Penentuan

Waktu telah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Ketiga sahabat Cassi telah sampai sejak pagi yang menghibur Cassi karena mereka telah mengetahui peristiwa yang menimpanya.

"Kalau begini Cass, aku betah di rumah kamu." Ujar Tasya yang mempunyai niat lain.

"Iya betah bentar lagi kan Kak Arza pulang." Sinis Lintang.

"Tahu saja Lintang." Jawab Tasya mengembangkan senyumnya.

"Tas, maaf banget Kakak aku habis maghrib nanti sampainya. Soalnya di ajak ayah ke tempat temannya." Ucapan Cassi yang membuat Tasya kecewa.

"Kasihannya." Kompak Arsya dan Lintang.

Tasya hanya bisa mengerucutkan bibirnya dengan menghela napas panjang. Mereka hanya bisa tertawa melihat sikap Tasya yang penuh dengan kehampaan.

"Sudah sore mari kita pulang." Ujar Lintang melirik kea rah jam dinding yang berada di kamar Cassi.

"Oke, kami pamit ya Cass cepat sembuh, besok kalau belum bisa sekolah izin saja-" ujar Tasya panjang dan menggantung kalimat terakhirnya dengan senyum yang penuh arti.

"Dan lagi apa Tas?" Tanya Cassi sedikit tak mengerti.

"Dan jangan lupa titip salam buat Kak Arza kalau aku sudah menjenguk calon Adik ipar." Jawab Tasya

"Dasar ganjen." Ujar mereka bersamaan.

Merekapun pulang dan merasa lega karena sahabatnya tidak terlalu parah namun hanya bermasalah pada hati yang sedikit retak. Rela tidak rela seperti itu hubungan tidak ada yang berjalan mulus. Akan banyak badai yang perlu dilalui, bagaimana jadinya jika akarnya tidak kokoh maka akan mudah goyah. Cassi belum masuk hingga dalam tetapi telah terdengar suara motor yang sangat dikenalinya.

"Apakah mungkin Kak Reland?" Tanya Cassi dalam hati sembari menyipitkan mata.

Terdengar ketukan pintu yang membuat Cassi sedikit tegang. Dengan ragu, dia mulai melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Hatinya bergemuruh ketika tangannya memegang gagang pintu dihentikan untuk membuka. Dia melepaskannya, lebih memilih mengintip terlebih dahulu di balik jendela. Benar, di balik pintu itu Reland.

"Cassi aku tahu kamu di dalam. Bisa kita bicara dulu?" Tanya Reland namun Cassi enggan menjawab dan hanya diam dengan tatapan kosong.

"Cass, aku mohon."Kedua kalinya Reland mengajaknya bicara namun masih saja Cassi hanya bisa diam dalam lamunannya.

"Cassiopeia." Panggilnya lirih.

"Tidak ada orang, kembali saja besok aku mau-." Jawab Cassi namun dipotong oleh Reland.

"Maafin aku Cass, aku tahu salah. Keluar sebentar saja." Ujar Reland memohon.

Perlahan Cassi membuka pintunya,"masuk dulu saja Kak, tidak enak di depan pintu." Ujar Cassi yang mempersilahkan Reland memasuki ruang tamu.

"Mau minum apa Kak?" Tanya Cassi dengan raut yang dibuat setenang mungkin tapi tidak hatinya.

"Aku tidak ingin minum Cass, aku ke sini hanya untuk meminta maaf sama kamu. Jahat memang tetapi aku tidak tahu mengapa kemarin bisa terjadi begitu saja." Ujar Reland menatap Cassi dalam.

"Kak, aku tidak mempermasalahkan ini. Memang awalnya terasa menyakitkan ketika seseorang yang berharga dalam hidup kita harus memilih orang lain disaat diri ini membutuhkannya juga di waktu yang sama. Tetapi Kak, aku rasa apa yang Kakak lakukan kemarin wajar dan memang di posisi saat itu sulit untuk memilih bukan." Jawab Cassi yang sangat panjang sedangkan Reland hanya diam mendengarkan.

"Kak, aku tidak ingin egois di waktu yang sama. Aku tidak ada hak untuk melarang maupun mengekang hidup Kakak. Aku cukup paham Kak, jadi tidak perlu meminta maaf." Tambah Cassi dengan memaksakan senyumnya.

"Bohong Cass kalau kamu tidak marah, kamu berhak marah, egois, bahkan melarang ku. Siapa yang tidak boleh? Aku tidak mau kamu terluka, perbuatan aku kemarin sudah sangat mengecewakan. Aku minta maaf." Ucap Reland setelah mendengar semua kalimat Cassi.

Tidak mungkin tidak merasakan luka, tepat di depan mata Reland melakukannya. Sebagai wanita yang berpura-pura kuat dengan keadaan, tidak selayaknya Cassi membiarkan kekasihnya memilih wanita lain. Bahkan jika harus menolongnya setidaknya Reland melihat keadaan.

"Jujur Kak, awalnya aku sangat marah dan sangat kecewa tetapi kayaknya itu berlebihan disaat kejadian kan Kakak tiba-tiba datang dan membawa Kak Raena tanpa melihat ke arah aku. Jadi tidak perlu marah jikalau aku di posisi Kak Raena, aku yakin Kakak bakalan menolong aku juga."Dan lagi Cassi menjawab pertanyaan Reland dengan sebuah senyuman.

"Aku tahu kamu terluka Cass, tetapi terima kasih kamu sudah mencoba untuk mengerti." Ujar Reland.

"Iya Kak, tapi tidak boleh diulang lagi. kalau diulang kayaknya benang kita diputus kan saja." Ujar Cassi yang melirik ke arah Reland.

"Seperti itu ya, siap laksanakan." Jawab Reland.

"Jangan siap aja, aku tidak main-main." Ucap Cassi mendengar jawaban Reland.

"Iya sayang, bagaimana lukanya?" Tanya Reland melihat luka Cassi yang mongering di kepalanya.

"Sayang, siapa sayang." Ujar Cassi tersipu malu.

"Sayang, kenapa pipinya kok merah. Sayang sakit?" Tanya Reland sengaja membuat Cassi malu.

Ternyata membuat Cassi tersipu seperti ini membuat Reland gemas melihatnya. Kenapa baru sekarang terpikirkan. Sebenarnya dia juga tidak sengaja berkata sayang karena refleks saja keluar dari mulutnya. Ternyata malah membuat Cassi tersenyum malu.

"Sudah jangan di tutup terus mukanya." Ujar Reland.

"Kakak yang buat seperti ini, sudah jangan sayang-sayang." Protes Cassi yang memulai membuka tangannya dari muka.

Reland ingin jujur mengenai keberangkatannya mengantar Raena hari ini. Tetapi melihat Cassi yang mulai tersenyum indah seperti ini tidak tega jika memberi tahunya sekarang. Kebohongan memang buruk untuk suatu hubungan sekecil apa pun itu bohong berarti sudah berkhianat, tidak ada kebohongan untuk menyelesaikan permasalahan atau hanya untuk meredakan amarah seseorang.

*****

Semua murid SMA Pusaka telah berkumpul di lapangan menantikan hasil dari satu semester yang telah dijalani. Pengumuman ini untuk seluruh kelas dimana akan ada yang mendapatkan gelar juara. Meskipun demikian, nantinya perinkat tertinggi sampai terendah tetap dipasang di Mading sekolah.

"Siapa yang bakalan jadi juara umum, apakah Kak Reland lagi atau kamu Cass?" Tanya Tasya melirik sahabatnya.

"Aku harap Cassi, harus bisa mengalahkan Kak Reland. Sangat tidak ikhlas, agar jadi pelajaran buat Kak Reland sudah berbuat buruk sama Cassi kamu." Jawab Lintang sambil mengelus punggung tangan Cassi.

Akhirnya kepala sekolah pun memberikan sambutannya, setelahnya pengumuman pun segera dibacakan. Semua murid merasa tegang, bahkan Lintang dan Tasya memegang erat tangan Cassi. Kebetulan untuk baris sendiri sesuai kelas jadi Arsya tidak bisa bergabung.

"Baiklah mungkin anak-anakku sekalian sudah penasaran siapakah yang akan mendapat gelar juara umum pada tahun ini. Ibu akan membacakan nama yang mendapat juara umum ke 3 jatuh kepada Resi Oktadivia." Tutur Ibu Melda membacakan selembar kertas yang bertuliskan nama murid berprestasi.

"Deg-degan jantung, ingin menangis Resi dari kelas kita bisa meraih juara umum. Yakin Cass kamu juara satunya." Ujar Tasya meyakinkan.

"Semoga, harapannya harus aku." Jawab Cassi percaya diri.

Selama proses ujian kemarin Cassi sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan dia harus menahan rindunya terhadap Reland. Dia tidak ingin lelahnya yang sudah dia lalui tidak menghasilkan sesuai targetnya. Cassi termasuk manusia yang anti mendengar kata gagal padahal tidak mungkin semua usaha yang dilakukan selalu membuahkan hasil. Setidaknya dia sudah berusaha, apabila gagal dia akan menyalahkan dirinya.

"Land bisa juara umum lagi kah? Kenapa sudah ada Adik kelas yang berani mengambil juara umum, keren meraka." Ujar Skyler kagum karena jarang sekali murid baru masuk langsung menduduki juara umum di sekolahnya.

"Semoga." Jawab Reland singkat.

Dalam hati kecil Reland memang dia ingin namanya disebutkan seperti biasanya mendapatkan posisi pertama. Belum ada yang bisa menggantikannya selama ini, memang Reland memiliki banyak kelebihan. Bukan hanya tampan saja tetapi juga pintar. Di lain kesempatan juga dia memikirkan wanitanya, dia ingin juga mendengar nama Cassi di panggil ke depan.

"Baiklah, Ibu akan membacakan nama selanjutnya yang mendapatkan juara urutan kedua yaitu selamat kepada Reland Gustian, silahkan maju ke depan." Ucap Ibu Melda.

"Apa! Reland juara dua? Siapa yang berani menggeser namanya, tidak salah Ibu Melda membacanya. Reland berturut-turut juara umum, ayo kita protes." Ujar Skyler yang melihat Reland sudah maju ke depan.

Fatan menahan tangan Skyler yang hendak mengikuti langkah Reland. Dia memberitahu sahabatnya, untuk terlebih dahulu mendengar siapa yang akan menduduki posisi pertama. Skyler memang orang yang selalu menghebohkan sesuatu.

Di barisan lain, ketika Ibu Melda membacakan kembali seseorang yang mampu mengalahkan Reland, Cassi pun maju ke depan sedangkan di depan sudah ada seorang pria yang tersenyum bangga mendengar nama yang telah meraih keberhasilannya.

"Kali ini kita akan mengetahui siapakah yang mendapatkan gelar juara pertama pada tahun ini. Baiklah nama yang akan Ibu bacakan ini memang masih asing tetapi sudah bisa meraih kejuaraan, selamat kepada Cassiopeia Maurine dipersilahkan untuk maju ke depan." Ujar Ibu Melda.

Tasya yang mendengar nama Cassi disebutkan langsung teriak kegirangan. Kedua sahabat yang ada di dekat Cassi pun memeluknya bahkan Cassi sendiri sudah menyangka pasti dia akan merebut bagian Reland. Usahanya terbalaskan, senyumnya terlihat bangga. Kepercayaan dirinya terhadap belajar masih sama.

"Lah? Ternyata pacarnya sendiri. Boleh juga Reland mencari bibit unggul." Ujar Skyler yang mereda amarahnya.

"Berarti Reland beruntung." Jawab Risto melihat kedua pasang itu berdekatan.

"Tidak seberuntung kamu ya Ris." Balas Skyler.

"Bukannya kita satu nasib?" Tanya Risto yang hanya di balas dengan tatapan tajam oleh Skyler.

Fatan hanya bisa diam mendengarkan ocehan tak bermutu dari kedua sahabatnya itu. Fatan juga termasuk murid yang mempunyai potensi tetapi dia lebih unggul di bidang olahraga sama dengan Risto. Jika membicarakan Skyler, dia memang si paling santai dari sahabatnya untuk belajar selalu mendapat nilai rendah dan olahraga juga kurang menguasai. Skyler cenderung mengerjakan sesuatu yang memang dia inginkan jika dia tidak mau maka dipaksakan pun dia tidak akan bisa melakukannya. Dia manusia yang hanya bisa fokus pada satu hal saja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!