Di bulan kedua Tahun 2024, Sekolah Menengah Atas, Korea Selatan Seoul.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang. Lee Jung Yung sedang duduk disebuah kursi kecil sambil meletakkan tangannya di atas meja kecil. Pandangannya menatap ke arah luar jendela. Dia sedang berada di bawah lamunan yang membuat dirinya begitu tenang.
Angin berhembus memasuki ruangan Lee Jung Yung. Dia menutup matanya sambil merasakan angin yang sedang bertiupan itu.
Terdengar suara dari teman-temannya memanggil.
“Lee Jung Yung!”
Teman-teman yang memanggilnya ternyata adalah sahabat Lee Jung Yung. Mereka adalah Heejin dan Minji. Keduanya adalah seorang Wanita. Mereka telah berteman sejak mereka dari Kelas satu SMA.
“Jung Yun!” teriak Minji kepadanya.
“Lagi-lagi kamu melamun seperti ini!” sambung Heejin memarahinya.
Jung Yung tetap menghiraukan mereka, karena dia sedang berada dalam suasana yang tenang.
Tepukan!
“Aww!” suara erangan Jung Yung.
Minji menepuk badan Jung Yung, seketika itu juga dia tersadar dari lamunan yang tenangnya tersebut sambil melihat ke arah sahabatnya itu.
“Bisakah kalian memanggilku dengan tenang? Sekali saja.” ucap Jung Yung kepada kedua sahabatnya.
Heejin dan Minji memasang raut wajah yang sangar. Terlihat mereka ingin memarahi Jung Yung.
Dan benar, hal tersebut terjadi.
“Apa katamu? Memanggil dengan tenang?” Minji meninggikan suaranya.
“Jung Yung! Kami selalu berusaha memanggilmu dengan tenang. Tapi kamu (Sambil menunjuk ke arah Jung Yung) tidak pernah mendengarkannya!” sambung Heejin.
Anak-anak di kelas mereka terdiam sejenak sambil menatap mereka bertiga, terutama Jung Yung.
Jung Yung menatap sekitarnya dan melihat teman-teman sekelasnya menatap dirinya dan kedua sahabatnya. Dia merasa tidak enak adegan ini ditunjukkan.
“Baiklah aku salah. Aku minta maaf. Kalau begitu ayo kita pergi makan.”
Ucapnya sambil tersenyum kepada kedua sahabatnya itu dan langsung menarik mereka keluar dari kelas.
Usai mereka terlihat telah jauh dari kelas. Kedua sahabatnya melepaskan tangan mereka dari Jung Yung.
“Tidak mau!”
Heejin dan Minji memasang raut wajah yang masih terlihat sedang marah terhadap Jung Yung.
“Kita akan ke kantin untuk makan. Apa kalian tidak lapar?” tanya Jung Yung.
“Kami tidak nafsu untuk makan.” balas Minji.
Heejin menganggukkan kepalanya setelah Minji mengatakan hal tersebut.
“Apa karena kalian sedang marah kepadaku? Ayolah, jangan seperti itu. Situasi ini sudah biasa terjadi bukan?” ucap Jung Yung sambil mencubit pipi kedua sahabatnya itu.
“Sakit tau!” Minji dan Heejin mengatakan hal yang sama secara bersamaan lagi.
Jung Yung tertawa dan melepaskan pipi mereka.
“Kami akan makan, jika kamu yang mentraktir kami. Bagaimana?”
Heejin meminta Jung Yung mentraktir mereka.
“Setuju!” sambung Minji.
“Hei..hei. jangan seperti itu. Bukannya aku tidak mau. Tapi kalian lebih kaya dariku dan sekarang kalian meminta aku mentraktir kalian?”
Heejin dan Minji tetap diam dengan wajah yang cemberut.
Jung Yung menatap sakunya. Dalam benaknya mengatakan “Sepertinya hari ini aku harus jalan kaki lagi.”
“Baiklah-baiklah. Aku akan melakukannya.”
Tos!
Minji dan Heejin melakukan itu sambil mereka tertawa.
Kantin Sekolah.
Mereka sampai di kantin sekolah yang terlihat mewah, rapi dan bersih.
Kantin sekolah mereka banyak sekali menjual jajanan. Pihak sekolah memperbolehkan bagi penjual untuk masuk. Akan tetapi masakan mereka harus selalu bersih dan tidak menggunakan bahan-bahan yang membahayakan para siswa mereka.
Heejin dan Minji langsung berlarian mencari makanan kesukaan mereka.
“Hei Minji.” panggil Heejin.
“Ya?”
“Apakah kamu suka ayam goreng? Nampaknya ini terlihat enak.”
“Ya aku suka. Belikan aku ayam itu ya.”
“Baik.”
Heejin berbalik melihat Jung Yung. Dia mengulurkan telapak tangannya dengan terbuka.
Jung Yung mengangguk kepalanya ke atas seperti sedang mengisyaratkan kata “Apa?”
Heejin menggoyangkan telapak tangannya.
Jung Yung sekali lagi ingat kalau dia yang akan mentraktir mereka.
Jung Yung mengambil uang dari sakunya dan memberikannya kepada Heejin. Kemudian Heejin langsung berbalik lagi dan meminta kepada penjual Ayam goreng itu untuk membungkus ayam yang dia pesan.
“Ahjussi (Paman). Tolong bungkus Lima ayam goreng ya.”
“Baik.”
Heejin membeli ayam goreng, sedangkan Minji melihat minuman yang ingin mereka minum.
Minji memikirkan minuman seperti apa yang kali ini dia akan minum.
“Haruskah aku memesan chocolate kali ini? Tapi apakah Heejin suka? sambil berpikir. “Heejin.” panggil Minji.
“Ya.” sahut Heejin.
“Kamu ingin aku memesan minuman apa?”
“Chocolate.” jawab Heejin dengan senyuman manis.
“Seperti yang kuduga. Kita memikirkan hal yang sama.” Jawab Minji sambil tersenyum.
Minji memesan minuman yang sudah mereka rencanakan.
“Ahjumma (Bibi). Berikan kami dua cup minuman rasa Chocolate.”
“Baik.”
Sementara itu Jung Yung bingung untuk membeli makanan apa. Nampaknya uangnya tidak akan cukup jika dia membeli makanan atau minuman seperti kedua sahabatnya tersebut.
“Ahjussi. Berapa total harga ayam goreng ini?” tanya Heejin.
“Semuanya, 10.000 ribu won. (Rp 115.000)”
Uang yang dipegang Heejin usai diberi oleh Jung Yung sebesar 20.000 won.
Heejin memberikan sejumlah uang sesuai dengan harga dari Ayam goreng itu.
“Ahjumma. Berapa total kedua cup ini?” tanya Minji.
“Harga satu cupnya, 5.000 ribu won. Jadi kalau dua cup totalnya 10.000 ribu won. (Rp 115.000)”
Heejin mendengar total dari belanjaan minuman mereka dan langsung memberikan kepada Minji sisa uang daripadanya untuk dibayarkan kepada Ahjumma.
“Terima kasih.”
Ucap Heejin dan Minji secara bersamaan.
Setelah mereka membeli makanan dan minuman mereka, mereka mencari Jung Yung.
“Kemana perginya Jung Yung itu?” tanya Heejin.
“Bukannya tadi dia berada di belakangmu Heejin.” jawab Minji.
Mereka berdua berusaha mencari Jung Yung. Mengarahkan pandangan ke kiri dan ke kanan. Beberapa detik kemudian mereka menemukan Jung Yung.
“Di Sana.”
Tunjuk keduanya ke arah Jung Yung.
Terlihat Jung Yung sedang membeli roti dan susu. “Ini dia Ahjumma.” Dia membayarkan 2.000 won (Rp 23.000) untuk sepasang roti dan susu.
Minji dan Heejin menghampiri Jung Yung.
“Kamu hanya membeli roti dan susu? Hari ini sudah siang, bagaimana bisa kamu membeli roti dan susu. Itu tidak akan membuatmu kenyang.” Ucap Heejin.
Minji mengangguk.
“Ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Uangku sudah habis untuk mentraktir kalian berdua.” Jawab Jung Yung.
Minji dan Heejin saling melirik satu sama lain. Mereka merasa kasihan terhadap Jung Yung, sekaligus merasa bersalah karena meminta dia untuk mentraktir mereka. Padahal mereka sendiri tahu kondisi ekonomi keluarganya yang sedang tidak baik-baik saja.
Jung Yung melihat raut wajah mereka berdua. Dia berpikir pasti mereka berdua merasa bersalah. Untuk menghilangkan itu, Jung Yung berbicara, “Tidak usah khawatir. Anggap saja itu hadiah dariku karena telah membuat kalian berdua marah.”
“He! Benar juga. Itu salahmu.”
“Benar. Kami akan menerimanya.”
Minji dan Heejin menjawab sambil menunjukkan raut wajah yang tidak bersalah. Namun dalam hati mereka,“Aku meminta maaf karena tidak memikirkan ini.” Mereka berdua merasa bersalah.
Kemudian mereka mencari tempat duduk untuk menghabiskan makanan mereka. Selagi mereka mencari tempat duduk, terdengar beberapa pria yang berada di situ memanggil kedua sahabat Jun Yung.
“Cantik, disini saja. Kami memiliki tempat untukmu.”
“Bergabunglah Bersama kami.”
Minji dan Heejin. Keduanya merupakan wanita yang cantik. Bisa dilihat kalau mereka berdua merupakan bunga sekolah yang ada di sekolah mereka. Itulah sebabnya, para lelaki merasa iri kepada Jung Yung yang berhasil menjadi sahabat mereka berdua.
Selain itu, Minji dan Heejin berasal dari keluarga yang kaya. Setiap hari mereka datang dengan mobil Limosin, dengan begitu bisa menunjukkan betapa kayanya mereka berdua.
Hanya saja tidak ada yang tahu kenapa Heejin dan Minji mau berteman dengan Jung Yung. Ada rumor yang mengatakan kalau Minji dan Heejin sangat suka dengan lelaki tampan.
^^^To be Continued…^^^
...ILUSTRASI KEDUA SAHABAT JUNG YUNG...
...⏬⏬⏬...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments