Tidak lama kemudian, Jung Yung sampai di rumahnya. Jung Yung tiba di rumahnya pada pukul sebelas malam. Pada saat dia berada di depan pintu rumahnya, dia tidak mendengar ada suara-suara yang menandakan kalau kedua orang tuanya belum tidur.
Jung Yung berdiam sejenak lagi untuk mendengar lebih jelas, tetapi tidak ada suara terdengar juga. Dengan itu dia menyimpulkan kalau kedua orang tuanya telah pergi tidur.
Jung Yung memegang gagang pintu, kemudian memasukan kunci duplikat yang dibuatkan khusus untuknya apabila kedua orang tuanya tidak berada di rumah. Kemudian dia memutar gagang pintu tersebut dengan pelan ke arah kanan.
Pintu terbuka!
Dia memasukan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat situasi yang ada di dalam rumahnya. Ruangan tersebut tidak bercahaya, hanya kegelapan yang terlihat disitu. Dia berpikir sepertinya kedua orang tuanya mematikan lampu tersebut.
Karena dia beranggapan demikian, mulailah dia mengikutkan seluruh badannya melewati pintu rumah tersebut. Karena cukup gelap, dia berbalik lagi dan mengunci pintu tersebut.
Dan ketika dia berbalik, dia melihat kedua wajah bercahaya tampak menakutkan. Dengan muka yang datar, dia berkata, “Aku pulang.” Wajahnya menunjukkan kebosanan mengenai hal-hal tersebut.
Kedua wajah itu ternyata adalah wajah dari kedua orang tuanya. Lalu mereka menyalakan lampu yang sudah dimatikan dan memasang wajah yang membosankan terhadap anak mereka sambil melepaskan alat penerang yang tadi mereka pegang.
Ayah dan Ibu Jung Yung mengeluarkan suara sedikit kesal seperti, Heerg! Mereka kesal karena melihat reaksi anak mereka yang tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.
“Ini membosankan!” ucap ibunya yang langsung duduk di sofa ruang tamu mereka. Ayahnya juga berjalan kelelahan menuju tempat sofa yang sama.
Jung Yung menarik nafas dan menghembuskannya sambil melihat kedua orang tuanya yang ingin dirinya menjadi seorang penakut.
“Ayah, Ibu. Kalian telah melakukan hal seperti itu kepadaku bertahun-tahun, bagaimana bisa aku terkejut melihat hal yang sama.” ucap Jung Yung dengan wajah yang lelah mengenai hal itu.
Ibunya tetap saja terlihat kesal. Ibunya membalas perkataan Jung Yung, “Nak. Walaupun sudah bertahun-tahun, tetapi pada awalnya pun kamu tidak memberikan reaksi ketakutan.”
“Bukannya itu bagus ya?” balas lagi Jung Yung dengan wajah yang datar.
“Itu tidak bagus! Selama ini ibu berpikir kamu tidak normal sebagai seorang manusia, terlebih seorang anak.” balas ibunya sambil menatap Jung Yung.
Jung Yung terlihat bosan meladeni hal tersebut dengan ibunya. Jung Yung memanglah seorang anak yang pemberani, baik sekarang maupun dimasa lalu ketika dia masih seorang anak kecil.
Ibunya juga terlihat mulai lelah membahas hal itu. Pada saat yang sama itu juga ibunya melirik baju yang dikenakan oleh Jung Yung anaknya.
Ibunya mendekat dan mengendus bau tersebut. Terciumlah bau yang sangat wangi dan identik dengan parfum seorang wanita.
Kemudian ibunya menatap Jung Yung dengan tajam. Jung Yung mengerti apa yang dimaksud oleh ibunya. Karena tidak ingin menjadi kesalahpahaman, Jung Yung menyuruh ibunya duduk dan mendengarkan apa yang akan dia katakana.
Ibunya mengikuti perintah Jung Yung, tetapi wajah ibunya belum berubah sama sekali karena dia belum mendengarkan cerita dari anaknya.
Setelah duduk, Jung Yung menceritakan cerita tersebut kepada kedua mereka, apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dia mengenakan baju tersebut.
Tetap saja Jung Yung mendapatkan marahan dari ibunya, ibunya menentang kalau Jung Yung harus terlibat ke dalam hal-hal yang berbahaya. Berbeda dengan ayahnya, ayahnya terlihat senang dan mengacungkan jempol untuk Jung Yung karena telah menjadi lelaki sejati.
Ibu Jung Yung menatap suaminya dengan tatapan yang tajam serta bibir yang ingin mengeluarkan kata-kata yang tidak enak di dengar. Ayahnya langsung berdiri dengan alasan ingin membuang air kecil.
Setelah ayah Jung Yung berpikir, ibunya langsung memarahi Jung Yung dengan sikap yang tidak biasa. Ibunya berdiri sambil memarah-marahi dirinya. Ibunya memperingatkan kalau hal seperti itu terlalu berbahaya, jika terjadi sesuatu kepada dirinya, siapa yang akan bersedih? Tentu saja kedua ayah dan ibunya.
Jung Yung hanya tertunduk sambil mendengar dan tanpa berkata-kata satu katapun. Ibunya menanyakan kepadanya apakah dia akan melakukan hal tersebut sekali lagi? Jung Yung terlihat bingung. Tentu saja dia ingin melakukannya, terlebih lagi mengenai sahabatnya atau orang yang dekat dengannya.
Jung Yung tidak menjawab.
Ibunya bertanya sekali lagi dengan tegas!
“Apakah kamu akan melakukan hal seperti itu lagi?!”
Jung Yung ingin segera mengakhiri pertemuan ini dan tidak mengkhawatirkan ibunya, karena itu dia menjawab Ya, dia tidak akan melakukan hal yang berbahaya. Tetapi hatinya berkata, “Untuk sekarang tidak. Besok iya.” sambil tertawa di dalam hatinya.
Ketika dia tertawa kecil, ibunya sedang melihatnya. Ibunya kembali menatapnya dengan tajam setelah itu Jung Yung berpura-pura tertawa sambil melihat ibunya.
Karena ibunya sudah puas memarahi Jung Yung, ibunya langsung menyuruh Jung Yung untuk masuk ke kamarnya dan tidur. Jung Yung berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.
Setelah berada di dalam kamar, dia meletakkan tasnya di sebuah gantungan yang ada di sebelah kiri pintu masuk kamarnya. Dia melepaskan pakaian pemberian kakaknya Minji dan mengganti dengan pakaian tidur miliknya.
Karena semuanya sudah beres, Jung Yung membaringkan badannya di atas kasurnya. Pada saat itu dia memikirkan kembali apa yang terjadi kepada dirinya terlebih mengenai kemampuan yang baru saja dia dapatkan.
Dia ingin memastikan bagaimana cara penggunaan yang tepat mengenai kekuatannya, apakah itu datang ketika dia berada di dekat Roh Iblis, atau bisa dilakukan ketika dia berada di tempat yang cukup jauh.
Dia memejamkan matanya sejenak, alisnya sedikit mengerut dan berusaha untuk mendapatkan penglihatan mengenai Roh Iblis. Mungkin saja dia bisa melihat Roh Iblis yang sedang membunuh.
Dia melakukan itu selama sepuluh menit, selama itu dia tidak bisa merasakan apa-apa. Dia kembali membuka matanya dengan wajah keheranan serta bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa melihat seperti yang dialami sebelumnya di rumah sakit.
Dia kembali melakukan hal tersebut. Dua Puluh menit berlalu untuk melakukan itu, hasilnya sama, dia tidak bisa melihat itu juga, yang dia lihat ketika dia memejamkan matanya adalah kecantikan Yoona, kakaknya Minji.
Dia menggelengkan kepalanya berharap itu bukanlah pikiran yang sedang dia pikirkan, tetapi dia tidak bisa menutupinya, hal tersebut terus saja muncul di ingatannya.
Kemudian Dia berdiri lagi, lalu keluar dari kamarnya untuk mengambil dan meminum secangkir air mineral. Setelah dia melakukan itu, dia kembali ke kamarnya dan melakukan hal yang sama.
Menutup matanya, tetapi sekarang gambaran yang muncul saat ini adalah Yoona dan dirinya saling berpelukan sambil berkata-kata sesuatu yang manis seperti; “Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, dan jangan khawatir.”
Dia menggelengkan kepalanya sekali lagi untuk menghilangkan hal tersebut dari tidurnya. Tetapi itu sulit dilakukan, dia mengambil earphone miliknya yang berada di atas meja belajarnya, kemudian menyambungkan ke handphone miliknya, lalu memutar sebuah musik.
Suara dari musik tersebut dibuatnya cukup keras hingga dia hanya mendengarkan suara musik itu saja tidak ada yang lain. Ketika melakukan hal tersebut akhirnya dirinya bisa tertidur dengan nyenyak, hal-hal romantis seperti tadi sudah tidak berdatangan lagi dalam bayang-bayang ingatannya.
^^^To Be Continued…^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments