Istana Raden Parapat.

kami memasuki ruangan yang cukup besar, aku melihat tidak ada mebel apapun ditengah ruangan. Lantainya seperti terbuat dari batu kali, hitam berkotak kotak dan mengkilap. Ternyata tempat duduk posisinya menempel ditembok mengelilingi ruangan yang berbentuk bundar.

Disebelah kanan ada sekitar sepuluh sosok bertubuh jangkung duduk saling berbincang. Pakaian mereka mirip orang orang Minangkabau, aku tau karena pernah menghadiri teman yang nikah, penari penarinya berpakaian demikian.

Sebelum kami duduk salah satu dari rombongan itu mendekat, ia menyapa Pak Hasbulah dan kedengarannya memakai bahasa yang asing, suara mereka terdengar aneh.

"Mas..bau kemenyan ya" ucap Rini

"Iya, aku baru mau ngomong" jawabku.

Ruangan itu memang mengeluarkan bau kemenyan, tapi baunya manis mirip manisnya bau cengkeh campur bau tanaman sereh.

Sesekali orang yang berbincang dengan pa Hasbulah melirik kearah aku dan adikku, nampak ia menganggukan kepalanya berkali kali.

Tidak lama kemudian sosok wanita penerima tamu yang berpakaian serba hijau tadi masuk kedalam ruangan, ia menundukkan kepala seraya memberikan salam hormat.

"Sebentar lagi ada suara bell, silahkan panjenengan semua menuju ke balai pertemuan. Rombongan paduka patih Lamersih yang didepan setelah itu bapak Hasbulah mengikuti dibelakang nya"

Sosok tinggi yang ternyata bernama patih Lamersih menundukkan kepalanya.

"Apakah rombongan patih Delingau sudah pulang?" Tanya patih Lamersih.

"Oh Ada patih Delingau disini?" Tanya pa Hasbulah.

"Sudah patih, mereka baru saja masuk.."

Pak Hasbulah kembali ketempat duduk samping diriku. Agak bingung aku sempat menanyakan siapakah mereka itu.

"Mereka adalah para wakil kerajaan dari kalimantan. Satu saat kita kesana, sebuah negeri yang maha canggih tapi masih kalah tua dengan kerajaan kami ini dan patih Delingau yang bapak tanya tadi adalah dari kerajaan Sumatra, mereka mempunyai tempat kerajaan yang sangat Indah dan luas"

Rini menengok kearah kaca jendela yang ada dibelakangnya ia terkejut sembari menarik lenganku.

"Mas..liat"

Akupun menengok dan kaget juga, diluar sana empat kapal terbang berbentuk segi tiga mengapung diudara siap melakukan terbang. Tiga lampu berwarna merah kelap kelip diujung sayap sayapnya.

Tapi yang paling mengagetkan disetiap sisi kapal melayang layang sosok laki laki dengan dua tangan mereka direntangkan dari kedua matanya keluar semacam sinar putih. Sinar itu seperti menyemprotkan sesuatu kepada tiga pesawat segi tiga itu.

"Itu kendaraan patih Delingau yang sedang dipersiapkan untuk perjalanan agak jauh, yang terbang mengelilingi itu para tehnisi sedang mensterilkan kendaraan" bisik pa Hasbulah.

"Waah hebat" ucapku.

"Ini, pakai sarung ini..ikatkan yang rapih sebentar lagi kita dipanggil"

Dua buah kain sarung berwarna merah keemasan diberikan. Aneh ketika aku menggulung bagian dekat puser tiba tiba kain ini mengikat sendiri dengan kencang.

Tidak lama terdengar suara seperti siulan, rombongan patih Lamersih berdiri dan berbaris bak tentara, pa Hasbulah juga ikut berdiri berjalan kearah paling belakang rombongan Lamersih.

Aku sempat perhatikan pakaian yang dikenakan rombongan patih Lamersih. Ternyata hanya patih Lamersih yang mengenakan kain menutupi celana Putihnya. Lainnya semua mengenakan pakaian seperti terbuat dari kain sutera tipis berwarna ungu. Otot otot pergelangan tangan para pengikut sang patih terlihat menonjol dan besar,layaknya para olahragawan.

®®®®®

Satu persatu kami keluar dari ruangan, didepan patih Lamersih ada empat sosok wanita mengenakan kain kebaya. Tidak ada satupun dari mereka terlihat tua, semuanya muda dan cantik cantik. Mereka membawa sebuah baki yang dipenuhi dupa. Bau dupa menyerebak kemana mana, suasana magis sangat terasa.

Aku gandeng tangan kanan Rini, telapaknya terasa dingin.

"Rin..kamu tidak apa apa?" bisikku.

Ia menggelengkan kepalanya, sesekali melihat kekiri dan kanan. Akupun demikian, disetiap pojok ruangan berdiri 2 orang semacam prajurit, semuanya memegang semacam tombak panjang , ujung tombak itu menyala semacam ada lampunya.

Diujung jalan kami diberhentikan penjaga. Ia menyerahkan sebuah gelang yang harus kita pakai.

Gelang itu terasa hangat dikulit tangan namun memberikan efek tenang.

"Ini harus kalian pakai untuk masuk kedalam ruangan karena didalam hampa udara, agar kalian tetap berpijak dilantai dan sekaligus untuk mensterilkan tubuh kita dari bakteri bumi" bisik pa Hasbulah.

Aku dan Rini terkejut ketika masuk kedalam ruangan, suara gamelan dengan nada pelan menggema. Suasana sakral sangat terasa ketika kami memasuki ruangan.

Berbagai macam suara yang tadinya riuh rendah tiba tiba menjadi hening ketika rombongan patih Lamersih melangkah masuk.

Ternyata didalam ruangan yang super besar itu sudah ada berpuluh puluh tamu yang sedang berbincang bincang disana.

Selanjutnya rombongan patih Lamersih diperintahkan untuk duduk dikursi yang disediakan ditengah tengah para tamu.

Kamipun ikut diperintahkan duduk, Namun tempat kami duduk berbeda. Kami didudukan disebuah tempat semacam altar, berada agak tinggi dari rombongan patih Lamersih.

Pak Hasbulah memerintahkan Rutrut dan lainnya yang juga sudah masuk untuk duduk dibelakang rombongan patih Lamersih.

Suara gamelan tiba tiba menjadi riuh, lantunan dan pukulan gamelan itu mengingatkanku kepada suara gamelan orang Bali, kencang dan gegap gempita.

Setelah gamelan itu dipukuli dengan irama kencang kemudian berhenti ketika terdengar sebuah suara siulan bernada tinggi, suara Gong kemudian terdengar dipukuli 3 Kali berturut turut.

Dari balik sebuah ruangan keluar sosok tua berjalan pelan, Pak Hasbulah mengatakan bahwa itu adalah Resi zakunda sebagai kepala keagamaan disusul langkah seorang laki laki yang umurnya tidak jauh dari umurku.

Ia kaki laki muda itu, mengenakan pakaian putih putih semacam kain dari sutera, setiap Kali ia bergerak kepulan asap putih melayang layang keluar dari tubuhnya.

Dikepalanya terlihat sebuah tali seperti dari kulit binatang, dikeningnya ada sebuah permata yang bersinar. Indah sekali. Auranya sangat anggun dan berwibawa.

®®®®®

Beberapa saat bapak tua Resi Zakunda memberikan kata penyambutan dengan bahasa aneh dan asing. Namun yang agak sedikit aneh adalah beberapa kali beliau menunjuk jari jarinya kearah aku dan adikku duduk.

Setiap Kali ia menunjuk kearah kami, Pak Hasbulah menganggukan kepala seakan setuju, kulihat beberapa kali Pak Hasbulah melepaskan senyum seakan akan ia bangga.

Resi Zakunda mengambil posisi duduk disamping priya muda berwibawa itu.

Priya itu men dehem dan ia bangkit dari duduknya, ia perintahkan rezi Zakunda sesuatu dan bapak tua itu berdiri mendekati tempat aku duduk.

"Biarkan apa yang akan ia lakukan, tidak apa apa" bisik Pak Hasbulah.

Rezi Zakunda meletakkan salah satu jari kekeningku dan juga ke kening adikku.

"Sekarang kalian bisa mendengar, mengerti dan berbicara bahasa kita. Untuk seterusnya kapan saja masuk daerah kami, kita bisa memakai bahasa ini" ucap Pak Hasbulah.

Aneh..benar saja, setelah keningku disentuh aku langsung bisa mendengar semua ucapan yang dibicarakan disana.

"Terima kasih bapak Resi" ucap laki laki berwibawa itu.

Ia berdiri dialtar, dan memberikan salam kepada semua yang hadir.

"Hari ini kita kedatangan tamu yang sangat istimewa, selain kedatangan rombongan patih Lamersih kita juga kedatangan patih Hasbulah. Dua patih hebat, satu dari kerajaan Saranjana dan satu lagi patih penjaga keseimbangan dunia" ucap laki laki muda itu.

Aku kaget..haah?? Jadi..kerajaan Saranjana yang sering diributkan orang di youtube itu benar benar ada?? Ini gila!

...>>>>>>...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!