Terpaksa

Cassi pun terjatuh hingga kepalanya terbentur pinggiran jalan sehingga membuat Cassi meringis kesakitan.Tetapi ini tidak sakit dibandingkan orang yang berlari dengan sigap menolong wanita yang telah dia tolong tadi. Rasanya sakit sekali hingga Cassi pun mengeluarkan butiran air matanya dengan posisi tersungkur di jalan.

"Cass, kamu tidak apa-apa?" Tanya Abay yang tak sengaja melewati jalan itu.

Cassi menggeleng lemah namun Abay mengerti apa yang terjadi dan mengangkat Cassi pergi ke klinik terdekat. Ternyata sama dengan wanita yang dia tolong tadi sang pria mengantarkannya ke klinik yang sama. Matanya memerah menahan tangis, apakah laki-laki itu tidak melihat ke arahnya. Untuk kedua kalinya hatinya terluka.

"Makasih ya Bay." Ucap Cassi yang sedang dibersihkan lukanya.

"Iya Cass sama-sama." Balas Abay.

Di sisi lain, wanita tersebut telah selesai mendapat pertolongan karena hanya bagian tangannya tergores sedikit. Pria tersebut membawa wanita keluar dari ruangan dan mendudukannya di kursi.

"Kamu baik-baik aja kan, ada yang sakit?" Tanya pria itu.

Wanita itupun menggelengkan kepalanya. Namun Cassi pun keluar dengan perban kecil dikepalanya dan kaki yang sulit berjalan karena terdapat luka diujung lutut.

"Makasih Land sudah menyelamatkanku." Ucap wanita tersebut yang tak lain adalah Raena.

Sontak membuat Reland terkejut dan langsung berdiri menatap Cassi yang sangat tak terbaca ternyata yang telah menolong Raena adalah pacarnya sendiri.

"Cass kamu tadi yang menyelamatkan Raena?" Tanya Reland.

Padahal bukan pertanyaan itu yang ingin Cassi dengar. Mengapa dia menanyak hal yang tidak perlu ditanyakan. Cassi tersenyum kecil, melihat keadaanya ini seharusnya Reland menanyakan keadaannya, khawatir dengan kondisinya saat ini. Raena tidak terluka berat hanya tergores kecil, tetapi sama sekali Reland tidak menoleh ke arahnya saat pertama kali Cassi terjatuh.

"Iya Kak." Jawab Cassi mecoba tersenyum padahal hatinya remuk. tanya Reland dan Cacapun menoleh ke arahnya.

"Sama Abay Kak, aku duluan." Ujar Cassi dan mencoba untuk pergi bersamaan dengan Abay yang tak enak dengan suasana ini.

"Cass, kita naik mobil saja ya tidak mungkin aku antar kamu pakai sepeda, pasti kaki kamu sakit." Ucap Abay dan Cassi yang hanya bisa mengangguk lemah.

"Tenang saja Cass, aku antar sampai rumah."

Sesampai di rumah, Cassi tak tahu harus apa dia hanya bisa berusaha untuk mencapai kamar dan menangis sejadinya. Hatinya tak percaya kejadian hari ini, pacarnya lebih memilih untuk menetap bersama mantannya dibandingkan dengan Cassi.

"Kamu jahat Kak!" Teriak Cassi sangat terluka dan membuka perban di kepalanya paksa.

"Seharusnya aku tidak pernah membuka hati untuk orang yang belum selesai dengan masa lalunya." Ucap Cassi sekali lagi sembari meremas ujung kasur.

Cassi pun menidurkan badannya dengan menatap langit-langit kamarnya yang air matanya terus mengalir.

"Jika dirimu tak mampu melepaskannya aku tahu itu bukan salahmu, perasaanmu tak salah mungkin aku datang di waktu yang tidak tepat yang berharap menggantikan posisinya dalam hatimu. Karena ku tahu dia yang ada dihadapanmu itu adalah masa lalumu yang belum terselesaikan." Ujar Cassi terlelap.

Di kamar yang selalu menjadi tempat ternyaman Cassi untuk beristirahat. Dia hanya bisa menatap langit di luar jendela karena ini hari minggu. Dan besok Senin lagi akan menjadi hari terpenting baginya bahwasannya hasil dari ujiannya akan diumumkan. Sedangkan hatinya yang masih terluka membuat Cassi berpikir dua kali lebih keras.

"Kenapa harus aku Kak?" Ucap Cassi.

Tiba-tiba saja Rani masuk tanpa mengetuk pintu.

"Sayang, kamu sudah bangun. Gimana kepala kamu masih sakit?" Tanya Rani khawatir.

Semalam sewaktu makan malam, semua mengetahui bahwa Cassi terluka. Tetapi Cassi berbohong jika dia jatuh sendiri saat mengendarai sepedanya. Sehingga hari ini Rani memutuskan untuk tidak ke butik dan lebih memilih bersama putrinya yang sedang sakit.

"Sudah baikan Bun, kemarin cuma terbentur sedikit." Jawab Cassi beralasan.

"Tetapi yang sakit hati Cassi Bun" Tambahnya dalam hati.

"Ini Bunda bawa bubur special Kak Arza yang masak." Ucap Rani antusias.

"Beneran Bund? Terus Kakak di mana?" Tanya Cassi yang siap menyantap bubur buatan Kakaknya.

"Kakak sudah berangkat, katanya jangan lupa dihabiskan." Ucap Rani dengan mengelus puncak kepala Cassi.

Melihat Bundanya belum berangkat bekerja, Cassi berpikir bahwa Rani memang tidak akan bekerja hari ini. Rani menatap Cassi yang sedang makan bubur itu, ternyata putri kecilnya sudah sangat besar. Jika diingat kembali, dulu Cassi menjadi putri yang lucu dengan wajah cantik manisnya. Suka merengek, nakal, dan manja menjadi satu kesatuan. Berbeda dengan Arza yang jarang sekali menangis, dia memang sudah menjadi anak yang kuat sejak kecil.

"Bunda tidak bekerja?" Tanya Cassi.

"Tidak sayang, hari ini Bunda milik Cassi. Kamu cepat sembuh ya." Tutur Rani dengan memberikan senyuman manisnya.

Ranipun pergi meninggalkan Cassi dengan membawa mangkuk bekas makannya tadi.

"Kalian jangan khawatir sama Cassi, Cassi tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Karena ini menyakitkan dan cukup sampai disini." Ujar Cassi yang mengusap pipinya karena satu tetes air mata telah keluar.

Namun tiba-tiba terdengar notifikasi dari handphone Cassi.

#Apa Kabar Cassi

"Astaga ada apa dengan nama group ini." Ujar Cassi membaca nama group mereka yang berubah nama.

Tasya

"Cass mau nanya?"

Lintang

"Tasya, ampun masih pagi ini ribut sekali anda."

Arsya

"Dasar ini ibu-ibu, anak sebelah nangis Tas."

Tasya

"Aku ada berita kalian memangnya tidak penasaran."

Arsya

"Berita apa? Awas tidak penting."

Lintang

"Berita apa Tas? Cepat tidak pakai lama."

Tasya

"Cassi kemarin kecelakaan, benarkah Cass?"

Arsya

"Beneran, ya ampun. Cass muncul-muncul."

Tasya

"Kebiasaan cuma baca, balas Cass."

^^^Cassi^^^

^^^"Iya, tetapi tidak parah."^^^

Tasya

"Jam 9 berangkat, jangan kemana-mana Cass."

Arsya

"Jemput!"

Tasya

"Jemput!!"

Lintang

"Jemput!!!"

Tasya.

"Kalian pada tidak modal, cepat siap-siap."

Cassi pun hanya menghela napas, sahabatnya sangat peduli sedangkan seseorang yang sangat Cassi tunggu tidak kunjung memberikan kabar.

...*****...

"Kamu tidak mau mampir dulu Land, ada Mama di rumah." Tanya gadis itu.

"Tidak usah Rae." Jawab pria itu

Mereka adalah Reland dan Raena. Hari ini Raena minta diantarkan pulang ke Bandung dan mau tak mau Reland mengantarkannya karena dia tak tega pada mantannya ini.

"Apa karena perempuan itu?" Tanya Raena lagi.

"Rae sudah tahukan hubungan kita sekarang sebatas apa, aku mohon jangan melewati batasan itu." Jawab Reland.

"Dan satu lagi, temukan pria lainyang sayang sama kamu sehingga tidak ada rasa luka. Aku pamit." tambah Reland.

"Sebentar." Cegah Raena.

"Jangan benci aku Land, maaf aku tidak bisa menepati janji kita dulu." Ujar Raena sambil menundukkan kepala.

"Kita masih bisa jadi teman, mana mungkin aku benci kamu semudah itu." Jawab Reland dan meninggalkan Raena yang menatap kepergiannya.

"Sungguh aku menyesal sangat atas perbuatanku sendiri Land, semoga kamu bahagia dengan wanita pilihan kamu meskipun ini sangatlah menyakitkan untukku. Aku belum bisa ikhlas Land." ujar Raena yang meneteskan air mata.

Reland melajukan motornya dengan pikiran yang sangat gelisah. Dia belum sempat mengabarkan apapun kepada Cassi sejak kemarin. Andai dia tahu wanitanya itu sudah sangat terluka. Sebenarnya mereka sama-sama menyakiti, tetapi Cassi lebih terluka parah. Bukan hanya luka di badannya tetapi juga batinnya.

"Aku minta maaf,ini salah." Ujar Reland di perjalanan.

Terpopuler

Comments

YouTube: hofi_03

YouTube: hofi_03

aku bacanya Roland 😭

2023-10-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!