu Siti.
"Terserah kalian saja" jawabnya acuh.
Aneh sekali memang kelakuan wanita ini..dimana rasa kasih sayangnya? Atau mungkin justru ia senang kini bisa mendapatkan semua harta keluargaku?
"Ayo To,kita berangkatkan sekarang sebelum magrib datang" ucap Sofyan dan beberapa teman kuliahku. Siang itu kami bertolak, berangkat dengan 1 ambulan dan diikuti Mobil Sofyan.
Rini duduk lemas disampingku, kami berada didepan dengan driver ambulan.
"Mas.."
"Apa Rin?"
"Apakah kita akan tinggal dikampung?"
"Kita akan kembali setelah pengakaman bapak selesai, tapi aku tidak mau tinggal bersama bu Siti" jawabku.
"Kita akan tinggal dimana?"
"Ayahnya Sofyan punya kontrakan, mungkin kita akan pindah kesana..jangan takut apapun yang terjadi kita akan selalu berdua. Aku akan selalu menjagamu"
Tidak lama aku melirik kearah Rini rupanya ia tertidur. biarlah ia istirahat, pikiranku menerawang..segala macam hal berkecamuk dalam otakku. Langkah apa yang akan aku lakukan? dari hasil simpanan mungkin kita hanya bertahan beberapa hari saja. Bapak tidak sempat meninggalkan wasiat apapun kepadaku.
Dan bagaimana dengan kelanjutan sekolah Rini?
®®®®®
Semua saudara dan tetangga dikampung menyambut kedatangan ambulan dengan rasa sedih. Mereka kaget menerima kenyataan pahit ini.
"Manto dan Rini kalian tinggal dirumah kita ya sampai semuanya selesai setelah itu baru kalian boleh pulang" ucap pade Dodi sebagai kaka tertua dikeluarga bapak.
Acara pemakaman pun berjalan lancar, aku terus menerus berada disamping Rini. Saat itu memang merupakan peritiwa sensitip khususnya bagi Rini. semua seakan hilang, ayah dan ibunya telah tiada dan aku satu satunya kini sebagai pegangan hidupnya.
"Sofyan dan lainnya kalian silahkan kembali saja..Biarkan kami disini sampai besok atau lusa..terima kasih untuk semuanya ya"
"Jaga diri kalian disini, kalo ada apa apa aku dicall..jangan ragu" ucap Sofyan.
"Ya..terima kasih sekali, kalian sangat berjasa bagi kami"
Satu dua hari setelah pemakaman, setelah itu kami tinggal dirumah pade Dodi, Namun karena dirumah itu sudah cukup banyak orang aku katakan pada pade bahwa sebaiknya kita kembali pulang ke Jakarta.
"Bagaimana kalian pulang kejakarta? Apakah akan naik kereta api?"
"Ndak pade..kami mau naik bis aja, sore ini kita berangkat ya"
"Nggih sing ati ati, pade di call kalo sudah sampe Jakarta. Jaga Rini ya, kasian dia"
Jam 5 sore kami sudah berada didalam bis dan sebentar lagi akan bertolak ke Jakarta.
Rupanya penumpang penuh sekali, tidak makan waktu lama semua kursi telah diisi penumpang.
Jam 5.20 bis pun berangkat...terus terang saat itu pikiranku agak kacau, apakah aku harus pulang kerumahku atau langsung menuju kekontrakan Sofyan. Rini sendiri beberapa kali mengatakan ingin pergi jauh jauh dari Sisi ibu Siti..ia trauma dengan segala perilaku kasar dari ibu tiri terhadapnya.
®®®®
3 jam perjalanan, bis kami berhenti disebuah rumah makan untuk beristirahat. Karena perut masih kenyang dan Rini males makan kami hanya duduk diteras rumah makan sambil menunggu penumpang selesai istirahat.
Saat kami menunggu duduk tidak jauh dari kami datanglah seorang bapak dan anak muda yang mungkin seumuran dengan diriku.
"Mau kemana mas?" tegur Pak tua itu.
"Oh balik ke Jakarta pak"
Dari saling menyapa itu ahirnya kita ngobrol, nampaknya Rini juga ikut bicara dan saling ngobrol dengan anak bapak tua itu.
Entah bagaimana perasaanku terpesona dengan gaya bicaranya yang sopan. Ia banyak bercerita tentang keadaan kampungnya yang letaknya tidak jauh dari sini.
"Mas..kita main kerumah mereka yuk" tiba tiba Rini menegurku.
Pada saat yang sama bapak itu juga menawarkan aku untuk bertandang kerumahnya.
"Kita main kerumahku nak, tidak jauh dari sini..sebentar lagi keponakan saya akan datang. Ikut yuk, katanya kamu sedang banyak pikiran.. mending istirahat dulu dirumah nanti kalau sudah tenang bisa bapak antarkan dengan mobil ke Jakarta" ucap bapak itu. Suaranya seperti sebuah ajakan yang tidak dapat kutolak apalagi Rini juga setuju untuk kesana.
Saat itu memang perasaanku sedang gundah, aku malas pulang kerumah menemui ibu tiriku. Apa salahnya main main kerumah bapak yang baik hati ini sambil melepaskan segala perasaan yang tidak menentu.
Tidak lama datanglah sebuah kereta andong, aku melihat kereta itu ditarik seekor kuda yang bukan seperti kuda biasa. Tubuhnya tinggi besar, ototnya terlihat kuat dan rambutnya panjang dan tebal.
"Lho itu Dewo sudah datang ayok kita naik dokar bapak"
Seperti terhipnotis aku mengikuti langkah bapak itu, Rini nampaknya sibuk bercengkrama, kadang kadang mereka tertawa. Hmm..Rini keliatannya senang sekali.
"Ayok Rin, kita main kerumah bapak ini" ajakku.
Jujur, aku senang saja meninggalkan bis yang terparkir disana. Pelan pelan kereta dokarpun meninggalkan area rumah makan.
...>>>>>>...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
tari_wee
tulisan banyak yg typo. jd kadang bingung maksud kalimatnya apa. bs diperbaiki lg ya thor..👍
2023-12-12
1