Awan biru dan suara kicauan burung menandakan matahari akan terbit. Cassipun sudah siap untuk membuka hari. Dengan memakai seragamnya, dia bercermin memandangi dirinya yang sudah terlihat rapi. Tidak ingin mengulangi kesalahan seperti kemarin diapun bergegas ke meja makan terutama menemui Kakak kesayangannya, tapi bohong batin Cassi.
"Selamat pagi Bunda, Ayah, dan Kak Arza yang paling jelek di bumi ini." Sapa Cassi di meja makan yang sudah lengkap keluarga kecilnya berkumpul.
"Putri ayah memang paling cantik, tumben sudah rapi." Puji Sanjaya pada Cassi yang tersenyum tiada henti.
"Iya Ayah kalau tidak cepat nanti sopir Cassi berangkat kerja duluan." Jawab Cassi melirik ke arah Arza.
"Salah siapa lambat sekali." Balas Arza membalas ucapan Cassi.
"Sudah mari kita makan dulu nanti pada telat, Bunda juga mau ke butik." Tutur Rani meleraikan kedua anaknya.
Arza mengantarkan Cassi di depan pintu gerbang, bersamaan dengan datangnya Tasya yang terengah-engah.
"Cassi tunggu." Panggil Tasya.
"Kenapa harus lari? Apa yang dikejar?" Tanya Cassi melihat temannya terlihat kelelahan karena berlari.
"Kak Arza makin ganteng ya." Puji Tasya pada Arza yang sudah pergi.
"Mata kamu sudah tidak sehat Tasya, dari mananya ganteng ayo ke dokter mata dulu kita periksa." Jawab Cassi yang tidak habis piker dengan ucapan sahabatnya.
"Yang tidak sehat itu mata kamu Cass, Kakak ganteng seperti itu malah tidak diakui." Ujarnya tak mau kalah.
Cassi pun tidak mendengarkan ucapan Tasya yang melangkah lebih cepat, karena Cassi ceroboh tidak memperhatikan jalan dia pun menabrak seorang pria. Mengingat kejadian sebelumnya sepertinya Cassi dan Arza memang sudah terbukti saudara, sama-sama tidak berhati-hati dalam berjalan.
"Maaf aku tidak seng— " Ucapan Cassi terhenti melihat pria dihadapannya.
Pria tersebut hanya memasang muka datar dan meninggalkan Cassi tanpa mengucapkan satu kata pun. Siapa lagi kalau bukan Reland dengan menyesal Cassi ingin sekali menarik ucapannya barusan.
"Susah ya kalau ketemu batu hidup." Gerutu Cassi.
"Beruntung sekali Cas, masih pagi sudah bertabrakan cowok ganteng." Ucap Tasya yang sedikit membuat Cassi bergidik ngeri.
"Terserah Tasya aja ya, sudah ayo ke kelas." Ajak Cassi menggandeng tangan Tasya.
Jam istirahatpun akhirnya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keempat manusia ini. Tidak menunggu lama mereka berempat telah berkumpul dan menuju ke kantin. Persahabatan yang membuat orang lain iri melihatnya, meskipun berbeda kelas Arsya maupun yang lain tetap bersama. Kemungkinan masih awal mereka bisa bertahan, apakah sampai di penghujung masa putih abu-abu selesai. Adakah yang akan membuat perubahan pasti tidak ada yang ingin mengalami perpecahan.
"Kalian mau makan apa?" Tanya Tasya pada ketiga temannya.
"Aku mie ayam pangsit." Jawab lintang.
"Sama." Jawab Caca dan Arsya bebarengan
"Aku pesan terlebih dahulu." Ucap Tasya pada ketiga temannya.
"Baik sekali Tasya, tidak seperti biasanya." Ucap Arsya sedikit curiga.
"Benar sekali pasti ada niat terselubung." Jawab Lintang.
Tidak lama kemudian, makanan merekapun sampai dengan keadaan selamat tanpa kekurangan apapun.
"Cassi lihat ada Kak Reland." Panggil Tasya.
Cassi yang mendengar nama itupun langsung tersedak.
"Ini minum, harus kagetnya sampai tersedak seperti itu." Kata Lintang sambil memberikan secangkir minum.
"Siapa yang tersedak, kalian yang mengagetkan."Jawab Cassi.
"Iya-iya yang tersedak Arsya." Ucap Arsya dengan nada menggoda.
Cassi terlihat sangat gugup dan juga terdapat rasa kesal kehadiran pria yang meskipun terdapat jarak beberapa meja di kantin. Pandangannya berkali-kali mengarah ke Reland yang mengobrol bersama teman-temannya. Semakin lama apabila mengingat pertama kali sikap Reland membuat Cassi kembali dengan kekesalannya. Batinnya tidak ada gunanya tampan kalau sikapnya seperti kulkas dingin dua pintu.
"Nanti malem kalian pada ada acara?" Tanya Skyler pada ketiga sahabatnya yang sedang duduk santai.
"Tidak ada, bagaimana jika di tempat Reland?" Tanya Risto yang dibalas Reland dengan menaikkan satu alisnya.
"Tidak menerima tamu!" Jawab Reland jelas bahwa dia keberatan.
Tetapi apa daya seorang Reland tidak bisa menolak sahabatnya. Malampun telah tiba Skyler, Risto, dan Fatan sudah berada dirumah Reland.
"Bagaimana jika kita main truth or dare?" Tanya Skyler.
"Sepertinya seru." Jawab Fatan.
Merekapun bermain hingga sekarang sudah waktunya Reland yang mendapat giliran.
"Pangeran Reland dipersilahkan untuk mendapat giliran." Ucap Risto.
"Aku dulu yang memberi pertanyaan, Truth or dare?" Tanya Skyler.
"Truth." Jawab Reland.
"Dapat ditebak, pertanyaannya kenapa kamu belum bisa lupa Raena?" Tanya Skyler.
"Sudah move on." Jawab Reland santai.
"Bohong kamu Land, kenyataanya banyak cewek yang suka sama kamu tapi tidak ada satupun yang bisa meluluhkan hati." Ucap Fatan.
"Karena ingin sendiri dulu." Jawab Reland masih dengan santai.
Untuk kesekian kalinya,dan sekarang giliran Risto yang mendapatkan pertanyaan.
"Truth or dare?" Tanya Fatan.
"Aku pilih dare, tantangan sang—" Jawab Risto dan belum melanjutkan ucapannya namun sudah dipotong oleh Skyler.
"Tantangannya kamu besok ke kantin bilang kalau Skyler tampan." Ujar Skyler mengenai tantangannya.
"Dih tantangannya sangat tidak asyik, tidak sesuai fakta." Jawab Risto.
Permainan berakhir, sehingga mereka pun pulang karena sudah larut malam. Keesokan harinya, Risto dan Reland sudah harus mengerjakan tantangan yang telah diberikan sahabatnya semalam.
"Ayo ke kantin kamu ada hutang sama kita." Ucapan Skyler yang sangat tidak disukai Risto.
"Sabarkanlah hari ini, semoga berjalan dengan lancar." Ucap Risto dengan wajah memelas.
Mereka pun ke kantin, Risto dan Reland mulai membayarkan hutang tantangan mereka.
"Hello, perkenalkan di sini ada Skyler yang mengaku Ganteng tetapi kalian harus tahu dia jomlo akut dan menempati pria paling–" Suara cempreng yang sangat membuat sakit telinga namun Risto berhenti bersuara ketika Skyler memukul kepalanya sedikit kuat.
"Mohon maaf sangat disengaja, lain kali memperkenalkan sahabat itu yang benar Risto." Geram Skyler dengan tersenyum paksa.
"Terserah, kamu juga salah memberi tantangan sangat tidak masuk akal." Jawab Risto tidak mau mengalah.
"Sudah kalian ini seperti kucing dan anjing saja, jangan lupa tantangan si Reland Gustian." Ucap Fatan.
"Santai masih ingat." Jawab Reland.
Terlihat sesosok perempuan yang akan menjadi sasaran Reland melakukan tantangannya. Sebenarnya semalam Reland mendapatkan tantangan untuk berkenalan dengan salah satu perempuan yang ada di sekolah secara bebas untuk melihat bahwa Reland sudah bisa membuka hati dan melupakan sosok Raena. Selama ini, ketiga sahabatnya tidak pernah melihat Reland dekat dengan siapapun kecuali ada tugas sekolah.
"Nama kamu siapa?" Tanya Reland pada perempuan itu yang terlihat bingung.
"Aku?" Tanya Cassi yang nampak terkejut.
"Iya" Jawab Reland singkat.
"Nama aku Cassi." Jawab Cassi singkat juga batinnya memang hanya dia yang bisa berkata singkat.
"Hm, tidak terasa lampu hijau mulai terang." Ucap Lintang dengan nada menggoda.
"Oke." Ucap Reland dan langsung kembali pada ketiga sahabatnya.
Kedua sahabat Cassi memberika reaksi yang sangat tidak ingin dilihatnya. Rasanya geli dan bingung menjadi satu kesatuan yang utuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Othsha
udah mampir juga ya kak...mari saling mendukung. Cerita asyik dan teenlit banget.. sukses trus❤️
2023-10-02
1