Sebetulnya ketika aku dan Pak Hasbulah sedang berada dipos militer, pada saat yang sama Rini dibawa Raden Parapat jalan jalan mengelilingi kebun bunga disebelah selatan istana.
Hal itu diceritakan Rini ketika ia kembali dari sana. Rini menceritakan bahwa ia diajak Raden Parapat kearah ujung taman dimana disana ada sebuah menara yang sangat tinggi. Ia menceritakan bahwa dengan naik sebuah lift, mereka naik keatas. Yang menjadi keanehan adalah tingginya menara itu, Rini masih ingat angkat dilayar kaca panel memperlihatkan angkat 130.
"Disini tidak ada penjaga aku minta mereka kebawah" ucap Raden Parapat kepada Rini.
Ternyata dari atas menara itu mereka bisa melihat seluruh area kerajaan Nur Zamata. Hmm mungkin saja Raden Parapat sedang memamerkan kebesaran kerajaannya. Rini mengatakan bahwa ada sekitar 3 menara yang sama tingginya dipojok pojok istana.
Rini megatakan bahwa ia sempat melihat ada sekitar sepuluh kendaraan melesat dengan cepat diudara dari arah istana keujung langit sana dan menurut Raden Parapat itu adalah rombongan tamu yang meninggalkan Nur Zamata.
Rini mengatakan disetiap kendaraan mempunyai lampu lampu yang gemerlapan bagaikan mutiara yang bersinar.
"Mas..aku malu deh, masa Raden Parapat terus memegangi tanganku..hihi lucu ya" ucap Rini sambil tersenyum malu.
"Hayo..hehe, terus apa katanya?"
"Ya ngga bilang apa apa, tapi beliau selalu memegangi tanganku..pada satu kesempatan ia bilang bahwa wajahku mengingatkan seseorang yang telah hilang sepuluh tahun lalu".
"Oh ya siapa itu?"
"Rini juga tidak tau..beliau hanya bilang bahwa wajahku mengingatkan seseorang dulu"
Aku sempat menanyakan kepada Pak Hasbulah siapakah seseorang yang dimaksud Raden Parapat itu.
"Hmm..sebetulnya bapak juga terbersit dipikiranku..Rini sangat mirip dengan Nandika permata, seorang putri dari kerajaan Padang 14. Dulu mereka akan menikah tapi Nandika terkena penyakit dan ia telah meninggal"
Aku terhenyak mendengar cerita Pak Hasbulah.
"Bapak berpikir bahwa mungkin saja Rini adalah reinkarnasi dari Putri Nandika..dan anehnya Rini lahir dari kedua orang tuamu, dan kamu tau 'kan bahwa ibumu sebetulnya punya darah Sumatra?"
Itulah yang aku pikirkan..jangan jangan, Rini reinkarnasi dari sana. Dulu ibu beberapa kali pernah mengatakan bahwa satu saat kita akan pergi mengunjungi pulau Sumatra menengok saudara disana..Apakah?...
®®®©©
Setelah setengah jam kami berbincang bincang dengan beberapa kepala prajurit tiba tiba terdengar siulan panjang. Semua kepala prajurit dan seluruh pasukan berhenti bicara dan melakukan formasi dimasing masing grup.
Pak Hasbulah membetulkan pakaian dan menatap lurus kearah pintu masuk.
Ternyata raden Parapat datang dan ia berjalan sambil menggandeng tangan Rini yang berjalan sambil menundukkan kepalanya. Aahh..andai saja,..Rini nampak cantik dan anggun berjalan disamping Raden Parapat.
Aku bersumpah..menyaksikan dua pasang sejoli yang anggun dan berwibawa, entah mataku yang salah liat atau halusinasi..dibelakang tubuh Rini dan sang Raden aku melihat cahaya pelangi yang bersinar.
"Sudah kuduga..liat cahaya dibelakang mereka" bisik Pak Hasbulah. Ya aku sudah melihat lebih dulu tentang sinar itu.
"Mari kakanda, kita menuju keruang keramat..sudah saatnya kau melihat apa yang seharusnya kau miliki" ujar Raden Parapat kepadaku.
"Apakah perlu ada pengawal Raden?" Tanya Pak Hasbulah.
"Tidak usah..Biarkan aku dengan mereka masuk, paman patih jaga didepan ruangan saja"
Raden Parapat memutar tubuhnya sambil terus menggenggam tangan Rini, aku dan Pak Hasbulah berjalan dibelakang mereka.
Kita berjalan kurang lebih lima menit hingga ahirnya berdiri disebuah lingkaran, Raden Parapat menepuk tangannya dan tempat pijakan berbentuk lingkaran itu turun bergerak kebawah. Gerakan lantai itu halus, tidak ada satu suarapun yang keluar. Lantai itu turun dengan tenang, seakan kita sedang memasuki dunia tersendiri..
Lantai itu berhenti, dihadapan kita nampak sebuah tembok dan ia terbuka dengan sendirinya ketika Raden Parapat menepukkan tiga kali ketembok.
Tidak lama kita berada disebuah lorong, didepan sebuah pintu yang sangat besar kita berhenti.
"Paman patih tunggu disini, kami akan masuk keruangan" ujar Raden Parapat sambil tersenyum.
"Kakanda keluarkan kuncimu tempelkan dikeninhmu, satu kunci lagi akan keluar dari telapakmu..Biarkan ia meluncur keluar...dan ucapkan kata Samsamir!" ucap Raden Parapat dengan suara tegas.
Dengan segera aku meraih kunci dikantong celanaku, kunci kuletakkan dan tidak lama memang seperti sebuah benda terasa keluar dari tanganku, kutangkap dengan mudah ternyata itulah kembaran kuncinya. Kini aku memegang dua kunci yang bentuknya sama.. Sambil mengucap Kata Samsamir aku meletakkan didinding pintu. Ternyata pintu besar itu tidak terbuka.
"Ucapkan dengan suara keras dan penuh keyakinan" ucap Raden Parapat lagi.
Dengan segala keyakinan aku ucapkan lagi..
Menakjubkan..kali ini pintu besar itu terbuka, kami bertiga masuk kedalam. Ternyata ada sebuah pintu lagi didalamnya. Kembali Raden Parapat memintaku berbuat hal yang sama, pintu didalam itupun terbuka.
Wow Wow! Aku hanya bisa berdiri ditempat, takjub akan apa yang kulihat..dinding ruangan yang super besar itu terbuat dari batu hitam dan lantainya seperti marmer berwarna merah, bermacam macam emas, berlian dan barang barang berharga bergeletakkan dimana mana.
Raden Parapat berjalan kedepan, ia meraup segenggam kepingan emas yang berkilau..
"Kakanda..semua ini milikmu, aku menyerahkan semuanya untukmu" sabda Raden Parapat.
"Sudah beribu ribu tahun ruangan ini ditutup oleh para leluhur..dalam sejarah yang diceritakan turun temurun ruangan ini akan terbuka dan selanjutnya diserahkan kepada seorang anak manusia yang memang berhak..dan, anak manusia itu adalah engkau kakanda. Kuserahkan sepenuhnya untukmu"
Aku berjalan kedepan meninggalkan Rini yang masih terpukau..sebuah batangan emas aku raih, aku tidak bisa mengira harga batangan emas ini didunia..tapi apakah ada yang mau beli?
"Harta ini semua bisa kau tukarkan dengan wang dunia, Namun..yang mungkin kamu bisa lakukan untuk itu saat ini hanya menjual beberapa ornamen seperti piring emas atau gelas emas, itu cukup untuk menghidupkan dirimu disana..kalau kurang, kakanda bisa kembali dan mengambil lagi..ingat, kakanda tidak bisa ceritakan kepada orang darimana datangnya harta harta ini"
"Sangat banyak jumlahnya Raden!" Kataku kepadanya.
"Memang sangat banyak, semua ini milikmu..Hati hati dalam penggunaannya, Bantulah orang yang tidak mampu..sebarkan kekayaanmu ke sekelilingmu"
"Rin! Kesini..liat berapa banyaknya harta ini"
Rini mendekat dan ikut jongkok disampingku..
"Mas, hati hati dengan semua ini..ingat perkataan Raden barusan"
"Satu lagi yang harus aku ceritakan, semua harta yang ada disini adalah kekayaan bumi nusantara..semua mahluk jahat baik Jin dan manusia jahat mencarinya...termasuk ibu tirimu, Saat ini aku sudah mencium adanya sosok perawai yang masuk kesini..ia sosok pengintai yang dikirim oleh ibu tirimu..kita akan tangkep dia, Maka oleh karenanya, aku akan memberikan cincin ini, selain kunci yang kakanda pegang cincin ini adalah kunci lain untuk bisa masuk kesini, sekaligus sebagai senjata untukmu. Jadi ada tiga kunci untuk bisa kesini"
Dengan santai Raden Parapat melepaskan sebuah cincin berwarna putih mengkilap seperti putihnya perak.
"Pakailah..sekarang hanya kita berdua yang mempunyai cincin ini"
Dengan gemetar aku menerima cincin itu..sekejap tiba tiba aku merasakan kehadiran bapak dan ibuku..wajah mereka hadir dihadapanku!. Aku terhenyak dan mundur kebelakang.
"Ada apa kakanda?" Tanya Raden Parapat kaget.
"Bapak dan ibu.." ucapku pelan, bukan takut yang ada tapi aku sangat kangen ketika melihat wajah mereka dihadapanku. Tidak terasa kedua mataku basah.
Raden Parapat ikut memandang kedepan tapi ia tidak bisa melihat apa yang kulihat..
"Itu berarti mereka telah menyetujui..Oooh kakekku juga hadir!" tiba tiba Raden Parapat menunduk dan berjongkok.
Aku menarik tangan Rini ikut berjongkok..
Suasana ruangan besar itu berubah menjadi agak sejuk, bau harum semerbak memenuhi ruangan.
"Cucuku..Parapat Nur Zamata..Hari ini lengkap sudah..penyerahan harta Karun ini kepada yang berhak..Hai cucu cucuku, sang Nara Pusaka dan adikmu Sang Maha Rudini..kalian adalah titisan kerajaan Padang Empat Belas dari garis ibumu..terimalah semua ini sebagai yang berhak, gunakan sebijak mungkin" terdengar suara menggelegar dari wujud tinggi besar yang mirip seorang raja.
Aku melihat bapak dan ibuku ikut duduk bersila dengan kepala tertunduk.
"Kami ucapkan terima kasih atas semua ini..wujud sukur kami sampaikan" ucapku dengan suara gemetar.
"Sah! Semuanya telah selesai" ujar Raden Parapat sambil tetap memberikan salam hormat..
...>>>>>>...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments