Kembali pulang.

Aku dan Rini kaget mendengar penuturan Raden Parapat, bahwa secepatnya kita harus kembali. Jujur, aku sangat menyukai keadaan didesa Pudi atau kerajaan Nur Zamata ini. Penduduknya Ramah dan meskipun para prajurit terlihat menakutkan tapi mereka mempunyai sifat yang sangat baik.

Begitu juga dengan Rini, apalagi setelah hubungannya dengan Raden Parapat tambah hari tambah merapat dan mesra. Raden Parapat sebetulnya juga enggan melepaskan Rini, tapi ia mengatakan bahwa keamanan dan keselamatan kerajaan dan juga aku dan Rini maka misi ini harus kita lakukan secepat mungkin.

Raden Parapat tidak memberitahukan bahwa pada pagi yang sama itu, ketika ia selesai melepaskan kita masuk kedunia nyata..saat itu juga telah dipanggil patih Narda kedalam ruang pertemuan.

"Sang Naka kita akan bertolak berangkat dalam waktu setengah jam lagi, mana adinda Rini?" Tanya Pak Hasbulah.

"Tadi pagi seperti biasa datang kesini petugas Istana membawa Rini untuk sarapan pagi bersama Raden"

Baru saja aku berkata, tiba tiba muncullah adikku bersama Rutrut dan juga seorang dayang lainnya.

"Wah sudah pada nunggu ya,." ucap Rini seperti biasa dengan wajah malu malu.

"Mana Raden Parapat?" Tanya Pak Hasbulah.

"Raden memerintahkan kita untuk segera berangkat,karena rombongan kecil patih Narda sudah memasuki ruang pertemuan..Saya juga melihat ibu Suri istri patih Narda ikut dalam Acara pembicaraan " ucap Rutrut.

"Oo..cepat sekali mereka datang..hmm ibu Suri juga diikutkan..oke ayok Rutrut siapkan kereta..semua anggota tim dipersiapkan..kita berangkat sekarang"

"Pak, kami ganti pakaian dulu?"

"Hehe..ketika kalian naik keatas Bukit, semua pakaian kalian akan berubah..jangan kawatir"

Aku bingung mendengarkan penuturan itu..padahal pakaian yang kukenakan ini seperti menempel kencang ditubuhku. Rini hanya mengangkat kedua bahunya.

"Sebentar..Rutrut kontak ke kepala prajurit Burwa, aku Minta ijin Burwa diikutkan dengan kita hanya sebagai jaga jaga saja"

"Tapi bagaimana dengan penampilannya Pak?" ucapku panik.

"Hmm..kamu akan liat,ketika kita selesai Naik bukit ia akan berubah..kita liat nanti bagaimana wajahnya, aku juga penasaran..Rutrut panggil cepat Burwa ya"

®®®®®

Aneh sekali, kereta dokar yang kita tumpangi sewajarnya hanya cukup empat orang berdempetan karena memang ukurannya seperti dokar biasa.

Tapi, selain aku,Rini dan Pak Hasbulah masuk juga 2 dayang pak Hasbulah belum lagi sang kusir yang disebut sebagai keponakannya.

kami lenggang dan enak duduk didokar,bahkan aku bisa meluruskan kaki kakiku.

Tidak lama terdengar seekor kuda berlari dari belakang, ternyata Burwa yang ada diatasnya, kuda itu sangat tinggi dan besar..ketika ia berjalan disamping dokar, aku hanya bisa melihat sebelah paha kaki Burwa dan tubuhnya tidak terlihat. Berarti kuda ini sangat besar melebihi tingginya dokar.

"Oke..kita berangkat!" teriak Pak Hasbulah.

Ketika sudah mendekati gerbang tinggi luar Istana,kuda Burwa melesat lebih dulu didepan..benar saja aku melihat seekor kuda hitam yang sangat besar berlari kedepan.

"Biarkan Burwa mengurus ijin keluar kita ikuti dari belakang" ucap Pak Hasbulah.

Pintu gerbang didepan sana terbuka secara perlahan, Pak Hasbulah sedikit berdiri dan memberi hormat kepada penjaga gerbang. Terdengar suara siulan pendek diatas gapura gerbang. Dokar kamipun bergerak cepat melintasinya.

Suasana diluar Istana ternyata berbeda dengan suasana ketika kita pertama kali masuk..diluar sini aku tidak melihat pepohonan hanya awan saja sekeliling kita, bahkan terkesan mendung.

"Sebentar lagi kita akan naik..nak Manto dan dik Rini Mohon pegang baju belakang bapak" ucap Pak Hasbulah..hmm aneh namaku dan Rini disebutkan tidak memakai nama kebesaran hanya nama biasa saja.

Kuda dokar meringkik ketika melihat kuda Burwa mulai menanjak keatas awan yang mendung. Tidak lama dokar kamipun naik dengan kencang, melewati awan awan berwarna biru dan ungu. Disetiap lompatan kuda kuda kita meringkik seakan kegembiraan. Aku dan Rini memegang kencang kain baju belakang Pak Hasbulah.

Lewat beberapa menit, awan mendung itu pelan pelan sirna dan pepohonan mulai menampakkan diri disepanjang kiri dan kanan jalan, dokar kami seakan berjalan lurus dan tidak menanjak lagi.

"Salam untuk rombongan Sang Naka" tiba tiba dari sebelah samping kanan seekor kuda ditunggangi seorang priya berjalan.

"Burwa?" Tanya Pak Hasbulah.

"Iya patih, saya Burwa" ucap laki laki muda itu.

Wajah dan tubuhnya telah berubah, ia tidak setan lagi bahkan sewajarnya saja seperti orang desa biasa. Benar Kata Pak Hasbulah Burwa telah menjadi manusia biasa.

"Saya ikut dari belakang" ucap Burwa sambil menarik sadel kudanya, kuda itupun berbentuk kuda biasa, tingginya tidak besar.

Aku melihat ke pakaianku dan Rini, ternyata kita juga sudah mengenakan pakaian yang waktu pertama kita bertemu dengan Pak Hasbulah. Entahlah kemana pakaianku yang tadi.

"Sukurlah..kita menuju kerumah dulu" ucap Pak Hasbulah kepada keponakannya yang menjadi kusir.

®®®®®

"Kita akan bertolak ke Jakarta dalam waktu setengah jam, biar keponakanku membawa kita ke tempat makan dimana aku menemukanmu dulu" Kata Pak Hasbulah sambil menurunkan sebuah tas yang memang ia bawa dari istana.

"Rutrut dan lainnya tinggal disini, kalau ada panggilan dari aku secepatnya mencari kita, Burwa juga jangan ikut..kalian semua bersiap disini" lanjutnya.

Setelah istirahat sebentar, kamipun bertolak keluar dari rumah Pak Hasbulah. Nampaknya cuaca tidak bersahabat, hujan rintik mulai turun dan petit mulai menyambar.

Pak Hasbulah melihat kearah langit, ia tersenyum.

"Itu bukan petir yang biasa..rupanya mereka sudah mengendus kedatangan kita..tidak apa,mereka tidak akan bisa menemukan kita..Ayo kita Naik ke dokar"

Selama perjalanan kerumah makan hujan mengguyur dengan deras, Pak Hasbulah menutup sisi kiri dan kanan dengan korden bambu agar air tidak masuk.

"Permainan anak kecil hehe" ia menggumam.

Disana, dirumah makan yang dituju ternyata Ada dua bus yang sedang parkir. Pak Hasbulah memberi isyarat agar mendekat kesalah satu bus.

"Kita turun dan duduk didalam" ucapnya.

Diruang dalam ternyata penuh dengan penumpang yang sedang makan,kami mengambil tempat duduk yang tersisa.

"Makan Pak?" Tanya seorang pelayan.

"Oh..tidak mba kami numpang duduk saja karena hujan"

"Silahkan Pak" wanita paruh baya itu kemudian meninggalkan kita.

"Kalian tunggu disini"

Rupanya Pak Hasbulah mendekati seorang laki yang sedang makan, mereka berbincang bincang sebentar..terlihat Pak Hasbulah mununjuk kearah kita.

"Oke kita ikut bis ini, kebetulan tujuannya kearah Kebayoran lama..kita ikut sampai sana"

Tidak lama kemudian laki laki yang tadi diajak bicara datang.

"Silahkan bapak dan anak anak masuk kebis sebelum yang lainnya masuk"

Kita langsung mengikuti dan ternyata mendapatkan tempat duduk paling belakang.

"Lumayan..bisa duduk barengan" Kata Pak Hasbulah.

"Apa akan ada penumpang duduk disini Pak?"

"Tidak akan..tempat ini sudah bapak kunci"

lewat lima belas menit,semua penumpang naik..aneh, semuanya nampak diam tidak berbicara. Mereka hanya mengambil tempat duduk masing masing secara teratur tapi diam seribu bahasa. Ini sebetulnya aneh, tapi ya sudahlah...

Ditengah derasnya hujan bus bergerak meninggalkan rumah makan. Aku menatap sekeliling dalam bis, mulai dari supir bis para penumpang hingga adikku Rini, ia nampaknya sangat letih..Rini langsung tertidur dengan pulas.

Entah kenapa selama perjalanan kaca jendela bis terlihat penuh embun, begitu tebalnya embun hingga aku tidak bisa melihat keluar. Aku menatap setiap penumpang, karena lampu dalam bis dimatikan maka hanya samar samar yang bisa kuperhatikan. Semua penumpang keliatannya merasakan kelelahan, mata mereka semua tertutup, seakan tertidur dengan lelapnya...

...>>>>>>...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!