Akhirnya pengumuman sudah selesai dibacakan dan barisan dibubarkan. Mereka semua berbondong-bondong ke arah Mading untuk melihat hasil dari pencapaian mereka yang tidak disebutkan. Tasya seperti biasa santai seperti tidak mempunyai beban. Sedangkan Lintang dan Arsya sibuk mencari nama mereka. Meskipun tidak diurutan bagian atas, mereka sudah cukup puas dengan kerja kerasnya. Berbeda dengan Tasya yang selalu menerima, padahal dia saja yang malas dengan belajar.
"Selamat ya Cassi kami atas keberhasilannya, semoga bisa bertahan." Ujar Lintang.
"Selamat Cass bangga jadi sahabat kamu, meskipun aku tidak pintar setidaknya mempunyai sahabat jenius." Kata Tasya yang mengelus rambut Cassi dari belakang.
"Iya makasih banyak sudah mendukung aku." Balas Cassi tersenyum.
"Keren kamu Cass bisa merebut posisi Kak Reland, pertahankan takutnya nanti Tasya yang mengejar kamu." Ujar Arsya yang tidak serius.
"Nanti kalau benar kalian akan menyesal mengejek aku terus." Jawab Tasya sambil terkekeh.
Mereka pun telah memeriksa di mading yang saat ini masih ramai murid yang melihat pengumuman. Mereka pergi ke kantin sekolah yang di mana sudah ada Reland bersama sahabatnya.
"Arsya, sini." Panggil Fatan.
Arsya dengan ketiganya langsung menoleh ke arah sumber suara. Pemandangan yang sangat indah empat visual yang tidak main-main berkumpul. Inilah alasan kenapa mereka berempat ini di juluki wajahnya SMA Pusaka memang tidak salah. Bagaimana mereka bisa berkumpul dalam satu kelompok yang tidak ada kejelekan sama sekali.
"Kak Fatan." Jawab Arsya.
"Sini gabung." Ajak Risto.
Mereka pun ikut bergabung. "Mau makan apa biar aku yang pesan?" Ucap Risto menawarkan bantuannya.
"Hari ini Reland sama Cassi kan yang traktir secara juara umum tadi?" Ujar Skyler memainkan matanya mengarah pada kedua orang yang dia sebutkan.
"Setuju!" Jawab mereka bersamaan.
Sedangkan Cassi dan Reland saling tatap dan menyetujuinya. Sedangkan Risto segera memesan makanan.
"Kalau di lihat-lihat Tasya selalu menatapku dengan tajam, kenapa Tas ada masalah?" Tanya Skyler mengarah pada Tasya yang berada di depannya.
"Siapa Kak yang menatap, yang ada Kak Sky yang melihat ke sini terus, Lin pindah posisi kamu di sebelah sini saja." Ujar Tasya yang tidak menerima tuduhan Skyler.
"Kalian ribut terus kalau ketemu, takutnya jodoh." Ujar Fatan.
"Iya Kak berantem terus biasanya jodoh." Lintang mengiyakan.
"No!" Jawab mereka bersamaan.
Kemudian hening karena makanan telah sampai. Setelah makan mereka mengobrol ringan. Tasya dan Skyler memang tidak bisa diselamatkan, memang duta ribut. Mereka membicarakan rencana liburan yang telah disiapkan.
"Bagaimana rencana liburan kita?" Tanya Risto.
"Seperti saran Kak Sky kemarin sepertinya seru Kak, nuansa pantai tidak pernah salah. Kalau mau naik gunung jujur aku sendiri belum pernah takut tidak kuat." Ujar Lintang.
"Kali ini setuju juga Kak, kita bisa mencari pantai yang ada penginapannya jadi bisa untuk istirahat juga." Sambung Tasya.
"Kalau yang lain ada saran?" Tanya Fatan.
"Aku tim setuju saja Kak." Jawab Arsya.
"Oke sepakat kita ke pantai nanti bisa malamnya kita adakan bakar-bakar dan acara lainnya. Kita cari tempat yang bisa untuk jalan-jalan juga jadi tidak membosankan." Ujar Skyler.
"Setuju." Ucap mereka bersamaan.
Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing dan akan merasakan liburan yang telah dinantikan lama. Sedangkan Arsya bersama Fatan pulang bersama, Cassi bersama dengan Reland. Selain itu, mereka pulang sendiri ada yang membawa motor ada juga yang di jemput sopir pribadi. Reland mengajak Cassi jalan terlebih dahulu.
"Kak, kenapa diam saja?" Tanya Cassi.
"Ingin nikmati saja anginnya menenangkan apalagi bareng sama kamu. Bukannya sudah lama tidak jalan seperti ini." Jawab Reland yang saat ini sudah mau berkata panjang.
"Hm!" Balas Cassi mengangguk.
Memang cuaca hari ini sangat bagus untuk menikmati hari.
"Selamat ya ini awal yang bagus dan pertahankan, aku bangga sama kamu." Ujar Reland.
"Berat kak, musuhnya orang dalam." Balas Cassi malu-malu.
"Berat? Siapa orang dalamnya?" Tanya Reland tidak mengerti.
"Orang dalamnya ada di hati aku Kak." Jawab Cassi lirih.
"Susah kalau begitu, memang tidak bisa di keluarkan?" Tanya Reland sedikit terkekeh.
"Tidak bisa, kayaknya permanen." Jawab Cassi lalu mereka pun tertawa.
Setelah melalui berbagai obrolan ringan, mereka pun sampai di rumah Cassi sudah sore.
"Tidak mau masuk Kak?" Tanya Cassi.
"Ada siapa di rumah kamu?" Tanya Reland.
"Mungkin Kak Arza kalau Bunda sama Ayah biasanya pulang mendekati matahari terbenam."
Reland pun mengiyakan tawaran Cassi untuk berkunjung di rumahnya karena tak ada salahnya juga di dalam ada Kakaknya. Dia juga tidak memiliki niat yang macam-macam kepada Cassi.
"Kak Arza!" Panggil Cassi.
"Sayang sudah pulang?" Tanya Rani.
Sontak Cassi terkejut melihat Bundanya yang sudah berada di rumah. Refleks Reland mendekat dan bersalaman dengan Rani.
"Nak Reland, pulang sekolah bareng?" Tanya Rani pada Rani.
"Iya Bunda." Jawab Reland tenang dengan tersenyum mengarah Rani.
"Kak Reland sudah berani panggil Bunda ya." Ujar Cassi menyipitkan matanya ke arah Reland.
"Kenapa? Bunda suka juga sama panggilan calon menantu Bunda." Ucap Rani bergurau.
"Dengar Cass calon menantu." Tambah Reland yang membuat Cassi malu langsung pergi ke kamar.
Reland duduk di sofa ruang tamu bersama Rani. Cassi membiarkan mereka berdua, karena dia tahu meskipun Reland dingin di sekolah bukan berarti dia tidak bisa bersosialisasi. Rani ke dapur sejenak mengambilkan minum dan camilan untuk Reland.
"Bagaimana pengumuman hari ini Nak?" Tanya Rani lembut.
"Lancar Bun, Cassi keren dia mendapatkan posisi juara umum satu." Jawab Reland bangga.
"Cassi juara satu? Tidak sia-sia dia belajar sampai hampir lupa jam makan. Kalau Nak Reland bagaimana?" Tanya Rani lagi penasaran.
"Reland sendiri di bawah Cassi Bunda, juara umum kedua." Jawab Reland.
"Kamu benar-benar membawa dampak positif untuk Cassi, selamat ya untuk kalian berdua. Sebelum pulang kita makan dulu, Bunda sudah masak banyak hari ini tetapi beberapa ada yang beli juga."Ajak Rani
"Baik Bunda." Jawab Reland.
Cassi keluar dari kamar dan mengganti bajunya. Mengintip kedua orang yang sedang mengobrol di ruang tamu terlihat akrab dan sudah kenal lama. Padahal mereka baru beberapa kali bertemu. Obrolan mereka terlihat serius di mata Cassi membuat dia sedikit curiga. Pembahasan apa yang begitu menyenangkan kadang muka Reland serius dan juga tertawa bersama. Cassi mendekati mereka.
"Sayang, panggil Kak Arza ya kita makan bersama." Perintah Rani.
"Kak Arza di rumah Bun? Kamarnya sepi, lampunya juga mati." Tanya Cassi.
"Iya, mungkin ketiduran habis dari kantor. Padahal tadi bilang kalau sudah mandi mau makan menunggu kamu dan Ayah pulang." Jawab Rani.
"Cassi coba panggil dulu Bun."
Akhirnya Cassi memanggil Arza sedangkan Rani memanggil Reland untuk pergi ke meja makan. Ternyata Arza tidak tidur, dia hanya memejamkan matanya dalam kegelapan. Banyak hal yang dia pikirkan. Menjadi anak laki-laki pertama di keluarga membuat dia banyak memegang tanggung jawab besar. Terkadang dia juga merasa lelah dengan keadaan, tetapi melihat semangat kedua orang tuanya dia dapat terus bertahan. Meski roda kehidupan akan tetap seperti itu saja berputarnya.
"Nak Reland sudah kenal sama Cassi sejak kapan?" Tanya Rani.
"Baru SMA ini Bunda." Jawab Reland.
Cassi dan Arza datang. Cassi terlihat waspada karena takut dengan apa yang akan diucapkan Arza pada Reland. Pasalnya Cassi tahu bahwa Kakaknya ini sedikit mengesalkan. Takut jika nanti dia mengejek atau membuat malu Cassi, awas saja jika itu terjadi dia akan membalasnya lebih parah ketika dia mempunyai pacar nanti. Ini hanyalah pemikiran Cassi, bukankah wajar Adik dan Kakak jarang akur.
"Reland lagi, tidak bosan sama Cassi terus? " Tanya Arza mengganggu Cassi.
Cassi yang mendengar langsung mencubit paha Arza. Belum lama pikirannya akan aneh-aneh tentang Arza ternyata benar dia benar berulah. Seketika Arza langsung mengaduh karena cubitam Cassi sangat kecil. Rasakan siapa yang menyuruh untuk berkata seperti itu, awas saja jika di ulang kembali dia tidak akan tinggal diam.
"Kenapa Kak?" Tanya Cassi mengarah Arza.
"Kamu mencubit Kakak." Jawab Arza jujur dan Reland langsung menoleh.
"Kapan? Aku lagi makan." Jawab Cassi merasa tertuduh.
"Maaf ya Nak Reland, mereka berdua ini memang sering ribut. Sehari tidak ribut itu rasanya kalau masakan pasti ada bumbu yang kurang. Seperti mereka ini, dilahirkan tidak untuk perdamaian tetapi peperangan terus." Tutur Rani sambil tertawa.
Mereka pun melanjutkan makan. Setelah selesai Reland langsung berpamitan pulang.
"Terima kasih Bunda dan Kak Arza sudah terbuka sama Reland dan memberikan makan yang sangat lezat." Ujar Reland.
"Iya Reland dan hati-hati ya. Sana Cassi antar pacar kamu ke depan." Ujar Rani.
"Iya Bun." Jawab Cassi.
"Land tunggu." Panggil Arza.
Deg!
"Ada apa lagi? Kak Arza mengganggu terus darii tadi, awas setelah ini!" Batin Cassi geram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
YouTube: hofi_03
enaknya jadi pintar
2023-10-24
0