Di kelas Cassi sangat lah hening yang terdengar hanyalah obrolan bagi para calon ibu-ibu masa depan yang sedang membincangkan berita yang sedang viral di media sosial dan bahkan ada yang sampai pro dan kontra hanya karena kabar yang entah benar atau tidaknya.
"Kalian bosan tidak di kelas, kenapa tidak langsung libur saja. Sekolah sudah tidak belajar juga kan."Ujar Lintang lesu.
"Gimana kalau ke kantin beli mie ayam, sudah sangat lapar." Ucap Tasya dengan menunjukan deretan gigi putihnya.
"Saran di terima." Jawab Cassi.
"Masalah makan saja selalu nomor satu." Sindir Lintang pada Tasya.
"Kalau tidak makan kasihan cacing di perutku, pasti kelaparan. Sesama makhluk hidup harus saling peduli satu sama lain." Jawab Tasyan dengan alasannya.
"Sudah ributnya? Ayo jalan ke kantin." Ujar Cassi yang lelah melihat kelakuan sahabatnya.
"Sudah, mengalah aku kalau sudah mendengar alasan Tasya." Ujar Lintang yang mengikuti langkah kedua sahabatnya sambil geleng-geleng kepala.
Di kantin sekolah yang tidak jauh dari kelas Cassi pun ternyata nampak ramai pengunjung.
"Mie ayam semua kan?" Tanya Tasya pada kedua sahabatnya.
"Pasti iya." Jawab Lintang namun Tasya sudah jalan memesan.
"Banyak sabar Lin spesies langka itu." Ujar Cassi di sambut dengan kekehan Lintang.
"Iya Cass dari awal memang sudah siap mental, akku hubungi Arsya dulu ya sampai lupa belum berkabar, nanti dia mencari." Ujar Lintang sambil memainkan handphone.
Di mejapun keadaan hening keduanya sibuk dengan handphone masing-masing sembari menunggu kedatangan Arsya. Tiba-tiba saja suara cempreng berjalan ke arah meja mereka, tepat sekali ini ulah Tasya.
"Pesanan sudah sampai." Suara sempreng Tasya yang membuat orang di meja sebelah menoleh.
"Makasih Tas." Ujar Cassi dan Lintang kompak.
"Kompak sekali kalian berdua." Ujar Tasya dan duduk di sebelah Lintang.
"Aku tadi ketemu Kak Reland Cass." Ujar Tasya sambil mengaduk mie ayamnya.
"Terus?" Tanya Cassi singkat.
"Kasih tahu Cass kali aja kamu kangen." Jawab kesal Tasya.
Cassi dan Lintang pun mengangguk bersamaan.
Waktu berlalu, Arsya tidak bisa menemui mereka karena dia sedang bertemu dengan Fatan. Bukan berarti lupa sahabat, mereka tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Semua orang butuh privasi yang jangan di ganggu, seperti hubungan asmara sahabatnya. Selanjutnya bel berbunyi hingga membuat semua penghuni SMA Pusaka kegirangan.
"Akhirnya bel itu berbunyi, kita pulang cepat." Ujar Tasya yang akan memakan suapan terakhirnya.
...*****...
"Kak Arzaa!" Teriak Cassi memanggil Arza.
"Mobilnya sudah ada ke mana manusianya?" Ujar Cassi bergumam.
Cassi pun pergi ke kamar Arza yang beruntungnya tak di kunci. Dan benar saja, Arza sedang tidur pulas di sana sedangkan Cassi kesal sendiri pasalnya dia akan mengajak Arza untuk bersepeda di sore ini.
"Kalau nyenyak seperti ini jadi tidak enak membangunkan Kak Arza." Ujar Cassi dan meninggalkan sang pemilik kamar.
"Kak Reland mau tidak ya, belum pernah lihat Kak Reland olahraga tetapi badannya bagus." Ucap Cassi yang mencari nama Reland di layar handpone nya.
Sudah tiga kali panggilan namun tidak ada jawaban menyebabkan darah Cassi hampir mendidih. Sebenarnya kemana pemilik nomor ini, Cassi sampai berdecak kesal memasuki kamarnya. Akhirnya Cassi memutuskan untuk keluar sendiri.
"Kak Arza, aku keliling dulu!" Pekik Cassi keras untuk berpamitan.
"Oke!" Jawab Arza dari dalam kamar.
"Dasar Kakak biadab, aku panggil tidak menyahut. Aku kira tidur ternyata cuma membohongiku." Gerutu Cassi sambil mengayuh sepedanya.
Caca menikmati sangat sore ini, angin yang menenangkan dan matahari pun bersahabat dengannya cuaca tak sepanas biasanya. Saat ini Cassi mendekati taman kota, dia terkejut melihat motor terparkir di pinggir taman dan yang dia mengenalinya.
"Apa iya Kak Reland ke taman, sendiri?" Bergumam sendiri.
Cassi pun memarkirkan sepedanya di dekat motor tersebut.
Tak jauh dari sana terdapat kursi panjang yang telah diduduki oleh dua manusia yang sangat menjadi perhatian Cassi.
"Itu Kak Reland sama cewek, siapa?" Gumam Cassi.
Dia adalah mantan Reland, Raena. Cassi baru ingat apakah ini alasan Reland tak mengabarinya seharian dan bahkan tak menjawab panggilannya. Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan.
Raena mulai mendekatkan duduknya sehingga Cassi bertambah panas, namun dia hentikan untuk menemui mereka dan Cassi memilih untuk pulang saja. Hatinya terluka dan batinnya pun tersiksa karena pemandangan di sore ini. Siapa yang tidak terluka melihat kekasihnya bersama dengan wanita lain dan mengabaikannya, berjalan dengan mantannya yang katanya menjadi mantan yang tak terlupakan.
"Jika aku tahu bahwa yang selama ini dihatimu masih terdapat namanya aku akan memilih untuk tetap menjadi seseorang yang melihatmu tanpa harus memiliki ikatan yang sebenarnya membuatku lebih terluka. Memang tidak ada jaminan kebahagiaan, tetapi ini benar menyakitkan." Ujar Cassi yang tidak bisa lagi berkata.
Cassi sangat terluka melihat pacarnya bersama dengan orang lain yang dia tahu perempuan itu pernah ada dalam hidupnya.
"Baiklah, aku tidak perlu bersikap egois. Mereka hanya berteman, seharusnya aku percaya dengan Kak Reland. " Ucap Cassi meyakinkan dirinya untuk tidak memiliki prasangka buruk pada pacarnya.
Di tempat lain, Reland sudah berada dirumahnya dan langsung mencari handphone yang sejak tadi tertinggal.
"Astaga Cassi berapa kali menelpon?" Tanya pria tersebut sambil mengernyitkan dahinya.
"Aku salah seharusnya tidak aku tinggalkan handphone ini, pasti dia sangat khawatir." Ujar Reland yang panik dan dia pun langsung mengirimkan pesan.
^^^To:Maurine
^^^
^^^"Cass, maaf aku tidak sempat jawab panggilan dari kamu. Aku tadi keluar tidak membawa handphone. "
^^^
From:Maurine
"Iya Kak."
"Singkat banget bales chatnya. Marah?" Ujar Reland bergumam.
^^^To:Maurine
^^^
^^^"Besok aku jemput!"
^^^
Cassi tidak ingin di paksa, hari esok dia ingin pergi ke sekolah sendiri. Dengan rasa bersalahnya, Reland pun mengalah dan tak berniat untuk membalas pesan Cassi. Dia memilih untuk meletakkan hp nya dan tidur.
"Minimal ke sini kasih penjelasan, dasar cowok dingin!" Kesal Cassi.
Pagi sekali, Cassi telah siap seperti biasa. Keluarganya sudah berpencar keluar dari rumah karena pekerjaan. Tak lain Arza pun sudah berangkat bersama Ayahnya.
Tok Tok Tok
"Siapa sih?" Ujar Cassi malas.
Setelah membuka pintu Cassi sangat terkejut melihat Reland yang ada dihadapannya.
"Kenapa Kakak jemput?" Heran Cassi.
"Siapa yang mau jemput, cuma mau bareng."Jawab Reland yang mengarahkan matanya ke belakang.
Cassi pun mengikuti arah mata Reland dan benar saja Reland berangkat menggunakan sepedanya, "ayo berangkat, tidak mau telat kan!" Ajak Reland.
"Tunggu Kak, ambil sepeda dulu." Cassi pun mengambil sepedanya.
Akhirnya mereka berangkat ke sekolah mengendarai sepeda yang menurut Cassi ini adalah salah satu hal yang sangat dia dambakan bersama kekasihnya. Secara tidak sengaja, hari ini terwujud. Pandangannya tegap ke depan, sesekali Reland meliriknya dan bergantian seperti itu sampai sekolah.
Di perjalanan pulang Cassi pun tidak ingin diantar oleh Reland, dia langsung pulang bersama sepeda kesayangannya. Hatinya sebenarnya ingin pulang bersama, akan tetapi otaknya yang terus berpikir buruk tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Hm, tidak ada camilan. Keluar dulu kali ya." Ujar Cassi namun sebelumnya Cassi mengganti seragam sekolahnya terlebih dahulu.
"Oke, berangkat bersama sepeda kesayangan." Ucap Cassi yang tersenyum sendiri melihat sepedanya.
Cassi pergi ke sebuah mini market untuk membeli beberapa camilan setelah itu dia langsung pulang hal ini dikarenakan suasana hatinya yang tidak terlalu baik. Namun, ketika dia akan mengayuh sepedanya. Dia melihat seorang wanita yang sedang memainkan handphonenya akan melintas jalan tanpa melihat kanan kiri wanita tersebut menyebrang membuat Cassi sontak kaget ada sebuah mobil yang melaju kencang.
"Awas!" Teriak Cassi yang langsung berlari mendorong wanita tesebut hingga terpental jauh dari jarak Cassi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments