Chapter 4

Keesokan Harinya

Pagi hari, waktu menunjukkan pukul Delapan pagi. Semua anak-anak yang berada di kelas memasuki ruangan mereka, karena jam Pelajaran mereka sebentar lagi akan segera dimulai.

Kelas Minji dan Heejin.

Minji dan Heejin saling berdekatan satu sama lain, dan saling bersebelahan juga. Minji berada di sebelah kiri, sedangkan Heejin berada di sebelah kanan.

Mereka berdua terlihat masih memikirkan Jung Yung yang memarahi mereka. Mereka berdua memiliki niatan untuk meminta maaf sekali lagi kepada Jung Yung. untuk itu mereka berdua juga telah menyiapkan sesuatu sebagai bentuk permintaan maaf mereka.

“Minji, apa yang kamu bawa untuk diberikan kepada Jung Yung?”

“Aku membawa ini. (sambil menunjukkan barang yang dikeluarkan dari tasnya.)”

Barang yang dikeluarkan Minji adalah sebuah kotak persegi Panjang dan depannya bertuliskan DW. Itu adalah sebuah nama jam tangan yang terkenal di kalangan pecinta jam tangan.

Heejin terkejut melihat itu. Mulutnya mangap sambil menutupnya dengan satu tangan miliknya. Dia mendekat ke arah Heejin dan mencoba melihat lebih dekat. Minji membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya.

Pandangan pertama ketika seseorang melihat itu; indah, elegan dan mengkilap. Heejin tersenyum kepada Minji dan mengatakan kalau itu akan terlihat sangat cocok dengan Jung Yung. Minji tersenyum, dia menutupnya kembali dan meletakkan kotak itu ke dalam tasnya.

Sekarang gilirannya Heejin, Minji ingin melihat apa yang dibawah oleh Heejin untuk Jung Yung, “Kalau kamu ingin memberikan apa kepadanya?” Heejin kembali duduk di tempatnya sambil tersenyum malu. “Aku tidak tahu harus memberikan Jung Yung apa, tetapi aku memikirkan satu hal…” Heejin mengeluarkan sesuatu dari tasnya, perlahan dia mengangkat itu.

Minji memberikan reaksi yang sama seperti yang dilakukan Heejin saat melihat barang Minji. “Kamu benar-benar akan memberikan itu?” Heejin mengangguk sambil tersenyum. Tidak bisa dipercaya kalau Heejin akan memberikan Jung Yung sebuah kunci motor sport pikir Minji.

Minji bertanya lagi kepada Heejin, “Lalu dimana motornya?” Heejin menjawab, “Tentu saja masih di kantornya, aku hanya mengambil kuncinya saja. Tetapi aku sudah mengatakan kepada mereka jika ada seorang pria yang datang dengan membawa kunci ini, maka dialah orangnya.”

Minji merangkul Heejin dengan kedua tangannya, dan mengacak-ngacak rambut Heejin sambil berkata, “Bisa-bisanya kamu mendahuluiku ya.” Ah…reaksi kepikiran Minji. Apa jangan-jangan kamu menyukainya? Sambil Minji tertawa.

Heejin tersipu malu mendengar itu dari sahabatnya sendiri. Heejin berusaha mengelak apa yang dikatakan oleh Minji, “Tidak, aku tidak seperti it…” Minji menyela pembicaraan Heejin. “Tidak seperti itu bagaimana? Jelas-jelas kamu terlihat menyukainya.

Heejin tidak mau terus-terusan dibully oleh kata-kata sahabatnya itu. Heejin berinisiatif untuk membalasnya. Dia berusaha melepaskan diri dari rangkulan Minji, dan kini dia yang melakukan itu kepada Minji. “Kamu juga kan? Aku bisa melihat dari tatapan mu kepada Jung Yung.”

Miji tersipu malu. “Aku tidak seperti itu. Aku…” Heejin menyela pembicaraan Minji sambil tertawa. Tanpa mereka sadari, gaya mereka yang sedang bermain itu membuat laki-laki yang ada di kelas mereka melototi mereka berdua.

Teman kelas Wanita mereka yang berada di posisi di depan mereka menoleh ke belakang sambil berbisik kepada mereka.

“Hei, kalian berdua hentikan. Laki-laki di kelas kita memperhatikan kalian.”

Minji dan Heejin terlihat bingung. *_*

“Coba perhatikan pakaian kalian.” sambil melirik ke arah yang dituju.

Minji dan Heejin melihat pakaian mereka. Dan pakaian mereka terbuka setengah, maka tampaklah dua keindahan yang berada pada mereka.

Melihat itu, mereka berdua langsung berhenti bertingkah seperti yang sudah mereka lakukan tadi dan langsung memperbaiki kemeja sekolah mereka.

Reaksi para lelaki itu terlihat sangat puas. Sebelum Minji dan Heejin diberitahu untuk memperbaiki kemeja sekolah mereka, para lelaki itu membicarakan mereka berdua.

[Pandangan Para Lelaki sebelumnya]

“Hari ini aku sangat beruntung.” °_°

“Beruntung kenapa?” temannya menanyakan hal itu. -_-

“Aku melihat pemandangan yang indah hari ini.” °_°

“Pemandangan yang indah? Indah dari mananya?” *_*

“Dari bunga yang mekar.” Jawabnya sambil tersenyum. Tatapannya juga tidak berhenti berpaling.

Teman-temannya bingung hingga sampai mereka menyadari kalau pandangannya tertuju kepada sesuatu. Mereka berusaha mengikuti pandangan itu, dan berakhirlah pandangan mereka di tujuan yang sama.

“Bajingan Sialan!” sambil tersenyum manis.

“Hehehe.”

“Bagaimana bisa kamu mendapatkan keindahan ini tanpa berbagi.” Ucap pria yang lain. '_'

“Setidaknya kalian harus berbagi kalau bunga mekar itu adalah mereka berdua.” maksudnya Minji dan Heejin.

Tidak hanya mereka bertiga saja, para lelaki yang ada di kelas itu juga mengikuti pandangan mereka dan berakhir di tempat yang sama. Mereka semua terdiam.

Tidak lama kemudian pintu kelas mereka terbuka.

Suara pintu terbuka!

Mereka semua berpikir itu adalah guru mereka yang datang untuk mengajar. Mereka semua berdiri dan mempersiapkan salam kepada guru mereka. Tapi ternyata, terlihat seorang pria masuk lewat pintu itu, dan dia adalah Boss dari para lelaki brengsek yang ada di sekolah mereka.

Dia masuk dengan gaya seperti preman sambil menggigit sebuah kayu kecil yang ada di mulutnya. Kayu itu adalah benda yang biasanya digunakan untuk membersihkan gigi setelah makan.

Para murid yang ada di kelas itu merasa takut melihat Pria brengsek itu masuk ke kelas mereka. Satu sama lain dari mereka saling berdekatan dan berpelukan, sedangkan para lelaki tetap diam sembari mengeluarkan keringat.

“Jangan ada yang bergerak! Jika ada yang bergerak, kepala kalian akan melayang. Bukan-bukan, berbahaya jika kepala kalian. badan kalian!"

Boss mereka perlahan menuju ke arah Minji dan Heejin. Minji dan Heejin merasa takut. Mereka berdua melakukan hal yang sama, saling berdekatan dan berpelukan erat.

“Minji apa yang akan dia lakukan kali ini?” tanya Heejin terbata-bata karena takut. Minji pun membalas ucapan Heejin, “Aku juga tidak tahu.” Sambil terbata-bata.

Boss preman sekolah itu semakin dengan dengan mereka berdua. Dia tersenyum ke arah mereka berdua, dia menatap Heejin dan Minji dari bawah sampai ke kepala.

Laki-laki yang ada di kelas itu berusaha untuk melihat apa yang terjadi, dan mereka merasa kesal dengan tatapan preman sekolah itu, dia menatap bunga sekolah alias Minji dan Heejin dengan Mes*m.

Bug…! Suara pukulan.

Kyaa…! Teriakan para Wanita di kelas itu.

Arght…! Erangan.

Memukul lagi!

Sekali lagi!

Para preman sekolah yang datang bersama-sama dengan boss mereka memukul beberapa lelaki yang berusaha menatap ke belakang.

Para siswa lelaki yang mereka pukul tergeletak di lantai sembari kesakitan.

Boss mereka tersenyum sinis melihat kejadian itu. Dia menatap lagi ke arah Heejin dan Minji sambil berkata, “Jika kalian tidak ingin seperti itu, jangan bertingkah aneh, mengerti?”

Minji dan Heejin mengangguk. :(

Boss preman sekolah itu menggerakkan tangannya, mengangkat tangannya ke wajah Minji. Dia ingin menyentuh wajah cantik Minji.

Minji melihat itu menjadi ketakutan sangat takut, dia memejamkan matanya sambil berharap kalau kejadian ini tidak akan terjadi.

Suara berbisik di telinga Boss preman sekolah itu.

"Benar, yang harus kamu lakukan pertama adalah menakuti mereka agar mereka tidak berani melawan. Sentu saja wajahnya, dengan begitu mereka akan ketakutan dan kamu mendapatkan keuntungannya."

Dirinya menjadi sangat bersemangat melakukan itu, dia ingin sekali memegang wajah cantik Minji. Pikiran lainnya juga berdatangan, dia tidak hanya akan sampai pada wajah Minji, melainkan di tempat lain yang dia inginkan.

Dia memutarkan tangannya untuk mengusap wajah Minji, sayangnya itu tidak berlangsung lama.

“Boss! Boss!” suara dari bawahannya memanggil.

Boss mereka melihat dengan tatapan sinis dan wajah yang marah karena telah mengganggunya.

“Hentikan saja dulu Boss. Guru sedang kemari.” ucap bawahannya.

"Guru?" gemercik mulut Boss mereka yang kesal. “Sialan! Mengganggu saja!” gumamnya.

Dia mendekati Minji dan Heejin lalu memberitahukan mereka, “Kali ini kalian beruntung, berikutnya aku pasti mendapatkan kalian.” Tersenyum licik.

Boss mereka bergerak cepat meninggalkan kelas itu. Mereka pergi ke arah kanan. Karena guru yang akan mengajar di kelas itu sedang berjalan dari arah sebelah kiri.

Setelah para preman sekolah itu pergi, semua dari mereka langsung terduduk lemas begitu juga Heejin dan Minji.

Sedangkan teman mereka yang masih berada di lantai karena kesakitan, ketua kelas mereka menyuruh untuk membawa mereka ke UKS agar mendapatkan perobatan.

Mereka membawa teman-teman mereka itu keluar dari kelas. Bertepatan sesaat mereka akan keluar kelas, guru mereka melihatnya dan bertanya apa yang terjadi dengan mereka? Para murid itu menjawab kalau mereka sedang mengalami sakit perut. Kemudian meminta izin agar mereka membawa teman sekelas mereka itu, dan guru pun mengijinkannya.

Semua siswa dan siswi yang ada di kelas itu berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi, mereka tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada mereka, karena mereka mengadu kepada guru.

Terdengar suara tangis!

Hikss…!

Minji menangis, dia ketakutan, sangat ketakutan. Dia takut kalau para preman sekolah itu melakukan hal yang tidak dia suka.

Heejin memeluk Minji dan berusaha menenangkannya. Para teman-teman Wanita sekelas itu juga merasa sedih, semua dari mereka akan merasakan hal yang sama jika mereka di posisi Minji.

Guru masuk ke kelas, semuanya beri salam.

Setelah memberi salam, Heejin berjalan menuju ke arah guru yang ada di depan dan meminta izin untuk membawa Minji ke UKS. Guru mereka mengizinkannya karena tahu kalau Heejin dan Minji tidak akan berdusta. Mereka adalah siswi yang baik selama dia mengajar.

Heejin membantu Minji berdiri perlahan, dan keluar dari kelas. Ruangan UKS harus melewati kelas Jung Yung. Heejin ingin memberitahu hal ini kepada Jung Yung, tetapi dia takut kalau ini bukan waktu yang tepat.

Mereka perlahan berjalan hingga mereka melewati kelas Jung Yung. Jung Yung sedang berada di kelas, dia tidak melihatnya, pandangannya tetap sama ketika duduk di kelas, di melihat keluar.

Heejin melewati kelas Jung Yung dan melihat Jung Yung, dia tersenyum. Tentu saja Jung Yung tidak akan melihat keluar kelas, karena matanya selalu tertuju ke arah langit yang cerah.

Dibelakang Sekolah

Salah satu ruangan tersembunyi Boss mereka.

Suara erangan terdengar dari ruangan itu. Bukan suara erangan karena kesakitan, melainkan suara kenikmatan dari seorang pria.

Ahh…uhh…! Erangan Kenikmatan.

Minji!

Minji!

Minji!

“Kenapa kamu begitu cantik! Kenapa aku tidak bisa mendapatkan-mu. Padahal sedikit lagi aku akan mendapatkan-mu, apapun yang terjadi aku akan mendapatkan-mu. Aku akan membuat-mu merasakan kenikmatan ini.”

Ucapnya sambil menggoyangkan tangannya miliknya. Dia terus berkata Minji, Minji dan Minji, hingga sampai pada batasnya! Sebuah cairan keluar melumuri tangannya.

"Bagaimana? Seperti ini saja rasanya sangat enak. Apalagi ketika kamu merasakannya secara langsung." Iblis itu datang menggodanya.

Evil Spirit (Roh Iblis) terus menggodanya dengan kata-kata yang meningkatkan kesenangan Pria itu.

Dirinya tersenyum tidak karuan, matanya melayang, wajahnya merah dan telinganya membesar. Dirinya benar-benar seperti mulai kehilangan akal karena Miji. Terlebih lagi terus mendengar bisikan dari Evil Spirit.

"Teruslah membayangkannya, jangan berhenti membayangkan itu sebelum kamu mendapatkannya secara langsung." goda lagi Iblis tersebut sambil tertawa keras.

"Kekeke..."

^^^To be Continued…^^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!