Jung Yung kembali ke rumahnya dengan perasaan yang lega. Walaupun dia telah membalaskan dendam sahabatnya yaitu Minji, dia merasa harus mengunjungi Minji sesering mungkin.
Keesokan Harinya.
Jung Yung berangkat ke sekolah seperti biasa, dia mengikuti pelajaran seperti hari biasa lainnya. Hari itu dia tidak melihat Heejin sahabatnya, dirinya bahkan mengunjungi kelas Heejin untuk mengetahui apakah Heejin datang ke sekolah atau tidak, akhirnya dia mendapatkan jawaban dari teman kelas mereka kalau Heejin tidak datang ke sekolah. Dia juga mendapatkan berita kalau Heejin mengambil izin libur karena mereka memiliki urusan keluarga yang harus diurus.
Tiga hari berlalu…
Bell sekolah untuk ketiga kalinya berbunyi!
Menandakan kalau jam pelajaran mereka telah selesai, dan para siswa-siswi dipersilahkan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Pada saat yang sama itu, Jung Yung merapikan tas serta buku-bukunya, dia terdiam sejenak menatap keluar jendela lagi.
Sejenak dia teringat Heejin dan Minji yang selalu mendatanginya untuk mengajaknya makan, tetapi sekarang tidak lagi. Sunyi rasanya ketika dia tidak melihat kedua sahabatnya tersebut. Dia memutuskan untuk menghubungi Heejin sekali lagi, selama tiga hari ini Jung Yung berusaha menghubungi Heejin tetapi tidak tersambung juga.
[Memanggil; Heejin]
-Nomor yang anda tuju tidak aktif, segera periksa nomor tujuan anda.-
Jung Yung menurunkan handphone miliknya dan menatapnya. Dalam pikirannya berkata; lagi-lagi seperti ini, kemana kamu pergi Heejin? dengan perasaan cemas dia memikirkan Heejin.
Jung Yung memasukkan handphone-nya ke dalam saku celananya, dan beranjak keluar dari kelas. Dia berjalan sendiri sambil melihat teman-temannya yang bersama-sama dengan sahabat-sahabat mereka, dia tersenyum melihat hal tersebut.
“Aku harap mereka baik-baik saja.” ucapnya pelan sambil tersenyum.
Dia keluar dari sekolahnya dan menuju ke minimarket yang berada dekat sekolahnya. Dia masuk dan mengambil beberapa buah-buahan. Ini ketiga kalinya dalam tiga hari dia berkunjung ke rumah sakit dimana Minji di rawat.
Jung Yung keluar dari minimarket tersebut, dan berdiri di seberang jalan sambil menunggu taksi yang akan dia tumpangi. Tiga menit kemudian mobil taksi berhenti di depannya, dia membuka pintu dan masuk kedalam mobil.
“Kemana kita akan pergi?” tanya pengemudi taksi tersebut.
“Rumah Sakit Seoul.” jawab Jung Yung.
Dalam perjalan, Jung Yung melakukan kebiasaannya yaitu melihat ke arah luar jendela untuk menikmati pemandangan perjalanan ini. Saat dia melakukan itu, tiba-tiba pengemudi taksi mengajak Jung Yung bercerita, katanya; Nak, nampaknya kamu terlihat cemas. Jung Yung memalingkan pandangannya dan menatap ke arah kaca tengah mobil. Jung Yung dan pengemudi itu saling melihat raut wajah melalui kaca mobil tersebut.
“Ya, aku sedang mengkhawatirkan teman-temanku.” balas Jung Yung.
“Kali ini apakah kamu ingin mengunjungi mereka?”
Jung Yung mengangguk.
“Biar kutebak, pasti mereka adalah seorang wanita.” sambil tersenyum manis.
“Benar pak. Mereka adalah sahabatku di sekolah, tetapi karena insiden buruk terjadi, membuat kita berpisah sejenak.”
“Wanita itu yang akan kamu kunjungi sekarang ini?”
Jung Yung membalas dengan senyuman kepada pengemudi itu.
“Tenanglah. Seorang lelaki harus tenang di situasi apapun, agar semua yang kita rencanakan tidak berantakan.”
Jung Yung terkejut sejenak mendengar kalimat itu. Dalam benaknya menyakinkan; Benar, aku harus tenang, mereka bersama dengan keluarga mereka, pasti mereka akan baik-baik saja.
“Terima kasih pak.” balas Jung Yung.
“Sama-sama anak muda.”
Tidak terasa perjalanan ini telah berakhir, mereka telah berada di Rumah Sakit Seoul. Jung Yung mengambil uang yang berada di saku celananya, dan memberikan uang itu kepada pengemudi tersebut sambil berjalan dan melambaikan tangan kepada pengemudi itu sebagai penanda terima kasih atas perjalanannya.
Pengemudi itu membalas dengan senyuman licik.
Kepala pengemudi itu bergerak ke kiri dan ke kanan, kemudian berputar tiga ratus enam puluh derajat. Artinya berputar seperti bola tetapi kepalanya tidak patah.
Terdengar di telinga pengemudi itu suara, “Kita menemukan mangsa yang bagus.” Pengemudi taksi tersebut membalas, “Benar, kita mendapatkan jiwa lagi.” sambil tersenyum licik menakutkan.
Pengemudi taksi itu segera meninggalkan tempat tersebut. Dirinya tidak kembali menarik sebagai supir taksi, tetapi dia kembali ke rumahnya untuk mempersiapkan rencana.
Jung Yung yang sedang berjalan untuk memasuki rumah sakit berhenti sejenak, dia membalikkan badannya dan menatap dimana mobil taksi tadi berhenti.
Dia memiliki perasaan yang tidak enak, suara hatinya mengatakan demikian. Namun pikirannya membantah kalau itu hanya sebuah perasaan saja. Maka dari itu dia tidak terlalu memusingkannya lagi.
Dia berjalan memasuki rumah sakit.
Rumah Sakit Seoul.
Dia menuju ke kamar VIP milik Minji.
Jung Yung mengetuk pintu!
Tidak ada yang membukakannya. Dia mengetuk lagi!
Hal yang sama terjadi, tidak ada yang membukakan pintu tersebut, maka dia memutuskan untuk membukanya sendiri.
Membuka!
Pintu tersebut terbuka, sepertinya pintu itu tidak terkunci. Jung Yung berjalan masuk kedalam, perlahan dia melangkahkan kakinya. Dia menatap ranjang rumah itu, Minji masih terlihat dalam keadaan yang tidak baik.
Jung Yung meletakkan buah-buahan yang dia bawah di atas meja, dan mendekati Minji. sambil berkata, “Minji, cepatlah sadar. Kata dokter kamu baik-baik saja, tetapi kenapa kamu belum sadar juga?”
“Kamu tidak usah khawatir, dia akan baik-baik saja.”
Seseorang membalas ucapan Jung Yung dari arah belakang, tentu saja itu membuat dia terkejut sejenak. Jung Yung membalikkan badannya dan dia melihat ternyata itu adalah kakaknya Minji.
“Maaf karena membuatmu kaget.” ucap kakaknya Minji.
“Tidak apa-apa, dan aku juga minta maaf karena masuk tanpa izin.”
“Itu juga tidak masalah. Aku baru saja menyelesaikan urusan administrasi Minji, jadi aku meninggalkan Minji beberapa saat tadi.”
“Kupikir tidak ada seseorang yang menjaga Minji.”
“Haa…” helaan kakak Minji sambil duduk di kursi ruangan tersebut. “Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan di kantor, tetapi karena ini perintah ayahku, tidak ada yang bisa ku perbuat selain menjaga Minji.”
Wajahnya menunjukkan kekesalan karena dia terkurung di sini selamat beberapa hari untuk menjaga adiknya Minji.
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu? Bukankah hal tersebut juga penting untuk dikerjakan.” tanya Jung Yung sambil berjalan menuju sofa ruangan itu untuk duduk.
Kakak Minji membentangkan tangannya dengan lebar sambil menatap ke langit-langit ruangan tersebut dan berkata, “Untung saja aku memiliki sekretaris yang hebat, jadi semua pekerjaan bisa berjalan dengan baik, yah walaupun terkadang aku juga harus mengerjakan secara online dari sini.”
“Itu adalah sesuatu yang hebat Noona.”
“Oh ya benar. apakah kamu sudah membalaskan dendam adikku?” tanyanya sambil menatap dengan tajam ke arah Jung Yung.
Jung Yung terdiam seketika, tetapi dia tetap bersikap tenang dan membalas pertanyaan itu, “Apa maksudmu Noona?”
“Kamu tidak usah berbohong, hari itu ketika kamu datang kesini pertama kali dan langsung pergi, aku tahu kamu sangat marah bukan. Wajahmu memang menunjukkan kalau terlihat baik-baik saja, tetapi hatimu memberontak.”
Jung Yung terdiam lagi mendengar ucapan Noona itu.
Jung Yung tersenyum, “Aku tidak tahu, yang pastinya sekarang aku merasa senang dan tenang.”
Kakak Minji itu menatap lagi Jung Yung usai dia mengatakan kata-kata itu, dia juga tersenyum. Dia mengucapkan terima kasih kepada Jung Yung karena sangat peduli terhadap adiknya.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?” tanya Jung Yung.
“Apapun itu, aku berterima kasih karena telah memperdulikan adikku. Oh ya…ngomong-ngomong, apakah kamu memiliki perasaan terhadap adikku?”
Dengan sikap yang tenang dan santai, Jung Yung membalas kalau dia tidak ada perasaan terhadap adiknya. Dia peduli terhadap Minji karena Minji adalah sahabat baiknya.
“Aku sedikit kecewa mendengar itu, aku sangat beruntung jika kamu menyukai adikku. Selain tampan, kamu juga berani.”
“Tidak apa-apa, hal seperti itu wajar bagi mereka yang berumur sama. Cinta juga adalah hal yang menyenangkan.”
Kakak Minji tertawa. Dia bahkan memuntahkan lagi air yang sedang dia minum tersebut.
Hahaha…! Tertawa lagi.
“Bagaimana bisa seorang anak kecil seperti mu berkata-kata seperti itu, memangnya kamu pernah merasakan cinta?”
“Tidak.”
Dalam pertanyaan itu, dia sepertinya merasakan sesuatu di hatinya. Tetapi dia sendiri tidak tahu apa itu. Merasakan cinta? Dia memang tidak pernah merasakan cinta yang menyukai seseorang dalam kehidupan ini, tetapi kata-kata cinta itu membuatnya sedikit sesak.
“Jung Yung!” panggil kakak Minji.
Jung Yung termenung.
“Jung Yung! Jung Yung!” panggilnya lagi.
Jung Yung tersadar! Dia terlihat bingung, dia menatap kakak Minji. kakak Minji bertanya kepadanya sekali lagi, “Apa Kamu baik-baik saja? Wajahmu sedikit pucat. Apa kamu sakit?” Jung Yung menggelengkan kepalanya lalu membalas, “Aku baik-baik saja.”
Dia termenung lagi sejenak sambil memikirkan apa yang terjadi dengannya, seingatnya mereka membahas Cinta, tetapi itu membuatnya tidak sadarkan diri sejenak. Dirinya sendiri bingung dengan apa yang terjadi dengannya.
“Sepertinya kamu harus beristirahat.” kata kakak Minji.
“Benar, seperti aku kelelahan. Kalau begitu aku pamit pergi Noona.” ucap Jung Yung.
Kakak Minji menganggukkan kepalanya dan mengantarkan Jung Yung keluar pintu ruangan Minji.
“Haruskah aku mengantarmu?”
“Tidak usah, aku baik-baik saja. Noona harus menjaga Minji.”
“Baiklah kalau begitu.”
Jung Yung tersenyum dan dia pergi keluar dari ruangan itu lalu meninggalkan rumah sakit tersebut.
^^^To Be Continued…^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments