Sosok hitam.

"Kita masih punya waktu sedikit, bapak akan ajak kalian melihat beberapa prajurit yang menjaga menara utara, kita bisa liat dari atas tembok itu" ucap Pak Hasbulah.

Aku penasaran, langsung mengajak Rini mengikuti langkah Pak Hasbulah. Kami menaiki sebuah anak tangga yang terbuat dari batu batu kasar. Lebar anak tangga itu kurang lebih empat meter cukup Luas untuk sebuah mobil kecil lewat.

Rupanya menara utara adalah sebuah penjagaan pos dimana dapat dipakai juga sebagai tempat pengintaian. Diatas menara itu berdiri 2 penjaga, masing masing membawa busur panah. Rambut mereka panjang sebahu, nampak gagah sekali.

"Manto..kamu lihat dibawah sana" Kata Pak Hasbulah sambil menunjuk kesebuah pos penjagaan.

Jantungku terasa berhenti, tangan Rini tiba tiba menarik pinggangku.

"Mas! Aku takut!" ucap Rini sambil menutup wajahnya.

Didepan pos penjagaan berdiri 4 sosok besar, dari balik jubah yang mereka kenalkan muncul ekor panjang yang mirip ekor buaya. Wajah mereka seperti wajah kadal atau binatang Komodo namun berbadan manusia.

tanpa pemberitahuan Pak Hasbulah melayangkan lambaian tangannya kesalah satu dari mereka yang berdiri dibawah sana. Satu sosok penjaga melihat lambaian tangan Pak Hasbulah langsung meletakkan benda yang ia pegang.

"Kalian jangan takut dengan penampilan mereka, lama lama kalian akan terbiasa..Saya memanggil mereka kesini agar kalian bisa liat sendiri"

Rini langsung berdiri dibelakang tubuhku, wajahnya ia letakkan dipunggungku. Sebetulnya akupun takut, tapi aku mencoba memberanikan diri.

Sosok besar itu merentangkan kedua tangannya, dengan ringannya ia naik keatas mengapung dan terbang dengan kecepatan lamban kearah tempat kita berada.

Ketika sampai dan mendarat pun gerakannya begitu ringan, ia turun seperti sebuah rocket yang mendarat dibulan.

"Salam hormat patih saya sampaikan" ucapnya sambil menundukkan kepalanya dan meletakkan tangan kanan didadanya.

"Terima kasih Burwa" jawab Pak Hasbulah sambil menepuk pundak mahluk menyeramkan itu.

"Ada yang bisa saya bantu?" suaranya berat dan serak.

"Ini perkenalkan Sang Nara Pusaka yang sedang ramai dibicarakan..kamu mendapat kehormatan bisa bertemu langsung dengannya.

Sosok itu langsung jongkok dan memberi hormat.

"Maafkan hamba yang hina ini"

Pak Hasbulah melirik kearahku sambil mengerdipkan satu matanya.

"Oh tidak apa apa, saya senang berkenalan dengan anda..berdirilah" ucapku.

"Siapakah namamu hai kepala penjaga?" Tanya Pak Hasbulah.

"Saya, Burwa bakar tali patih dari regimen utara"

"Oh ya Bakar tali, manto kamu boleh melihat lihat dari dekat, jangan takut"

Aku memberanikan diri untuk melihat dari dekat wajah Burwa bakar tali, ternyata benar wajahnya berupa wajah binatang Komodo namun kulitnya bersisik seperti ular. Selama aku memperhatikan sosok Bakar tali, Rini terus berada dibelakangku.

"Maafkan adikku ini..Rini keluarlah"

Pelan pelan Rini melepaskan dirinya dari punggungku meskipun kedua tangannya menggenggam tangan kiriku dengan keras dan erat.

"Aku tidak berani lama lama mas, aku takut"

"Maafkan saya apabila menakutkan" ucap Bakar tali sambil menundukkan kepalanya.

Mendengar itu Rini jadi agak berani, ia meminta maaf juga. Cairlah suasana..

Tidak lama datanglah seorang dayang memberitahukan bahwa sebentar lagi Raden Parapat akan datang. Setelah memberikan salam Pak Hasbulah mempersilahkan kepala penjaga berwajah Komodo itu kembali keposnya.

"Ayok..kita semua masuk kedalam" ucapnya memberi aba aba.

Layaknya bertemu dengan seorang kepala negara aku agak sedikit gugup.

"Rin, aku sudah rapih belom?"

"Oke sudah mas"

"Sebentar..aku ke toilet dulu, Pak..toilet dimana?"

"Oh ya..kamu Jalan lurus terus belok Kanan..disana ada ada 3 kamar..kamar terahir belok kekiri"

®®®®®

Entah aku gugup atau hanya ingin buang air kecil..tapi yang jelas semenjak acara penyambutan tadi aku kebelet kencing.

Aku berjalan lurus dan di ahir Jalan belok kekanan seperti yang dikatakan Pak Hasbulah. Suasananya nampak sepi, meskipun masih pagi tapi sepi dan hening..pas kamar ke 3 aku liat ada gambar laki laki sama seperti yang ada didunia pasti ini toilet priya, pintu aku buka.

Dinding kamar itu dipenuhi oleh kaca kaca besar, namun tidak ada tempat kencing aku bingung dimana musti kulakukan? Beberapa tombol besar terlihat didinding.

Apakah aku harus menekannya? Aku sudah kebelet sekali,.tanpa ragu aku menekan salah satu tombol..benar saja, sekali kutekan dinding itu terbuka dan rupanya dibelakang dinding itulah letaknya toilet.

Dengan rasa lega aku melepaskan air seni ku, Namun ada sebuah kejadian tidak akan pernah kulupakan..ketika sedang ditengah tengah kencing aku melihat sekelebat bayangan seseorang dikamar belakangku.

Aku sempat menoleh kebelakang, tapi tidak ada seorangpun yang ada..Bulu kudukku sempat berdiri, suasana ruangan yang sepi menambah situasi menjadi aneh.

Selesai aku kencing kini giliran mencari air keran..kembali aku bingung, dimana tempat cuci tangan? Ketika aku mencari cari keran air, dipojok ruangan sana satu sosok mahluk entah mahluk apa sedang mengintip dari balik tembok!

Tanpa pikir panjang aku bergegas keluar..meskipun aku sudah diluar namun perasaanku sosok tadi mengikuti dari belakang.

"Sukurlah ketemu bapak lagi" ucapku ketika masuk kedalam ruangan tunggu.

"Lho ada apa? Ko mukamu pucat?"

"Pak..tadi waktu aku ketoilet..aku liat ada sosok yang mengintai diriku..siapa ya?"

"Hmm..coba bapak liat, kalian disini saja"

Kejadian tadi sempat kuceritakan ke Rini..

"Ah mas jangan nakutin aku dong"

"Maaf Rin..Ga apa apa Pak Hasbulah sedang memeriksa"

Tidak berapa lama Pak Hasbulah kembali, ia mengatakan tidak ada apa apa disana..beliau mengatakan mungkin aku halusinasi saja karena suasana toilet yang hening.

Aku berani sumpah, tadi aku melihat sosok yang berdiri dibalik tembok menatap diriku..lain Kali sebaiknya aku membawa kunci keramat, kemanapun aku pergi.

"Rin, Kotak kunci ada dikamu?"

"Oh ya..ini mas"

Hmm siapa ya tadi yang muncul disana..

®®®®®

"Patih..Raden Parapat berjalan menuju kesini" Kata seorang penjaga pintu.

"Baik..kami tunggu disini"

Jantungku berdebar..aku menggenggam tangan adikku, rupanya Rini juga punya perasaan yang sama.

Pintu terbuka..Raden Parapat masuk sambil merentangkan kedua tangannya.

Sosok pemimpin ini sangat berwibawa, aura magis terpancar dari setiap gerakannya. Namun dari semua yang paling menarik adalah ketika Raden Parapat berulang kali melirik kearah Rini.

Aku tau perasaan laki laki, lirikan dan senyum yang dilontarkan Raden Parapat terhadap Rini berbeda..apakah ia menyukai adikku?

"Sang Nara..apakah boleh saya mengajak adikmu jalan jalan dikebun?" Tanya Raden Parapat.

Aku terkejut, tapi kucoba menyembunyikan keherananku..aku menoleh kearah Pak Hasbulah ia nampak tersenyum.

"Silahkan Raden..silahkan.." jawabku.

"Baiklah..kalau begitu saya mohon ijin mengajak Sang Nara melihat lihat beberapa kamar disini" ucap Pak Hasbulah.

"Ide yang bagus patih..silahkan, bahkan bawa beliau keruangan pos militari di sisi kiri gedung ini"

Wah..pos militer? Menarik sekali..biarlah Rini jalan jalan bersama Raden Parapat..aku akan eksplore Istana ini lebih dekat lagi.

...>>>>>>...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!