Setelah dia menghajar mereka semua dan menghilangkan bukti kalau dirinya-lah yang menghajar mereka, Jung Yung langsung pergi mencari Boss mereka. Namun jika ingin mengetahui keberadaan Boss mereka, Jung Yung mampir sebentar ke Rumah Sakit untuk menjenguk Minji.
Dia keluar dari sekolah dan berjalan mencari taksi malam itu. Tidak lama kemudian mobil taksi terlihat dari arah sebelah kiri.
Dia menunjukkan tangannya ke depan dengan tujuan memberhentikan mobil taksi yang sedang melintasi area tersebut.
Taksi berhenti.
Dia menaikinya.
Saat dia menaiki taksi itu, sopir taksi tersebut bertanya kepadanya, “Kemana aku akan mengantarmu pak?” Jung Yung menjawab Rumah Sakit Seoul, sopir itu membalas dengan cara menganggukkan kepalanya.
Tidak lama berselang, Tiga puluh menit berlalu dan akhirnya Jung Yung sampai di tempat tujuannya.
Rumah Sakit Seoul.
Jung Yung memasuki rumah sakit itu. dia menuju ke arah resepsionis yang berada di lobby depan rumah sakit itu.
Dia menanyakan bagaimana jika dia ingin mengetahui kamar pasien? Resepsionis itu memberitahukan kepada Jung Yung, kalau dia bisa menuju ke sebelah kiri sana. Di meja tersebut para petugas medis yang akan memberitahukannya.
Jung Yung pergi kesitu. Sesampainya dia di tempat itu dia bertanya mengenai ruangan dari nama yang dia sebutkan yaitu Minji. Petugas itu mencari nama itu dengan computer mereka.
Klik!
Pencarian {…}
Data ditemukan: [Nama: Minji. Ruangan: VIP. No Ruangan:05, Lantai 5].
Petugas itu mengatakan semua yang tertulis disitu kepada Jung Yung, tetapi sebelum itu petugas tersebut menanyakan ada keperluan apa dia dengan pasien, dan mereka memiliki hubungan seperti apa.
Jung Yung menjawab kalau dia adalah sahabat dari Minji atau pasien tersebut. Karena untuk keselamatan Minji, siapapun yang akan menjenguk Minji harus mendapatkan izin dari kedua orang tua mereka.
“Maaf pak. Sepertinya anda harus menunggu sebentar.”
“Memangnya ada apa?” tanya Jung Yung dengan wajah yang bingung.
“Kami harus mendapatkan izin dari kedua orang tua pasien yang ingin anda kunjungi.” Jawab petugas itu.
Jung Yung mengangguk.
Jung Yung berpikir, mungkin karena insiden tersebut, membuat kedua orang tua Minji tidak membiarkan sembarangan orang masuk atau mengunjungi anak mereka.
[Panggilan; Orang Tua pasien]
Klik!
Angkat!
“Selamat siang pak. Ini dari pihak rumah sakit. Kami ingin memberitahukan kalau ada teman dari anak bapak yang ingin datang menjenguk anak bapak. Namanya adalah Jung Yung, dia mengatakan kalau dia adalah sahabat dari anak bapak.”
Petugas itu menjelaskan kepada Ayah Minji.
Ayah Minji terdiam, dia berpikir sejenak.
'Jung Yung? sambil mengusap-usap dagunya. Lalu dia teringat nama itu, aku ingat, bukankah dia lelaki yang selalu dibicarakan anak ku? Katanya dia tinggi, tampan, tetapi sangat dingin. Namun dia adalah lelaki yang baik dan juga salah satu sahabat anakku Minji di sekolah.
“Halo pak?” panggil petugas itu lagi.
Ayah Minji menjawab, “Sebelum itu, apa lelaki yang menghampirimu dia lelaki yang tampan?”
Petugas itu menjawab, “Benar pak”. 'Ternyata benar itu dia, ucap ayah Minji dalam pikirannya.' “Baiklah, izinkan dia masuk.” balas ayah Minji. “Baik pak.” Balas petugas itu lagi.
Klik! [Panggilan diakhiri]
Petugas itu meletakkan telepon tersebut, dia langsung mengatakan kepada Jung Yung kalau dia mendapatkan izin dari orang tua pasien. Jung Yung tersenyum. Dia berterima kasih kepada petugas itu dan langsung pergi ke ruangan Minji.
Jung Yung menuju ke arah lift.
Dia menunggu.
Lift datang dan terbuka.
Masuk.
Satu, Dua, Tiga. Perlahan-lahan lantai terlewati. Empat, Lima, Pintu Lift terbuka. Jung Yung keluar dari situ dari mencari nomor ruangan yang telah diberitahukan petugas tadi kepadanya.
Perlahan dia berjalan dan melihat setiap pintu yang ada, baik yang ada di sebelah kiri maupun yang ada di sebelah kanan.
Bukan, ini juga bukan, ini juga…Empat, ucapnya melihat pintu itu memiliki nomor Empat. Pasti yang kanan nomor Lima kan. Dia melihat pintu yang ada di sebelah kanan. Tertulis jelas di depan pintu itu, nomor Enam.
Jung Yung memasang raut wajah yang bingung, Enam? Lalu dimana nomor limanya? ucapnya dalam benaknya. Dia berjalan sedikit lagi dan melihat pintu di sebelahnya. Sebelah kiri tertulis, nomor tujuh dan sebelahnya delapan.
“Bagaimana bisa?” Jung Yung merasa kesal, dia seperti sedang di bodohi.
Dia mengambil handphone miliknya dan menelpon sahabatnya yang satu lagi, Heejin.
[Memanggil; Heejin]
[Berdering]
Klik!
Angkat.
“Halo Heejin. kamu tahu kamu dimana kamar Minji?” Jung Yung tanya langsung ke intinya.
“Apa kamu sedang berada di rumah sakit?”
“Ya.”
“Kamarnya berada di lantai lima. Ruangan VIP nomor Lima.”
“Aku sudah berada di lantai tersebut, tetapi aku tidak mendapati nomor ruangan Lima.”
Heejin tertawa dalam panggilan itu.
“Kenapa kamu tertawa?”
“Kamu pasti bingung kan kenapa tidak ada nomornya.”
“Tentu saja.”
“Kamu harus turun lagi. Kamu naik lift yang ada di sebelah kiri ya?”
Jung Yung berusaha mengingat lagi. Benar, dia naik lift yang disebelah kiri.
“Sekhawatir itukah kamu terhadap Minji sampai-sampai tidak memperhatikan tulisan yang ada di dinding lift.”
“Maksud mu?” tanya Jung Yung dengan bingung lagi.
“Kamu turun lagi. Lalu masuk ke lift yang kanan. Sebelum itu, kamu harus membaca tulisan yang ada di dinding lift sebelah kanan itu.”
“Baik, akan aku lakukan. Terima kasih Heejin.”
“Iya, sama-sama. Kabari aku jika Minji sudah sadar.”
“Maksudmu?” tanya Jung Yung lagi.
“Lebih baik kamu melihatnya sendiri.” suara Heejin terdengar sedih.
Klik!
[Panggilan Berakhir]
Jung Yung kembali menaiki lift, tetapi kali ini dia tidak naik lantai, melainkan turun lantai. Dia sampai di lantai pertama kali dia naik lift.
Dia keluar dari lift itu dan berpindah ke lift yang kanan. Dia teringat pesan Heejin kalau dia harus memperhatikan tulisan yang ada di dinding lift tersebut.
[Lift Khusus Pasien VIP]
Jung Yung terdiam seperti orang bodoh.
Dia menggaruk sedikit kepalanya.
Dia langsung masuk ke lift tersebut. Satu, dua, tiga, empat, lima. Lift telah berada di lantai yang dituju Jung Yung.
Dia keluar dari lift dan bergerak cepat mencari ruangan Minji. Melihat ke kiri dan ke kanan lagi. Akhirnya dia mendapatkan nomor ruangan itu, kali ini nomor tersebut ada di depan pintu yang dia tatap.
Mengetuk Pintu!
Seseorang membukanya. Wanita cantik yang mirip seperti Minji membuka pintu tersebut. Sejenak dalam pikiran Jung Yung berkata, kalau wanita yang ada di depannya ini pasti adalah kakak dari Minji.
“Anda siapa ya?” tanya wanita itu.
“Maaf mengganggu. Aku adalah sahabat Minji yang datang untuk mengunjunginya.”
“Apakah benar?”
Jung Yung mengangguk.
“Bagaimana bisa Minji memiliki sahabat sepertimu. Lihatlah dirimu, kamu datang kemari sudah larut malam, kamu juga mengenakan pakaian yang cukup terbuka untuk bagian lengan dan topi di kepala. Bukannya kamu terlihat seperti pembunuh yang datang membunuh adikku!”
Jung Yung terdiam. Kepalanya kacau, dia tidak sadar kalau pakaiannya terbuka. Apa yang dikatakan oleh kakak Minji semuanya benar. Aku terlihat seperti perampok yang ingin melakukan hal yang buruk.
Jung Yung membungkukkan badannya. Dia meminta maaf, dia membuat alasan kenapa dia mengenakan pakaian itu. Dia memberitahukan kalau dia sedang dalam perjalanan untuk membeli sesuatu, tetapi tiba-tiba dia mendapatkan telepon kalau sahabatnya sedang berada di rumah sakit, maka dari itu dia langsung bergegas menuju kesini.
Kakak Minji menatap Jung Yung.
“Ya, aku terima permintaan maafmu. Karena kamu tampan.” goda sedikit kakak Minji kepada Jung Yung.
Jung Yung tersipu malu beberapa saat.
Jung Yung bertanya lagi bagaimana keadaan Minji. Kakak Minji memperlihatkan adiknya. Terlihat Minji sedang menggunakan oksigen buatan.
Kakak Minji juga memberitahukan kepada Jung Yung, kalau dokter mengatakan tidak ada luka yang parah.
“Tetapi kenapa dia belum juga sadar?”
“Kata dokter, Minji belum sadar mungkin karena dia sedang mengalami shock berat.”
“Ah…aku paham.”
Seketika Jung Yung mengingat lagi kejadian yang menimpa Minji, tentu saja pelecehan yang dia alami membuatnya sangat ketakutan.
Jung Yung menggenggam tangannya dengan kuat.
“Aku tahu kamu sudah tahu apa yang menimpa Minji.”
Jung Yung mengangguk.
Matanya berubah.
Sekali lagi dia menggenggam tangannya dengan kuat.
Kakak Minji melihat wajah dan tangan Jung Yung. Dia tersenyum manis dan bahagia dalam dirinya, karena ternyata ada seseorang yang merasa kesal ketika adiknya seperti ini.
“Aku tahu kamu kesal. Jangan seperti itu, kamu duduklah aku akan menyediakan minuman.”
Jung Yung menolak tawaran itu. Kakak Minji bertanya kenapa? Jung Yung mengatakan dia memiliki urusan lain.
Jung Yung keluar dari ruangan itu.
Kakak Minji melihat Jung Yung keluar dan menatap Minji yang sedang berbaring tidur sambil berkata, “Kamu memiliki teman yang hebat Minji.” sambil tersenyum.
^^^To Be Continued…^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments