Chapter 19

Matahari mulai bersinar menerangi kamar Jung Yung. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Terlihat Jung Yung masih tertidur lelap sambil memeluk guling miliknya.

Ibu Jung Yung mengetuk pintu kamarnya. Tidak ada suara terdengar dari kamar Jung Yung, ibunya berpikir pasti Jung Yung masih tertidur. Tidak seperti biasanya Jung Yung bangun kesiangan seperti ini.

Ibu Jung Yung mengetuk pintu kamar Jung Yung sekali lagi. Tetap saja tidak ada suara terdengar dari dalam sana. Ibunya mengambil kunci cadangan kamar milik Jung Yung dan masuk kedalam kamar tersebut.

Apa yang ibunya pikirkan ternyata benar, anaknya sedang tertidur lelap di atas kasur tersebut. Melihat itu, ibunya memegang tangan Jung Yung dan mengoyaknya agar dia segera bangun. Setelah melakukan itu anaknya masih saja tidur dan tidak terbangun.

Ibunya mencoba sekali lagi dengan cara yang sama, hasilnya sama saja. Kegeraman terlihat di wajah ibunya. Ibunya menarik guling Jung Yung lalu dengan cepat ibunya memukul kepala Jung Yung dengan guling itu, tujuannya agar Jung Yung segera bangun.

“Bagun Nak!” teriak ibunya sambil melayangkan pukulan ke arah anaknya.

Gedebug! suara kecil terdengar dari pukulan itu.

Hasilnya, mata Jung Yung akhirnya melek setelah merasakan adanya benda yang menimpanya. Baginya itu tidak terasa sakit, apalagi menggunakan guling yang lembut.

Jung Yung mencoba membuka matanya perlahan kemudian  mengucak-ucak matanya sambil membangunkan badannya dari kasur.

“Benda apa yang jatuh tadi?” ucapnya sambil mencari benda yang jatuh tersebut.

Dia melirik ke bawah lantai dan melihat sepasang kaki halus mengenakan sandal. Jung Yung mulai melihat dari bawah sampai keatas. Sesampainya di atas, wajah ibunya menatapnya sambil melototin dirinya.

Jung Yung tersenyum sambil berkata, “Selamat pagi Bu.”. Walaupun dia berkata demikian, wajah ibunya masih saja terlihat geram.

“Ada apa bu?” tanya Jung Yung dengan lembut. Ibunya menggunakan matanya agar Jung Yung melihat jam yang ada di dinding kamarnya.

Jung Yung melirik ke arah jam tersebut. Waktu menunjukkan sepuluh menit lagi jarum jam tersebut akan berada pada angka tujuh. Melihat itu, Jung Yung langsung membuka matanya dengan lebar.

Jung Yung melompat dari tempat tidurnya dengan cepat kemudian mengambil handuknya dan menuju ke dalam bathroom rumahnya.

Ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya tersebut. Ibunya meletakkan kembali guling yang dipegangnya lalu merapikan tempat tidur anaknya. Selanjutnya ibunya kembali menuju dapur untuk menyiapkan bekal bagi anaknya.

Bathroom (Kamar Mandi)

Jung Yung menggosok badannya dengan shower disitu sambil memikirkan kenapa hari ini bangunnya telat. Apa yang terjadi denganku? Apa karena aku kelelahan? Biasanya ketika sedang berolahraga, aku bahkan bisa bangun tepat waktu, tetapi ini berbeda. Apa mungkin ini karena pikiranku semalam?

Pikirannya selalu teringat akan Yoona kakaknya Minji. mungkinkah dirinya sudah memiliki perasaan terhadap Yoona? Walaupun hanya sedikit saja, itu sudah termasuk sebuah perasaan cinta.

Karena memikirkan itu, tanpa sadar Jung Yung menghabiskan dua puluh menit berada di dalam bathroom.

Ruang Tempat Makan

Ibu Jung Yung sudah selesai menyiapkan bekal untuk anaknya. Karena telah selesai, Ibunya menunggu Jung Yung sambil memakan sesuatu.

Sepuluh Menit Berlalu.

Dua Puluh Menit Berlalu.

Ibunya sekali lagi melihat jam dinding di ruang tempat makan tersebut. Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh. Ibunya menggigit makanan yang ada di mulutnya dengan kesal kemudian menuju ke bathroom Jung Yung.

Ibunya Mengetuk dengan keras!

Ketukan! Ibunya mengetuk sambil mengendor-ngendor pintu bathroom tersebut.

Jung Yung tersadar mendengar ketukan itu. Dirinya langsung mengetahui kalau ibunyalah yang mengetuk pintu tersebut.

Jung Yung bergegas mengelap semua air yang ada di badannya lalu dia bersuara, “Ada pa bu? Aku sudah selesai.” ucapnya dengan santai.

Dari luar pintu itu ibunya menahan nafasnya untuk berteriak, sayangnya itu tidak bisa. Ibunya tetap berteriak kepada Jung Yung, “Apa maksudmu ada apa? Ha! Ibu seharusnya yang bertanya kepadamu, Apa yang sebenarnya terjadi denganmu!” tanya ibunya dengan nada yang tinggi.

“Aku baik-baik saja.” jawab Jung Yung lagi dengan tenang, sambil mengelap semua air di badannya.

“Kamu sudah berada di dalam situ selama dua puluh menit! Sekarang kamu sudah terlambat berangkat ke sekolah,” balas ibunya lagi dengan cepat.

“Apa? Dua Puluh Menit?” teriak terkejut Jung Yung mengetahui itu.

Lagi-lagi dia bergerak lebih cepat, dia mengambil seragam sekolahnya dan memakainya dengan cepat. setelah dia menyelesaikan pakaiannya, dia mengambil bekal yang telah disediakan ibunya.

Ketika dia akan pergi, dia berbalik lagi dan mencium pipi ibunya sambil berbisik, “Terima kasih bu.” Mendengar itu tentu saja ibunya tersenyum gembira. Ibunya kembali melakukan aktivitas lalu bergumam, “Kebiasaan anaknya itu, tidak pernah hilang.”

**

Jung Yung berlari dengan cepat untuk mencari taksi yang akan digunakan. Tetapi tidak ada taksi yang berhenti, sepertinya itu terjadi akibat terlalu banyak penumpang yang sedang menggunakan taksi.

Wajahnya mulai gelisah, karena itu dia memutuskan untuk berlarian sampai dia bisa mendapatkan sebuah taksi.

Jung Yung berlari dengan cepat. Namun kali ini dia merasa ada perbedaan dengan kecepatan lari serta stamina miliknya. Dia tidak merasa kelelahan sama sekali, bahkan kecepatan larinya terlihat sangat cepat.

“Apa-paan ini? bagaimana bisa aku telah berlarian cukup lama tetapi aku tidak merasa lelah sama sekali?” pikirnya dengan bingung. “Apa mungkin ini efek dari kemampuan yang aku dapatkan?” pikirnya lagi sambil melihat kecepatan larinya.

Orang-orang yang dia lewati semuanya meliriknya, mereka terheran-heran dengan seorang pemuda berseragam sekolah bisa berlari secepat itu. Setidaknya berlari secepat itu hanya seorang atlet pelari lah yang bisa melakukannya.

Jung Yung tersenyum mengetahui efek dari kemampuan yang dia dapatkan. Ini sungguh sebuah berkah baginya mendapatkan kemampuan yang tidak cepat membuatnya kelelahan.

Sepuluh Menit kemudian.

Jung Yung tiba di sekolahnya. Dia hanya membutuhkan waktu sepuluh menit seperti dia menggunakan sebuah  taksi menuju ke sekolahnya.

Dia melihat gedung sekolah dengan tatapan yang penuh percaya diri. Walaupun pagar sekolah telah ditutup, tetapi nampaknya tidak ada penyesalan dari dirinya mengenai hal tersebut.

Dia bahkan terlihat bangga dengan apa yang dia dapatkan sekarang ini. Jung Yung mencari halaman belakang sekolah, dia melihat dinding yang ada disitu. Kemudian dia melompati dinding tersebut.

Terlompat! Seperti apa yang dia perkirakan, kemampuan fisik miliknya bertambah bahkan lebih kuat dari manusia pada umumnya.

Setelah dia melompati dinding itu, dia perlahan-lahan mengendap menuju ke ruangan kelasnya. Dari luar dia melihat teman sekelasnya dan bertanya soal guru mereka. Temannya melambaikan tangan tidak, artinya belum ada guru sama sekali. Itu membuatnya semakin lebih senang.

Hari ini Jung Yung penuh kebahagiaan.

^^^To Be Continued…^^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!