Sakit

..."Aku bingung dengan perhatianmu yang tiba-tiba, sehingga aku takut salah mengartikannya."~Cassiopeia Maurine...

...*****...

Telah tergeletak seorang Cassi di atas kasur kesayangannya dengan wajah pucat pudar. Datanglah seorang Kakak yang sangat menghawatirkan keadaannya membawa semangkuk bubur dan kain kompres untuk Adiknya.

"Wah, ada bubur." Ucap Cassi yang sedikit menghentikan langkah Arza, dia tak habis pikir dengan Adiknya tersebut.

"Sudah bangun ternyata?" Tanya Arza.

Cassi membenarkan posisi duduknya. "Sudah tiduran saja, biar Kakak yang menyuapi." Ucap Arza membantu Cassi dengan posisi ternyaman.

"Ada kentang sama wortelnya Kak?" Tanya Cassi yang memang suaranya sangatlah lemah.

"Pasti Kakak sudah paham selera kamu." Ucap Arza dan mulai menyuapi Cassi.

Cassi sangat menyukai masakan Kakaknya, dia sudah lama tidak memakan masakan dari tangan seorang Arza. Ternyata ada hal positifnya, kapan lagi dimanja seperti ini. Arza memiliki bakat memasak sejak SMP karena Rani pernah sakit lama sehingga urusan rumah diserahkan pada Arza, Sanjaya pada saat itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan kebutuhan Cassi dia juga yang bertanggung jawab.

"Kamu tadi kenapa tidak langsung pulang? Mana bareng sama Kakak kelas kamu tadi. Beruntung dia tidak Kakak hajar bawa kamu dalam kondisi seperti tadi." Ujar Arza yang khawatir.

"Main hajar anak orang, aku tadi lagi ada janji sama Arsya terus pisah di tengah jalan. Kakak tidak menyentuh Kak Reland kan, dia baik malah Kakak tuduh yang tidak benar." Jawab Cassi.

"Tak segampang itu Cass, Kakak hanya bertanya kenapa kamu bisa membawa Adikku dengan keadaan seperti ini." Ucap Arza.

"Baiklah, sekarang simak ceritaku." Ucap Casssi yang mengingat-ingat bagaimana dia bersama dengan Reland.

Cassi mencoba menghubungi Arza berkali-kali tetapi tidak satupun panggilannya dijawab.

"Kenapa tidak diangkat, aku sudah kedinginan." Ucap Cassi.

Tiba-tiba pandangan Cassi tertuju pada motor yang sedang melaju kencang, badannya pun mulai gemetar.

"Aku harus kuat." Ucap Cassi dengan berusaha melajukan sepedanya.

Namun ternyata Cassi sudah tidak kuat lagi. Motor yang sudah melewatinya tadi berbalik arah.

"Naik." Perintah dari pria itu yang tak lain adalah Reland.

"Kak Reland? Bagaimana sepeda aku?" Tanya Cassi yang memang dia tidak bisa meninggalkan sepeda kesayangannya ini meskipun hanya sedetik.

"Bawa sini." Ucap Reland dan turun dari motornya, sepeda Cassi pun di letakkan dibalik sebuah pohon yang berada di dekat jalan.

"Nanti hilang bagaimana?" Tanya Cassi sedikit ragu suaranya sudah gemetaran dengan badan yang sudah menggigil.

"Aku tanggung jawab, ayo naik." Titah Reland dan akhirnya Cassi mengikuti apa yang dikatakannya.

Seperti itu ingatan Cassi mengenai kejadian mengapa dia bersama Reland. Apabila dia tidak bertemu dengan Reland mungkin tubuhnya sudah tergeletak di atas aspal sendirian. Mengingat jalanan yang sangat sepi karena hujan lumayan deras.

"Oke, bagus kamu ada Kakak lain yang peduli."Ucap Arza.

"Iya lah Kakak lama sekali angkat telpon dari aku, kita sebagai manusia harus saling tolong menolong makanya Kak Reland bantu aku." Jawab Cassi dengan suara seraknya.

"Sepeda kamu juga sudah di rumah." Ucap Arza memberitahu Cassi.

"Hm, bagus aku tidak banyak pikiran kalau begitu. Besok sekolah Kakak harus antar." Tutur Cassi.

"Siap gadis kecilnya Kakak, sebentar lagi masa studi Kakak sudah selesai. Skripsi tuntas." Jelas Arza pada Cassi.

Selama ini Arza tidak pernah mengeluhkan masalah kuliahnya. Semuanya dia tanggung sendiri, melihat kondisi orang tuanya yang tidak pernah istirahat kecuali memang waktunya membuat Arza tidak ingin menceritakan keluh kesahnya.

"Bakalan sepi rumah ini kalau Kakak jadi lanjut ke luar negeri." Ucap Cassi sedih.

Baginya dan mungkin untuk semua orang, perpisahan itu adalah hal yang menyakitkan. Ikatan saudara jika sudah terpisah pasti akan berbeda, rumah yang biasa ramai kelak akan menjadi sunyi. Tempat yang biasa menjadi favorit untuk saling menganggu akan menjadi tempat yang asing.

"Tenang saja Kakak tidak jadi ke luar negeri." Jawab Arza sedikit mengejutkan Cassi.

"Kenapa Kak?" Tanya Cassi.

"Kakak sudah tidak tertarik lagi, sudah jangan bercerita terus kamu perlu istirahat. Nanti Bunda sudah pulang Kakak kasih tahu." ucap Arza yang akan meninggalkan Cassi.

"Jangan Kak nanti Bunda khawatir, ini juga sudah baik-baik saja." Ujar Cassi meyakinkan, Arza pun hanya bisa menoleh ke arah Cassi dan hanya bisa mengangguk tanda mengiyakan.

Pagi sekali Cassi sudah siap dengan berdandan sangat rapi. Tetapi badannya sangat berkhianat, rasanya sangat campur aduk. Panas, pusing, dan sedikit lemas penampakannya terlihat jelas jika kondisinya tidak baik.

"Sayang Bunda sudah siap?" Tanya Rani pada Cassi dan mengecup keningnya.

"Badan kamu panas sekali, Sayangnya Bunda sakit? Kalau lagi sakit tidak perlu sekolah dulu sayang." Tutur Rani yang mengkhawatirkan kesehatan Cassi.

"Tidak Bun, Cassi sehat sekali. Bunda hari ini masak apa?" Tanya Cassi.

"Semuanya Bunda masak kesukaan kamu, silahkan dinikmati sayang." Jawab Rani.

Sarapan pagi dari masakan Bunda Rani memang tidak pernah mengecewakan. Tangannya seperti memiliki sihir yang selalu menjadikan rasanya terlalu sempurna. Hari ini pula Sanjaya tidak terlihat di meja makan karena ada dinas beberapa hari.

"Kamu nanti dijemput?" Tanya Arza.

"Iya, wajib hukumnya." Jawab Cassi dan mulai melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah.

"Badan aku sangat lemas." Ucap Cassi bergumam pada dirinya.

Di dalam kelas Lintang, Arsya dan Tasya telah berkumpul. Mereka menceritakan tentang hubungan baru yang terjadi antara Arsya dan Kakak kelasnya, Fatan. Mereka merasa kesal mengapa hanya Cassi yang tahu. Ternyata semua ini rencana Fatan yang hanya member tahu Cassi jika Arsya tahu tidak mungkin tidak membaginya.

"Cass baru datang. Hari ini karena ada pasangan baru harus minta traktir" ucap Tasya yang heboh.

"Boleh asal Arsya tidak keberatan." Jawab Cassi dan Arsyapun mendekatinya karena dari suaranya saja sudah berbeda.

"Cass badan kamu panas. Kamu kemarin kehujanan? Pulang kemarin sendiri? Jam berapa sampai rumah? Tidak ada yang jemput?" Tanya Arsya bertubi-tubi.

"Aku sehat Sya, kemarin tidak sengaja bertemu Kak Reland jadi diantar. Sudah jangan risau cuma flu biasa." Jawab Cassi meyakinkan Arsya.

Di saat jam istirahat, Cassi tidak ikut sahabatnya ke kantin. Dia lebih memilih untuk tetap berada di dalam kelas.

"Beneran tidak ke kantin?" Tanya seorang pria kepada Cassi yang masih memejamkan matanya.

"Aku mau sendirian, mohon jangan diganggu dulu." Balas Cassi yang tidak sadar bahwa yang sedang disampingnya adalah Reland karena dia masih setia memejamkan matanya.

"Makan dulu baru aku pergi." Ucapnya dengan menyodorkan sebuah kotak makan.

Cassi pun membuka matanya malas, dia terkejut melihat Reland yang sudah berada di sampingnya.

"Kamu Kak?" Ucap Cassi kaku.

"Gih makan dulu, sakit masih sekolah." Ujar Reland yang memperhatikan Cassi dalam.

Reland pun membuka kotak makannya yang dia berikan kepada Cassi.

"Kenapa harus ada sayurnya" Ucap Cassi bergidik ngeri melihat sayur telah berada di dalam isi roti tersebut.

"Supaya cepat sehat." Ucap Reland.

Sesudah Cassi makan ternyata Reland sudah menyiapkan minum. Dia pun pergi sebelum bel masuk sehingga para sahabatnya tidak mengetahui keberadaannya. Reland sendiri tidak tahu mengapa dia melakukan semua ini. Hanya saja hatinya berkata ini perlu.

"Padahal tadi kami mau beli makanan untuk kamu Cass ternyata bawa bekal." Ucap Tasya

Cassi hanya membalas dengan senyuman pasalnya dia tidak mungkin menceritakan Reland yang sudah memberikannya. Sepulang sekolah, Cassi tidak dijemput oleh Arza namun dia bersama dengan Reland. Dia telah menanti kedatangan pria tersebut diparkiran sekolah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!