Jung Yung memegang bahu kakak Minji yang senang termenung itu. Suasana menjadi lebih romantis dari biasanya. Mungkin itu yang dipikirkan kakaknya Minji.
Karena Jung Yung menyentuh bahunya, degupan jantung milik kakaknya Minji semakin cepat. Wajahnya menjadi kemerah-merahan, dia sedang tersipu malu dan bingung harus bagaimana terhadap Jung Yung.
“Noona, kamu kenapa? Wajah kamu me-mera, apa kamu sedang sakit?” tanya Jung Yung.
Reaksi panik dari Noona tersebut terlihat. Dia langsung memegang pipinya dan membalas perkataan dari Jung Yung, “Apa maksudmu merah? Aku tidak kenapa-napa, aku hanya merasa panas di ruangan ini.”
Jung Yung kebingungan mendengar apa yang Noona bicarakan. Ruangan yang sedang mereka tempati ini tidak panas, malahan ruangan yang mereka tempati ini dingin, cukup dingin membuat orang tidak akan kepanasan.
“Noona, suhu yang dipakai dalam pendingin ruangan ini ada berada pada Mines Lima Belas derajat celcius. Itu membuktikan kalau ruangan ini sama sekali tidak panas. Aku saja merasa kedinginan.”
Mendengar perkataan itu, kakaknya Minji tersebut membengkakkan pipinya.
“Kalau aku bilang kepanasan, ya kepanasan!” ucapnya dengan tegas dengan nada yang tinggi kepada Jung Yung.
Jung Yung tersenyum, tertawa keheranan dengan apa yang sedang terjadi sambil menggaruk sedikit kepalanya dengan tangan kanan miliknya.
Dua Menit berlalu.
Rasa tersipu malu Noona dengan Jung Yung sudah terlewati. Kini noona bersikap layak seorang wanita yang lebih dewasa dan Anggun. Dia merapikan semua yang ada pada dirinya, dan menyilangkan kedua kakinya sambil bersandar di sebuah sofa yang sedang dia duduk.
“Jadi, apa yang terjadi kepadamu?” tanya noona.
Jung Yung tidak bisa mengatakan mengenai apa yang dia lihat di otaknya saat kesakitan tadi. Dia juga masih belum yakin, apakah hal tersebut benar atau tidak.
Jung Yung tersenyum kepada noona, lalu memberitahukan kalau sebenarnya dia merasakan kelelahan. Hal itulah yang membuat kepalanya sakit.
Kakak Minji itu berpikir apa yang dia katakan adalah hal yang benar, tetapi ada hal lain yang terasa ganjal dan belum pasti kebenarannya.
“Bukannya dia tadi sudah pergi? Jadi apa tujuannya kemari sambil merasa kesakitan? Apa mungkin dia berkelahi?” Pikiranya sambil menatap Jung Yung dengan wajah yang penasaran.
“Ada apa noona?” tanya Jung Yung lagi.
“Aku yakin kamu sudah berpamitan pulang tadi, tetapi kenapa kamu kembali lagi?” tanya-nya kepada Jung Yung dengan wajah penasaran.
Kali ini Jung Yung yang merasa tidak nyaman, dia kebingungan. Tidak mungkin dia mengatakan kalau ada orang jahat yang menginginkan Minji.
Pada saat yang sama juga kakak Minji sedang berekspektasi kalau dia kembali hanya untuk melihat dirinya. Suara hatinya juga mengatakan kalau dia berharap demikian.
“Sebenarnya…”
Kakak Minji semakin penasaran, semoga saja apa yang dia harapkan benar terjadi. Wanita mana yang tidak akan menyukai Jung Yung. Lelaki tampan, tinggi, berotot juga. Semua wanita pasti menginginkannya.
Jung Yung berpikir keras mengenai alasan dia datang kembali kemari. “Haruskah aku meminta nomor telephonenya? Tetapi apakah dia menyukainya? Jangan-jangan dia berpikir kalau aku suka padanya dan kemudian mengusirku.”
Tidak! Kamu harus mencobanya, kata hatinya. “Baik, aku akan memintanya.”
“Sebenarnya, aku ingin meminta nomor telepon milikmu noona, agar aku bisa menghubungimu kalau aku akan mampir kesini.”
Kakak Minji terkejut!
Jantungnya seketika berdegup kencang, sangat kencang, seperti saat ketika seseorang sedang lari mengelilingi lapangan.
Pikirannya kosong, tetapi perasaannya begitu gembira, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apa yang dia harapkan, ternyata terjadi.
“Noona?” panggil Jung Yung.
“Ah…maafkan aku. Aku sedang memikirkan sesuatu. Jadi apa yang kamu katakan tadi?” dia bertanya lagi hanya untuk memastikan kalau apa yang dia dengar itu benar.
“Aku ingin meminta nomor teleponmu.” jawab Jung Yung dengan pelan.
Ternyata benar, Jung Yung meminta nomor teleponku. Aku sangat senang mendengarnya! ucap pikirannya.
“Baiklah, aku akan memberitahukannya.”
Saat itu juga kakak Minji mengambil handphone pribadinya yang berada di dalam tas, tas tersebut tepat di sampingnya. Lalu dia memberitahukannya kepada Jung Yung.
Jung Yung juga melakukan hal yang sama, dia mengambil handphone miliknya yang berada di dalam tasnya juga, lalu mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya Minji.
“Aku akan coba menghubungi.”
Kakak Minji mengangguk.
[Memanggil; Noona}
Handphone bergetar!
[Panggilan Masuk; Jung Yung Tampan] itu adalah nama panggilan yang dia berikan untuk nomor Jung Yung.
“Sepertinya tersambung.” ucap kakak Minji.
Jung Yung juga memastikan itu sendiri dengan melihat handphone milik noona bergetar di telapak tangannya.
“Tapi noona, sebelum itu, bisakah aku menanyakan sesuatu?”
“Silahkan,”
“Kalau boleh tahu, nama noona siapa ya?”
Dia menanyakan namaku? Bukankah ini tandanya dia juga merasa nyaman denganku? Pikirnya lagi mengenai Jung Yung.
“Namaku adalah Kwon Yoona.”
“Nama yang indah.” ucap Jung Yung dengan spontan.
'Kyaa…dia mengatakan kalau namaku indah!' Hatinya begitu bahagia mendengar kata itu. Tetapi dia tetap menjaga sikapnya agar tidak lepas kendali.
Jung Yung menutup mulutnya dan meminta maaf dengan kata-kata yang dia katakan tadi, dia mengatakannya tanpa sadar.
Yoona juga tidak keberatan dengan apa yang dikatakan oleh Jung Yung. Sebaliknya, Yoona mengucapkan terima kasih karena telah mengatakan kalau namanya tersebut nama yang indah.
Tidak lama kemudian Jung Yung memperhatikan jam tangan miliknya. Waktu menunjukkan pukul Empat Sore, malam hampir tiba.
Karena malam hampir tiba, dia berpamitan kepada Yoona, kakaknya Minji untuk meninggalkan rumah sakit.
Jung Yung keluar dari ruangan pasien tersebut, dia diantarkan oleh Noona Yoona sampai keluar. Ketika mereka keluar, mereka melihat ruangan yang berhadapan dengan ruangan milik Minji sedang didatangi oleh polisi. Terlihat juga beberapa orang dari kamar-kamar lain datang melihat.
Yoona penasaran dengan apa yang terjadi, jadi dia juga mendekatkan diri ke situ dan bertanya kepada salah satu orang yang ada disitu.
“Apa yang sedang terjadi?” tanya Yoona.
“Nenek yang ada di ruangan itu meninggal.” jawab orang tersebut.
Yoona terkejut dan dia lanjut bertanya, “Apa mungkin karena sakit? Tetapi kenapa ada polis yang datang melihat?”
“Dari apa yang kudengar, katanya nenek tersebut tidak meninggal karena sakit, melainkan dibunuh. Setelah diperiksa, terdapat bekas cekikan di leher nenek itu.”
“Dibunuh?!” ucapnya dengan lantang tanpa sadar.
Jung Yung mendengar percakapan Yoona dan orang itu. “Ternyata benar. apa yang aku lihat tadi, bukanlah sebuah kebetulan.” katanya dalam benaknya.
Beberapa orang yang ada disitu melihat Yoona, dan dia tersenyum sambil membungkukkan kepalanya sedikit karena telah membuat keributan.
Raut wajah Yoona seketika itu panik dan khawatir. Dia mengkhawatirkan adiknya Minji. mengingat pembunuhan tersebut terjadi tepat di depan kamar mereka.
Yoona beranjak dari situ, dan kembali merapat kepada Jung Yung dan memberitahukan mengenai apa yang terjadi, walaupun sebenarnya Jung Yung sendiri sudah mengetahui hal tersebut.
“Jung Yung, kamu harus pulang dengan hati-hati ya. Mungkin saja pembunuhnya masih berkeliaran, jadi kamu harus kabari aku setelah sampai dirumah.” ucap Yoona kepada Jung Yung sambil memegang bahu Jung Yung.
Saat Yoona memegang bahu Jung Yung, tangan Yoona gemetaran. Dia juga sedang merasa ketakutan. Jung Yung memahami itu.
“Noona. sebaiknya noona menghubungi keluarga noona dan mengirimkan beberapa orang untuk berjaga. Seperti yang noona katakana, mungkin saja pembunuh itu masih berkeliaran.”
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” balasnya dengan pelan.
Jung Yung melihat wajah Yoona tidak bisa berbohong, bahkan tingkah lakunya juga. Tangan dan kaki Yoona terlihat gemetar, tetapi dia berusaha untuk menahannya.
Jung Yung memegang tangan kakak Minji tersebut yaitu Yoona. Dia menggenggam erat tangan Yoona dan berkata; “Noona. aku tahu kamu sedang khawatir, aku akan berjaga disini sampai orang yang diperintahkan noona datang berjaga.”
Yoona merasa nyaman di dekat Jung Yung, terlebih lagi saat dia menggenggam tangannya. Dia ingin memeluk Jung Yung, namun dia belum menjadi siapa-siapanya Jung Yung.
“Tidak, aku takut orang tuamu mengkhawatirkanmu.”
“Tenang saja noona, aku akan menghubungi mereka, kalau aku akan pulang sedikit terlambat.” jawab Jung Yung dengan keren.
“Tapi…-“ Yoona belum menyelesaikan kalimatnya, Jung Yung menyela pembicaraan noona, “Cukup dengan alasan-alasannya, aku akan melakukan seperti apa yang aku katakan tadi.”
Yoona terdiam, dia mengangguk dan mengajak Jung Yung masuk kembali ke ruangan pasien dimana adiknya Minji dirawat.
Jung Yung dan Yoona kembali masuk!
Setelah mereka sampai di dalam, Jung Yung duduk di tempat dimana dia duduk tadi, sedangkan Yoona langsung menghubungi keluarga mereka dan mengatakan mengenai apa yang sedang terjadi di rumah sakit
Dia juga memberitahukan apa yang sedang dia perlukan kepada ayahnya, dia meminta ayahnya mengirim beberapa orang yang bisa menjaga mereka di rumah sakit, ayahnya menyetujuinya. Tidak lupa dia juga memberitahu soal Jung Yung, dia mengatakan kalau Jung Yung sahabat Minji sedang berada disini, dia juga menceritakan alasan kenapa dia belum kembali kerumah.
Mendengar hal tersebut, ayah dan ibu mereka sangat senang karena ada orang yang membantu menjaga kedua putrinya. Yoona juga tidak lupa meminta kepada ayahnya untuk mencarikan pakaian lelaki yang bagus untuk diberikan kepada Jung Yung, tidak enak rasanya ketika nanti dia kembali kerumah tapi sedang menggunakan seragam sekolah.
Panggilan Berakhir!
Jung Yung melihat Yoona sudah menyelesaikan panggilan tersebut, Jung Yung juga bertanya kapan mereka akan datang. Yoona memberitahukan kalau mungkin orang-orang yang akan berjaga datang sedikit terlambat, karena insiden yang terjadi di rumah mereka, ayah mereka menggunakan semua orang untuk berjaga di rumah mereka.
Jung Yung memahami itu dan dia memberitahukan juga kalau dia akan sabar menunggu kedatangan orang-orang yang akan berjaga di tempat ini. Yoona berterima kasih kepada Jung Yung. Jung Yung merasa kalau ini tidak ada apa-apanya.
Mereka berdua tersenyum.
^^^To Be Continued…^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments