Setelah berjalan beberapa menit, perjalanan dokar belok kekanan keluar dari Jalan raya. Kereta kuda berjalan disebuah jalan kecil, aku merasakan guncangan ketika roda kereta melewati beberapa batu batu kerikil.
"Tidak ada penerangan jalan disini ya pak?" tanyaku.
"Iya, memang lampu jalan belum dipasang didaerah sini.. tapi jangan takut, kuda bapak sangat pintar dia tau arah mana dituju hehehe..oya sampai lupa nama saya Hasbulah dan ini anak saudara saya Marwan"
"Oh ya Pak, Saya Manto biasa dipanggil Gandung..tapi panggil saja Manto dan adik saya Rini" jawabku sambil mencoba melihat kekiri dan Kanan jalan.
Daerah itu sepi sekali bahkan tidak ada suara jangkrik atau binatang apapun. Sore berganti malam, keadaan menjadi gelap gulita hanya bayang bayang pohon besar sekeliling dokar kita.
Tidak berapa lama pak Hasbulah menunjuk kedepan.
"Lho..itu Darmawan mau kemana?" tiba tiba ia berkata. Aku memandang kedepan namun tidak melihat siapa siapa disana. Bingung juga siapakah yang dimaksud dengan Darmawan?
"Kita berhenti sebentar dipinggir Jalan..biar dia lewat" ucap pak Hasbulah kepada sang kusir.
Kami menunggu dipinggir Jalan, benar saja tidak lama kemudian sebuah kereta berwarna gelap datang dari arah depan. Aneh juga bagaimana bisa pak Hasbulah tau bahwa ada kereta akan datang padahal dari tadi tidak nampak apa apa.
Terdengar suara lonceng dari kereta gelap yang mendekat. Pak Hasbulah juga memukul lonceng kereta yang berada didekat kusir.
Kereta itu terus mendekat hingga berhenti pas didepan keretaku. tadinya aku tidak bisa melihat siapakah yang mengemudikan kereta gelap itu. Sebuah tangan tiba tiba menjulur dan menyalahkan lampu minyak didepan. Saat itulah aku melihat seseorang yang duduk mengenakan baju serba hitam, sebuah topi semacam topi koboi dikenakan dikepalanya.
"Wah darimana dan mau kemana Pak?" terdengar suara dari depan.
"Dik Darmawan mau kemana? Kami dari tegalan jemput tamu" jawab Pak Hasbulah santai.
"Oh tamu ya? Saya mau ambil pisang didepan, Raden minta diambilkan setandan untuk pelumasan mesinnya"
"Oh ya..silahkan, hati hatii banyak bis dijalan"
"Ya pak, Mari pak saya kedepan dulu"
"Silahkan..Nanti main kerumah ya"
Kereta dokar itupun bergerak kembali, dan kamipun bergerak kedepan. Kok bisa ya Pak Hasbulah mengetahui bahwa pengendara dokar itu bernama Darmawan, dari mana dia bisa tau?
Kami bergerak terus masuk kedalam area yang keliatannya seperti semak belukar. Setelah melalui dua belokan, pak Hasbulah minta keponakannya menghentikan dokar.
"Kita sudah mau masuk desa, kamu liat itu?" ucap Pak Hasbulah sambil menunjuk kedepan.
Wah..ternyata didalam sana terlihat terang sekali, seperti keadaan disebuah desa yang ramai penduduknya. Bahkan setiap rumah nampak terlihat asri, tenang dan bersih dan disetiap rumah ada penerangan lampu yang cukup terang. Aneh juga disana listrik sudah masuk lalu kenapa Jalanan gelap semua?
"Oh ya pak, itu desa bapak apa namanya pak?"
"Desa Pudi namanya..ayok kita masuk..rumah bapak ga jauh"
Entah bagaimana tapi perasaanku senang dan damai melihat keadaan desa itu, yang lebih menarik seakan diriku terpanggil untuk masuk kedalamnya.
Aku menoleh kebelakang kearah Rini. Nampaknya wajah adikku juga gembira, padahal sebelumnya ia selalu sedih dan tidak bergairah. Aku melihat Rini tersenyum seakan tidak sabar untuk cepat cepat kedesa itu.
Langkah kuda kini bergerak cepat, kuda ini seakan gembira memasuki desanya. Ekornya bergerak mengibas kekiri kanan, beberapa kali kuda itu meringkik seperti kegirangan. Hehe lucu juga melihat kelakuan binatang ini.
"Pegangan kesini nak Manto dan dik Rini..jalanan akan turun kebawah hehe" tiba tiba Pak Hasbulah berkata.
Aku tidak terlalu menghiraukan apa yang dikatakan Pak Hasbulah..paling ya jalan turunan biasa..Namun....apa yang terjadi? Setelah dokar berada diatas Jalan yang berbukit tiba tiba dihadapan kita Jalan menukik tajam kebawah. Saking tajamnya turunan itu pantatku bergerak kedepan! Langsung aku memeluk tubuh pak Hasbulah.
"Rin! Pegang sesuatu!!" teriakku sekencangnya.
Dokar turun dengan deras kebawah! Pandangan menjadi buram, kemanakah kita berjalan?! Posisi dudukku terasa seperti sedang berada di rollercoaster yang menukik tajam kebawah. Aku sempat memicingkan mataku mencoba menangkap apa yang sedang terjadi dan ternyata pohon pohon disamping jalan sudah tidak nampak hanya kelebatan cahaya yang bergerak cepat. Apakah kita sedang bergerak dalam sebuah tabung raksasa? Entahlah...yang jelas kita sedang meluncur dengan cepat!
®®®®®
Tiba tiba aku merasakan kereta melaju dalam posisi mendatar, tubuhku terasa normal kembali. Kumulai membuka mata, Oh ternyata kita sudah berada disebuah desa. Rumah rumah penduduk berjejer rapih disamping jalan.
"Rin, kamu tidak apa apa?"
"Aku oke saja mas, dari tadi aku dipegang mas Marwan" jawab Rini sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaan tanganmu?"
"Sedikit menyengat tapi tidak masalah"
Pak Hasbulah menengok kebelakang dan memperhatikan tangan Rini yang tergantung dibalutan kain putih.
"Ya sebetulnya bapak dari tadi ingin tanya apakah tanganku patah?" Tanya Pak Hasbulah.
"Tangan saya tidak patah, tapi empat urat syaraf yang putus" jawab Rini.
"Oh Baik, nanti bapak sembuhkan..sekarang kita menuju kerumah dulu ya"
Aku agak kaget mendengar perkataan pak Hasbulah. apa iya dia bisa menyembuhkan tangan Rini? Atau mungkin pak Hasbulah mempunyai ramuan herbal..mungkin saja itu maksudnya.
Beberapa rumah telah kita lewati, ada beberapa keganjilan disana..tapi sebelum itu aku sempat menoleh kebelakang dokar. Penasaran, bentuk Jalanan apakah tadi? Kenapa begitu curam?
Namun kabut dan gelap malam menyelimuti suasana, disana hanya terlihat kegelapan belaka..
Rupanya Pak Hasbulah memperhatikan diriku yang menoleh kekanan dan kiri. Rumah rumah itu nampak biasa seperti layaknya rumah didesa desa tapi...sudah dua kali aku melihat sisi samping rumah, disana terlihat ada semacam ruangan garasi. Yang mengagetkan didalamnya terparkir benda yang mirip sebuah piring terbang.
"Pak.."
"Ya nak Manto ada apa?"
"Apakah yang ada didalam garasi garasi itu?" tanyaku sambil menunjuk kearah benda piring terbang yang ukurannya sedikit lebih besar dari kendaraan Alphard.
"Ooh itu..hehe, nanti bapak jelaskan..oke didepan belokan itu rumah bapak" jawabnya sambil menunjuk kedepan.
Kuda dokar itu begitu gembira memasuki halaman rumah pak Hasbulah, dua kali ia meringkik ekornya dikibaskan.
"Haha..Si kumbang gembira sekali" ucap pak Hasbulah.
Aku mencoba memperhatikan sisi rumah dan ternyata tidak kujumpai garasi seperti rumah rumah tadi.
"Ayok..kita turun"
Dua orang yang kurasa para pembantu rumah keluar dari dalam dan menghaturkan salam dengan menyatukan dua telapak tangan mereka.
Jadi keanehan lain terjadi disini, bukan lagi tentang garasi dan kendaraan aneh tapi mengarah kepada dua pembantu rumah tangga ini.
Mereka memakai kain sarung yang Indah tapi aku bisa melihat didalam sarung mereka memakai celana panjang tipis berwarna putih. Rambut mereka panjang sebahu tapi tersisir rapih.
aku kaget melihat keduanya memakai alat semacam headphone dikuping dan sebuah cahaya kecil selalunya berkelap kelip.
"Tolong bawakan koper mereka dan antar kekamar tamu ya" ucap pak Hasbulah.
Keduanya membungkuk dengan gaya penuh hormat. Siapakah pak Hasbulah ini?.Dan kenapa para pekerja itu memakai alat headphone yang canggih?...
...>>>>>>...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments