Pagi ini Reland menjemput Cassi seperti biasnanya, sangat pagi. Ini kemauan Cassi entah apa yang terjadi dengan gadis ini nyatanya di depan cermin kesayangannya dia telah berdandan rapi. Tanpa sarapan pagi dia langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya dan satu Kakak yang dia sayang.
"Pagi Ayah, Bunda, dan tak lupa Kakak Arza yang tampan." Sapa Cassi yang sudah siap.
"Cepat sekali sudah rapi sayang Ayah ini. Sudah mau berangkat?" Tanya Sanjaya pada putrinya.
"Iya Ayah,soalnya sudah dijemput." Jawab Cassi.
"Iya yah, sudah dijemput sama calonnya."Ucap Arza.
"Hayo, cowok yang mana kenapa tidak dikenalkan sama Ayah Bunda." Protes Rani.
"Bunda jangan percaya sama Kakak, bohong mana ada Cassi cowok yang di depan itu cuma teman saja." Gerutu Cassi tidak terima.
"Sudah di depan temannya?" Tanya Sanjaya.
"Iya Ayah kasihan menunggu lama, Cassi pamit ya." Ucap Cassi berpamitan.
Ketika hendak berpamitan Ayahnya menahan tangan Cassi yang ingin bersaliman. Tatapan Sanjaya yang tidak dimengerti Cassi membuat tanda tanya besar. Apa maksud dari tatapan tersebut, apakah Ayahnya marah atau tidak suka jika ada yang menjemputnya.
"Ada apa Ayah?" Tanya Cassi curiga.
"Makan dulu sayang, ajak masuk temannya kita makan bersama." Tutur Sanjaya yang membuat Cassi terkejut membulatkan matanya.
"Nanti saja Ayah, teman Cassi pasti malu kalau mau masuk." Ujar Cassi membuat alasan.
"Bilang saja kamu yang malu Cass." Celetuk Arza yang membuat Cassi kesal.
"Baiklah, Cassi panggil Kak Reland masuk, kalau dia tidak mau jangan dipaksa ya." Ujar Cassi sambil melangkahkan kaki keluar menjemput Reland.
"Dasar Kakak selalu menjadi kompor terus, semoga Kak Reland tidak mau makan di dalam." Gerutu Cassi dengan penuh harap.
Cassi melihat Reland sudah berdiri bersandar di motornya. Ada yang berbeda darinya, ternyata Reland mengganti motornya yang lain.Cassi menghela napas mengapa motornya semakin tinggi, Reland tidak berpikir jika pacarnya ini tidak terlalu tinggi
"Kak, Ayah mau ajak sarapan bareng. Kakak pasti tidak mau kan, langsung berangkat saja ya." Ujar Cassi.
"Aku lapar, ayo kita sarapan dulu." Balas Reland yang mendahului Cassi.
"Kak, aku tidak menawarkan kenapa mau masuk?" Tanya Cassi mengedipkan matanya berkali-kali.
"Kenapa? Ayah yang mengajak, aku tidak bisa menolak." Jawab Reland yang kemudian Cassi memimpin jalannya.
"Dari kapan jadi Ayah Kak Reland juga, padahal belum minta restu." Ucap Cassi bergumam sendiri.
Dengan berat hati Cassi mempersilahkan Reland masuk untuk sarapan bersama. Jika ingin jujur Cassi juga berat jika satu keluarga tahu hubungannya dengan Reland. Selama ini Cassi belum pernah berpacaran maupun mengajak lelaki masuk dalam rumah. Bahkan ketika masih sekolah sebelumnya tidak ada satupun temannya main ke rumah hanya Arsya, Tasya, dan Lintang saja itu pun sangat jarang.
"Nak Reland, silahkan duduk sini. Kita sarapan dulu, baru kalian berangkat sekolah kalau kenyang belajar pasti lebih fokus." Tutur Sanjaya.
"Ayah tahu nama Kak Reland dari mana, pasti Kak Arza yang bilang." Ujar Cassi matanya melototi Arza.
"Padahal kamu sendiri tadi yang bilang." Jawab Arza yang tidak terima tuduhan Adiknya.
Kedua orang tuanya beserta Reland hanya bisa menyaksikan kegaduhan mereka berdua.
"Reland, Bunda mau mengucapkan banyak terima kasih sama kamu, sudah sering jemput Cassi setiap hari. Biasanya Kak Arza yang sibuk memgantar Cassi tetapi sekarang jadwalnya lumayan padat."
"Iya Bunda dengan senang hati." Jawab Reland singkat yang masih canggung dengan kondisi ini.
"Kamu pacaran sama Cassi?" Tanya Arza tiba-tiba.
"Iya Kak." Jawab Reland singkat dan sangat jelas.
Cassi di sampingnya mendengar jawaban Reland yang sedang makan tersedak. Reland dengan sigap bersamaan dengan Rani memberikan air putih untuk Cassi. Melihat pemandangan ini mereka pun tertawa.
"Ternyata Bunda sama Reland sudah cocok." Ujar Sanjaya menggoda anaknya.
"Ayah!" Teriak Cassi malu menutupi wajahnya.
Setelah sarapan bersama dan berpamitan, Cassi dengan cepat berjalan keluar bersamaan dengan Reland di sampingnya. Hanya malu yang saat ini Cassi rasakan baru ini dan untuk pertama kali mengajak laki-laki sarapan bersama dengan status pacar.
Di jalan menuju sekolah tak ada perbincangan yang manis untuk dibicarakan karena keduanya hanya saling diam hingga sampai di sekolah. Ketika hendak turun dari motor dia kesulitan, kakinya tidak sampai sehingga Reland membantunya.
"Kak besok jangan bawa motor ini, pakai saja yang biasanya. Aku susah turunnya." Ujar Cassi menggerutu.
"Kamunya yang kependekan." Jawab Reland yang tidak salah dengan ucapannya.
"Jadi yang salah aku begitu?" Tanya Cassi.
Reland tidak berniat menjawab ucapan Cassi, tetapi untuk meredakan kekesalannya Reland menggandeng tangan kanan Cassi. Tidak siap menerima tangan Reland, Cassi langsung melepaskannya sehingga Reland menoleh ke arahnya dengan tanda tanya.
"Malu Kak, banyak yang lihat." Ucap Cassi.
"Siapa yang peduli." Jawab Reland yang kembali menggandeng tangan Cassi.
"Istirahat nanti temui aku di taman belakang sekolah, ada hal yang perlu kita bicarakan." Ujar Reland sebelum mereka melangkah masuk ke ruang kelas.
"Iya Kak nanti aku ke sana." Jawab Cassi.
Mereka pun memisahkan diri dari ruas jalan yang berbeda untuk memasuki kelas. Dengan bangganya Cassi masuk dengan langkah pasti tetapi kedua pasang tajam menatapnya dengan saksama. Cassi mengurangi kecepatannya.
"Aku tadi melihat kamu dan Kak Reland bergandeng tangan seperti bahagia sekali, kalian beneran pacaran?" Tanya Tasya memyipitkan matanya.
"Iya Tas, menurut kamu Kak Reland mau gandeng tangan aku kalau bukan siapa-siapa?" Tanya Cassi kembali dan meletakkan tasnya.
"Percaya iya percaya, kayak aneh Cass kamu yang dulu tidak pernah peduli dengan cowok sekarang sudah punya pacar. Padahal anatara kita berempat yang paling sering cerita cowok Tasya." Ujar Lintang menyindir Tasya.
"Maksud kamu? Jangan bilang kamu menganggap aku tidak laku ya Lin sumpah sakit banget." Jawab Tasya yang berlebihan dan inilah kelebihan Tasya.
"Aku tidak bilang Tas, kamu sendiri yang merasa."Ujar Lintang terkekeh.
Pembicaraan mereka terputus karena kedatangan Arsya yang sangat mengejutkan dengan membawa bingkisan yang tidak diketahui apa isinya.
"Pada ngomongin apa kayak seru banget?" Tanya Arsya yang memotong pembicaraan mereka.
"Membicarakan kedua sahabatku yang sudah mempunyai pacar semua. Beruntungnya aku sama Lintang masih setia kawan." Jawab Tasya yang selalu dibuat-buat.
"Padahal bisa menyusul ya Cass, masih ada Kak Risto sama Kak Sky sudah paling cocok kan kita berpasangang dan bisa jalan bareng." Ucap Arsya mengarah pada Cassi.
Disela pembicaraan mereka bel pun berdering membuat seluruh siswa memasuki kelasnya tanpa terkecuali Arsya. Pelajaran matematika telah menanti kelas Cassi.
"Baiklah anak-anak mulai minggu depan kita sudah menghadapi Ujian Kenaikan Kelas untuk mendapat nilai tambah Ibu akan mengadakan ulangan dadakan pagi ini. Jadi, siapkan kertas satu lembar dan alat tulis kalian." Ujar Ibu Lisna kepada muridnya yang semuanya terlihat terkejut dengan pernyataan beliau.
"Astaga sekarang banget, sudah tahu otak ini kalau tidak belajar mana bisa jawab." Ujar Tasya lirih.
"Belajar juga kamu kesulitan menjawab Tas." Celetuk Lintang lirih pula.
Ujian dadakan segera di mulai,banyak siswa yang merasa kesulitan sehingga ketika Ibu Lisna lengah penjagaan mereka pun beraksi untuk meminta jawaban ke sesama teman. Sangat tidak perlu di contoh perbuatan tidak terpuji ini. Cassi yang memang siswi terpintar di kelas ini sekali pun ujian dadakan tidak menjadi masalah untuknya. Beberapa kali Tasya memanggilnya, Cassi berpura-pura tidak mendengar.
"Dasar Cassi tidak menoleh sama sekali, awas saja ya nanti." Gerutu Tasya.
"Isi saja yang menurut kamu mudah dulu Tas." Ujar Lintang yang duduk di sebelahnya.
Tidak lama, Cassi yang berada duduk tepat di depan Tasnya menghadap kebelakang memberikan sobekan kertas yang isinya semua jawaban dari pertanyaan tersebut. Dengan wajah yang sangat bahagia Tasya melayangkan kecupannya ke arah Cassi. Tetapi belum sempat melihat, Cassi sudah segera berbalik badan.
"Sangat dingin tetapi makasih ya Cass meskipun jam sudah mau habis kamu masih memikirkan sahabat mu yang sedang kesulitan." Ujar Tasya.
"Sudah jangan ngomong terus, cepat disalin nanti waktu habis Tas." Ucap Lintang mengingatkan bahwa waktunya sudah tidak banyak.
Memang benar tak lama setelah Lintang mengucapkan kalimatnya bel pun berdering menandakan pelajaran telah berakhir. Seluruh penhuni di kelas itu langsung mengumpulkan hasil ujian yang telah dikerjakannya. Lintang dan Tasya telah dulu ke kantin sedangkan Cassi, dia memilih pergi ke taman belakang sekolah untuk menemui pujaan hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments