Chapter 5

Park Dong adalah ketua preman sekolah dimana Jung Yung, Minji dan Heejin bersekolah. Dia terkenal akan kejahatannya dalam mem-bully siswa, terutama Wanita. Dia senang bermain-main dengan wanita, dirinya tidak merasakan kesenangan itu lagi, tetapi hal tersebut berubah setelah dia melihat dan bertemu dengan Minji.

Keelokan tubuh Minji sebagai seorang wanita, membuat Park Dong sangat menginginkannya. Awalnya dia ingin menjadikan Minji pacarnya, namun semuanya berubah ketika dirinya mulai digoda Evil Spirit (Roh Iblis). Dia tidak ingin Minji menjadi pacarnya, dia ingin Minji menjadi budak pemuas nafsunya.

***

UKS Sekolah.

Terlihat Minji sedang berbaring di ranjang UKS sambil menangis. Disampingnya, Heejin sedang menemaninya. Heejin sebenarnya juga takut, persis seperti Minji. Hanya saja dia berusaha menahan ketakutan itu, dia tidak ingin membebani Minji yang lebih emosional dibandingkan dirinya.

Heejin menggenggam tangan Minji. Dalam genggaman itu, tangan Heejin gemetaran, dirinya juga perlu perlindungan dari seseorang, hanya saja dia tidak tahu kepada siapa dia meminta perlindungan di sekolah ini.

Jung Yung? terlintas dalam benak Heejin. Itu tidak mungkin, kondisi sekarang dimana Jung Yung sedang marah terhadap dirinya dan juga Minji. Heejin menangis, dia menangis tanpa bersuara, rasanya sangat sakit.

Heejin mengendurkan dadanya, mengambil nafas sedalam-dalamnya dan melepaskan nafas itu. Dia berusaha menjadi kuat. Dia mengambil handphonenya, dia mencari kontak orang tuanya. Dia melihat ke arah Minji, terlihat Minji sudah tertidur. Dia melepaskan genggaman itu, dia keluar dari ruangan UKS menuju toilet wanita.

Menelpon!

Panggilan!

Diangkat!

“Halo? Heejin?” terdengar suara berat keluar dari panggilan itu.

“Ayah…” dia sudah tidak dapat menahan tangisannya, dan seketika itu Heejin mengeluarkan air matanya.

Heejin menangis sambil menelpon ayahnya. Sontak ayahnya langsung merasa khawatir dengan putri cantiknya itu. Ayahnya terus memanggil nama Heejin dalam panggilan itu, tetapi Heejin tidak mendengarnya, dia terus menangis sejadi-jadinya.

“Heejin! Kamu dimana sekarang?” tanya ayahnya dengan panik.

“Ak…aku...Be..rada d..i...to...i...le...t...se..kolah…” Heejin menjawab dengan terbata-bata.

"Tunggu Ayah Di sana-"

Panggilan Berakhir!

Ayahnya sedang berada di kantor, dengan cepat bergegas menelpon sekretarisnya untuk menyediakan mobil untuknya. Tidak lupa juga untuk membawa beberapa pengawal agar mengikutinya. Dalam panggilan itu, sekretarisnya memberitahukan kalau beliau memiliki jadwal pertemuan. Namun dengan tegas ayah Heejin meminta untuk menghentikan semua jadwalnya.

“Tapi pak…” sela sekretarisnya.

“Ikuti kemauan ku! Jika mereka ingin membatalkan perjanjian, silahkan saja! Tetapi untuk sekarang aku sedang ada urusan yang lebih penting daripada pertemuan itu.”

Sekretaris itu dimarahi! dengan nada yang lembut, sekretaris itu mengiyakan dan akan memberitahukan kepada semua orang yang terlibat jadwal dengan anda.

Lima Menit berlalu.

Ayah Heejin keluar dari lift dan bergegas menuju ke mobil. Dia membuka pintu mobil sendiri, biasanya dibukakan oleh pengawalnya, namun sekarang bukanlah waktunya untuk bersikap formal.

“Kita menuju ke sekolah putriku.” perintahnya kepada sopir itu.

Raut wajah yang bercampur aduk, cemas, marah, khawatir. Sopir pribadi itu melihat dari kaca mobil dalam yang mengarah ke belakang. Dia melihat wajah Boss-nya, baru kali ini dia melihat Boss-nya menunjukkan wajah seperti itu.

Sopir pribadi itu langsung menunjukkan keahliannya dalam mengemudi sebuah mobil. Mereka melaju dengan cepat. Sepuluh Menit kemudian mereka tiba di sekolah Heejin.

Ayah Heejin bergegas turun dari mobil dan masuk kedalam gedung sekolah.

Ruangan Kelas Jung Yung

Jung Yung sedang melihat ke arah luar, tidak sengaja pandangannya melihat ke arah Ayah Heejin. “Bukankah itu ayahnya Heejin? kenapa dia kemari? Tidak seperti biasanya.” Pikirnya dalam benaknya.

Jung Yung khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Heejin.

“Jadi, pada dasarnya bumi itu bulat. Hal ini telah dibuktikan oleh sains-” Guru Jung Yung sedang menjelaskan mengenai pelajaran. Jung Yung menyela, “Guru, aku ingin pergi sebentar ke toilet.” Gurunya belum mengiyakan, Jung Yung sudah berlari keluar.

Jung Yung berlari dengan cepat menuju ke kelas Heejin dan Minji. sesampainya di depan kelas, Jung Yung mengetuk pintu tersebut. Guru yang berada di kelas itu mempersilahkan murid tersebut maksud.

Jung Yung memasuki kelas sambil bertanya, “Maaf mengganggu guru, aku ingin menanyakan soal Heejin, apakah dia berada di kelas?” Heejin? guru itu mengetuk kepalanya dengan pena yang sedang dia pegang, berusaha untuk mengingat.

“Gadis cantik itu ya-“ guru itu mengingatnya. Jung Yung mengangguk. “Tidak, dia sedang berada di ruangan UKS, katanya dia ingin membawa temannya Heejin ke UKS.”

UKS? Dalam benak Jung Yung pasti telah terjadi sesuatu. Jung Yung melihat ke seseorang yang sedang duduk di depan kelas, dia mengisyaratkan kalau Jung Yung harus bergegas kesana. Jung Yung mengangkat keningnya dan mengucapkan terima kasih kepada guru itu. Dia pergi.

Jung Yung berlari lagi dengan cepat! sialan, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka tidak memberitahukan kepadaku? awas saja kalian berdua! Jung Yung kesal karena mereka tidak memberitahunya, pada saat yang sama juga dia merasa cemas dengan mereka berdua.

UKS Sekolah.

Jung Yung tiba di ruangan UKS. Dia membuka pintu, masuk kedalam dan berjalan pelan sambil melihat ke arah kiri dan kanan.

Dia tidak menemukan mereka, seseorang yang tahu dengan Jung Yung memanggilnya. “Jung Yung.” panggilan itu membuatnya mencari orang yang memanggilnya, orang itu berada di ranjang pertama saat memasuki ruangan UKS.

Jung Yung pergi kesana, “Kamu tahu aku?” sambil menunjuk dirinya.

“Siapa yang tidak tahu kamu. Kamu yang menghajar para preman itu kan.”

Jung Yung tersenyum.

“Aku tahu, kamu kemari mencari Heejin dan Minji kan.”

Jung Yung mengangguk.

“Kalau kamu mau mencari mereka, kamu terlambat. Beberapa menit yang lalu, ayah Heejin tiba disini, dia mencari Heejin dan ternyata Heejin sedang berada di toilet. Nampaknya Heejin sedang menangis-“

“Menangis?”

“Iya. Begitu juga dengan Minji. mungkin karena itu ayah Heejin menjemputnya.”

“Lalu bagaimana dengan Minji?”

“Heejin meminta ayahnya untuk menghantarkan Minji juga ikut dengan mereka.”

Jung Yung memegang rambutnya. Wajahnya sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka.

“Aku yakin kamu penasaran dengan apa yang terjadi kepada mereka kan?”

Jung Yung melihatnya, dan memegang kedua bahunya. Dia bertanya, “Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi.”

Siswa itu perlahan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak hanya Minji dan Heejin saja, siswa yang dia lihat sedang berbaring disini juga adalah korban.

Siswa itu menjelaskan bagaimana para Preman sekolah itu datang, kemudian dengan Boss mereka, lalu apa yang telah mereka lakukan terhadap Heejin dan Minji.

Jung Yung mengeramkan bibirnya mendengar cerita itu. Alisnya menunjukkan kalau dia sangat marah. Dia ingin memukul para bajingan-bajiangan itu.

“Terima kasih sudah menjelaskan apa yang terjadi.” ungkap Jung Yung. Siswa itu mengangguk dan bertanya balik, “Apa kamu baik-baik saja Jung Yung?“, "Ya aku baik-baik saja.” jawab Jung Yung sambil menahan amarahnya.

Karena sudah mengetahui apa yang terjadi, Jung Yung kembali ke kelasnya. Untuk sekarang dia tidak perlu mengkhawatirkan Heejin dan Minji, sudah pasti mereka aman di kediaman Heejin.

***

Hari mulai gelap, Jung Yung kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, dia membersihkan dirinya, mengisi perutnya dengan makanan, kemudian masuk ke kamarnya lagi mengganti pakaian olahraga. Karena dia sedang marah, dia memilih untuk melakukan olahraga, agar emosinya jadi lebih stabil.

Kediaman Heejin.

Heejin masih tertidur. Dia kelelahan secara emosional, dia menangis sepanjang perjalan pulang dari sekolahnya. Sedangkan Minji, tertidur lelap ketika ayah Heejin menjemput mereka.

Beberapa saat lalu orang tua Minji menjemput anak mereka. Mereka belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan anak-anak mereka. Mereka hanya mengetahui kalau anak mereka habis menangis.

Pada saat itu juga kedua orang tua Heejin dan Minji saling bertanya apa penyebab yang terjadi kepada kedua anak mereka. Apakah mereka menangisi lelaki yang sama? Keduanya tertawa ketika membahas hal tersebut.

Kedua istri dari mereka berdua menolak, mereka mengatakan kalau hal itu tidak mungkin. Bagaimana bisa mereka mencintai pria yang sama, jika mereka menyukai pria itu, setidaknya pria itu harus berasal dari keluarga ternama juga. Suami mereka berdua menggelengkan kepala.

Kediaman Minji.

Waktu menunjukkan pukul 08.00 PM malam.

Minji yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dia memegang kepalanya sambil melihat sekitarnya. Bukankah ini kamarku? Sejak kapan aku tidur disini? Bukannya tadi aku berada di ruangan UKS sekolah? Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benaknya.

Suara ketukan pintu!

Knock...knock...knock...!

Seorang pembantu datang membawakan makanan untuk Minji. pembantu itu melihat Minji, “Ternyata nona sudah bangun.” Dengan wajah yang gembira pembantu itu berkata. “Bibi, sejak kapan aku tiba disini.” tanya Minji. “Sejak sore tadi.” Jawab pembantu itu.

Jadi begitu ya, aku tertidur sangat lama ya. Siang hingga malam hari, banyak hal sudah terlewatkan. Minji mengendurkan dadanya dan menutupi kepalanya lagi dengan selimut.

Suara bel pintu berbunyi!

Sekali lagi itu terdengar!

“Bibi, sepertinya kita kedatangan tamu.” kata Minji.

Pembantunya itu langsung bergegas meninggalkan kamar Minji. dia menuju ke gerbang depan dan melihat tidak ada siapapun di depan gerbang. Biasanya ada penjaga yang menjaga gerbang depan rumah mereka ini.

Pembantu itu melihat dari balik gerbang tersebut, dia melihat ada seseorang yang memakai topi berdiri disitu. “Ada keperluan apa ya?” tanya pembantu itu. Orang itu menjawab, “Aku teman Minji, aku ingin menyerahkan tugas yang dia tinggalkan waktu di sekolah.”

“Ternyata teman Minji.” dengan senyum pembantu itu membukakan gerbang tersebut dengan niatan mengambil barang itu.

Memukul!

Ahrgt..!

Sekejap pembantu itu pingsan dan tergeletak di lantai depan gerbang.

Orang yang mendatangi rumah Minji ternyata adalah, Park Dong. Ketua preman sekolah Minji, dia juga yang mengganggu Minji di sekolah.

“Besar juga rumahnya.” sambil tersenyum dia melangkah masuk kedalam rumah Minji. dia membuka pintu rumah. Rumah Minji sangat mewah di dalamnya, ruangan nya sangat luas. Dia pikir kalau begini dia perlu waktu untuk menemukan kamar Minji.

"Kamu tidak usah khawatir. Ikuti saja aku. Aku dapat mudah mengetahui kamar Minji.” bisik Evil Spirit kepadanya.

Park Dong tertawa licik.

"Naik ke lantai dua,"

Park Dong mengikutinya.

"Setelah itu, Lorong kedua, kamu belok ke sebelah kanan. Disitulah kamarnya."

Park Dong mengikuti lagi apa yang dikatakan oleh Evil Spirit. Benar adanya, terlihat pintu besar yang ada di Lorong itu. Itu dia, akhirnya aku bisa mengeluarkan sisa cairan ini. pikir dengan tawa yang licik sambil menggerakkan kedua tangan dan jarinya.

Ketukan Pintu!

Knock...knock...!

“Masuk saja bibi. Aku tidak menguncinya.”

Pintu itu terbuka. “Bibi siapa yang-“ dia terkejut ketika melihat seseorang yang ditakutinya berada disitu.

Kyaakk..!

“Sedang apa kamu disini?!”

Minji turun dari tempat tidurnya. Mukanya gelisah, nafasnya tidak teratur, matanya terlihat bingung harus melakukan apa.

“Minji sayang. Aku sangat merindukan-mu. Ku mohon datanglah kemari.” Sambil mengulurkan tangannya ke arah Minji.

Minji menolak. dia bergerak ke sudut, dia berlari lagi ke sudut yang lain. Dia berusaha mengambil sesuatu yang berada di laci mejanya. Dia membongkar apa saja yang bisa dia jadikan senjata, dia mendapatkan sebuah gunting.

Dia mengeluarkan gunting itu dan mengarahkan ke arah Park Dong. Dia berteriak lagi, “Jangan mendekat, atau aku akan menusuk mu!”

Park Dong tertawa, “Memangnya kamu bisa? Hahaha.” Park Dong berlari dan melompati Minji.

Minji mengibaskan gunting itu. Park Dong terkejut! Dia menghindari gunting itu. “Hampir saja! Sialan kamu benar-benar ingin melakukannya ya!”

“Sudah kukatakan, jangan mendekat!” kali ini Minji memegang gunting itu dengan kedua tangannya.

Park Dong melihat Minji. “Oh sayang, kamu begitu seksi hari ini. lihatlah pakaian yang kamu kenakan. Kamu juga tidak memakai dalaman untuk dada indah-mu.”

Mendengar ucapan itu, sekejap Minji menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Hal itulah membuat Park Dong mudah menangkap Minji.

Park Dong melompat ke arah Minji, “Dapat kau!” hehehe.

Kali ini Park Dong benar-benar mendapatkan Minji. Park Dong memeluk Minji dengan erat. Dia mengambil gunting yang dipegang Minji dan melemparkan jauh-jauh dari mereka.

Minji memberontak, lepaskan aku! Lepaskan! Park Dong memeluk semakin erat. Dia tertawa sangat senang.

"Tunggu apa lagi? Ini adalah kesempatan yang baik untukmu! Lakukanlah selagi tidak ada orang lain." bisik Evil Spirit kepada Park Dong.

Park Dong semakin bersemangat. Dia menahan tangan Minji dan memutarnya ke belakang. Dia meremas bokong Minji!

Kyaa! Teriak Minji sambil menangis!

Jangan menangis, ucap Park Dong. Dia mulai menjilati leher Minji. menggigit telinga Minji secara halus. Minji terus menangis, sambil berkata, Tidak-tidak!

Park Dong melepaskan satu tangan miliknya ketika dia menahan tangan Minji, dan dia berpindah memegang buah dada Minji.

Minji semakin Histeris!

“Jangan! Tidak…! Tolong jangan!” teriak Minji.

“Aku tidak bisa! Buah dadamu sangat empuk.”

Park Dong terus memegang buah dada Minji. dan memutar-mutar buah dada Minji. Park Dong memegang belum dari dalamnya, dia masih memegang beserta dengan baju tipis yang dikenakan Minji.

Tiba-tiba…!

^^^To be Continued…!^^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!