Bantuan

Langkah kaki yang saling beriringan menampakkan empat wanita yang sedang berjalan menuju sebuah kantin sekolah yang selalu di nanti kehadirannya.

"Bagaimana kalau hari minggu kita buat acara lama sudah tidak berkumpul?" Tanya Tasya disela makannya.

"Boleh juga, bosan di rumah sendiri terus." Jawab Lintang

"Kalau aku punya rencana untuk kulineran, belanja, ke salon, dan bakaran, bagaimana?" Tanya Tasya.

"Kalau kamu mau bayar tidak apa, aku akan ikut." Jawab Cassi ringan dengan menyantap makanannya.

"Kamu Cass mau enaknya yang bangkrut aku." Ucap Tasya tersenyum lebar.

"Seharusnya benar kata Cassi yang punya juga rencana bandar." Tutur Arsya.

Namun,tiba-tiba ada seorang pria yamg mendekat ke tempat mereka makan.

"Hai, mohon maaf sebelumnya memutuskan obrolah kalian, pinjam Casssi sebentar ya." Ucap Fatan salah satu sahabat dekat Reland.

"Boleh Kak silahkan diambil saja kalau bisa tidak perlu dikembalikan." Jawab Tasya yang terdengar tidak ada beban mengatakannya.

Sebelum Cassi mengikuti langkah Fatan, dia melirik ke arah Arsya karena dia tidak ingin sahabatnya salah paham. Arsya pernah bercerita mengenai kedekatannya dengan Fatan, Cassi menghormati privasi keduanya. Meskipun sahabat dekat siapa yang tidak mempunyai pemikiran berlebihan, hal yang tidak diinginkan kapan saja bisa terjadi.

"Iya Cass" Jawab Arsya yang mengerti maksud Cassi.

Cassi mengikuti langkah Fatan yang menuju ke belakang sekolah. Tidak ada hal yang mencurigakan. Fatan terlihat bingung untuk menjelaskan maksudnya mengajak Cassi ke tempat ini.

"Kak ada apa?" Tanya Cassi.

"Kakak mau minta bantu ke kamu Cass." Jawab Fatan.

"Boleh Kak, bantuan seperti apa yang bisa aku berikan?" Tanya Cassi lagi.

Sudah agak lama Cassi dan Fatan berbincang-bincang dengan sebuah misi yang akan dilakukan sepulang sekolah ini. Awalnya Cassi ingin menolak permintaan Fatan karena dia tidak ingin terlibat dalam urusan orang lain sekalipun melibatkan keluarga atau orang terdekat.

Waktu cepat berlalu. Sesuai dengan ucapannya dengan Fatan tadi, Cassi bersiap keluar kelas dengan cepat yang membuat Lintang dan Tasya sedikit bingung. Tanpa berpamitan dia meninggalkan kedua sahabatnya. Ada hal aneh yang terpikirkan.

"Ini bocah mau ke mana cepat sekali jalannya?" Tanya Lintang.

"Tidak tahu juga Lin, tetapi tidak biasanya Cassi kabur begitu." Jawab Tasya sambil menaikkan bahu.

Cassi mempercepat langkahnya untuk menemui seseorang di kelas sebelah, akan tetapi Cassi tidak melihat orang yang dicarinya itu. Ternyata kelasnya sudah pulang lebih dulu. Dia langsung pergi keluar dengan langkah cepatnya ke arah parkiran dengan napas tersengal-sengal.

"Nah, itu dia." Ucap Cassi yang sedikit lega melihat orang yang dicarinya ada di depan mata.

"Arsya— tunggu." Suara terkencang Cassi pun keluar dan membuat orang yang dipanggilnya langsung sontak menoleh ke arah sumber suara.

"Kenapa sampai lari-lari begitu, ada apa?" Tanya Arsya.

"Ikut aku sebentar ke danau yang pernah kita kunjungi waktu Tasya ulang tahun" Ucap Casssi berterus terang.

"Ada acara apa Cass ke sana? Terus kenapa kita berdua saja?" Tanya Arsya yang bingung.

"Jadi begini, beberapa hari ini aku sering menerima panggilan dari orang yang tidak dikenal. Kemarin waktu aku angkat dia minta bertemu ke danau itu. Mau kan ke sana?" Tanya Cassi.

"Bukannya terlalu bahaya Cass kalau cuma berdua?" Tanya Arsya balik dengan berlagak berpikir.

"Tenang Sya aku sudah hubungi Kak Arza, nanti dijemput." Ucap Cassi meyakinkan Arsya.

"Baiklah, di rumah aku juga tidak ada kegiatan. Tetapi kalau ada kejadian yang mengerikan langsung hubungi Kak Arza." Jawab Arsya yang sangat membuat Cassi senang.

Mereka menaiki taksi, sekilas Cassi menceritakan tentang seseorang yang selalu ingin bertemu dengannya itu. Akan tetapi, Arsya yang masih dengan kebingungannya kenapa harus didanau tempat biasanya mereka bermain bersama. Apakah yang menghubungi Cassi adalah orang yang jahat dan sudah menargetkannya sejak lama.

"Cass, kamu tidak merasa aneh dengan orang itu? Aku khawatir kalau itu bukan orang baik-baik." Tanya Arsya yang sedikit takut.

"Aku juga tidak yakin Sya, tetapi kalau mendengar suaranya orangnya baik." Jawab Cassi.

Arsya terdiam mendengar pernyataan Cassi, jadi menurutnya jika suaranya terdengar baik maka orang itu baik. Bagaimana jika itu motifnya agar mereka mau menemuinya. Tanpa senjata apapun Arsya sangat tidak tenang. Cassi menoleh ke arah Arsya ternyata dia benar-benar ketakutan terbukti dari pandangannya yang tidak fokus dan tangan yang bergetar. Melihat tingkah sahabatnya Cassi terkekeh singkat.

Akhirnya mereka sampai di sebuah danau, di sanalah banyak cerita yang telah Cassi lalui bersama ketiga sahabatnya. Cassi hanya bisa menghela napas berat dengan menurunkan sepedanya dari taksi dan menaruhnya di dekat pohon, karena sebelumnya dia tidak tega hati untuk meninggalkan sepedanya di parkiran sekolah.

"Cass, disini? Sepi sekali biasanya pasti ada orang meskipun sedikit." Tanya Arsya yang sangat dipenuhi ketakutan.

"Iya juga Sya, coba kita ke sana." Jawab Cassi.

Mereka telah sampai di pinggir danau menanti kehadiran manusia yang sedang ditunggunya. Arsya sangat takut dengan keheningan di danaud ia hanya bisa berdoa dan mengenggam tangan Cassi erat.

Tidak lama terdengar suara alunan gitar yang dipetik oleh seseorang yang sangat dikenal oleh Arsya setiap nadanya sangat menyentuh. Arsya terpaku dengan pemilik suara indah tersebut. Awalnya dia ketakutan setengah mati sekarang senyumnya tidak lepas dengan memandang ciptaan tuhan yang indah, Fatan.

"Cass, ini kenapa ada Kak Fatan?" Tanya Arsya yang bingung namun langkah Fatan semakin mendekat pada Arsya.

"Iya ini orang yang mau kita temui, aku tunggu dekat pohon itu saja." Ucap Cassi yang melihat Arsya sangat gugup dengan kehadiran seorang Fatan.

"Udah Sya biasa saja, rileks Kak Fatan tidak menakutkan." Bisik Cassi sebelum meninggalkan Arsya.

Cassi tidak pergi jauh, dia hanya bisa melihat dua insan yang sedang saling mengutarakan perasaannya. Cassi pun bahagia melihat sahabatnya bahagia dengan senyum yang tiada henti. Dalam hatinya bertanya apakah itu yang dinamakan jatuh cinta. Apa sebenarnya perasaan jatuh cinta sebenarnya, selama ini cintanya hanya untuk keluarganya.

"Cass ke sini." Panggil Arsya tiba-tiba.

"Kenapa?" Tanyanya sambil melangkahkan kakinya mendekat pada Arsya.

"Tolong fotoin ya." Ucap Arsya dan Fatan.

"Udah resmi?" Tanya Caca sambil mengambil handphone Arsya.

"Iya." Jawab Arsya malu-malu

Cassi pun mengambil beberapa foto mereka berdua dan pada pengambilan terakhir mereka berfoto bertiga. Setelah itu, mereka berencana langsung pulang saja.

"Sudah lumayan sore, kita pulang saja. Kamu bawa motor Cass?" Tanya Fatan.

"Iya benar Kak kondisi danau juga sangat sepi, Cassi bawa sepedanya Kak." Ujar Arsya.

Cassi tidak bisa membawa motor, dia hanya bisa menaikinya saja. Selama ini dia belum mendapat izin dari kedua orang tuanya dan Arza sebagai Kakak juga tidak mengizinkan lebih baik dia yang mengantar dan menjemput Cassi sampai lelah.

"Bagaimana ya, bagaimana kalau Kaka kantar Arsya dulu baru nanti antar kamu Cas?" Tanya Fatan.

"Tidak Kak sekalian olahraga sore, harinya juga tidak panas." Jawab Cassi yang tidak ingin merepotkan sepasang kekasih tersebut.

"Jangan Cass rumah kamu lumayan jauh dari sini. Diantar saja, kamu duluan kalau begitu." Bujuk Arsya

Sulit membujuk Cassi untuk diantar pulang oleh Fatan. Sehingga mereka pulang terlebih dahulu sedangkan Cassi memilih sendiri bersama sepedanya. Mereka berpisah dengan Cassi di luar lorong sebelum masuk danau. Akan tetapi, karena Fatan khawatir akhirnya dia menghubungi Reland. Dengan rayuan yang panjang Reland terbujuk juga dengan ucapan Fatan untuk menjemput Cassi.

Reland pun melajukan motornya sedikit kencang. Sesampainya di dekat danau sudah tidak ada siapapun. Pandangannya mengitari penjuru danau, tidak ada Cassi di sana. Dia mengegas kembali motornya ke arah jalan pulang Cassi belum ditemukan.

"Hm, mendung tiba-tiba sekali, pasti sebentar lagi hujan" Ucap Cassi pada dirinya.

Cassi mempercepat mengayuh sepedanya. Akan tetapi apa boleh buat hujan sudah turun membasahi bumi. Cassi pun tetap melajukan kecepatannya dengan pakaian yang sudah basah kuyup.

"Kak Arza di rumah tidak ya, apa minta jemput saja?" Cassi bergumam dan dia pun berhenti dipinggir jalan untuk menghubungi Kakaknya tersebut.

Tiba-tiba pandangan Cassi tertuju pada motor yang sedang melaju kencang dan hanya melewatinya saja. Dia terdiam karena tidak kuat lagi untuk membawa sepedanya dan badannya pun mulai gemetar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!