Chapter 9

Jung Yung keluar dari rumah sakit dengan dada yang sesak. Dadanya terasa sakit ketika melihat Minji harus memakai oksigen tambahan dari rumah sakit. Sekarang dia ingin pergi menemui Park Dong yang sekarang berada di kantor polisi.

Kantor Polisi Seoul.

Park Dong sedang duduk di salah satu sel yang berada di kantor polisi tersebut. beberapa orang yang ada di sel itu datang menghampiri Park Dong.

Mereka bertanya, apa perbuatannya sehingga dia berada di sel tahanan ini. Park Dong melirik ke arah mereka dengan mata yang tajam, gayanya juga sedang duduk sambil meletakkan tangannya di kaki kirinya .

Tahanan yang berada di sel yang sama dengannya itu menjadi kesal terhadap sikap pendatang baru itu. Karena mereka berjumlah tiga orang, dua orang berdiri menghampiri park dong, satunya lagi duduk sambil mengamati. Tahanan yang sedang duduk itu adalah kakak tertua dari kedua tahanan yang menghampiri park dong.

“Hei! Apa kamu ingin mengajak kami berkelahi?” tanya salah satu dari kedua tahanan yang datang menghampirinya.

Park Dong mengabaikan mereka.

Salah satu dari kedua tahanan itu memanggil park dong lagi, namun dengan cara yang berbeda, yaitu menampar pipi sebelah kiri park dong.

Menampar!

Pipi park dong menjadi warna mera. Park Dong menatap mereka berdua sekali lagi dengan mata yang tajam.

Kedua tahanan itu menjadi lebih kesal. “Bajingan ini!” gumam salah satu dari mereka. Yang bergumam itu lebih mendekati park dong. Dia menatap park dong, dan berkata “Kamu ingin mati?” park dong mendekatkan wajahnya kepada pria itu dan membalas, “Aku ingin. Tetapi jika kamu juga menginginkannya.”

Pria Tahanan itu langsung melayangkan pukulannya kepada park dong.

Pukul!

Menangkap! Park Dong menangkap pukulan pria itu.

“Kakak kedua!” panggil tahanan yang lain tersebut.

Tahanan itu adalah salah satu tahanan yang datang menghampiri park dong. Karena pukulan kakak keduanya ditahan, dia membantu kakak keduanya dengan cara menendang park dong.

Menendang!

Tendangan ditangkap!

Park Dong menangkap kedua pukul yang dilayangkan kepada dirinya. Park Dong tersenyum licik dan menganggap remeh kedua tahanan yang memukulnya.

Swoosh…!

Sebuah kayu kecil melayang di wajah park dong, tepat mengenai hidungnya. Hidungnya berdarah. Kayu kecil tersebut berasal dari kakak tertua dari kedua tahanan itu.

Dia menatap park dong dengan santai dan berkata, “Bajingan sepertimu jangan bertingkah disini!” park dong tersenyum.

Kaki dan tangan milik kedua tahanan sebelumnya berada di genggaman park dong, karena mereka dianggap remeh oleh mereka, park dong mematahkan kaki dan tangan dari kedua tahanan itu.

Crack…!

Arght…! Teriak kedua tahanan itu.

Kakak tertua mereka berdiri, begitu juga dengan park dong. park dong merasa dia lebih hebat dari mereka bertiga. Karena dua tahanan sedang merasakan kesakitan, sekarang tersisa satu tahanan yang harus dia kalahkan.

Keduanya sama-sama dalam posisi berdiri. Park Dong melayangkan pukulannya terlebih dahulu dengan kecepatan penuh.

Ditahan!

Orang yang menahan serangan park dong tersebut memiliki badan yang besar. Lebih besar dua kali lipat dari badan park dong.

Park Dong tersebut ketika tinjunya berhasil ditahan dengan mudah oleh tahanan yang dikenal dengan kakak besar.

“Kakak Besar!” panggil kedua tahanan yang dipatahkan oleh park dong.

Kakak besar menatap mereka dan tersenyum kepada mereka berdua. Mereka berdua juga tersenyum ketika kakak besar mereka menatap mereka.

“Kalau begitu jangan hanya diam saja. Lakukan yang bisa kalian lakukan! Atau aku akan mematahkan bagian tubuh kalian yang lain!”

Mereka berdua langsung berdiri walaupun sedang merasa sakit. Mereka berdua memeluk Park Dong! Park Dong terkejut melihat badannya di peluk oleh mereka berdua.

Kakak besar mereka tersenyum dihadapan Park Dong dan berbisik di dekat telinga park dong, “Kamu hanya sendiri disini.”

Kakak besar mereka itu langsung melayangkan pukulan balasan ke park dong dengan tinjunya.

Memukul!

Park Dong terkejut dan langsung menghindar ke kiri dengan cepat.

“Cepat juga kamu menghindarinya.”

Dia melayangkan lagi pukulan dengan tangan kirinya. Park Dong berusaha menghindar ke arah kanan, tetapi park dong tidak melihat dengan cermat kalau tangan kanan dari orang itu sedang mengarah ke wajahnya.

Bug…!

Urght…!

Pandangan park dong langsung kabur, bergoyang, dia tidak bisa melihat dengan benar setelah bentrokan pukulan itu. Pukulan tersebut membuat pandangannya gelap seketika.

Karena park dong berusaha menghindar kea rah kanan, ditambah tekanan pukulan yang diberikan oleh orang tahanan itu, membuat park dong hampir jatuh pingsan seketika.

“Kakak tertua, dia hampir pingsan.” ucap salah satu dari kedua orang yang menahan park dong.

Kakak tertua mereka melangkah mundur dan dia memerintahkan kepada kedua bawahannya itu untuk memukul park dong bergantian.

Mereka berdua tersenyum. Tangan mereka melepaskan tubuh park dong. Park Dong tidak bisa berdiri dengan benar, dia merasa pusing.

Memukul!

Tahanan yang park dong patahkan tangannya, menendang tulang rusuk park dong yang ada di sebelah kiri. Sedangkan tahanan yang kakinya patah akibat ulah park dong, meninju tulang rusuk sebelah kanan.

Bug…!

Bug…!

Arght…!

Urght…!

Erangan kesakitan park dong.

Kedua tahanan itu tertawa lepas. Hahaha. Sekali lagi mereka melakukan itu. Tidak sampai disitu, mereka juga menarik rambut park dong, dan memukul wajah park dong hingga babak belur.

Memukul!

Memukul lagi!

Menendang!

Arght…urght…Arght…!

Park Dong merasakan kesakitan yang luar biasa.

Kedua tahanan itu tertawa lagi dan mereka berkata, “Itulah akibat kalau kau macam-macam dengan kami!” mereka tertawa lepas lagi.

Mereka berdua kembali kepada kakak besar mereka. Dan mereka langsung memijat badan dari kakak besar mereka, mereka juga tidak lupa mengucapkan terima kasih karena telah memberikan kesempatan kepada mereka berdua.

Kakak tertua mereka hanya tersenyum.

Ditempat lain…

Jung Yung menelpon Heejin sekali lagi.

[Memanggil]

Tidak kunjung diangkat oleh Heejin.

Dia melakukannya sekali lagi.

Hasilnya sama.

Dia membuka kotak pesan, dan menuliskan pesan kepada Heejin.

[Kotak Pesan]

“Heejin, kalau kamu tahu dimana kantor polisi yang menangkap Park Dong, tolong segera beritahu aku.” – Jung Yung.

Klik! [Pesan Terkirim]

Sambil menunggu balasan dari Heejin, Jung Yung mampir dulu ke mini market. Dia masuk membeli minuman dan segelas mie untuk dimakan. Dia memakan makanan tersebut di dalam minimarket itu.

Dua Puluh Menit berlalu

Getaran berbunyi dari Handphone milik Jung Yung. Jung Yung membuka handphonenya dan melihat isi pesan yang dia terima.

[Kotak Pesan];

“Park Dong di bawah ke kantor Polisi Seoul. Jung Yung, maafkan aku karena tidak bisa mengangkat panggilan-mu, aku sedang sibuk.” - Heejin

Jung Yung membalas;

[Kotak Pesan];

“Tidak apa-apa. Terima kasih untuk informasinya.”

Karena sudah mengetahui lokasi dari pada Park Dong, Jung Yung menunggu sedikit lebih lama untuk datang ke kantor polisi.

Kantor Polisi Seoul adalah kantor polisi yang dijaga ketat oleh banyak polisi, karena kantor polisi tersebut merupakan kantor polisi pusat. Bisa dikenal dengan istilah, Markas Besar Kepolisian Korea Utara.

Jam menunjukkan pukul 12.00 malam.

Jung Yung bergegas menuju kantor polisi seoul. dia sampai di depan gerbang kantor polisi tersebut. sangat besar dan luas, bahkan halamannya bisa mengisi ratusan mobil polisi.

Melihat keadaan itu, Jung Yung berpikir cara untuk masuk kedalam kantor polisi. Ini terlalu beresiko! Ucapnya dalam benaknya.

Ada begitu banyak kamera pemantau yang diletakkan, bagaimana bisa dia menghindari semua itu. Karena hampir setiap satu meter, ada kamera pemantau.

Jung Yung menggigit bibirnya karena kesal! Kalau begitu dia tidak bisa masuk kedalam dengan bebas.

Tidak lama kemudian mobil Ambulance memasuki kantor polisi tersebut.

Jung Yung memperhatikan, dia melihat ada seseorang yang sedang mereka bawah menaiki mobil ambulance.

Dia memperhatikan sekali lagi dengan baik.

“Wajah itu!” merujuk kepada seseorang yang sedang di naikan ke mobil ambulance. “Tidak salah lagi, dia adalah park dong. wajahnya babak belur, apa yang terjadi dengannya sehingga dia memiliki wajah seperti itu? Sialan, tidak ada yang bisa membuatnya seperti itu selain aku!” sambil memukul dinding gerbang polisi.

Mobil Ambulance akan keluar.

Jung Yung bersembunyi di balik bunga yang ada disitu.

Mobil Ambulance pergi. Jung Yung mengikuti mobil itu, dia memberhentikan sebuah taksi yang sudah tidak beroperasi lagi karena sudah larut malam. Tetapi dia membujuk supir taksi itu akan membayar tiga kali lipat dari harga sebenarnya, supir taksi tersebut mengiyakan hal itu.

Jung Yung mengikuti mobil ambulance dari belakang dengan taksi yang dia tumpangi. Jung Yung berpikir kalau mereka mungkin akan pergi ke rumah sakit, ternyata tidak, mereka berhenti di salah satu puskesmas.

Mereka menurunkan Park Dong dan membawa park dong kedalam.

Jung Yung turun dari mobil taksi itu dan membayar sesuai dengan perjanjian. Harga yang dibayarkan sebesar 15.000 won (Rp 180.000). supir taksi tersebut tersenyum, karena dia mendapatkan untung yang banyak.

**

Jung Yung memasuki puskesmas itu tanpa diketahui siapapun. Dia berjalan perlahan dan mengendap perlahan, berpura-pura mengambil berkas dan memeriksa foto dinding, lalu mencari ruangan perawat.

Dia menemukan, Ruangan Perawat.

Dia masuk dan melihat di ruangan itu para perawat sedang beristirahat. Dia mengambil salah satu baju perawat yang ada disitu, dan mengenakannya. Lalu dia bergegas menyusul park dong.

Dia berlari dan berbelok ke arah kiri. Sepertinya dia tertinggal, pikirnya. Dia mencari lagi dan belok ke lorong sebelah kanan, terlihat petugas ambulance sedang menjaga pintu ruangan itu.

“Pasti diruangan itu.” gumamnya dengan pelan.

Dia berjalan menuju ke situ, dan meminta izin kepada para petugas ambulance itu. Jung Yung mengatakan kalau dia datang untuk membawa obat, dia memperlihatkan obat itu, petugas ambulance mengizinkan masuk.

Ruang Perawatan.

Dia melihat park dong sedang dirawat oleh satu dokter dan dua perawat. Dia masuk dan memukul semua petugas medis yang ada disitu. Jung Yung membuat mereka pingsan.

Park Dong melihat kejadian itu langsung membuka suaranya dan akan berteriak, “Tolo…” tetapi Jung Yung langsung menyumbat mulut park dong dengan kain pembersih luka yang mereka gunakan tadi.

Jung Yung memasukan kain itu sebanyak mungkin sehingga dia tidak bisa berteriak ataupun berbicara. Jung Yung menarik tangan park dong, dia membangunkan dari ranjang pasien, kemudian mengikat kedua tangannya.

Setelah di ikat, Jung Yung membalikkan badannya dan membungkukkannya. “Ehmm..hmmm…” park dong berusaha mengeluarkan suara tetapi tidak berhasil. “Hmmm..? (siapa kamu?)”

Park Dong tidak mengenalinya dengan baik, penutup wajah yang dikenakan Jung Yung membuat dirinya tampil berbeda.

“Aku? Aku adalah orang yang membalaskan dendam Minji!” balas Jung Yung dengan tatapan yang menakutkan.

“Hmmm…! (Ampuni aku!)” sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Hmmm…(Aku mohon)” sekali lagi dia mengisyaratkan itu.

Jung Yung hanya tersenyum.

Dia membuka jari park dong. karena tangan park dong diikat oleh Jung Yung, Park Dong tidak bisa bergerak bebas.

Jung Yung mengambil satu persatu jari park dong. Dirinya mulai mematahkan satu per satu jari tersebut.

Crack…!

Hmmm…! park dong berteriak di balik mulut yang tertutup.

Crack…!

Hmmm….! sambil menggelengkan kepalanya.

Jung Yung melakukan itu secara terus menerus dengan sepuluh jari milik park dong. Tanpa sadar, Jung Yung telah melakukan penyiksaan. Karena keinginannya membalaskan dendam Minji.

Bagian jari telah diselesaikan.

Park Dong menangis sejadi-jadinya karena kesakitan. Jung Yung membalikkan lagi badan park dong. Jung Yung membuka celana park dong, dia mengeluarkan zakar milik park dong.

“Kamu ingin memuaskan benda ini bukan? Aku akan melakukannya.”

Jung Yung mengambil guntingan kedokteran dan memotong zakar milik park dong. “Arght…!” erangan kesakitan. Darah mengalir keluar dari buah zakar miliknya.

Salah satu dokter yang Jung Yung buat pingsan tadi terbangun. Jung Yung bergegas keluar dari ruangan itu.

Jung Yung keluar melewati para petugas ambulance, dia berjalan secara terburu-buru. Para penjaga melihat Jung Yung sebagai seorang perawat, kemudian para petugas itu bertanya, “Bagaimana, apakah sudah selesai?” Jung Yung berbicara sambil membelakangi mereka dan berkata, “Sebentar lagi akan selesai.” Mereka membalas lagi, “Syukurlah, kami sudah ngantuk.” Jung Yung tertawa dan langsung pergi.

Sebelum dia keluar dari puskesmas, dia kembali ke kamar perawat dan membalikkan baju yang dia kenakan. Lalu dia keluar dari puskesmas, dia berjalan sambil tersenyum bahagia, dia senang karena telah membalaskan dendam Minji, terlebih lagi Park Dong sudah tidak bisa melakukan hal yang cabul dengan benda miliknya.

^^^To Be Continued…^^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!